
***
Setelah Dinda selesai mengerjai kedua orang ini. Dinda pun lelah. Melihat itu, Wawan memanfaatkannya.
"Yuk ikut Mas!" ajak Wawan. Dinda belum menyetujuinya. Tapi Wawan tetap memaksanya.
"Ya udah deh," pasrah Dinda pada akhirnya. Lagian dia udah kenyang.
Lalu Wawan memboncengnya, entah mau kemana. Dinda menatap ke belakang. Melihat Aris yang tengah mengikutinya. Kemanapun dia pergi, Aris tetap setia membuntutinya.
'Kenapa kau bersikap kayak gini ke aku?' Ada rasa rindu di hati Dinda, dia ingin Aris mengelus perutnya. Namun niatan itu diurungkannya. Sebab perasaannya masih belum jelas. Ia takut akan salah langkah lagi dalam mengambil keputusan.
Ternyata Wawan membawa Dinda pulang. Begitu pula Aris yang juga ikut ke rumah Dinda. Ingin sekali dia berduaan dengan Dinda. Membahas pernikahan dan hubungan mereka ke depannya bakalan gimana enaknya? Sepertinya hanya akan sia-sia saja jika ada Wawan yang masih setia mengikuti Dinda bak satpam pelindung.
"Dih, ngapain ngikutin kami?" protes Wawan tak terima.
Sekali lagi, Aris tak menyerah. Baginya laki-laki harus berjuang pantang menyerah. Setelah melihat Dinda turun dari motor. Segera Aris mendekati ibu dari calon anaknya itu. Menyerobot Wawan yang sempat ingin menghadangnya.
"Din," panggilnya kemudian.
Dinda menoleh ke arah Aris, lalu mengangguk. Maksudnya adalah dia mau memberikan waktu untuk Aris. Lalu Dinda mengajak Aris masuk ke dalam rumahnya.
"Din, ngapain sih disuruh masuk segala?" tanya Wawan tak suka.
"Ada yang ingin kami obrolin Mas," jawab Dinda.
"Tapi Din..."
"Silahkan masuk!" suruh Dinda pada Aris.
"Huft!" Wawan sempat mencegahnya, namun Dinda sudah terburu mengijinkan Aris bertamu. Jadi ya gimana lagi. Wawan hanya bisa membuang nafas kesalnya. Percuma juga dia ngelarang Aris, sebab keputusan Dinda sudah mutlak dan tak bisa dielakkan.
"Makasih," balas Aris senang. Dia sempat memanas-manasi Wawan. Tapi setelah itu dia diam saja. Aris baru tahu, kalau pak Bambang ternyata sudah menikah lagi. Dan Wawan ini adalah anak dari istri pak Bambang dengan suaminya dulu.
"Gimana keadaan kamu Din?" tanya Aris dengan penuh perhatian. "Kamu sehat-sehat aja kan?" lanjutnya.
Dinda hanya mengangguk saja. Wawan yang melihatnya merasa jadi obat nyamuk. Memutuskan pergi ke dapur tanpa pamit. "Siapa sih si Aris?" gerutunya sambil berjalan dengan tergesa. "Ngeselin banget."
Aris tak menggubris kelakuan Wawan. Karena yang ia butuhkan hanya Dinda saat ini.
"Rutin periksakan?" tanya Aris lagi.
Dinda tak berani menatap Aris. Pandangannya meleset di sampingnya. Jantungnya tak kuat kalau berlama-berlama menatap mata sehitam jelaga itu. Mata yang penuh dendam kala itu. Hingga Dinda tak mampu melihatnya walaupun ingin. Sebab kalau dia sampai melihat matanya. Pasti hatinya akan goyah. Antara menerima Aris atau tidak.
__ADS_1
"Iya," jawab Dinda lirih.
Suara yang tercekat itu, justru terkesan jawaban yang malas di telinga Aris. Aris terus berusaha. Dia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia menggeser kursi duduknya agar lebih dekat dengan posisi calon ibu dari anaknya.
"Aku ingin menyentuhnya," bisik Aris pelan. Mungkin dengan sikapnya ini, siapa tahu Dinda mau membuka hati untuknya.
