
"Iya, tapi aneh kan? Bukannya marah, tapi si Dinda makin lengket sama Aris. Siapa coba yang gak curiga kalau dia main dukun?"
Sepertinya Wawan sudah gila. Hidup bersama bukannya akur, tapi yang ada malah iri dengan kebahagiaan adik tirinya.
"Mungkin daya pikat Aris emang kuat mas," ujar Mega jujur. Mega mengakui kalau pesona Aris bisa memikat wanita mana saja. Hanya saja sikap Aris yang membuat semua wanita gak mau dekat dengannya. Aris itu menakutkan bak penjahat kelas kakap. Apalagi tatapannya, langsung mematikan lawannya seketika.
"Daya pikat? Apa yang mencolok dari dia? Kalau soal tampan, perasaan lebih gantengan aku," ucap Wawan dengan begitu percaya diri. Dia berjalan ke depan cermin dan menatap dirinya.
Di dalam kamar Dinda.
Aris menggendong bayinya yang menangis. Sedang Dinda, dia tadi lagi ke dapur. Mau buatkan susu buat si kecil.
"U... cup.. cup!" Aris terus menggendongnya sampai Zahra kembali tertidur.
"Bobok ya mas?" tanya Dinda. Mereka berdua melupakan permasalahan yang baru saja menerpanya. Lagian semua orang sudah mengijinkan Aris untuk tinggal, jadi gak ada lagi bagi Aris untuk membahasnya.
"Iya nih Din. Bobo anaknya," kata Aris yang hendak meletakkannya di box.
"Oeeee! Oeee!"
Aris dan Dinda saling menatap, lalu keduanya tertawa secara bersamaan.
"Kayaknya dia maunya digendong, kok pinter?" celetuk Aris setengah gemas.
"Iyalah, dari tadi di box terus. Pasti dia juga merasa capek. Sini mas, biar Dinda gantiin."
Dinda mengambil anaknya dari tangan Aris. Aris langsung menatap Dinda dengan rasa bersalah.
"Kamu gak apa-apa kan Din, kalau mas tinggal bekerja," ijin Aris kemudian. Aris rasa, kembali bekerja adalah jalan mengatasi masalah ini. Soalnya yang dibahas adalah kenyamanan orang yang tinggal di sini kalau ada Aris. Jadi lebih baik Aris balik bekerja, otomatis waktunya di rumah tak terlalu banyak. Tapi... waktu mengurusi anaknya pun akan berkurang. Ya gimana lagi, inilah resikonya menumpang.
__ADS_1
Dinda menatap Aris. Ada rasa kecewa saat ditinggal Aris. Sebenarnya kalau gak ada Aris, Dinda akan semakin kesepian. Benar ada Bu Lastri atau Mega? Tapi kasih sayang mereka jelas berbeda dengan kasih sayang yang Aris berikan kepadanya. Intinya seperti Dinda ini haus akan kasih sayang.
Dulu ditinggal ibunya, otomatis perhatian pak Bambang juga terbagi menjadi 2. Saat sudah dewasa ingin dicintai, akhirnya dia pacaran dengan Briyan lalu menikah. Namun sayang, pernikahannya yang didasari oleh cinta itu malah hancur dan gagal. Sekarang dia menjalani pernikahan tanpa cinta, tapi Aris mencintainya, menyayanginya. Jadi Dinda merasa sangat lengkap saat ada Aris. Jika Aris gak ada di sisinya, rasanya Dinda akan kesepian lagi. Tapi kalau Aris gak kerja? Uang dari mana buat makan mereka nanti?
"Gimana sayang?" tanya Aris minta pendapat.
"Iya udah, gak apa-apa mas. Kerja juga penting kan?" balas Dinda dengan berat hati.
"Makasih ya sayang. Soal nyuci baju jangan khawatir. Sebelum mas berangkat kerja, mas akan mencuci semuanya. Pokoknya kamu di rumah istirahat aja, jangan capek-capek, jangan banyak jalan, cukup kamu merawat si kecil aja. Kalau si kecil rewel, terus kamu kerepotan banget, kamu bisa telpon mas. Secepatnya mas usahain pulang," kata Aris memberitahu Dinda.
Karena Aris gak mau Dinda kecapekan, jadi mencuci baju akan ia kerjakan. Dinda baru melahirkan, jadi badannya juga kurang fit. Takutnya kalau kecapekan, dia akan sakit. Dan itu akan membuat Aris semakin repot. Gimana gak repot kalau dia harus mengurusi bayi dan istrinya? Lebih baik dia yang repot, jadi anaknya ada yang ngurusin.
