
...****************...
Aris berjalan menuju ke belakang. Dia melihat Wawan yang tengah makan.
"Makan mas?" tanya Aris basa-basi. Ya, hitung-hitung dari pada gak tanya.
"Gak, aku lagi minum. Jelas-jelas aku lagi makan, masih aja nanya," ketus Wawan.
Aris melirik Wawan karena posisinya yang membelakangi Wawan. Tadinya Aris ingin menyahut, tapi ia urungkan. Karena gak penting banget gitu loh. Jadi lebih baik Aris ke belakang saja, mengangkat jemuran.
Bu Lastri yang masih duduk di depan Wawan langsung menatap anaknya itu.
"Ibuk ada saran nak," katanya tiba-tiba.
"Saran apa Buk?" Wawan terlihat begitu malas menanggapi.
"Gimana kalau kamu minta tolong Aris aja. Lagian kalau minta tolong sama ayah, ayah pulangnya malem kan?"
"Minta tolong? Sama Aris? Gak Buk. Bisa kegedean rumangsa dia tuh," kata Wawan bersikap tak butuh.
"Terus minta tolong sama siapa? Ibuk? Ibuk gak bisa naik motor. Jo? Dia lagi di luar kota. Satu-satunya orang yang bisa kamu mintain tolong itu cuma Aris," kata Bu Lastri memberitahu Wawan yang sangat degil alias keras kepala itu.
"Bisa sewa ojol Buk," kata Wawan lagi.
"Terserah kamu ajalah Wan. Ibuk pusing, mau ke kamar dulu," pamit Bu Lastri meninggalkan Wawan. Bukan karena tak sayang, Wawan itu anaknya emang keras kepala. Ditambah kondisi Bu Lastri yang hari ini terasa kurang fit. Kepergian Mega benar-benar membuat Bu Lastri takut kehilangannya.
"Huft. Kenapa jadi gini sih? Kenapa semua orang jauhin aku?" gumam Wawan yang kini jadi tak nafsu makan.
Kebetulan sekali, Aris kembali muncul di hadapannya. Aris hanya lewat tak melirik Wawan sedikitpun. Males, itulah yang ada di benak Aris saat ini. Lagian Wawan kalau dibaikin malah ngelunjak, jadi lebih baik Aris diem aja.
"Huft, apa iya aku minta tolong Aris? Kayaknya enggak banget deh," gumam Wawan yang mulai bimbang.
"Alah, masih ada ojol kok. Gitu aja repot." Rupanya Wawan tengah dilanda kegundahan. Dia bingung harus diantar Aris apa naik ojek? Lagian Aris belum tentu mau kan?
"Argh! Kenapa jadi gini sih?" Wawan frustasi sambil menjambak rambutnya.
Aris yang kini sudah berdiri di samping Wawan jadi terkejut. Karena saat ini Aris hendak membuatkan susu untuk Zahra.
"Mas Wawan, kamu kenapa?" tanyanya heran.
Wawan berdecih. Dia segera mendorong kursinya. Hampir saja Wawan jatuh, untung Aris sigap menolongnya.
__ADS_1
"Gak usah pegang-pegang," kata Wawan sambil berusaha melepaskan tangan Aris.
Sontak Aris melepaskannya. "Ditolongin gak mau, ya udah," kata Aris yang hendak pergi.
"Eh Ris!" panggil Wawan.
"Ada apa lagi?" kata Aris sok gak perduli lagi pada Wawan. Habisnya Wawan ditolongin malah jual mahal.
"Em, aku butuh bantuanmu!" kata Wawan agak ragu.
Aris yang kini tengah memunggungi Wawan langsung tersenyum tipis. 'Padahal masih butuh, gitu aja sok gak mau ditolong,' batin Aris yang kini dia sudah membalikkan badannya.
"Emang bantuan apa?" Aris menatap Wawan penuh selidik.
"Itu, sore ini kamu sibuk gak?" tanya Wawan lagi. Dia sok baik gini karena butuh pertolongan Aris. Coba kalau enggak, palingan Wawan udah berulah yang gak-gak kayak biasanya.
"Sibuk gak sih mas. Kayak biasanya, jaga bocil. Kenapa?" Aris jujur kok. Emang seperti itu rutinitas kalau dia gak kerja.
"Kalau gitu, anterin aku ke rumah Mega ya?" kata Wawan minta tolong.
"Ow, oke. Kabarin aja nanti mas, aku mau buatin susu dulu."
Lihat tuh si Aris. Meskipun dijahatin oleh Wawan, pernahkah Aris membalasnya. Bahkan saat Wawan minta tolong pun Aris masih bersedia mengantarkan. Coba kalau orang lain, belum tentu Wawan akan dinaikin seperti ini oleh Aris. Tapi masalahnya sekarang satu, batin Aris sedang bertanya-tanya tentang Wawan dan Mega.
