
Dinda duduk lesu. Tiba-tiba HP-nya berbunyi. "Mbak Nesa," gumamnya.
"Assalamualaikum," ucap Dinda saat Nesa meneleponnya via video.
"Wa'alaikumussalam. Kamu kuliah Din?" tanya Nesa saat melihat situasi Dinda saat ini.
"Iya mbak. Gimana mbak? Udah sehat kan? Raskha juga sehat kan?" tanya Dinda saat mendengar suara tangisan bayi.
"Raskha panas Din. Tapi udah diobatin kok. Tadi mbak nelpon cuma mau mastiin, Dinda lagi di mana? Gitu aja sih, gak lebih," sahut Nesa.
"Moga Raskha cepet sembuh mbak. Maaf Dinda belum bisa kesana."
"Iya gak pa-pa. Ya udah dulu ya, si Raskha rewel."
Klik. Video call mereka pun berakhir.
"Kasihan mbak Nesa. Kayaknya kerepotan banget ngurusin Raskha. Aku mau bantu tapi... fikiranku lagi gak fokus. Takutnya malah nambah ngerepotin mereka," gumam Dinda tak enak hati.
***
Malam.
Briyan baru sampai rumah. Dinda menyambutnya seperti biasa. Masalah tadi pagi... Sebenarnya Dinda ingin menanyakannya. Tapi dia kepikiran kalau membahas hal gituan nanti berdampak pada keluarganya. Selama Briyan masih bersikap baik padanya. Kenapa Dinda harus mencari masalah?
Lihatlah Briyan! Saat dia di rumah kayak gini, dia begitu perhatian dan menyayangi Dinda. Seolah-olah Dinda adalah wanita satu-satunya yang dia punya.
"Udah makan belum Ay?" tanyanya penuh perhatian.
"Udah Bang," balas Dinda.
Dinda yang mendapat perhatian seperti ini, tentu sangat terharu. Wanita mana yang tak akan senang diperlakukan seperti itu oleh suaminya sendiri. Hingga Dinda mencoba melupakan dan tak ingin membahas tentang perempuan yang dicium oleh Briyan tadi pagi. Bisa jadi, matanya sedang rabun tadi. Makanya Dinda salah lihat.
"Oya Ay, kamukan lagi hamil ya. Tapi kok gak ada tanda-tanda ngidam gitu?" tanya Briyan sedikit heran. "Terus kok gak muntah-muntah juga?" sambungnya lagi.
Dinda juga merasa aneh. Tapi setahunya, tak semua wanita hamil mengalami morning sickness kan? Sumber itu ia ketahui saat searching di google.
"Tapi setahu Dinda, gak semua wanita hamil mengalami hal kayak gitu Bang. Coba abang cari di google dulu," pinta Dinda pada Briyan.
"Iya, tapi kayak kamu gak hamil aja kesannya Ay," cemberutnya pada Dinda. "Kurang seru tantangannya," sambung Briyan lagi.
__ADS_1
Dinda hanya tersenyum tipis menanggapinya. Briyan jarang sekali marah kalau bukan hal-hal tertentu, sikapnya yang manja kayak gini sudah makanan Dinda sehari-hari. Jadi Dinda tak heran sedikitpun.
"Ya kan enak Bang. Kalau kita pas lagi main ehm itu, gimana kalau tiba-tiba aku mual? Abang pasti marahkan?" goda Dinda. Dia paham betul kelakuan Briyan gimana kalau saat di dalam kamar.
"Bener juga kamu Ay... anak pintar nih kayaknya," ucapnya sambil mengelus perut Dinda pelan.
Elusan yang tak terasa apa-apa bagi Dinda. Biasa aja gitu.
***
Sebulan kemudian.
Hubungan Dinda dan Briyan makin harmonis. Seperti malam ini, Dinda dan Briyan baru saja selesai melakukan olahraga panasnya. Tapi tiba-tiba saja, Briyan mencurigai perut Dinda yang terlihat sedikit membuncit. Kalau dihitung-hitung, kehamilan Dinda baru berusia 6 minggu. Seharusnya masih belum menonjol. Tapi kenapa sudah terlihat begitu membuncit?
Merasa curiga. Briyan segera menyudahi aktifitas panas itu. Dia menyuruh Dinda agar siap-siap pergi berperiksa.
"Kita udahi aja Ay," kata Briyan tiba-tiba.
Dinda membuka matanya kaget. "Hah! Kenapa Bang?" Padahal keduanya belum menuju puncak. Jadi Dinda merasa kalau Briyan tidak seperti biasanya.
"Iya. Kita mau ke dokter."
"Udah, ikutin kata Abang Ay!" katanya lagi. Dan Dinda pun akhirnya menurut.
Setelah menemui dokter kandungan yang lain. Briyan dikejutkan oleh fakta yang ada. Usia kandungan Dinda sudah masuk 14 minggu. Sedang Briyan menikahi Dinda masih 10 minggu. Anak Ariskah?
Briyan sempat murka pada Dinda, tapi ia coba bertanya dulu pada dokternya.
"Oya dok, 10 minggu yang lalu. Istri saya pernah test. Tapi hasilnya negatif. Kenapa sekarang hamilnya sudah 14 minggu aja?" tanya Briyan seolah-olah rumah tangganya tidak ada masalah apa-apa.
