
***
Bandung.
Dinda POV
Hari ini adalah hari pertamaku menginjakkan kaki. Di Bandung, tempat di mana suamiku dilahirkan.
"Sangat sejuk ya Bang," ucapku pada Briyan.
"Iya, pas kan buat kita honeymoon," jawabnya sambil mengedipkan matanya. Genit.
"Ah apaan sih," balasku malu-malu.
"Nah udah sampai!" katanya girang.
"Mamah!" panggilnya pada seorang ibu yang berparas cantik. Tak ayal kalau kota Bandung dijuluki dengan kota kembang. Karena paras kaum hawanya sangat cantik-cantik semua. Kecantikannya sangat khas. Melebihi rata-rata.
"Si kakak udah pulang? Ini mantu mamah kah?" tanya mamah Briyan dalam bahasa Sunda. Tapi mungkin seperti itulah artinya.
"Iya Mah. Geulis kan pilihan kakak?" ucap Briyan dengan pede.
"Iyah, geulis maning. Masuk atuh neng! Sok!" suruhnya padaku.
Aku hanya tersenyum. Terlihat dari raut wajah mamahnya yang sangat welcome padaku. Aku jadi senang. Moga aja aku betah tinggal di sini.
Satu persatu keluarga Briyan berkenalan denganku. Termasuk adik ceweknya. Dia terlihat tidak menyukaiku. Kelihatan dari wajahnya yang cuek dan gak mau bersalaman denganku. Bahkan Briyan pun tak menyuruh adiknya bersalaman denganku.
Aku sedikit tercubit dengan kelakuannya. Tapi aku berusaha tak mempermasalahkannya. Sebab ini adalah pertemuan pertama kali. Semoga kedepannya kami bisa akrab satu sama lain.
***
Setelah acara makan malam selesai. Aku ikut membereskan barang-barang yang kotor. Aku coba membantu mencucinya. Meskipun aku kecapekan dan ingin istirahat, mamah atau papahnya Briyan terlihat cuek. Mereka membiarkanku untuk melanjutkan kegiatanku.
Ya, aku anak menantunya. Aku melakukan semua ini dengan senang. Semuanya demi suamiku. Tapi aku minta dimanjakan sedikit. Karena aku ini sebelumnya anak manja, jadi agak sedikit kaget melihat kecuekan dari keluarga ini.
'Huh, selesai juga,' batinku lega. Aku berharap bisa merebahkan diri secepatnya. Namun tiba-tiba mamah datang dan berdiri di sampingku.
"Mamah," sapaku sambil tersenyum.
"Oiya Dinda. Mulai besok kamu masak sendiri ya. Atau gak, kalau mau beli silahkan. Di sini tidak biasa memasak buat orang banyak. Jadi urusan perut, silahkan diurusi masing-masing. Mau makan atau gak, itu terserah kamu sendiri. Ntah beli atau gimana, mamah gak mau ikut campur," ujar mamahnya panjang lebar.
Aku tersenyum mengiyakan. Ternyata peraturan di rumah Briyan seperti ini. Aku harus bisa adaptasi. Alhamdulillah, ayah memberikan saku yang lumayan untukku. Jadi seenggaknya aku gak terlalu repot buat urusan beli makanan nantinya.
__ADS_1
"Oke, kamu paham kan?" tanyanya sekali lagi.
"Paham Mah," balasku sambil mengangguk.
"Anak pinter. Ya udah, kamu boleh tidur."
"Baik Mah." Huh, lega rasanya. Akhirnya aku bisa rebahan. Fikirku kegirangan.
"Eh tunggu Din!" cegahnya.
"Ya Mah." Apalagi?
"Jangan lupa, nyapu cuci piring. Beres-beres rumah. Cuci baju juga boleh," ucapnya memberi tahu.
"Iya Mah." Aku hanya pasrah saja. Asal Briyan masih bersamaku, apapun tentang keluarganya aku akan menerimanya.
***
Author POV
Setelah 2 minggu tinggal di Bandung, kini Dinda dan Briyan memutuskan untuk kembali ke rumah pak Bambang. Sungguh Dinda tak betah tinggal di sana. Dia hanya mencoba membetah-betahkan diri demi rumah tangganya. Apalagi saku yang diberikan oleh pak Bambang hampir habis gara-gara buat ngebelanjain keluarga Briyan. Sebab Dinda orangnya tak enak hati. Apa mungkin ia beli makanan buat dia dan Briyan saja? Jadi dia beli buat semuanya. Mengingat sampai sekarang adik Briyan tak mau menyapanya. Entah apa salah Dinda sampai dibenci oleh adik Briyan.
"Bang, kita langsung ke rumah ya?" tanya Dinda memastikan.
Sebenarnya Briyan enggan tinggal bareng pak Bambang. Melihat permohonan Dinda yang amat sangat waktu itu, akhirnya Briyan menyetujuinya. Bukan selamanya ia tinggal dengan pak Bambang. Briyan sudah membuat perjanjian pra nikah dengan Dinda. Kalau mereka tidak akan menumpang di rumah orang tua lagi nantinya. Jadi, anggap saja ini menumpang sementara.
