
Usai berpamitan pada orang rumah. Kini Bu Rukmini sudah duduk di jok motornya Aris.
Entah kenapa, ada yang aneh dengan perasaan Aris. Namun dia segera menepisnya. Lalu dia menoleh ke arah istrinya, senyuman Dinda yang sepertinya tak ikhlas. Mungkin Dinda keberatan ditinggal pergi oleh Aris, sebab Dinda merasa tak ada yang membela di rumahnya ini.
"Udah ya, mas pergi dulu," kata Aris sambil melambaikan tangannya.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam, hati-hati mas. Kalau ada apa-apa telepon aku," kata Dinda yang memang sangat keberatan. Gak tahu kenapa, perasaannya sedang tak baik-baik saja.
Setelah Dinda memastikan suaminya pergi. Dinda segera masuk ke rumah sambil menggendong Zahra. Dia melewati pintu kamar Wawan yang tertutup rapat.
'Tumben orang ini gak kepo sama kepergian ibunya Aris,' batin Dinda yang merasa curiga. Biasanya dikit-dikit aja dia keluar.
'Apa mungkin gara-gara ditegur Ayah dia jadi malu? Tapi baguslah kalau mau, jadi gak akan ada pengganggu lagi di hidupku,' batin Dinda sedikit tersenyum senang.
Lalu dia berjalan ke kamar. Entah kenapa, hatinya terus gelisah tak tenang.
"Ibu kenapa ya Ra? Kok rasanya gak tenang gitu. Semoga gak terjadi apa-apa sama ayahmu, aamiin."
Sementara itu, Wawan saat ini tengah tidur tengkurap sambil memainkan HP-nya. Mega pun juga sama, apalagi sedari tadi dia tak digubris oleh Wawan. Jadilah dia ikutan mainin ponselnya?
Bu Lastri? Ada pak Bambang, jadi Wawan dan Mega sudah bebas sekarang. Lagian Wawan dan Mega juga bingung caranya ngurusin orang tua itu gimana? Kalau nenek Nur. Meskipun dia sakit, nenek Nur tak menyusahkan Mega. Beliau masih bisa sendiri gak kayak Bu Lastri yang begitu manja, minta disuapinlah, dimasakinlah, dan masih banyak lagi. Tapi Mega sebagai mantu, dan pernah ditolong oleh Bu Lastri juga, mau tak mau dia harus tetap hormat kepadanya.
Di tempat lain.
Aris mengendarai motornya dengan santai. Lagian ngebut buat apa? Dia lagi bonceng ibunya, jadi pelan-pelan yang penting selamat sampai tujuan. Ditambah suasana hatinya yang sedari tadi merasa gak nyaman, jadi lebih baik dia fokus menyetir.
Jalanan yang lurus, tak terlalu ramai. Jadi membuat Aris dan Lia memilih mengendarai motor mereka dengan santai. Lagian Lia juga stay berada di belakang motor Aris. Sementara Aris memandu perjalanan mereka, ya meskipun Aris sendiri belum tahu letak kosan mereka. Mungkin nanti setelah dekat, Lia yang akan jadi petunjuk jalannya.
'Ini motor kenapa ya?' batin Aris yang merasa laju motornya tak seperti biasanya.
"Kenapa Ris?" tanya Bu Rukmini curiga. Soalnya Aris seperti panik dan entah apa itu, hingga penumpang merasa tak nyaman saat dibonceng oleh Aris.
"Astaghfirullah," ucap Aris sedikit panik.
"Ris! KENAPA!" teriak Bu Rukmini yang ikutan panik.
"Gak ada jalan naik turun kan Buk?" tanya Aris yang mulai gelisah. Jantungnya berdegup kencang menyadari bahwa ada sesuatu yang tak beres pada sepeda motornya. Ya, rem motornya sedang blong saat ini. Meskipun gas motornya sudah habis, tapi laju motornya tak bisa dihentikan kalau tidak menggunakan rem.
"Ada Ris, ada di depan," jawab Bu Rukmini namun Aris tak dengar.
"Mas kenapa?" tanya Lia yang kini sudah berada di samping kanannya Aris.
"Ini motorku Lia," kata Aris sambil terus mencoba menekan rem sepeda motornya.
"Kenapa motornya mas?" tanya Lia sedikit berteriak, sebab posisi mereka dan juga suara bising motor yang membuat Aris tak terlalu mendengar suaranya.
"Remnya blong Lia!" teriak Aris sambil fokus ke motornya.
"Blong? Ya Allah, di depan jalannya turun mas!" teriak Lia memberitahu.
"Hah apa?" Aris gak denger.
__ADS_1
"Di depan jalannya turun Ris." Bu Rukmini ikut memberitahu. Karena dia sudah gemataran mendengar kalau rem motornya Aris sedang tak berfungsi.
'Ya Allah, selamatkanlah kami,' doa Bu Rukmini yang sudah dalam takut bukan main.
"Buk! Maafin Aris Buk!" teriak Aris sambil menitikkan air matanya.
"Dinda, Zahra!" gumam Aris dan...
"AAAAAARRRGGHHHH!!"
