Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Saling Emosi


__ADS_3

"Din."


"Iya Bu," jawab Dinda penasaran.


"Ada tamu tuh?" kata Bu Lastri setengah-setengah.


"Siapa Bu?" Dinda makin kepo.


"Emm, Aris. Temuin gih!" suruh Bu Lastri kemudian.


Dinda mengangguk saja. Dia membuang nafasnya pelan.


Tak lama kemudian, Dinda muncul dari balik ruangan tengah. Dengan baju daster di bawah lutut. Daster khas anak-anak remaja yang bergambar doraemon, perutnya itu terlihat semakin membuncit saja.


'Dinda. Kenapa dia makin cantik sih?' batin Aris terpesona.


Entah kenapa? Hanya berpakaian seperti itu saja, rasanya Aris sudah tergoda. Segera ia membuang sifat ngeresnya itu jauh-jauh. Dia gak boleh punya pikiran kotor seperti tadi. Sudah cukup kelakuan bejatnya yang telah merusak masa depan Dinda.


Menampilkan senyuman terindahnya untuk menyambut sang pujaan hati. Tak hanya senyuman, Aris bahkan rela berdiri untuk menyambutnya.


"Hai Dinda," sapanya begitu ramah.


"Mau ngapain?" ketus Dinda cuek. Ini bawaan hormonnya yang masih belum stabil.


Aris jadi salah tingkah. Diusapnya tengkuk yang sama sekali tak gatal itu. "Aku hanya ingin memberikan ini. Semoga kamu suka." Dengan sedikit gugup, Aris menyerahkan 2 kantong plastik belanjaannya pada Dinda.


"Makasih," jawab Dinda singkat sambil menerima pemberian dari Aris barusan. Aris mengangguk. Kemudian ia kembali duduk.


"Kamu udah periksa?" tanya Aris pelan. Dia takut salah ngomong lagi.


"Udah, kenapa emang?" Tak tahu kenapa, hari ini bawaannya ingin marah terus. Apalagi bertemu Aris, rasanya ingin melampiaskan semua amarahnya.


Belum juga Aris melontarkan pertanyaannya, tiba-tiba kehadiran bu Lastri menyela mereka. "Diminum nak Aris," titahnya sambil meletakkan segelas teh di meja tepat di depan Aris.


"Terima kasih Bu, maaf merepotkan."


"Gak masalah, ya kan Dinda?" balasnya seraya minta persetujuan pada Dinda.

__ADS_1


Dinda menghela nafas, kemudian balas mengangguk. Aris sangat gemas dengan kelakuan Dinda. Kadang marah, kadang lembut, kadang senyum. Ih, boleh gak kalau Aris menikahi Dindanya besok aja? Aris udah ngebet ingin segera dihalalkan. Godaan-godaan saat menatap Dinda. Duh, kenapa wanita hamil bisa terlihat menggoda di matanya?


'Dasar mata ngeres,' umpatnya dalam hati. Merutuki matanya yang tak henti-hentinya melihat Dinda yang tengah duduk sambil mengerucutkan bibir. 'Ingin rasanya aku mengecup bibir manyunnya itu,' batin Aris lagi.


"Yaudah, ibu tinggal ke belakang lagi. Diminum ya nak Aris?"


"Eh, i-iya makasih Bu sekali lagi." Aris terlonjak kaget.


'Astaghfirullah. Kenapa aku jadi semesum ini sih? Kalau Dinda tahu apa yang lagi ku pikirin sekarang, pasti dia makin benci sama aku,' batin Aris kesal sama otaknya yang lagi ngeblank itu.


Tiba-tiba suasana di ruang tamu itu terasa mencengkam. Dinda bungkam begitu pula dengan Aris. Sepertinya Aris harus ekstra sabar menghadapi Dinda. Padahal dia bukanlah tipe pria yang penyabar dahulunya. Tapi sekarang dia sudah terbiasa jalaran saka kulina.


"Dinda," panggilnya. Bermaksud membuka topik pembicaraan.


"Hmmm," sahut Dinda dengan malas.


"Apa kamu udah siap Din? Emm..." tanyanya was-was.


"Kenapa? Bukankah kamu udah janji mau menunggu? Kalau kamu gak sabar, silahkan cari yang lain," jawab Dinda emosi.


"Ngapain loe ke sini lagi?" ketusnya dengan berkacak pinggang.


Heran Dinda, padahal baru masuk. Kenapa tak berucap salam dulu? Dinda menegur Wawan seketika itu juga. "Mas Wawan, bisa gak sih kalo masuk rumah biasain berucap salam dulu?"


"Iya, ucap salam dulu." Aris menimpali pelan.


Dinda langsung menatap tajam ke arah Aris. Tak suka.


"Eh, maaf Din. Mas, terlanjur kesel sama dia." Di angkatnya jari telunjuknya mengarah ke wajah Aris.


