
Tanpa perlu disuruh, Dinda langsung mengekori suaminya. Aris sempat tidak sadar akan kehadiran Dinda. Dia baru melihat Dinda waktu sudah naik sepeda motor.
"Mas berangkat dulu ya Din? Kalau perlu apa-apa, langsung telepon aja. Assalamualaikum," pamit Aris sambil menyalakan sepeda motornya. Dia takut kesiangan.
"Wa'alaikumussalam," jawab Dinda sambil melihat kepergian Aris. Ada sesuatu yang hampa saat ditinggalkan oleh Aris. Aris masih seperti orang asing baginya. Tapi Dinda sendiri juga membutuhkan Aris. Bahkan sangat butuh. Aris begitu perhatian padanya, jadi Dinda seperti tak rela jika suatu saat Aris pergi meninggalkannya.
"Kenapa lagi?" tanya Wawan yang mengejutkan Dinda.
"Dih, mas Wawan ngagetin aja!" kesal Dinda. Hanya pura-pura kesal lebih tepatnya.
"Emang ngelamunin apa sih? Serius amat," celetuk Wawan sambil melewati Dinda. Dia duduk di kursi sambil memakai sepatu fantopelnya.
"Gak ada," jawab Dinda sekenanya.
"Heleh bohong. Sini cerita sama mas," tawar Wawan. Dia masih penasaran hubungan rumah tangga Dinda dan Aris itu bagaimana. 'Aku tahu, kamu pasti gak bahagia nikah sama Aris. Bajing*an itu emang gak pantes buat kamu Din,' batin Wawan. Dalam hatinya, dia masih ingin menikung Dinda dari Aris. Sekuat tenaganya dia akan berusaha. Meskipun dengan cara yang salah.
"Dih, mas Wawan kepo!" sahut Dinda sambil meninggalkan Wawan sendirian.
"Aku kepo juga demi kebahagiaanmu Din," gumam Wawan.
"Apa?" Mega terkejut dengan gumaman Wawan barusan. Tadi dia ingin melihat Wawan sudah berangkat atau belum. Tapi yang ada telinganya malah menangkap omongan yang tak sedap.
"Apa?" tanya Wawan balik.
"Awas kalau sampai bocor. Aku akan buat kamu bocor juga malam ini!" ancam Wawan sambil menatap Mega dari atas sampai bawah.
Mega langsung ketakutan dibuatnya. 'Sialan. Si Wawan makin bertingkah. Duh, aku harus gimana dong? Cerai? Iya, aku harus minta cerai,' batin Mega menyetujui pendapatnya sendiri.
"Kenapa lihat-lihat?" tanya Wawan dengan judes. Mirip seperti cewek yang sedang bulanan saja tingkahnya. Pikir Mega sambil cekikikan.
"Apa? Malah ketawa lagi," omel Wawan geram sama tingkah si Mega.
"Salim atuh, istrinya di sini malah dijudesin," ucap Mega sambil melepaskan tawa. Dia pura-pura tetap menjadi istri yang baik buat Wawan. Sebab apa? Ada Bu Lastri di belakangnya yang saat ini tengah mengurusi pak Bambang.
"Kenapa nak Mega?" tanya Bu Lastri yang mendengar kata judes.
__ADS_1
"Ini Buk... Mega mau saliman, tapi sama mas Wawan malah dijudesin," adunya pada Bu Lastri.
'Kurang ajar si nenek lampir. Malah ngadu ke ibuk lagi. Huft.'
"Wan? Kok gitu sama istri? Hormati istri!" perintah Bu Lastri. Dan Mega langsung tersenyum puas. Inilah saatnya dia menindas Wawan.
"Tuh Mas... Dengerin kata ibuk. Istri harus dihormati."
"Iya-iya." Pasrah juga si Wawan akhirnya. Dia langsung mengulurkan tangannya ke depan dengan malas. Dan disambut Mega dengan semangat.
"Hati-hati Mas. Yang semangat kerjanya," ucap Mega memberikan semangat. Padahal dalam hatinya berdecih pengen muntah. 'Gue terpaksa begini. Jangan anggap gue begini karena takut sama lu. Gak ya Wan,' batin Mega dongkol.
Dinda jadi iri melihat keromantisan Mega dan Wawan dari balik jendela rumahnya. Entah kenapa, pantesan dia merasa hampa banget tadi. Ternyata ada yang kurang tadi. Dinda lupa tak bersaliman dengan Aris. Tapi Aris sudah mengecup keningnya. Tanpa sadar, tangan Dinda terulur memegang kening yang dicium oleh Aris tadi. Senyuman langsung tersungging di bibirnya.
