Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Tuduhan Palsu


__ADS_3

"Mana buktinya kalau aku udah main dukun?" tantang Aris pada Wawan.


"Kalian mau geledah aku, silahkan! Lagian, coba tanya ke Dinda sendiri. Masih ada gak rasa benci itu di hatinya? Lagian kalau aku main dukun, aku gak akan mengenal sholat," jawab Aris yang merasa dia terkucilkan di sini. Apalagi Aris tahu, Dinda mulai terhasut oleh fitnah Wawan yang begitu keji itu.


"Heleh. Maling mana ada yang mau ngaku. Kalau semua maling ngaku, penjara udah penuh Ris!" tuding Wawan lagi.


"Kamu percaya kata-kata mereka gak?" tanya Aris pada Dinda. Kalau diguna-guna, Dinda pasti juga akan merasakan hal lain. Mungkin badannya remuk tiba-tiba, atau jadi sering melamun. Terus soal cinta pasti Dinda sudah cinta mati sama Aris sekarang. Tapi buktinya apa? Sampai sekarang Dinda gak pernah mengatakan kalau dia mencintai Aris.


Dinda mencoba untuk menimbang-nimbang pertanyaan Aris. Percayakah dia sama tuduhan Wawan itu? Tapi kalau dipikir-pikir, Dinda memang cinta sama Aris. Tapi apakah cinta ini ada kaitannya dengan dukun? Dinda rasa, Dinda cinta sama Aris karena sikap baik dan kasih sayang Aris kepadanya. Untuk masalah kebencian, sampai sekarang pun Dinda masih menyimpan rasa benci itu. Siapa sih yang gak benci pada orang yang udah melecehkan kita? Dinda pun juga benci, akal sehatnya masih waras. Tapi di sini Aris rajin beribadah, gak mungkin Aris punya sikap menyimpang seperti itukan?


"Aku gak percaya dengan tuduhanmu mas Wawan. Kecuali mas Wawan berikan bukti-bukti yang bisa Dinda percaya," kata Dinda pada Wawan.


Dan perkataan Dinda tadi sudah cukup menjawab pertanyaan yang Aris lontarkan. Itu berarti, kalau Dinda gak percaya sama tuduhan palsu dari Wawan.


'Alhamdulillah, ternyata kamu gak percaya sama mereka,' batin Aris lega. Setidaknya Dinda masih mau menerimanya. Aris gak masalah kalau soal yang lain. Mau benci kek, suka kek, terserah mereka mau ngapain aja tentang Aris, ya terserah. Asal Dinda gak ninggalin dia aja, jadi posisi Aris akan aman.


"Aku rasa, Aris gak mungkin main begituan. Lagian dia cuma nebang pohon pisang, kenapa masalahnya jadi merembet?" Kini Jo yang menengahi permasalahan ini.


"Mas Wawan, lain kali jangan menuduh orang sembarangan kayak tadi ya. Sekarang, Jo anggap masalah ini udah clear. Gak ada yang ditakutin lagi," kata Jo lagi sambil sedikit menyalahkan Wawan.


"Tapi ayah..." Nesa hendak protes, tapi dicegah oleh tangan Jo supaya Nesa diam saja. Soalnya orang yang suka main dukun itu adalah orang yang punya iri hati, makanya sampai nekat seperti itu. Tapi yang Jo lihat pada Aris, beberapa bulan yang lalu, Aris selalu senantiasa berusaha mendekati Dinda dengan usahanya sendiri. Lagian kapan Aris ke dukunnya kalau tiap hari dia pulang tepat waktu?


Semua orang akhirnya bubar. Hanya saja Wawan, dia gak terima disalahkan oleh Jo seperti tadi. Begitu juga dengan Bu Lastri, dia gak terima anaknya disalahkan. Padahal jelas-jelas Aris lah penyebab kekacauan yang terjadi di dalam rumah itu. Pikirnya penuh menuduh.


Tak hanya Wawan atau Bu Lastri saja, Mega pun merasa Jo tak ada wibawanya lagi. Bisa jadi apa yang dikatakan Wawan ada benarnya. Soalnya Aris seperti orang saiko, punya kelainan yang menakutkan.

__ADS_1


"Sabar Wan. Aku sebagai istrimu, akan selalu belain kamu," ucap Mega sambil mencoba menenangkan emosi Wawan.