"Kan cuma alat test pack Pak, belum tentu hasilnya akurat. USG yang lebih akurat. Jika masih telat seminggu, itu belum bisa di test. Tapi ya tergantung juga. Jika alat untuk ngetesnya lebih mahal dan canggih. Bisa jadi, hasilnya langsung kelihatan," terang bu dokter itu yang membuat Briyan merasa dibodohi oleh Dinda. Berani-beraninya Dinda tak mengatakan kalau dirinya telat.
'Berani-beraninya Dinda bohongi aku. Kurang ajar!' geram Briyan emosi.
Sedang Dinda yang mendengar penjelasan dokter itu langsung ketakutan. Dinda menggeleng kuat-kuat. Iya tak mungkin mengandung anak dari monster itu. Enggak. Itu gak mungkin. Dinda menitikkan air matanya. Trauma kembali menghantuinya.
Dinda tak kuat berada di ruangan itu, ia segera ke luar ruangan dan disusul oleh Briyan di belakangnya. Wajah murka Briyan langsung terlihat di sana. Dinda ketakutan, namun dengan kasarnya Briyan menyeret tangan Dinda.
"Ampun Bang," mohon Dinda. "Bang, aku gak tahu Bang!" Dinda berusaha minta maaf.
__ADS_1
Tapi Briyan bagai orang kesetanan. Dia menyuruh Dinda naik di jok motornya. Lalu Briyan mengendari sepeda motor itu seperti orang yang sedang mengikuti balapan liar. Kebetulan sekali, Aris yang tengah menikmati makan malamnya di pinggir jalan. Tak sengaja matanya menatap orang yang dikenalinya.
"Dinda," gumamnya. "Ada apa dengan suaminya? Perasaan bukan pembalap deh," pikir Aris aneh.
Merasa kalau suami Dinda mengendarai motor dengan ugal-ugalan. Aris segera menyudahi acara makannya. Membayar dan menyusul Briyan yang tengah kalap itu.
Dinda yang diboncengnya hanya bisa menangis. Dia hanya bisa pasrah. Kalau seandainya terjadi ada apa-apa dengan motor yang dikendarai Briyan, Dinda akan memasrahkan hidupnya hanya pada Allah.
"Ya Allah, lindungi kami," doanya sambil memejamkan mata.
"Ampunilah dosa hamba ya Allah. Semua emang salah hamba," doa Dinda dengan penuh rasa bersalah.
"Bang!" panggil Dinda. Namun tak dapat sahutan Dari Briyan. Dinda tersenyum kecut. Yang jelas dia bukanlah penipu.
***
Sesampainya di rumah. Briyan segera mendorong tubuh Dinda dengan kasar. Badan Dinda yang belum siap menerima dorongan itu langsung tersungkur di lantai.
"Ampun Bang!" mohon Dinda sambil melindungi perutnya yang memang terasa makin buncit. Untunglah yang terbentur ke lantai barusan hanya lutut dan tangan yang tepat melingkar di perutnya. Jadi Dinda pastikan anak itu tak akan kenapa-kenapa.
"Bunuh dia!" ucap Briyan dengan murka.
Dengan sengaja, Aris yang membuntuti Dinda tadi tengah mengendap-endap ke rumah Briyan. Ya, setelah beberapa Minggu tinggal dengan pak Bambang. Dinda dan Briyan sudah hidup sendiri. Tentunya Briyan akan dengan leluasa memarahi Dinda sekarang.
Aris jadi kepo. Dia jadi ingin tahu, kenapa suami Dinda bersikap kasar seperti itu. Sebenarnya apa salah Dinda? Sampai-sampai Briyan menyeret istrinya sendiri dengan kasar. Ya walaupun Aris juga lelaki kasar dulunya, tapi melihat wanita dilukai di depan matanya, dia seperti tak tega. Apalagi itu Dinda, ada rasa nyeri yang bergejolak di dalam perutnya secara tiba-tiba. Rasanya Aris ingin membelanya saat ini juga.
"Eh, kenapa perutku jadi sakit gini sih?" gerutu Aris tiba-tiba. Saat-saat genting seperti ini, kenapa perutnya tak bisa diajak kompromi? Fikirnya. "Jangan-jangan aku salah makan," gumamnya curiga.
Tak berapa lama, rasa itu hilang dengan sendirinya. Ketika matanya menangkap suara cek-cok suami istri itu, Aris segera menajamkan pendengarannya.
"Gak Bang, anak ini gak salah. Aku gak mungkin membunuhnya Bang. Ya meskipun Dinda juga gak pengen mengandung anak darinya, tapi Dinda gak mungkin membunuhnya Bang! Dia buah hatiku," jujur Dinda. Dia memang tak suka dengan Aris. Tapi membunuh bayi yang tak berdosa, bukankah itu perbuatan yang salah? Kenapa Dinda harus membunuhnya jika takdir Allah sudah begini.
"Loe udah bohongi gue Din, loe hamil duluan sebelum gue nikahin loe. Loe mau tipu gue, iyakan?" tuding Briyan penuh emosi.
"Bang!" panggil Dinda pelan.
Bersambung...
Apa yang terjadi selanjutnya? Bagaimana jika Aris tahu kalau Dinda tengah mengandung anaknya?
__ADS_1