Kecelakaan itu sudah tak bisa dihindarkan.
"Ibuuuk!!! Mas Ariss!" teriak Lia dari belakang.
Lia menghentikan sepeda motornya. Dia menangis tersedu melihat Aris dan ibunya jatuh tersungkur di depan matanya.
"Tolong!" teriak Lia sambil meminta tolong pada orang-orang yang berlalu lalang.
Jalanan sunyi, jauh dari pemukiman membuat Lia kesulitan mencari orang buat menolong ibu dan kakaknya.
"Woi mandek woii!" teriak salah seorang yang lewat kepada yang lainnya.
Mandek \= berhenti.
"Kenapa?"
"Ada orang kecelakaan. Yuk kita tolongin!" katanya sambil mendekat.
"Mas Aris! Bangun mas!"
Sementara itu, di waktu yang bersamaan di tempat yang berbeda.
Dinda sedang mengigau.
"Mas Aris, mas! Mau kemana?" Dalam mimpinya, Aris menggunakan pakaian serba putih. Dia seperti sedang melambaikan tangannya ke arah Dinda dan Zahra.
"Mas Aris! Jangan pergi mas!"
"Din, bangun Din! Kamu kenapa?" Untunglah pak Bambang belum tidur. Jadi beliau bisa membangunkan Dinda.
"Ayah! Mas Aris mana?" tanya Dinda sambil menangis. Mimpinya? Mimpinya bak kenyataan yang menghantam jiwa dan perasaannya.
"Aris? Lah bukannya nganterin ibu mertumu? Kenapa nanya ke ayah?"
"Dinda takut Yah!" Dinda menitikkan air matanya.
"Takut kenapa? Tenangin dirimu dulu," ucap pak Bambang sambil menenangkan Dinda.
"Handphone?" ucap Dinda sambil mencari-cari ponselnya.
"Tenang Dinda, jangan panik! Itu cuma mimpi aja, belum tentu jadi nyata," kata pak Bambang yang terus berusaha menenangkan putri bungsunya itu.
"Huft!" Dinda mencoba menarik nafas panjang. Dia memegang ponselnya dengan tangan gemetar.
__ADS_1
Dinda langsung mencari kontak suaminya. Hanya memanggil alias WhatsAppnya tidak aktif.
"Coba telepon manual aja Din, yang pakek pulsa," suruh pak Bambang dan Dinda nurut.
Lagi? Hasilnya sama. Gak ada yang aktif.
Nomor Lia? Mereka baru ketemu, otomatis dia belum punya nomornya Lia.
'Ya Allah gimana ini?' batin Dinda yang terasa makin kalut. Tak biasanya Aris seperti ini.
"Udah Nak. Berdoa aja, semoga gak terjadi apa-apa sama Aris," kata pak Bambang yang terus berusaha menenangkan Dinda. Karena bagaimanapun keadaannya, Dinda adalah darah dagingnya dan Aris tetaplah menantunya.
Baru saja Dinda ingin menangis, tiba-tiba Handphone-nya berbunyi.
"Siapa?" tanya pak Bambang penasaran.
"Nomor baru ayah." Dinda memberitahu.
"Ya udah angkat aja, siapa tahu penting!"
Klik! Telepon terhubung.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam. Mbak Dinda, ini Lia." Suara tergesa-gesa nan serak. Tak ayal lagi, itu suara Lia yang tengah menangis.
"Ya Lia, ada apa?" tanya Dinda sambil menunggu jawaban Lia.
"Mas Aris, mbak. Ibuk, mbak!"
Hati Dinda terasa makin diremas hanya mendengar nama itu disebut oleh Lia.
"Iya, kenapa mereka?" tanya Dinda penuh menuntut.
"Mereka ke-ce-la-ka-an mbak, hiks!" Lia menangis sejadi-jadinya di seberang sana.
Sementara Dinda, pandangannya langsung kosong ke depan. Ponselnya jatuh entah kemana. Air mata itu langsung mengalir dengan derasnya.
"Nduk, ono opo?" (Nak, ada apa?) Panik pak Bambang pecah. Dia langsung memungut ponselnya Dinda yang tergeletak di sembarang tempat itu.
"Gimana? Ada apa?" Pak Bambang ikut buka suara.
"Mas Aris dan ibuk kecelakaan, Pak!" jawab Lia dari sana.
"Astaghfirullah, sekarang kalian di mana?"
Setelah Lia memberitahukan di mana mereka berada, akhirnya pak Bambang mematikan ponselnya.
Dia menatap Dinda yang terus menangis. Pandangan itu masih kosong.
'Kasihan kamu nak. Traumamu pasti menghantuimu lagi. Semoga Aris selamat, dan kalian hidup bersama. Ayah janji, kali ini ayah gak akan mengusik kalian lagi,' janji pak Bambang dalam hati.
Apalagi pernikahan mereka sudah di depan mata. Tapi Aris malah mengalami kecelakaan. Pasangan mana yang gak akan bersedih saat suaminya mengalami kecelakaan secara tiba-tiba seperti itu?
__ADS_1
Bersambung...