Wawan menatap Mega. Entah kenapa, dia jadi merasa adem saat dielus Mega. Hingga dia lupa diri dan membawa Mega ke atas ranjang. Padahal ini masih siang hari, jadi udara yang panas itu semakin terasa panas pada sepasang suami istri ini. Apalagi pergulatan mereka kali ini begitu menggebu dan sama-sama mau.


Jika kamar Wawan tengah panas, berbeda dengan kamar tetangganya. Kamar Dinda dan Aris terasa aman dan damai. Ya, setelah dituduh seperti tadi. Aris memutuskan untuk tidur, begitu juga dengan Dinda. Mumpung si bocil juga masih tidur, jadi ngapain lagi kalau gak tidur.


Hingga Aris terbangun. Karena desa han yang erotis dari kamar Wawan, Joni Aris jadi menegang. Entah bisikan dari mana, Aris akhirnya menggauli Dinda. Dia juga menginginkan hal yang sama. Bergulat dan mengeluarkan keringat panas.


"Aku gak mau Mas," tolak Dinda.


Padahal Aris tahu kalau Dinda sedang nifas. Tapi aneh saja, pas Aris membuka paha Dinda lebar-lebar. Aris tak mendapati darah sedikitpun yang menetes dari kelamin Dinda.


Hingga Aris pun nekat memasukkan anunya ke dalam anunya Dinda.


"Ohh!" teriak Aris yang mengejutkan Dinda.


Aris membuka matanya. Terbelalak melihat posisi mereka.


"Mas mimpi apa?" tanya Dinda kemudian.


Aris menatap si joninya yang ternyata memang menegang. "Astaghfirullah, aku mimpi basah soal kita tadi," bisik Aris setengah malu.


Mendengar itu, pipi Dinda jadi merona. Memang sialan si Wawan. Di saat Dinda lagi nifas kayak gini, mereka malah enak-enak. Jelas Dinda yang ingin tidur jadi gak bisa tidur. Yang ada malah Dinda melihat tangan Aris yang mengelus-elus joninya dari luar. Benar-benar membuat Dinda ingin juga.


"Mas mesum ya?" Dinda balas berbisik setengah malu juga.

__ADS_1


"Din, boleh dong?" pinta Aris yang langsung mencium bibir Dinda dengan begitu nafsu.


Dinda yang juga dilanda nafsu, akhirnya menerima ciuman Aris di bibirnya. Mereka saling menyambut. Saling menginginkan satu sama lain. Suara dari sebelah juga belum selesai. Entah berapa ronde permainan mereka. Aris berjanji, setelah dia menikaho Dinda lagi. Dia akan bermain sepuasnya. Biarin aja, pokoknya Aris akan membuat Dinda lemas tak berdaya.


"Mas," cegah Dinda saat tangan Aris ingin memainkan gunung kembarnya. Masalahnya Dinda sedang menyusui, sayang kalau asinya jadi terbuang.


"Emm maaf Din. Mas gak bisa menahannya," kata Aris yang sedikit menyesal.


"Gak apa Mas. Dinda pun juga ingin. Tapi mas lihat sendiri kan, posisi Dinda gimana? Baru kemarin lho Dinda ngelahirin, hehe," jawab Dinda sambil cengengesan.


"Mas jadi gak sabar buat ngucapin ijab kabul lagi Din?"


"Tunggu aku selesai nifas ya mas?" pinta Dinda.


"Emm, lama sih. Tapi gak apa-apa deh, habis ijab kabul kita itu ya?" kata Aris sambil mengedipkan matanya.


"Genit tahu mas. Tuh masih berdiri, mending mas mandi deh," kata Dinda sambil menunjuk itunya Aris.


Aris terkikik geli. Tapi dia juga malu sih sebenarnya gara-gara Dinda tahu seberapa mesumnya dia saat berdekatan dengan Dinda.


"Iya deh, mas mandi dulu. Biar rileks," kata Aris sambil mencuri ciuman bibir Dinda.


"Mmuah!" Setelah itu Aris langsung ngacir ke kamar mandi.


"Dasar mas Aris. Kalau kamu kayak gini terus, mana mungkin aku gak jatuh cinta sama kamu?" gumam Dinda sambil senyum-senyum sendiri.

__ADS_1


Tanpa sadar Dinda memegangi bibirnya. Ciuman dari Aris membuat darahnya berdesir tak karuan.


Bersambung...


__ADS_2