"Dinda, ada apa?" tanya Bu Lastri khawatir. Pasalnya Dinda terlihat seperti sedang ketawa sendirian. Bu Lastri takut Dinda kenapa-kenapa. Apalagi sebelumnya dia pernah mendengar kabar, kalau Dinda pernah mengalami stres.
"Gak ada apa-apa Buk," jawab Dinda dan segera pergi ke kamarnya. Dia mau membersihkan diri dan beres-beres kamar.
Sekarang di rumah ini hanya ada Dinda, Mega dan Bu Lastri. Semuanya tergolong masih baru. Tapi Dinda berharap, semua orang akan bersikap baik satu sama lain. Tentunya dia tidak suka ada kebencian atau pengkhianatan terhadap sesama penghuni rumah. Meskipun Dinda sendiri masih benci sama Aris, tapi dia masih bersikap wajarnya sebagai istri.
***
Sehabis sholat ashar tadi, kerjaan Dinda hanya mondar-mandir di dalam rumah. Dia tengah menunggu kedatangan Aris. Padahal Dinda sendiri tak tahu Aris pulangnya jam berapa? Tapi dia sudah semangat menunggu sejak tadi.
"Assalamualaikum." Wawan yang baru masuk rumah langsung mengucapkan salam.
"Wa'alaikumussalam, udah pulang mas?" tanya Dinda basa-basi.
'Subhanallah, rasanya bagai ditungguin istri. Apa Dinda lagi nungguin aku ya?' batin Wawan ke GR-an.
"Udah Din. Kamu nungguin mas ya?" tanya Wawan keceplosan.
Dinda mendelik tanda tak suka. Tapi sedetik kemudian wajahnya berubah jadi seperti biasanya.
"Gak Mas. Aku lagi nungguin mas Aris," jawab Dinda yang kini langsung duduk di kursi. Capek juga rasanya berdiri terus-terusan.
__ADS_1
Wawan yang mendengarnya jadi tak suka. Terlihat dia setengah berpikir dan mendapatkan ide yang cemerlang.
"Ow nungguin Aris. Emang dia pulang jam berapa?" selidik Wawan ingin tahu.
"Gak tahu," jawab Dinda jujur.
"Tapi dia juga kerja di perusahaan. Penempatannya di kantor," lanjut Dinda lagi. Padahal Dinda tak pernah nanya. Tapi Aris pernah memberi tahunya dulu pas mereka masih di Sidoarjo.
"Kalau di kantor, jam 5 wes pulang," celetuk Wawan memanas-manasi Dinda. Niatnya sih, Wawan ingin menghasut Dinda. Pokoknya biar Dinda dan Aris bertengkar. Orang Wawan gak bahagia, jadi Dinda juga gak boleh bahagia.
"Masa sih Mas?" tanya Dinda yang mulai termakan omongan Wawan.
"Iya Din. Di mana-mana ya, pegawai kantor tuh pulangnya jam 5 sore. Kalau lebih dari jam segitu, mungkin kelayapan," hasut Wawan lagi. Dan Mega yang baru mau keluar langsung kaget mendengar ucapan Wawan.
Wawan yang melihat kedatangan Mega tetap santai saja. Dia merasa tidak bersalah sedikitpun dengan ucapannya tadi.
Sementara Dinda, dia langsung gemetaran. Trauma tentang diselingkuhi oleh Briyan tiba-tiba melintas di otaknya. Apakah Aris juga akan berselingkuh di belakangnya?
"Gak usah dipercaya kata-kata mas Wawan, Din," ucap Mega tiba-tiba.
"Kalau gak tahu apa-apa, gak usah ikut campur," hardik Wawan kesal dengan Mega. Kalau Mega belain Aris, bisa-bisa usahanya tadi akan gagal.
"Aku kesini mau salim loh sama kamu. Suamiku udah pulang, jadi aku harus hormat kan?" balas Mega mengalihkan pembicaraannya.
Tapi gara-gara perlakuan Mega yang seperti itu kepada Wawan, membuat Dinda jadi iri dan muak. Perasaannya lagi campur aduk. Jadi dia putuskan untuk pergi ke kamar. Percuma juga dia nunggu Aris, kalau orang yang ditunggu malah asik selingkuh di belakangnya.
Wawan yang melihat kepergian Dinda langsung tersenyum miring. 'Sebentar lagi akan ada perang. Tunggu aja,' batinnya senang.
"Awas aja kalau sampai Dinda kenapa-kenapa!" Kali ini Mega yang mengancam Wawan.
"Bukan urusan lu!" balas Wawan yang kini meninggalkan Mega.
Mega hanya tak percaya dengan kelakuan Wawan. 'Ternyata dia munafik,' batin Mega emosi.
Bersambung...
__ADS_1
Apakah ada perang setelah ini? Tunggu next partnya.