
***
"Kenapa kamu setega ini ma aku, Wan?"
Sekarang ini Mega tengah di rutan menemui Wawan.
"Aku gak bermaksud kayak gitu Mega. Aku ngelakuin semua itu karena aku kesel banget sama Aris."
"Kesel doang sama Aris? Bukannya kamu cemburu Wan? Jujur aja sama aku. Gak perlu kamu tutup-tutupi, aku udah tahu semuanya."
"Meg, jangan mikirin itu Meg. Tolong kali ini aja, kamu jangan mikirin apapun. Cukup pikirin anak kita Meg," mohon Wawan. Dia memang menyesal atas kesalahannya kemarin.
"Anak kita biar urusanku. Tapi gimana aku tanpamu Wan? Tolong pikirin itu. Aku hamil tapi gak ada kamu di sampingku, gimana rasanya Wan?" Mega menangis di depan Wawan yang terhalang oleh meja persegi kecil di depannya.
"Meg, aku boleh minta tolong kamu gak? Aku mau nulis surat untuk Aris. Siapa tahu Aris dan Dinda punya hati nurani buat ngebebasin aku dari sini," ucap Wawan serius. Ya, dia berjanji akan berubah kalau Aris dan Dinda membebaskannya.
"Apa kamu yakin Aris dan Dinda membebaskanmu?" Mega setengah tak yakin.
"Semoga saja. Mereka berdua orang baik. Apa mungkin mereka tega misahin ayah sama anaknya?" Wawan berharap seperti itu. Aris dan Dinda mau memaafkannya dan mencabut laporannya soal dia.
"Semoga aja Wan."
"Kalau misalkan mereka gak membebaskan aku, ku harap jangan pernah ninggalin aku Meg..." mohon Wawan sambil menggenggam erat jemari tangan Mega.
"Aku gak bisa janji Wan. Maaf," ucap Mega sambil berdiri dan meninggalkan Wawan duduk sendirian di ruang sempit itu.
"Ya Allah, kenapa hidupku jadi seperti ini?" gumam Wawan sambil menangis. Bahkan ibunya juga tak mengunjunginya. Apakah Bu Lastri sudah tak perduli padanya?
Di tempat yang berbeda.
Aris dan Dinda sudah bersiap untuk berangkat. Memulai hidup baru tentunya bersama orang-orang baru. Dia akan meninggalkan semua kenangan buruk di rumah orang tuanya sendiri.
__ADS_1
"Kalian beneran ninggalin ayah?" tanya pak Bambang sedih. Ya, pak Bambang tak bisa menutupi kesedihannya atas kesalahannya sendiri. Dia sadar, selama ini dia telah lalai dalam memberikan perhatiannya pada Dinda. Sekuat tenaga dia membujuk Dinda, tapi semuanya sudah terlambat. Dinda sudah berkeluarga sekarang, jadi dia sudah punya keputusan untuk masa depannya sendiri. Sebagai orang, kini pak Bambang harus ikhlas ditinggalkan oleh anak kandungnya sendiri.
"Bukan ninggalin Yah. Kami cuma pindah rumah aja. Nanti kalau ada waktu, Dinda janji akan ngunjungin ayah," ucap Dinda berusaha menenangkan pak Bambang.
"Harus diusahain Din. Ayah pasti bakalan kesepian nanti." Pak Bambang merajuk.
"Kan ada Bu Lastri, Yah!" kata Dinda lagi.
Pak Bambang cuma tersenyum hambar. Kentara sekali kebahagiaan yang beberapa lalu menghiasi wajahnya kini sudah sirna.
Dinda merasa bersalah. Tapi kalau tidak begini, pasti semua orang akan tetap menyalahkan Aris. Tapi Alhamdulillah, sampai sini akhirnya semua sudah menyadari kalau Wawan adalah dalang masalah Aris.
"Ya udah Yah, takut gelap ini. Kami pamit dulu ya Yah. Jaga diri ayah baik-baik," pamit Aris sambil mengecup punggung tangan pak Bambang.
Lalu dia menuju ke arah Bu Lastri. Bu Lastri terlihat sepertinya tertekan atas kepergian Aris dan Dinda. Mungkin ini ada hubungannya juga dengan pak Bambang.
"Iya Yah, Dinda pamit dulu ya." Dinda bersalaman dan mengikuti jejak Aris yang ikut bersalaman juga dengan Bu Lastri.
