Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Flashback Antara Mega dan Wawan


__ADS_3

...****************...


"Argh!" Di dalam kamarnya Wawan sedang mengamuk. Dia merasa kalah saing tadi sama Aris, ditambah lagi dia dengar kabar kalau Aris tadi sempat tinggal berdua dengan Mega. Jadi amarahnya semakin memuncak. Dan sasaran amarahnya adalah istrinya sendiri, Mega.


"Lu itu bisanya apa hah? Tinggal rayu Aris, kalau perlu ikut masuk ke kamarnya. Gitu aja gak bisa!" kata Wawan meremehkan.


"Gue emang gak bisa buat ngerayu cowok lain selain Jo. Gue itu cinta mati sama...."


"Tutup mulut lu! Lu itu emang gak berguna Mega. Gue nikah sama lu gini karena terpaksa asal loe tahu. Kalau gak gara-gara niat awal lu yang ngejebak Jo, mungkin sekarang gue udah nikah sama Dinda," sesal Wawan yang terus-terusan menyalahkan Mega.


"Jadi lu nyalahin gue, Wan? Gue pun juga sama, nikah sama elu gara-gara terpaksa. Lagian salah lu kan? Niat gue ngejebak pak Jo, tapi kenapa malah elu yang masuk hah?" Mega ikut menyalahkan Wawan. Enak saja Wawan hanya menuduh dirinya. Padahal kenyataannya Wawan sendiri yang masuk perangkap tanpa sepengetahuan Mega. Tapi kalau dilihat-lihat, semua bencana ini memang berawal dari jebakan Mega yang gagal.


FLASHBACK


Hari ini, Jo ada rapat dadakan. Berbeda dengan Jo, lain pula dengan Mega. Dia sudah merencanakan sesuatu yang matang. Jengah sudah jika harus bertemu dengan Wawan terus. Maka diputuskannya, setelah istirahat nanti, dia akan minta tolong pada Jo. Soalnya Mega dan Wawan itu teman sekantor.


Si Mega sedikit murung. Rencananya terpaksa diundur gara-gara Jo masih ada tugas.


"Fiuuuh..."


Mega membuang nafas lelahnya. Saatnya. Saatnya ia melakukan aksi itu. Aksi yang paling gila dalam hidupnya. Semuanya demi Johan. Bukan, melainkan demi mendapatkan Jo yang jelas-jelas sudah berstatus kan suami orang.


Tak hanya gila, tapi sudah overload. Otaknya tak bisa ia gunakan menampung lagi, saking banyaknya masalah yang terus menghantuinya. Sepertinya.


Tak sengaja, Wawan melihat gelagat aneh dari Mega. Diikutinya Mega secara diam-diam. Namanya detektif. Detektif dadakan lebih tepatnya.


"Aku butuh bantuan kalian. Jalankan rencanaku sekarang! Di gedung XXX, awas jangan sampai gagal!"


Jelas namun pasti, Wawan menangkap pembicaraan itu. Wawan yang tak mengerti apa-apa hanya merasa kasihan pada Mega. Padahal di dunia ini masih banyak cowok jomblo, tapi si Mega? Dia malah ingin merusak rumah tangga orang. Ya, Mega mencintai Jo yang ternyata sudah beristri. Tapi karena terlalu berambisi, jadinya dia gak tahu dampak apa yang akan ia dapatkan.


Sementara itu, Jo masih sibuk dalam tugasnya. Hari ini, ia tak sempat menghubungi istrinya. Waktunya benar-benar tersita akan pekerjaan yang sangat menuntut ini.


Jo harus memberikan gaji pada karyawan yang ada. Dan ternyata ada beberapa masalah di dalamnya.


Saat ia masih konsentrasi dalam pekerjaannya. Seseorang meneleponnya. Ia sempatkan menengok, kalau-kalau itu Nesa.

__ADS_1


Tanpa melihat siapa yang telpon, Jo segera mengangkat.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam. Pak, tolongin saya Pak. Saya sedang ada masalah. Di gudang XXX. Tolong saya Pak."


Suara wanita itu membuat Jo mengerutkan keningnya. "Ya, kamu kenapa?"


"Seseorang Pak, dia mau mencelakai saya."


Jo melihat jam kerjanya. "Baiklah, tunggu saya di sana."


Jo menyudahi telponnya. Mega membutuhkan bantuannya. Sepertinya gawat.


Jo yang masih disibukkan pekerjaannya, dengan terpaksa ia akan datang terlambat menolong Mega. Bagaimana lagi, pekerjaan lebih penting juga. Sedang si Mega? Siapa dia? Nesa saja tak ia hubungi, masa iya sih, si Mega harus diutamakan? Kan tidak mungkin sekali.


Sekitar 10 menitan lagi ia akan menuju ke tempat yang Mega maksud kan. "Ada-ada aja, si Mega kenapa lagi sih," keluhnya sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Tak sampai 10 menit, ternyata Jo sudah selesai. Ia segera turun ke bawah. Menuju ke parkiran dan mengendarai mobilnya.


