Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Makin Dekat


__ADS_3

"Oya, udah sholat isya belum?" tanya Aris yang kini bersiap memakai sarungnya.


Dinda menggeleng tanda belum.


"Mau jamaah?" tawar Aris. Kali ini Dinda menatap Aris tak percaya. Benarkah Aris mengajaknya sholat bareng?


"Kenapa?" tanya Aris yang merasa aneh dengan tatapan Dinda.


"Ayo kita sholat, sayang!" ajak Aris yang kali ini diangguki oleh Dinda.


"Aku wudhu dulu," katanya.


Dan Aris langsung bernafas lega. "Alhamdulillah ya Allah," gumamnya senang. Aris berharap Dinda membuka hati untuknya. Ntah sampai kapan itu, Aris akan tetap setia menunggunya.


Usai wudhu, Dinda segera memakai mukenanya. Lalu dia menggelarkan sajadahnya.


"Udah siap?" tanya Aris dan langsung dijawab anggukan oleh Dinda.


Aris segera menghadap kiblat dan mulai mengucapkan takbiratul ihram.


"Allahuakbar."


Mereka berdua melaksanakan sholat berjamaah untuk yang pertama kalinya.


***


Setelah melaksanakan sholat. Pasangan pengantin baru ini langsung makan bersama. Terlihat masakan di meja masih begitu banyak.


"Kayaknya mas Wawan belum makan ya?" ucap Aris sambil mengkode Dinda.


Dinda tersenyum tipis. "Mungkin masih capek," jawab Dinda sekenanya. Hei, Dinda bukan gadis polos lagi. Dia adalah seorang janda yang tentunya pernah enak-enak juga bareng Briyan dulu. Jadi dia tahu apa yang dirasakan Wawan dan Mega sekarang ini.


Aris tersenyum lebar. Istrinya memang punya pengalaman yang lebih dibandingkan dirinya yang dulu asal jleb tanpa ada perasaan.


"Ini siapa yang masak?" tanya Aris saat Dinda hanya memberikannya telur dadar goreng tanpa sayur lengkap.


Dinda langsung cemberut. Tapi Aris langsung peka, mungkin Dinda yang masak. Dia langsung makan dengan telur itu saja. "Enak," puji Aris tiba-tiba.


Padahal kalian tahu, telur dadar itu rasanya gimana? Tapi Aris bisa mengatakan enak demi menyenangkan istrinya. Memang aslinya enak, tapi hanya gitu-gitu aja buat yang gak suka telur.

__ADS_1


"Aku yang masak. Kalau sayur yang lain, masakan ibu sama mbak Mega," jelas Dinda kemudian.


"Iya Dinda. Mas akan maem semua masakan yang dimasak sama kamu. Makasih ya, udah masakin telur buat Mas," kata Aris sambil meletakkan tangannya di atas tangan Dinda.


Dinda langsung menatap tangan Aris. Ada desiran aneh yang mengalir dalam darahnya.


"Ya udah, makan yang banyak gih. Biar anak kita sehat," kata Aris yang kemudian mengelus perut Dinda sebentar.


Dinda bahagia diperlakukan Aris seperti ini. Dia berharap Aris akan terus menyayanginya. 'Ku harap kasih sayangmu gak akan pernah pudar.'


Makan malam pun usai. Dinda langsung berpamitan masuk ke kamar. Sementara Aris, dia menuju ke ruang tengah. Karena disitulah dia tidur di setiap malamnya. Aris tak keberatan. Toh semua yang ia lakukan ini juga demi kebaikan rumah tangganya.


Saat Aris hendak memejamkan mata, dia melihat Wawan keluar kamar dengan keadaan yang begitu kacau. Melihat itu, Aris langsung pura-pura tidur.


'Kenapa dengan si Wawan? Padahal habis pamer ah uh, kok kelihatan menyesal kayak gitu?' batin Aris heran.


Aris kira Wawan akan pergi ke dapur. Tapi ternyata Wawan malah keluar rumah. 'Ke mana dia?' batin Aris lagi. Tapi Aris tak berhak ikut campur pada rumah tangga Wawan. Jadi lebih baik dia tidur dan menunggu esok.


***


Ke-esokan harinya. Saat Dinda baru bangun tidur dia mendengar suara cek cok dari kamar Wawan. Dinda langsung mengernyitkan dahinya. Ya beginilah resiko tinggal serumah. Jadi kalau ada masalah pasti didengar oleh seisi rumah.


Sementara itu, di dalam kamar Wawan saat ini tengah memanas. Tak ada yang baik buat mereka. Wawan yang menyesal telah melakukan itu ke Mega, sementara Mega sudah tak tahan dan ingin bercerai.


