
...****************...
"Jadi gimana kabarmu?" tanya Bu Rukmini setelah dia mengajak Aris duduk di teras.
Keadaan sudah menghangat tatkala Bu Rukmini melarang Lia untuk diam saja. Dan setelah semuanya terasa tenang, barulah Aris mengatakan semuanya.
"Alhamdulillah Aris baik-baik aja Buk. Insya Allah akan berusaha lebih baik lagi. Kalau ibuk? Aris lihat ibuk lebih kurusan sekarang," ucap Aris yang menilai kondisi ibunya saat ini.
"Gimana gak kurus, kalau tiap hari ibu nangisin kamu mas," celetuk Lia setengah emosi. Dia mengira kalau Aris mendekam di penjara lagi gara-gara kasus pemerkosaannya dengan Dinda. Gak tahunya dia masih bebas seperti ini.
"Maafin Aris ya Buk. Aris udah selalu nyusahin ibuk dan Lia," kata Aris lagi penuh menyesal. Dia kembali bersungkem di pangkuan ibunya.
"Udah nak. Ibu udah seneng, ternyata kamu gak di penjara. Soalnya Lia bilang kamu udah buat kasus lagi, jadi ibu gak bisa berbuat apa-apa lagi selain hanya mikirin kamu," jawab Bu Rukmini sambil mengelus-elus kepalanya Aris.
"Gak Buk. Keluarga Dinda sangat baik ke Aris, jadi mereka semua mau menerima Aris."
"Alhamdulillah kalau gitu. Ibu sangat khawatir sama keadaanmu."
"Jangan khawatir lagi ya Buk. Oiya, Aris udah punya anak Buk," cerita Aris pada ibunya.
"Anak? Cucu ibuk?" tanya Bu Rukmini setengah tak percaya.
"Hah!" Lia yang mendengarnya juga ikut menganga.
"Iya Buk. Cewek, wajahnya mirip banget sama Aris Buk," cerita Aris sambil membayangkan wajah anaknya.
"Siapa namanya? Ibu pengen melihatnya boleh?"
"Tentu Buk. Boleh banget malah." Aris bahagia banget melihat respon ibunya. Aris kira ibunya akan menolak kehadiran anaknya, tapi ternyata seburuk-buruk kelakuannya, namanya ibu tetaplah gak bisa setega itu pada darah dagingnya sendiri.
"Oiya, namanya Fatimah Az-Zahra."
"Nama yang bagus mas? Terus kenapa nikah gak ngabarin kami?" tanya Lia sedikit kesal. Namanya adik, pasti senang kalau dikabari langsung sama kakaknya. Tapi ini gak?
"Bukan gitu Lia. Ini mendesak," jawab Aris.
"Beruntung banget kamu mas. Akhirnya kamu bisa menikah juga dengan Dinda. Cewek yang niatnya mau kamu buat balas dendam," celetuk Lia setengah iri.
__ADS_1
"Jangan gitu dong Lia. Mas yakin, suatu saat nanti kamu akan ketemu sama cowok yang tulus mencintaimu," kata Aris menyemangati Lia.
"Terus gimana dengan menantu ibuk?" tanya Bu Rukmini penasaran.
"Sehat Buk. Pemulihan. Oh ya, ibuk sama Lia tinggal di mana sekarang?" tanya Aris ingin tahu.
"Ibu tinggal di kosannya Lia, nak. Lia dapat kerjaan di luar kota, ditambah lagi ibu denger berita tentangmu yang tak pernah berkesudahan. Jadi ibu bertekad ikut Lia aja, siapa tahu dengan begitu ibu akan tenang. Dan ternyata, ibu makin sehat kan?" kata Bu Rukmini yang kini tak kuasa menahan air matanya.
"Ya udah, jangan jauh-jauh lagi ya? Soalnya dalam waktu dekat lagi, Aris dan Dinda akan memperlasungkan pernikahan."
"Pernikahan? Maksudnya?" tanya Lia penasaran.
"Jangan bilang kalian kumpul kebo," tuding Lia lagi.
"Bukan Lia, panjang ceritanya. Pokoknya kalian jangan jauh-jauh lagi, karena aku maunya ibuk sama Lia menyaksikan pernikahanku sama Dinda," pinta Aris.
"Iya nak. Apapun soal kamu, ibuk berharap yang terbaik aja."
"Aamiin."
"Boleh dong?"
"Mas Aris sehatkah?" tanya Lia curiga.
"Sehat. Kenapa emangnya?"
