
"Ada apa Dinda?" tanya Aris lagi sambil meletakkan kopinya di gelas. Kali ini dia fokus menatap Dinda.
Dinda tak mau balik menatap Aris. Dia langsung memegang perutnya yang kini sudah sangat besar. Sebab hubungan ini terjadi, semua pernikahan yang ada ini karena demi anak yang ia kandung saat ini.
"Nanti kalau ada waktu, anterin aku periksa," katanya yang masih terlihat jutek di mata Aris.
Tapi Aris gak marah kok. Karena juteknya Dinda gak menyakiti hatinya sedikitpun.
"Aku ada waktu banyak buat kamu. Jadi gak usah bilang kalau ada waktu, karena kapanpun kamu minta dianterin, aku bakal anterin kamu. Tapi... aku mau mandi dulu. Bau soalnya," kata Aris cengengesan.
"Ya udah, mandi tinggal mandi kan?" Kejutekan Dinda makin menjadi. Padahal Aris ingin membuat Dinda tersenyum.
"Iya sayang. Nanti aku mandi. Tapi bajunya kan ada di kamar," kata Aris sedikit ngalem.
"Aku ambilin," sahut Dinda dan langsung bergegas meninggalkan Aris.
Aris tersenyum hambar. Dia makin curiga dengan Nesa. Tapi dia masih diam sekarang. Dia merasa gak enak sama Jo yang udah begitu baik hati padanya. Jadi ngelabrak Nesa bukanlah solusi.
"Ni bajunya Mas," ucap Dinda yang menyadarkan lamunan Aris.
"Ciyeee pengantin baru. Uluh-uluh, adiknya Mas Wawan romantis juga ya?" sindir Wawan pada Dinda.
"Mbak Mega... dicari mas Wawan!" teriak Dinda tiba-tiba.
"Eh eh, apa-apaan Din. Siapa yang nyariin?" Wawan kebingungan.
Aris langsung tersenyum lebar. Ternyata perasaan Dinda sama persis apa yang Aris rasakan, yaitu risih dengan Wawan.
"Iya, kenapa nyari aku?" ucap Mega yang baru nongol dari dapur. Dia baru selesai menyiapkan hidangan yang ia masak tadi di meja.
"Dih, siapa yang cari kamu?" sembur Wawan tak suka.
"Bohong! Tadi mas Wawan bilang mau bermesraan sama mbak Mega kok," dusta Dinda sambil ketawa lebar.
"Dinda... plis deh." Wawan pusing tujuh keliling. Lagi-lagi dia harus berpura-pura sok romantis di depan Dinda.
"Yakin gak nyari aku? Ya udah kalau gitu," ujar Mega dengan gaya marah.
"Eh, iya sweety. Mas Wawan nyari kamu kok. Mas Wawan mau diambilin baju sama kamu," ucap Wawan dengan begitu sangat sangat terpaksa. 'Kalau gak di depan Dinda, aku males minta dilayani kayak gini,' batin Wawan tertekan.
"Ow, baju ya?" tanya Mega dan diangguki Wawan ragu-ragu.
__ADS_1
"Yaudah, aku ambilkan," jawab Mega tersenyum ramah pada semuanya. Saat Mega melewati Wawan, dia langsung membisikkan sesuatu.
"Kalau bukan di rumah keluargamu, aku gak sudi!"
Wawan pura-pura tersenyum bahagia. Padahal dalam hatinya dongkol banget. 'Awas aja kau Mak lampir. Kalau gak ada orang, aku akan buat kamu merintih kesakitan,' batin Wawan penuh dendam.
"Makanan udah siap! Yuk semuanya sarapan!" teriak Bu Lastri yang membuat seisi rumah kaget.
"Sarapan dulu Mas," ajak Dinda pada Aris.
"Tapi aku belum mandi Din," sahut Aris tak enak.
"Gak apalah, mandi bisa nanti. Gak enak kan sama ibu, dia dan mbak Mega udah masakin buat kita. Jadi makan aja dulu Mas," ujar Dinda dan Aris akhirnya setuju.
Sementara si Mega. Dia dengan antusias menyiapkan minuman di depan Jo.
"Aku yang masak semua ini, pak Jo," kata Mega cari perhatian.
Jo risih, tapi akhirnya mau gak mau dia mengumbar senyum. "Iya, makasih mbak Mega," jawab Jo ramah.