"Terserah lu ya Wan. Tapi gue udah muak hidup sama lu. Lu gak punya hati. Tega banget lu memperlakukan gue kek hewan. Gini-gini gue istri lu Wan!" teriak Mega gak terima.


Ya, Mega memang tahu rahasia Wawan. Begitu juga sebaliknya, Wawan juga mengetahui rahasia Mega. Lalu apa salahnya kalau mereka baikan aja? Tapi sepertinya memang susah kalau dari awal sikap mereka berdua sudah mirip Tom and Jerry. Gak pernah akur.


"Terus mau lu apa hah? Cerai? Jangan mimpi. Selama apa yang gue harepin belum dapet, kita berdua gak akan pernah cerai," terang Wawan mutlak.


"Ya udah, gue minta berhenti bekerja," sahut Mega kemudian.


Kerja? Itu bakalan sekantor dengan Wawan. Dan itu tandanya tiap hari akan ketemu. Sementara Mega sendiri sudah males melihat muka Wawan. Mengingat semalam Wawan begitu kasar padanya. Wawan seperti orang kesetanan hanya gara-gara Mega mengatakan soal Dinda.


"Terserah," jawab Wawan yang kemudian langsung keluar dari kamarnya.


***


"Mas berangkat dulu ya Sayang?" pamit Aris. Kali ini pak Bambang dan Bu Lastri lagi di meja makan. Jadi Aris bisa leluasa berpamitan dengan Dinda di teras rumah.

__ADS_1


Tak lama kemudian, ada Wawan yang menatap terkejut dengan kedekatan Aris dan Dinda. 'Kenapa mereka malah makin akrab? Kurang ajar, di saat rumah tangga gue kacau. Si Aris malah bahagia. Awas aja lu Ris, gue akan buat perhitungan sama lu,' batin Wawan penuh dengki.


Susah memang kalau dari awal sudah memelihara penyakit hati kayak si Wawan ini. Apa-apa pasti akan membuatnya panas.


"Mas," panggil Dinda sambil mendekat ke arah Aris. Melihat sikap Dinda pada Aris, membuat darah Wawan makin mendidih.


"Ya, kamu butuh sesuatu?" tanya Aris heran dengan tingkah laku Dinda yang gak seperti biasanya.


"Hati-hati ya," ucap Dinda tiba-tiba sambil mencium tangan Aris.


Aris langsung terharu dibuatnya. "Iya, makasih sayang. Assalamualaikum," ucap Aris kemudian.


"Wa'alaikumussalam," jawab Dinda.


"Berangkat dulu Mas," pamit Aris pada Wawan. Meskipun dia tak suka Wawan, tapi seenggaknya Aris akan bersikap hormat padanya.


"Hm," sahut Wawan dengan tak suka.


Setelah Aris sudah tak terlihat di depan matanya. Dinda langsung membalikkan badannya ingin masuk rumah, namun dicegah oleh Wawan.


"Bahagia banget Din," sindir Wawan dengan sakit hati yang amat luar biasa. Namun dia tutupi biar Dinda tak menaruh curiga padanya.


"Bahagia dong, sama kayak mas Wawan," jawab Dinda sekenanya. Sikap kekanakannya belum hilang, jadi Wawan makin gemes dibuatnya.


"Kok mas Wawan juga?" tanya Wawan heran.


"Ya iyalah. Semalam mas Wawan lagi itu ya sama mbak Mega?" ledek Dinda pada Wawan. Sebab Dinda gak bisa begituan sama Aris, jadi gak masalah kan ledekin mas tirinya?


Wawan langsung membelalakkan matanya. Kaget dengan ledekan Dinda yang spontanitas itu. 'Ah, aku kan gak ada niat begituan sama Mega. Aku khilaf Din,' batin Wawan teringat tentang semalam.


"Kenapa? Dinda mau juga?" tanya Wawan memancing Dinda. Sebab Wawan tahu kalau Dinda tengah kesepian sekarang.


Dinda langsung mendelik. "Mau gak mau itu urusan Dinda," ketus Dinda kemudian ingin meninggalkan Wawan.


Tapi lagi-lagi dihalangi oleh Wawan. "Salim dulu sini sama Mas!" suruh Wawan sambil menengadahkan tangannya tepat di depan muka Dinda.


"Idih, mbak Mega noh ada!" sahut Dinda lagi yang belum sadar kalau Wawan tengah mencari perhatian kepadanya.


Tapi tanpa Dinda mau, Wawan memaksa. Dia langsung menarik tangan Dinda buat salaman sama dia.

__ADS_1


Tak disengaja, Mega melihat semua adegan itu. Hatinya langsung panas seketika. Sepertinya setelah ini akan ada petir dan halilintar lagi di rumah ini.


Bersambung...


__ADS_2