BRAKKK


Dan mereka berdua akhirnya tertangkap. Melihat orang masuk, Mega segera akting. "Tolong saya, saya akan diper---------"


Perkataan Mega tiba-tiba terpotong. Spontan ia menjauhkan badannya dari tubuh pria yang baru saja ia peluk. 'Sialan, kenapa dia yang datang?' Keadaan yang tadinya gelap, jadi menyulitkan Mega untuk menangkap bayangan asli dari sang pria. Dan sekarang, pintu gudang itu terbuka dengan lebarnya. Membuatnya lebih jelas melihat siapa yang datang.


Mega panik bukan main. Begitu juga dengan Wawan. Dia sama paniknya saat mendapati pakaian yang Mega kenakan. Ada apa sebenarnya?


Tiba-tiba rencana yang Mega buat itu berakhir dengan kegagalan. Semua ini diluar rencananya. Siapa yang menyangka kalai pria lain yang akan datang? Kenapa bukan Jo yang datang?


"Ada apa ini?" Pria itu memberanikan diri bertanya. Ya, pria itu adalah Wawan. Dia jadi bingung dengan ruangan yang tiba-tiba menjadi kabut kegelapan. Meskipun keadaan aslinya sangat terang dan terlihat jelas.


Mega yang tadi memeluknya bagaikan air yang menyirami kerongkongannya. Gelembung aneh seperti membawanya terbang ke angkasa, sebelum kemudian jatuh gara-gara kehadiran beberapa orang yang seperti ingin menangkapnya.


Kali ini, ia benar-benar seperti tersangka pembunuhan. Akan dikejar dan dituntut. Sial. Pikir Wawan. Apa dia masuk perangkap? Tanyanya menduga dalam hati.

__ADS_1


'Ternyata rencana Mega itu seperti ini. Sial!' batin Wawan yang jadi kesal sendiri.


Kalau ini jebakan, jadi tandanya---- Mega mau menjebak Jo. 'Kurang ajar banget nih cewek,' lanjutnya dalam hati.


Pertanyaan yang Wawan ajukan tadi, malah dijawab oleh orang-orang suruhan Mega yang tak tahu menahu itu. Jelas mereka tak tahu apapun. Mega hanya menyuruhnya pura-pura menggerebek. Bukan menyuruhnya untuk membedakan mana laki-laki yang akan ia jebak? Jadi, jangan salahkan mereka. Salahkan si Mega sendiri yang kurang waspada akan rencananya itu.


"Kalian kami tangkap, beraninya kalian berbuat mesum di kampung kami."


Jawaban seorang warga bagai hantaman buat Wawan. Apa ini maksudnya?


Si Mega yang terlanjur panik, dia hanya bisa menangis. Tangisan Mega justru disalah artikan oleh para warga. Mereka yang lugu semakin yakin, kalau Mega tertindas saat ini. Ya, mereka menduga Wawan akan menodai Mega.


"Ayo, bapak-bapak, lebih baik kita bawa mereka ke kantor desa."


Hah. Sontak keduanya lemas. Wawan merasa gila seketika. Apalagi Mega. Dia sama sekali tak menyangka, kalau perbuatannya menjadi petaka. Dibawa ke kantor desa, artinya mereka akan dinikahkan? Ya Tuhan, mimpi apa si Mega tadi malam?


Kalau mereka menikah, artinya Wawan akan gagal menikah dengan Dinda. Gak. Wawan gak mau menikah dengan Mega. Kurang ajar si Mega. Ternyata seperti ini rencana busuknya.


Saat keduanya dipaksa keluar dari gudang tersebut. Tiba-tiba Jo datang menghampiri. Keterkejutan jelas terlihat di wajahnya. Apalagi di sana ada Wawan. Pikiran Jo jadi negatif seketika. Apa Wawan yang akan mencelakai Mega? Mengingat obrolan Jo dan Mega sebelumnya, yang katanya Mega akan dicelakai orang. Jadi orang itu Wawan?


Sebelumnya Wawan mengelak. Dari tadi ia sudah bilang tak tahu apapun. Tapi mereka semua bersikeras. Membela Mega yang kelihatan acak-acakan.


Sampai sekarang, Mega tak berani menatap Wawan atau membalas pertanyaan yang lain. Dia terlalu syok dengan takdir yang mempermainkannya.


"Jelasin ke mereka Mbak, kalau kita nggak ngapa-ngapain." Wawan terus memohon. Ia menghiraukan Jo yang akan mendekat. Karena apa? Itu karena Wawan tahu, jika Jo lah sasaran dari Mega. Bukan dia yang malah terjebak perangkap dusta dari si Mega. Apes banget dia hari ini.


Jo langsung melayangkan pertanyaan untuk Wawan dan Mega. "Mas, ada apa ini?"


Wawan terdiam. Muka kesal dan sedih bercampur menjadi satu. "Aku dijebak," bisik-nya pelan pada Jo.


Jo mengerutkan keningnya. Netra itu menatap tajam ke arah Mega yang kini tengah menangis. Jo bingung. Siapa yang salah di antara keduanya? Jika satunya bilang mau dicelakai, kenapa yang satunya bilang dijebak? Sungguh fakta yang membingungkan.


Jo ingin buka suara lagi. Namun sebuah pertanyaan menuntut mengurungkan niatnya. "Mas ini, siapanya mereka?" tanya orang suruhan dari Mega.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2