Suara bisikan nan lirih itu membuat jantung Dinda berhenti berdetak. Bernafas sepertinya sangat sulit. Dinda mengerjapkan matanya, keluarlah butiran bening dari pelupuk matanya. Terharu. Andai Aris suaminya, ingin sekali Dinda memeluknya. Benarkah Dinda berandai-andai seperti itu?
Segera ia seka air matanya. Memberanikan diri menatap sebentar, kemudian langsung berpaling ke arah lain. "Sentuh aja," jawabnya dengan ketus.
Dinda bimbang. Benarkah dia sudah membuka hati buat pemerkosanya?
Aris tersenyum senang. Meskipun Dinda terpaksa, yang penting Dinda sudah mengijinkannya. Disentuhkannya telapak tangannya di perut Dinda yang terhalang oleh baju kemejanya.
Sebuah tonjolan Aris rasakan di sana. "Dia bergerak," ucapnya sumringah.
'Iya,' jawab Dinda dalam hati.
Melihat Dinda yang masih cuek dan bisu di depannya. Membuat Aris sadar, kalau Dinda memang masih belum mau membuka hati untuknya.
'Huh, semangat Aris. Kamu gak boleh menyerah demi anakmu,' batin Aris menyemangati dirinya sendiri.
Kemudian dia kembali membuka mulutnya. "Sakit gak sih, kalau dia lagi nendang kayak tadi?" tanya Aris penasaran. Ya Aris akan terus berjuang untuk mendapatkan hati Dinda. Tak akan kata menyerah sampai kapanpun.
Agak sedih juga dicuekin seperti ini. Tapi ini masih awal bagi Aris. Jadi tak masalah. Dia segera menyudahi menyentuh calon anaknya.
Melihat tangan Aris yang pergi tanpa pamit. Membuat hati Dinda kecewa. 'Mungkin semua cowok itu sama aja. Gak ada yang peka dengan perasaan cewek,' fikirnya sedikit heran. Harusnya Aris tetap membujuknya, merayunya. Cari tahu kek, apa yang disukai Dinda. Dinda pengen diperlakukan seperti apa biar dia suka? Tapi sudahlah, cowok memang gak pernah pakai hati.
'Dinda ini kenapa sih?' batin Aris merasa aneh. Dia menatap Dinda dengan lekat. Wajah yang mirip dengan cinta pertamanya dulu yaitu si Nesa. Mungkin karena itulah, Aris begitu mudah jatuh cinta pada Dinda. Aris membuang nafasnya berkali-kali. Harapan ingin segera memiliki Dinda begitu besar. Namun sayangnya Dinda juga tak peka akan perasaannya saat ini.
Haruskah Aris menanyakan soal lamarannya kemarin?
"Dinda! Aku menunggu jawabanmu," ucapnya kemudian.
Dinda tak merespon. Ia memang sudah tahu hal ini bakalan terjadi. Dinda hanya ingin menguji, sampai manakah perjuangan Aris untuk mendapatkan hatinya itu?
Lagi-lagi Aris kecewa untuk yang sekian kalinya. Tapi dia sudah berbesar hati. Agar tak meninggikan ego saat berhadapan dengan Dinda.
"Emm, aku tahu kamu gak akan mudah maafin aku Din. Gak masalah kok kalau kamu belum bisa menjawabnya. Oiya..." kata Aris setengah menggantung.
Aris mengambil dompet yang berada di saku celananya. Mengeluarkan kartu ATM-nya di sana. Diraihnya tangan Dinda, lalu membuka telapak tangan itu dan menaruhkan kartunya di atas sana.
'Aku mau memberikan nafkah buatmu dan calon anak kita.' Karena Aris tak bisa mengucapkannya secara langsung. Jadi semuanya hanya ia batin.
__ADS_1
Dinda sedikit kebingungan dengan sikap Aris. Pasalnya ini adalah yang pertama kalinya ia diberikan benda yang berisi uang. Sama Briyan? Boro-boro. Nafkah yang Briyan berikan selalu kurang untuk kebutuhan mereka.