"Gak, kayaknya pengaruh Dinda itu sangat luar biasa pada mas ya? Mas Aris sekarang lebih terlihat berisi, terawat. Dinda patut ku acungin jempol. Hebat juga dia bisa ngerawat mas Aris yang galak jadi kalem kayak gini."
"Kalau di depan Dinda jangan Dinda Dinda ya manggilnya? Karena dia itu isterinya mas, jadi mau gak mau... kamu manggilnya harus mbak," nasehat Aris mengingatkan. Aris sangat menghormati istrinya. Jadi meskipun umurnya lebih muda dari Lia, sebagai adik, Lia tetap harus hormat padanya.
"Iya mas, nanti Lia manggilnya mbak kok. Jadi kapan aku lihat keponakan? Udah gak sabar pengen gendong?"
"Mau sekarang?" tawar Aris.
"Gimana Buk?" tanya Lia minta pendapat.
"Tapi ibuk belum belikan apa-apa buat istri dan anakmu Ris," kata Bu Rukmini tak enak. Uang pun juga pas-pasan. Rasanya sedih sekali jadi orang tua yang belum bisa bahagiain anaknya dari segi materi.
__ADS_1
"Gak usah khawatir Buk. Nanti Aris siapkan semuanya," kata Aris sambil mengelus pangkuan ibunya.
"Gak enak nak. Takut kalau istrimu tahu," jawab Bu Rukmini lagi.
"Gak Buk. Meskipun Aris udah menikah, tapi surga Aris tetap pada ibu. Jadi ibu jangan khawatir masalah ginian ya? Oiya kalau kalian mau lihat Zahra sekarang, ayo biar Aris boncengin ibuk!" kata Aris sambil berdiri.
"Tapi Aris masih tinggal sama mertua. Tapi setelah kami nikah lagi, rencananya kami keluar dari rumah itu," cerita Aris pada ibunya.
"Ya udah, kalau gitu tinggal di sini aja mas. Biar Lia enak nengoknya, gak malu juga soalnya mas tahu sendiri kan? Keluarga istrimu ada mas Jo di sana," jelas Lia sedikit lesu. Susah payah dia melupakan Jo. Jadi dia tak ingin lagi berdekatan dengan keluarganya Jo.
"Iya, gimana dengan ibuk? Boleh gak kalau Aris tinggal di sini sama Dinda dan Zahra?" ijin Aris kemudian.
"Kalau ibu gak masalah nak. Cuma istrimu gimana? Mau gak dia tinggal di tempat kumuh kayak gini?" tanya Bu Rukmini memastikan keadaannya.
"Insya Allah dia mau Buk."
'Soalnya Dinda sendiri yang minta,' batin Aris sambil mengumbar senyuman tulus.
...****************...
Wawan dan Mega tengah melayani Bu Lastri. Tapi sedari tadi tak ada benarnya. Wawan sampai kesal sendiri dibuatnya.
"Ayo dimakanlah Buk. Kenapa manja banget sih? Ini Wawan bela-belain pulang karena ibu sedang sakit tahu?" jelas Wawan. Entah, makin ke sini sikap Wawan makin terlihat aslinya.
"Kalau kamu gak mau suapin ibuk, sini biar Mega aja." Mega mengambil alih. Sebenarnya dia juga gak suka dengan sikap Bu Lastri yang terlalu manja. Padahal tinggal makan, tapi pake acara disuapinlah, inilah. Susah memang.
Ya namanya orang tua, sedang sakit lagi, pasti pengennya dimanjain sama anaknya. Tapi mereka malah bersikap seolah-olah Bu Lastri ini sangat lebay.
Dalam diamnya, Bu Lastri jadi membandingkan antara perbuatan Aris dan Dinda kepadanya. Tak sedikitpun mereka mengeluh meskipun Bu Lastri enggan makan? Bahkan tanpa Bu Lastri minta, Dinda mau menyuapinya.
Tapi sekarang? Anak dan mantunya disuruh nyuapin aja pake acara marah-marah dulu, meskipun pada akhirnya Mega yang mengalah.
'Astaghfirullah. Dosa apakah aku ini?' batin Bu Lastri yang kini hatinya benar-benar dibuat menangis. Tangisan palsunya, kepura-puraannya soal kejahatan Dinda dan Aris. Kini telah ia alami secara langsung, bedanya bukan Aris atau Dinda, melainkan anak dan mantunya sendiri yang telah membuat ia jadi nangis beneran kayak gini.
"Buk? Kenapa nangis sih? Apa makanannya gak enak?" tanya Mega dan Wawan berdecih sebal melihatnya. Bu Lastri seperti tak menghargai usaha mereka, pikir Wawan.
Bersambung ...
__ADS_1