Benar-benar ingin dibogem nih orang, fikir Aris sedikit menahan amarahnya. Kesal juga sama si Wawan. Sudah si Dinda salah paham. Ditambah lagi dengan perkataan Wawan. Lengkap sudah kekesalan Aris hari ini. Aris mengepalkan tangannya.


"Ngapa loe? Berani? Sini kalau berani!" tantang Wawan kemudian.


Nafas Aris yang memburu membuat Dinda sedikit ketakutan. Apa-apaan mereka? Seperti anak kecil saja. Pikir Dinda sambil berdecih sebal.


"Cukup! Kalian berdua apa-apaan sih! Mirip bocil aja! Lebih baik Dinda pergi aja," ujarnya sambil berlalu meninggalkan kedua orang itu.

__ADS_1


"Jangan pergi Din!" cegah Aris yang langsung menatap ke arah Dinda.


Sepertinya si Wawan gak mau kalah. "Masuk kamar aja Din! Kamu gak boleh kecapekan," ucapnya penuh perhatian lagi. Benar-benar kelihatan sangat dekat hubungan antara Dinda dan Wawan di mata Aris.


Dinda jengah, mereka berdua memang kekanak-kanakan. Menuruti Wawan, dia akan besar kepala. Menuruti si Aris pun juga sama. Mendingan dia keluar rumah saja. Jalan-jalan sore.


Dinda melewati dua orang pria yang sama-sama terbawa emosi itu. Begitu juga dirinya yang saat ini tengah emosi dengan kelakuan mereka. 'Ngeselin banget sih, udah badmood juga. Kenapa mereka malah berantem kayak gitu?' gerutunya dalam hati.


"Dinda mau kemana?" tanya Aris. Dia menabrak bahu Wawan yang menghalangi jalannya. Dinda sangat penting untuknya. Belum lagi tentang jawaban Dinda soal lamarannya. Terus lagi, dia mau bilang. Kalau dia siap menunggu sampai kapanpun. Aris gak akan mencari wanita lain. Hanya Dinda. Sampai kapanpun dia akan menunggunya. Jika Dinda bukan jodohnya, Aris rela, Aris ridho jika sepanjang hidupnya dia tidak menikah.


"Heh!" Wawan mencoba mencekal lengan Aris. Secepat kilat cekalan itu Aris tampik dengan kasar. Sialan memang si Wawan. Kenapa harus menghalangi jalan Aris? 'Sebenarnya mau Wawan tu apa sih? 'ngeselin banget,' geram Aris dalam hati.


"Heh loe----"


Perduli setan dengan panggilan si Wawan. Aris melangkahkan kakinya cepat menyusul kepergian Dinda. Baru saja melewati dua bedakan rumah, Aris sudah mendengar kasak-kusuk yang tak mengenakkan telinganya.


"Hei hei. Lihat tuh si janda! Udah janda, hamilnya sama pria lain lagi."


"Hooh, masih pede aja nampangin mukanya."


"Mungkin urat malunya udah putus kali."


Ternyata suara itu tak hanya didengar oleh Aris. Telinga Dinda juga menangkapnya. Digunjing tak hanya sekali dua kali. Berkali-kali sudah Dinda mencoba menulikan telinganya. Namun sangat sulit ternyata. Telinga tetaplah telinga, yang bisa mendengar hal sekecil apapun itu. Dan kali ini sangat menyakitkan.


Agak kesal, Dinda memutar langkah kakinya. Ia berjalan melewati Aris begitu saja. Panggilan Aris yang berkali-kali menyebut namanya itu tak ia hiraukan.


'Kapan penderitaan ini akan berakhir? Ya Allah, rasanya aku udah gak sanggup.'


Mata sehitam jelaga itu menatap ketiga ibu-ibu yang sedang ngerumpi tadi. Rahangnya mengetat karena emosi. Sebuah teguran akhirnya terlontarkan jua.


"Maaf ibu-ibu. Apa kalian gak bisa, gak ngomongin orang sembarangan? Asal kalian tahu, saya adalah ayah dari anak yang dikandungnya. Dan saya akan bertanggung jawab. Jadi sekali lagi saya dengar kalian mengatai yang enggak-enggak tentang Dinda. Jangan harap kalian akan tenang."


Akhirnya Aris mengancam orang juga. Sudah sekian lamanya dia tak mengancam. Ah, biarin. Hari ini dia sedang dilanda emosi. Gak si Wawan, gak si emak-emak rempong. Huft. Annoying.


Para ibu-ibu itu langsung mendelik ketakutan. Diam seketika, tak bersuara. Bahkan bibirnya terkunci dengan rapatnya. Sorot mata elang itu, membuat bulu kuduk mereka merinding. Dirasa si ibu-ibu tadi sudah diam, Aris langsung pergi begitu saja. Menyusul kepergian Dinda yang meninggalkannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2