
...****************...
5 hari kemudian.
Hari ini adalah hari di mana Dinda dan Aris akan menamai anaknya. Meskipun Dinda dan Aris semakin lengket, tapi hubungan mereka pada keluarga Bu Lastri ( Bu Lastri, Wawan dan Mega) sedikit menjauh. Pasalnya setiap ada Aris, mereka seperti tak sudi untuk melihat. Aris gak masalah, asal mereka gak nyenggol Dinda, jadi mereka akan aman. Kecuali mereka nyakitin Dinda, barulah Aris akan bertindak.
"Kita namai siapa ya Din?" tanya Aris yang belum siap dengan nama anaknya.
"Gimana kalau Fatimah aja mas?" Dinda memberikan usul.
"Fatimah? Boleh sih, mas tambahin Az-Zahra ya? Jadi namanya Fatimah Azzahra? Gimana?"
Dinda setengah berfikir. "Gak masalah, bagus juga mas," jawab Dinda setuju.
"Arti namanya juga bagus kok Din," kata Aris sambil tersenyum menatap wajah anaknya yang saat ini dalam gendongannya.
"Emang apa mas?" tanya Dinda penasaran.
"Kalau dari sumbernya, artinya gadis yang lembut hatinya dan selalu berseri-seri. Semoga saja anak kita selalu diberikan hati yang lembut ya Din," doa Aris sambil terus menatap anaknya begitu dalam.
"Aamiin, semoga mas," jawab Dinda yang juga ikutan menatap anaknya.
Aris merasa sedih dengan anak pertamanya ini. Bukan karena apa-apa. Hanya saja, nasabnya menjadi anaknya Dinda. Bukan dia yang notabene adalah ayahnya. Bagaimana lagi, kalau Aris mau mengulang... Aris ingin menikah duluan ketimbang menghamili Dinda duluan. Tapi kalau penculikan itu gak ada, mungkin Aris juga gak akan pernah memiliki Dinda. Tapi masalahnya sekarang, kasihan dengan anaknya. Akibat kelakuan bejatnya, Aris gak akan pernah bisa mewakili anaknya waktu menikah nanti.
'Maafin ayah Nak. Meskipun ayah gak bisa jadi wali nikahmu, tapi sungguh ayah benar-benar sayang sama kamu. Karenamu, ayah bisa menikah dengan ibumu,' batin Aris yang tanpa sengaja menitikkan air matanya.
"Mas," panggil Dinda sambil mengelus punggung Aris dengan lembut.
"Kenapa mas menangis? Mas mikirin apa?" tanya Dinda penasaran.
__ADS_1
Aris menggeleng. "Gak sayang. Mas cuma merasa sangat bersalah sama kalian. Maafin mas ya. Dan mas berharap, anak kita punya hati yang murah untuk memaafkan semua kesalahan mas di waktu lampau," kata Aris sambil mengusap air mata penyesalannya.
Sesuai namanya, Aris berharap anaknya punya hati yang lembut dan selalu ceria meskipun badai, angin ribut, halilintar menerpanya.
Dinda terdiam. Aris begini mungkin karena Aris merasa Dinda tak mencintainya. Jadi dipikiran Aris hanya ada kata menyesal dan menyesal. Tapi jika Dinda mengatakannya sekarang, Dinda takut Aris akan besar kepala dan tak akan menyayanginya lagi. Jujur, Dinda takut kehilangan semua perhatian yang Aris berikan. Karena sampai kapanpun Dinda tak pernah yakin ada orang setulus Aris kepadanya.
"Semoga suatu saat anak kita bisa mengerti mas. Meskipun aku menutupinya dengan rapat, jika dia mendengar dari orang lain, itu yang lebih bahaya kan mas?"
Aris mengangguk mengiyakan. Benar, serapat apapun Aris menyembunyikan kesalahan masa lalunya, jika ada yang membongkar di depan anaknya, bagaimana dengan reaksi anaknya nantinya? Tapi Aris berusaha untuk tetap merahasiakannya, bagaimanapun juga ini adalah aib yang harus ia tutupi.
"Dinda, Aris! Semua orang udah terkumpul, ayo keluar!" panggil Jo dari depan.
"Iya Jo," sahut Aris yang sudah bersiap. Mereka bertiga berpakaian baju serba putih.
Dinda memakai gamis putih lengkap dengan hijabnya, berikut dengan Aris yang memakai koko putih, celana hitam dan peci hitam. Sementara si kecil, dia menggunakan baju kodok berwarna putih dan bandana berwarna putih. Sangat cantik dan menggemaskan.