"Mas, Zahra nangis terus. Susunya mana?" tanya Dinda yang mengagetkan Aris.
"Astaghfirullah, bentar ya Din. Mas tinggal ngelamun malah kelupaan buat susunya," jawab Aris terlihat menyesal.
"Mas ngelamunin apa? Ibuk? Atau Lia?" tanya Dinda yang menduga Aris tengah kepikiran soal keluarganya.
"Bukan sayang. Mas mikirin mas Wawan sama mbak Mega," jawab Aris sambil mengocok susu formula yang sudah dia buat barusan.
"Urusan kita masih banyak mas. Kenapa mas Aris malah mikirin masalah orang lain ketimbang urusan kita?" protes Dinda gak terima dengan jawaban Aris barusan. Bisa-bisanya Aris masih meluangkan waktu buat melamunkan orang lain ketimbang urusan pribadinya.
"Bukan begitu Dinda sayang. Mas melamun gini karena ada alasannya."
"Alasan apa?" tanya Dinda penasaran.
"Itu lho, tadi mas Wawan minta tolong."
"Minta tolong apa?" potong Dinda yang sudah berada di level penasaran akut.
__ADS_1
"Minta tolong dianterin ke rumah mbak Mega," jawab Aris dengan jujur. Bagaimanapun juga, Dinda adalah istrinya. Jadi hal begini pun Dinda harus tahu. Kalau bukan dari Aris, emangnya Dinda harus tahu dari siapa? Dari Wawan? Gak, kalau bisa Dinda jangan terlalu berdekatan dengan Wawan. Meskipun dalam mulut Aris gak apa-apa, tapi dalam hatinya kayak gak ikhlas. Penuh kecemburuan yang tak ia perlihatkan.
"Loh, emang mbak Mega ke mana mas?" tanya Dinda dan Aris hanya menggedikkan bahunya. Mana dia tahu Mega di mana atau ke mana? Bukan urusannya juga.
"Pantesan dari tadi aku gak denger suara mbak Mega. Ku pikir dia lagi tidur," kata Dinda dengan polos.
"Aku malah gak mikirin apa-apa, ada mereka atau gak itu gak penting. Yang penting itu di rumah ini ada kamu dan anak kita," kata Aris memperjelas isi hatinya saat ini. Aris benar-benar hanya memikirkan Dinda dan Zahra di rumah ini, bukan ke yang lain.
Dinda langsung tersenyum. "Gombal mulu ih, gak kenyang tahu!" protes Dinda sambil mengambil botol susu yang ada di tangan Aris.
"Kenyang kok, nunggu dapet nasi bungkus dari sebelah," kata Aris sambil mengikuti langkah Dinda dari samping.
"Dih ngarep. Mana ada orang yang ngasih kalau gak beli," jawab Dinda sambil menggelengkan kepalanya.
"Ya itu maksudnya mas, dikasih kalau kita beli."
"Idih ikutan aja," protes Dinda gak terima.
"Gak apa-apa, namanya juga ngikutin istri!"
"Dah sana mandi mas! Nanti mas Wawan manggil kamu, kamunya belum siap lagi!" suruh Dinda yang sekarang lagi fokus nyusuin Zahra.
"Iya iya Dinda sayang. Ngusir banget sih." Aris berpura-pura kesal. Dia memanyunkan bibirnya, kode keras buat Dinda. Namun sayangnya Dinda gak ngerti dan malah asik menatap Zahra.
"Mmuah! Gak peka banget sih," protes Aris sambil mencuri ciuman pipi Dinda.
"Ih mas Aris! Bisa gak sih jangan ngagetin kayak tadi!" protes Dinda pura-pura marah. Tapi dalam hatinya seneng banget. Aris pria romantis yang ia temui untuk pertama kalinya.
"Tapi suka kan?" ledek Aris sambil mengedipkan matanya berkali-kali.
Dinda tersenyum tapi mulutnya berbohong. "Gak, kata siapa?"
"Idih, ngaku coba?" pancing Aris setengah menggoda.
"Aris, aku tunggu di depan ya?"
Di saat keduanya asik bercanda, di luar sana terdengar suara Wawan yang tengah menunggu Aris.
"Tuh mas! Mas Wawan udah siap!" kata Dinda sambil terbahak.
"Huft!" Aris mengalah akhirnya.
__ADS_1
"Iya mas! Tunggu ya, aku mau siap-siap dulu!" sahut Aris dan dia segera menuju ke kamar mandi.
Bersambung...