Briyan ini bekerja di sebuah bengkel milik ayahnya. Ya, hanya menjaga bengkel saja. Karena dalam keuangan, Briyan masih sering menengadahkan tangannya pada orang tuanya. Bahkan saat dia ngekost, yang bayarin juga orang tuanya. Makanya pas Dinda kesana, mereka semua malah memanfaatkan Dinda. Sebab uang mereka sudah habis buat membiayai Briyan. Dan juga, Dinda adalah istrinya Briyan. Otomatis uang Briyan adalah uang Dinda juga.
Sementara Dinda, rencananya setelah pulang dari Bandung. Ia akan melanjutkan kuliahnya kembali. Tentunya menambal mata pelajaran yang telah lama ia tinggalkan.
Hidup bersama Briyan begitu menyenangkan bagi Dinda. Ia berharap selamanya ia akan terus seperti ini meskipun keluarga Briyan seperti tak menyukainya. Dinda tak masalah, asal dia selamanya hidup dengan Briyan. Susah senang akan ia hadapi. Semuanya hanya perlu adaptasi.
"Em, aku mau belikan oleh-oleh buat mbak Nesa boleh?" tanya Dinda hati-hati. Baru 2 Minggu menjadi istri, Dinda terlihat begitu patuh pada suaminya. Sangat berbeda jauh dengan sikap Nesa yang sedikit pembangkang terhadap si Jo.
"Boleh sih. Tapi Abang lagi gak pegang uang. Pakai uang Dinda aja ya?" kata Briyan.
"Iya Bang." Dinda mengangguk saja. Inilah kalau mereka menikah di usia muda. Belum mapan tentang keuangan. Jadi hanya orang tua yang mereka andalkan. Meskipun begitu, Dinda tetap tak menuntut apa-apa sama-sama Briyan. Dia sadar posisinya bagaimana?
Tak lama kemudian, keduanya sudah sampai di kediaman pak Bambang. Seperti orang tua pada umumnya, pak Bambang langsung menanyai kabar Dinda?
"Gimana kabarmu nak? Ayah kangen banget sama kamu," kata pak Bambang terharu melihat kepulangan anaknya.
"Alhamdulillah, sehat Ayah. Seperti apa yang ayah lihat. Dinda pulang tanpa kekurangan apapun," kata Dinda menampilkan wajah bahagia. Padahal Dinda hanya menutup-nutupinya.
__ADS_1
"Syukur Alhamdulillah kalau begitu. Terus gimana dengan mertuamu di sana? Mereka sehat kan?"
"Iya, sehat ayah," balas Briyan sambil berjalan menuju ke kamarnya.
"Oiya, Briyan mau rehat dulu ya Yah. Capek," ujar Briyan tanpa sungkan-sungkan.
Ya, keluarga Dinda sadar diri. Briyan begitu karena dia merasa telah menjadi pahlawan untuk Dinda. Sebab, Briyan merasa tidak akan ada cowok lain yang mau menerima Dinda selain Dinda.
Briyan gak tahu aja. Kalau keluarga Dinda tahu kebusukannya, pasti Briyanlah yang akan hancur lebur. Berhubung keluarga Dinda baik semua. Jadi mereka tak ada yang berpikiran negatif soal dirinya.
"Iya Yan. Rehat aja," sahut pak Bambang.
"Kamu gak istirahat Din?" lanjut pak Bambang bertanya pada Dinda.
"Bentar lagi Yah." Dinda langsung duduk di ruang tamu. Pak Bambang juga menyusulnya. Sebagai ayah, pak Bambang merasakan sesuatu yang aneh pada Dinda.
"Capek ya?" tanya pak Bambang yang dijawab gelengan oleh Dinda.
"Mereka memperlakukan Dinda dengan baik kan?" tanya pak Bambang penasaran.
Rasanya Dinda ingin cerita. Tapi dia takut kalau ujung-ujungnya jadi salah paham. Takut aja kalau semua berakhir menjadi adu domba antara besan ke besan hanya gara-gara peraturan mertua yang tak bisa Dinda terima.
"Iya Ayah. Alhamdulillah, semua keluarga mas Briyan sangat baik."
"Kamu betah di sana?" tanya pak Bambang lagi.
"Betah Yah," bohongnya.
"Baguslah. Ayah sempat khawatir kalau kamu kenapa-kenapa. Soalnya kamu itu anak ayah yang paling manja. Terus gampang gak betahan kalau tidur di rumah orang," celetuk pak Bambang sesuai yang Dinda rasakan.
"Ah ayah. Lebay!" balas Dinda. Dia langsung berpamitan menuju kamarnya. Menyusul keberadaan suaminya.
Saat tengah rebahan. Tak sengaja mata Dinda menatap tanggalan yang ada di meja riasnya. Matanya terbelalak saat mengetahui dirinya telat datang bulan.
"Ini udah lewat sebulan," gumamnya agak sedikit kaget.
"Hah apa?" tanya Briyan ikutan kaget.
Dinda terdiam. Dia takut sesuatu menimpa rumah tangganya.
Bersambung...
Kira-kira, apa yang terjadi pada Dinda? Benarkah Dinda telat menstruasi?
__ADS_1