"Tapi aku juga bisa mencuci mas," elak Dinda yang merasa kasihan sama Aris.
"Hanya mencuci, itu tugas mas. Tugasmu sudah ada, merawat Zahra," kata Aris sambil mengelus pipi Dinda dengan sayang.
Aris melontarkan senyumannya. Senyuman maut yang membuat Dinda jadi terpana. Sedetik kemudian Dinda cemberut dan mengalihkan pandangannya ke Zahra.
"Kalau sama cewek lain, jangan tersenyum kayak gitu," ngambeknya.
"Ya gak lah, mana mungkin mas tersenyum begini. Emang kenapa?" tanya Aris penasaran. Maklum kan, Aris jarang pacaran. Jadi dia agak kurang peka dengan masalah beginian.
"Pokoknya jangan!" larang Dinda dan Aris mengangguk. Aris manut saja, mau disuruh Dinda bagaimana pun dia gak bakalan nolak.
"Iya gak sayang. Cuma sama kamu nih, hehe!" kata Aris sambil cengengesan kembali. Lalu dia tersenyum lebar seperti yang Dinda larang.
"Ih mas!" Dinda langsung memanyunkan bibirnya. Tapi Aris langsung menangkap wajahnya dengan kedua tangannya.
Mata mereka saling beradu. Lalu Aris memindahkan tangannya sambil memegang Zahra. Sementara itu, bibirnya aktif bergerak menyusuri bibir istrinya. 'Bibir canduku. Bagaimana aku bisa hidup kalau semua yang ada padamu adalah canduku?' batin Aris di tengah-tengah ciuman panasnya.
__ADS_1
Sementara itu, Dinda tak bisa terlalu menikmatinya karena kedua tangannya memegangi anaknya, takut jatuh jadi Dinda menyudahi ciuman mereka.
"Kenapa?" tanya Aris kecewa. Padahal dia lagi semangat-semangatnya menyesap bibir itu. Tapi tiba-tiba saja Dinda menjauh, jadi Aris kecewa berat.
"Zahra mas, aku mau pindahin dia dulu," kata Dinda yang hendak berdiri.
"Sini!" pinta Aris. Dia tahu kalau Dinda kesulitan untuk berdiri. Jadi Aris yang akan membantunya meletakkan Zahra ke box.
Dinda hanya melihat Aris dan Zahra bergantian.
"Masih pules kan?" tanya Dinda sambil mengintip box Zahra.
"Masih kok. Yuk lanjut?" ajak Aris yang langsung menyosor bibir Dinda tanpa peduli jawaban dari mulut Dinda.
Kali ini Dinda langsung mengalungkan tangannya ke leher Aris. Menikmati kecepun mereka yang begitu menggebu. Entah kenapa, hari ini seolah-olah Aris melampiaskan amarahnya pada bibir Dinda. Emosinya yang tertahan kini ia lampiaskan pada Dinda namun tanpa menyakitinya. Karena amarah Aris akan jadi kenikmatan bagi Dinda. Jadi ini namanya bukan menyakiti baginya.
"Emh!" Saking enaknya, Dinda sampai mengeluarkan suara erotis yang membuat Aris semakin gencar melakukannya.
Di luar kamar mereka. Samar-samar Wawan mendengar suara *******. Wawan jadi curiga dan ingin memergoki kelakuan Aris yang melanggar pernikahan itu.
"Ini gak boleh dibiarin. Istri baru melahirkan malah diajak macem-macem sama dia," gumam Wawan kesal campur cemburu.
Tok tok tok!
"Argh!" erang Aris emosi. Kenapa di rumah ini gak ada tenang-tenangnya buat dia dan Dinda? Padahal dia lagi menikmati waktunya berduaan dengan Dinda. Tapi ada aja pengganggunya, sampai-sampai Aris merasa terganggu.
"Siapa lagi sih?" tanya Aris pada Dinda.
Dinda menggeleng gak tahu. "Ya udah mas lihat ya, nanti kita lanjut lagi. By the way, mas gak sabar nunggu kita nikah lagi," kata Aris sambil mencuri cium pada bibir Dinda.
__ADS_1
Dinda tersenyum lebar. Geli dengan sikap Aris yang dirasa Dinda kalau Aris itu kelewat mesum ketimbang Briyan. Aris lebih mengerti caranya membuat nikmat, meskipun itu dari ciuman. Untuk yang lain? Dinda belum tahu jawabannya selain hanya kasar dan kejam.
Bersambung...