"Mau ku ambilkan yang mana?" tanya Mega mencari kesempatan. Sebab Nesa sepertinya masih repot mengurusi Raskha.
"Aku bisa sendiri Mbak."
"Eh suamiku," panggil Mega sambil mulutnya berlagak ingin muntah. Hoek.
"Sweety, suami datang harusnya udah diambilkan makan dan minum? Masa malah ngurusin orang lain?" ucap Wawan yang pura-pura cemburu.
"Gak kok Mas. Mbak Mega cuma nawarin, gak lebih," jawab Jo gak enak hati.
"Gak apa-apa Jo. Ucapanku jangan diambil hati," bisik Wawan pada Jo. Jo mengangguk paham.
Aris yang melihatnya makin yakin. Kalau hubungan Wawan dan Mega memang kurang beres.
Nesa dan Raskha baru bergabung. Dia langsung duduk didekat Jo. "Maaf Mas, masih ngurusin Raskha."
"Gak apa bunda," jawab Jo sambil mengambil alih si Raskha.
Aris menatap Nesa. Tapi sepertinya gak ada gerak-gerik aneh antara Nesa dan Dinda. Sepertinya kecurigaan Aris tentang Nesa tidak terbukti. Kalau begitu, apa mungkin ini bawaan hamilnya Dinda?
'Ya Allah Nak, sebenci itukah kamu sama ayah. Sampai-sampai ibumu jutek terus kalau berdekatan dengan ayah,' batin Aris sambil melihat perut bulat Dinda.
__ADS_1
"Kenapa Mas?" tanya Dinda curiga.
"Enggak Din. Oiya, biar mas aja yang ambilin kamu makan. Boleh?" tanya Aris minta ijin.
"Biar aku sendiri," sahut Dinda. Rasanya dia gak enak pada yang lain. Masa dia sendiri yang dilayani suami.
"Din, makan yang banyak. Biar cucu ayah sehat," kata pak Bambang dengan mulut penuh nasi.
"Ya Allah ayah! Mulut penuh itu," tegur Nesa heran dengan kelakuan ayahnya yang gak pernah berubah.
"Ya habisnya Dinda tuh, ngambil nasi pas ayah lagi ngunyah," elak pak Bambang. Cuma bercanda, gak serius.
"Udah-udah, ayah udah jadi kakek jadi ngalah dong?" bisik Bu Lastri.
"Iya bojoku," balas pak Bambang yang membuat Bu Lastri merah merona. Pak Bambang ini orangnya sangat romantis dan lucu. Makanya Bu Lastri jatuh cinta padanya.
"Bisa?" tanya Aris kasihan melihat Dinda yang seperti kesulitan buat mengambil nasi.
"Udah tahu istri lagi hamil, bantuin kek! Malah dilihatin aja," sindir Wawan dengan pedas.
Hampir saja Aris ingin lari dari ruang makan ini. Andai bukan karena Dinda, udah Aris pastikan kalau dia gak betah tinggal di sini.
"Perlu bantuan gak Yang?" tanya Aris menurunkan rasa sakit hatinya pada Wawan.
"Gak kok. Mas mau mie gak?" tawar Dinda. Masalahnya dia gak tahu selera Aris itu seperti apa?
"Boleh," jawab Aris.
Lalu semua orang akhirnya menikmati sarapan bersama. Dan ini adalah momen pertama kali Aris makan bareng dengan keluarga Dinda. Dia jadi teringat ibunya. 'Apa kabar Buk?' Tanpa ia sadari, ia hampir menitikkan air mata. Bagaimanapun bentuk Aris, dia ada karena ibu yang telah melahirkannya. Dan sekarang dia merindukan ibunya dan juga Lia, adiknya.
"Mas," panggil Dinda heran. Sebab Aris sendiri yang makanannya masih utuh.
"Mas gak suka?" tanya Dinda lagi.
"Ah, suka kok," jawab Aris dan segera melahap makanan yang ada di depannya.
Dinda terkejut. Kenapa wajah Aris terlihat sedih? Apakah Aris juga gak bahagia dengan pernikahan mereka? Fikir Dinda.
'Jika kamu juga terpaksa menikahiku, lebih baik kita sudahi saja nanti setelah anak kita lahir,' batin Dinda mencoba menerima keadaannya. Dia sudah muak dengan hidup. Baginya menikah atau tidak menikah itu sama saja. Kenapa ada pernikahan jika saling menyakiti?
Bersambung...
__ADS_1