"Din!" panggil pak Bambang.
"Iya ayah." Dinda kembali menoleh ke arah ayahnya.
"Simpan ini buatmu dan Zahra ya?" Pak Bambang menyisipkan uang ke dalam tas bayi yang dikenakan oleh Dinda.
"Yah." Dinda agak keberatan. Nafkah yang Aris berikan sejauh ini lebih dari cukup.
"Ambil aja nak. Kalau kamu gak mau, itung-itung itu uang jajan untuk cucuku," kata pak Bambang sambil menatap Zahra.
Pak Bambang mengelus topi yang dikenakan oleh Zahra. Berat sekali rasanya ditinggalkan oleh orang terkasih.
"Makasih Yah. Kami pamit dulu, assalamualaikum."
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam."
Sepergian Dinda dan Aris barusan membuat hati pak Bambang seperti tertampar. Dia yang biasanya tegar, kini harus merelakan air matanya keluar.
"Ayah!" panggil Bu Lastri menghentikan langkah pak Bambang.
Pak Bambang hanya berhenti tanpa menatap wajahnya Bu Lastri.
"Yang salah itu Wawan. Kenapa ayah juga memusuhiku?" tanya Bu Lastri seperti menuntut.
"Karena gara-gara Wawan, anakku Dinda, dia hampir aja kehilangan suaminya. Coba kamu bayangin, sesedih apa aku selama ini saat tahu kalau anakmu itu cinta sama anakku," kata pak Bambang dengan suara lantang.
"Apa yang kamu bilang Yah? Anakku, Wawan. Dia suka sama Dinda? Itu gak mungkin," elak Bu Lastri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya karena tidak percaya.
"Gak mungkin? Harusnya kamu buka mata Bu. Selama ini Wawan selalu menjelek-jelekkan Aris, supaya Aris tertekan dan meninggalkan Dinda. Atau mungkin Dinda yang tertekan dan meninggalkan Aris. Intinya, Wawan ingin hubungan Dinda dan Aris itu kandas," cerita pak Bambang penuh emosi.
Andai pak Bambang tahu dari awal, dia tak akan mungkin membiarkan Wawan tinggal di rumahnya. Semua di luar pemikiran pak Bambang. Karena dari awal pak Bambang pikir, Wawan menyayangi Dinda hanya sebatas adik dan kakak. Tidak lebih. Tapi ternyata, namanya cowok kalau terus-terusan sering bertemu dengan cewek yang notabene hanya step sister. Pasti lama-lama akan jatuh cinta juga. Untung saat itu Dinda waras dan meminta pak Bambang agar mengantarkannya ke Sidoarjo. Tapi kesalahan terulang kembali, pak Bambang kira Wawan akan berubah setelah menikah. Tapi faktanya, Wawan malah bertindak kriminal.
"Itu gak mungkin Yah. Aku emang tahu kalau Wawan gak suka sama Aris. Tapi mana mungkin dia sekejam itu pada Dinda? Bukannya ayah tahu kalau Wawan dari dulu sayang sama Dinda seperti menyayangi adiknya sendiri?" Bu Lastri masih ingin membela Wawan rupanya. Dia masih belum ikhlas anaknya itu dituduh bersalah. Jelas-jelas bukti sudah mengarah pada Wawan, tapi Bu Lastri masih belum terima.
"Itu menurutmu. Lha wong kamu sendiri gak terlalu akrab sama anakmu sendiri, jadi mana mungkin dia cerita ke kamu kalau dia suka sama Dinda."
DEG!
Jantung Bu Lastri langsung berdebar kencang. Dia merasa terpukul 2 kali atas fakta yang ia terima soal Wawan.
"Astaghfirullah." Bu Lastri memegangi dadanya yang sesak.
"Kalau ibu masih gak percaya, silahkan ibu tanya sendiri sama anakmu itu," kata pak Bambang sambil berlalu meninggalkan Bu Lastri.
Pak Bambang masih kesal sama bininya ini. Sepertinya dia salah menilai orang. Harusnya dia menuruti kata Dinda yang sempat melarangnya menikah. Tapi bagaimana lagi, semua sudah terjadi. Dan tak mungkin pak Bambang menceraikan Bu Lastri. Tapi kalau Bu Lastri masih terus membela Wawan, dengan terpaksa pak Bambang akan menalaknya.
__ADS_1
Bersambung....