Acara sepasaran kalau orang Jawa bilang. Sepasar itu artinya 5 hari. Jadi selamatan sepasaran bayi adalah selamatan ketika bayi berumur 5 hari dan diberi nama.
"Kamu kenapa Mas?" tanya Dinda yang melihat Aris seperti tengah menyembunyikan sesuatu.
Padahal semuanya tengah bercengkrama sambil menikmati makanan dan minuman yang telah disediakan. Tapi sedari tadi Aris hanya diam. Memang sih Aris terlihat bahagia, tapi ada yang disembunyikan. Entah apa itu, hanya Dinda yang menyadarinya.
"Gak Din. Mas cuma keinget ibuk dan Lia," jujurnya.
"Mas mau nyari mereka?" tanya Dinda ingin memastikan.
Aris menggeleng. Dinda pasti kerepotan tanpa Aris. Siapa yang akan mencucikan baju mereka nanti? Apalagi pas anaknya rewel? Siapa yang akan membantu menjaga anaknya kalau bukan Aris dan Dinda? Bu Lastri? Mega? Entah, 2 orang wanita itu seperti mengasingkan diri kalau ada Aris di rumah. Tugas mereka cuma beres-beres rumah, masak, habis itu entah kemana, datang-datang pas jam makan siang. Aris sendiri gak tahu pasti, sejak dia dituding main dukun, Aris sudah gak pernah bertegur sapa dengan mereka. Kecuali mereka minta maaf duluan, baru Aris akan ramah kembali.
"Kenapa gak dicari mas?" tanya Dinda lagi.
__ADS_1
"Kamu repot Din. Gimana kalau Fatimah nangis? Siapa yang akan buatin dotnya? Ayah? Dia sibuk kerja? Mas Wawan? Dia juga sibuk kerja kan? Mereka berdua? (sambil menatap Bu Lastri dan Mega) Mereka gak akan pernah mau Din. Kamu dikucilkan di rumah ini gara-gara aku, aku benar-benar minta maaf sama kamu Din. Mas janji, setelah kita menikah lagi, mas akan ngajakin kamu tinggal di rumah ibuk," kata Aris sedih.
Dinda tersenyum kecut. Bu Lastri dan Mega memang sangat keterlaluan. Ngakunya saudara, tapi sikapnya sudah kayak musuh bebuyutan. Serumah tapi tak saling kenal. Baiknya pas di awal, makin ke sini makin kelihatan sikap aslinya bagaimana.
"Lagian kamu nyarinya gak seharian full kan mas? Kamu bisa berangkat setelah sarapan kan? Sore pulang gitu, kira-kira bisa apa gak?" tanya Dinda ingin memastikan.
"Sebenarnya bisa sih. Tapi kalau mereka pindahnya di luar kota, mas perlu menginap Din. Pe pe pulang pergi itu akan makan waktu yang cukup lama. Tenaga, ongkos juga. Lagian mas gak tega ninggalin kalian. Mending nunggu kamu sehat dulu, baru mas akan mencari ibuk dan Lia. Dari pada nyari sekarang, tapi pikiran mas fokus ke kalian. Kan repot?"
Benar juga apa yang dikatakan oleh Aris. By the way, Dinda jadi keinget nama panggilan untuk anaknya. Dia mendengar kasak-kusuk tetangga sebelah yang mempertanyakan nama panggilan anaknya. Jadi dari pada Aris larut dalam kesedihan, Dinda berusaha mengalihkan pembahasan mereka.
"Ya udah mas, soal itu kita bahas nanti ya? Sekarang Dinda mau bahas soal panggilan anak kita," kata Dinda sumringah.
Melihat itu, rasa sedih Aris langsung sirna. "Mau dipanggil apa emangnya?" tanya Aris antusias.
"Fatimah?" tanya Aris lagi memastikan.
Dinda menggeleng.
"Terus apa?"
"Zahra mas, gimana menurutmu?" Dinda meminta pendapat.
"Bagus. Lebih kekinian juga," jawab Aris setuju.
"Jadi deal ya? Kita manggilnya Zahra?"
"Iya sayang, deal!"
'Nak, bahkan ayah dan ibumu ingin panggilan yang terbaik untukmu. Semoga kelak kau menjadi anak yang Sholehah, yang senantiasa mendoakan kebahagiaan kami di dunia dan di akhirat. Aamiin.'
__ADS_1
Bersambung...