Lalu, apakah Dinda akan memperhitungkan Aris untuk benar-benar jadi calon suaminya kelak?
"Apa ini? Aku gak mau nerima ini!" tolak Dinda sambil menggeleng.
Namun Aris memegang dan menggenggamkan tangan Dinda dengan erat. Agar benda itu tetap berada di tangan Dinda. "Terimalah Din, ini buat anak kita," katanya.
"Kita belum menikah," sergah Dinda kurang sependapat. Untuk masalah ekonomi, Dinda tak pernah khawatir. Pak Bambang selalu memenuhi kebutuhannya. Jadi buat apa uang dari Aris?
Dinda tidak tahu. Bahwa memiliki anak, kebutuhan ekonomi akan melonjak. Maklumlah, fikiran Dinda belum sampai ke sana. Dia tetaplah anak remaja yang ingin menengadahkan uang kepada ayahnya. Tanpa memikirkan tentang yang lainnya.
"Jangan khawatirkan itu. Kita akan menikah secepatnya Din. Jadi tolong, terima ya Din. Kamu pasti membutuhkan sesuatu untuk anakku. Anak kita," terang Aris. Dia sudah dewasa sekarang. Mampu memikirkan kebutuhan untuk si calon buah hatinya.
"Aku gak bisa, maaf!" tolak Dinda lagi.
"Bisa.Tolonglah Din, demi anakku." Lagi? Aris tak mau menyerah. Kembali diusapkan tangannya pada perut Dinda. "Untuk anakku Dinda," bisiknya penuh harap. Aris sudah tidak tahu, dengan cara apa lagi dia membujuk Dinda. Makanya dia tadi nekat menyentuh perut Dinda tanpa seijinnya.
"Dia bukan anakmu! Dia anakku!" teriak Dinda sambil menepis tangan Aris dengan tangan satunya. Soalnya yang satu lagi masih dipegang oleh Aris.
Enak aja si Aris mengaku-ngaku kalau anak yang dikandung Dinda adalah anaknya. Selama ini Dindalah yang mendapat gunjingan dari orang-orang sekitar gara-gara status jandanya. Janda yang hamil duluan dengan pria lain. Apakah Aris mengalami semua penderitaan itu? Ck.
"Anak kita," potong Aris dengan tajam. Bukankah itu benar? Anak yang masih di dalam perut Dinda itu adalah anak mereka? Sebab Aris lah yang membuahi rahim Dinda kala itu. Kalau bukan anak Aris, lalu anak siapa?
'Astaghfirullah. Mikir apaan sih aku? Jelas-jelas itu anakku,' batin Aris yang hampir negatif thinking.
Hormon kehamilannya membuat emosi Dinda tak stabil. Dia enggan berlama-lama duduk berdua dengan Aris. Lebih baik ia menyudahinya. Menyuruh Aris agar hengkang dari rumahnya.
"Lebih baik kamu pergi. Aku lagi males ngomong sama kamu," desis Dinda dengan sedikit emosi.
Aris mengatur nafasnya. 'Tahan Ris, tahan.'
Aris segera menggeser kembali kursi yang ia duduki tadi ke tempat asalnya. Dia berdiri menghadap ke arah Dinda kembali. "Aku akan pergi. Tapi kamu harus menerima ini. Untuk anak kita Dinda," mohonnya sekali lagi. Pantang menyerah sebelum pulang.
Karena Dinda sudah tak tahan berlama-lama dengan Aris, akhirnya dia mengiyakan saja.
"Makasih," ucapnya singkat.
"Sama-sama. Aku yang makasih karena kamu udah mau menerimanya," balas Aris senang.
Aris merasakan kebahagiaan tersendiri. Dinda mau menerima uangnya itu adalah sesuatu hal yang menakjubkan. Andai momen ini bisa diabadikan, dipotret misalnya. Pasti sudah ia abadikan momen terindah sepanjang masa.
"Oiya Din, passwordnya ada di belakangnya," ucap Aris sebelum dia berpamitan.
__ADS_1
Bersambung...