Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Mencari Keluarga


__ADS_3

"Maaf ayah, kami khilaf," ucap Aris sambil nyengir.


"Dari pada gitu terus, mending kalian cepet nikah. Lagian nunggu apa lagi?"


"Nunggu selesai nifas Yah," balas Dinda malu-malu meong.


"Gak apa-apa kalau mau cepet. Biar kalian bisa bebas, gak kayak gitu terus, curi-curi kesempatan dalam kesempitan," saran dari pak Bambang setengah mengejek. Dia hendak mengambil minum tadi. Gak tahunya ada anak dan menantunya yang tengah asik berpacaran. Jadi ganggu dong kehadiran pak Bambang?


"Iya mau sih Yah. Tapi Aris pengennya keluarga Aris nyaksiin pernikahan kami," jelas Aris. Kali ini lebih logis ketimbang jawaban Dinda yang kesannya Aris mau enak-enaknya doang.


"Ya udah apa lagi? Datangi mereka, bilang kalian mau menikah. Bereskan?" kata pak Bambang dengan enteng. Gak tahu aja, kalau Aris lagi kehilangan jejak keluarganya. Aris harus mencari, dan itu butuh waktu.


"Iya Yah, masalahnya mas Aris gak tahu keluarganya lagi tinggal di mana?" jawab Dinda memberitahu.


"Kamu gak akur sama keluargamu?" selidik pak Bambang sambil menatap tajam ke arah Aris.


Aris diam aja. Karena mau bilang tidak, faktanya emang dia belum akur. Aris belum ada minta maaf sama ibu dan adiknya.


Tiba-tiba rasa rindu itu menyerang hatinya. Aris langsung terdiam dan menunduk. Dinda yang melihat perubahan sikap Aris langsung mengerti.


"Mas, minum dulu," suruh Dinda sambil menyodorkan segelas air putih untuk Aris.


"Makasih sayang," jawabnya dan menerima air putih itu.


"Huah, ya udahlah Ris. Kalau gitu lebih baik kamu fokus cari mereka. Kalau kamu nunda-bunda terus, pernikahan kalian juga makin lama jadinya," terang pak Bambang dan dia pergi mengambil air.


"Nanti ayah bantu, gak usah khawatir," lanjut pak Bambang sebelum dia meninggalkan Aris dan Dinda.


"Iya Yah, makasih," jawab Aris senang. Setidaknya pak Bambang masih perduli padanya.

__ADS_1


Sebenci-bencinya pak Bambang pada Aris, tapi dia masih bisa menerimanya selama Dinda juga masih mau menerima Aris. Karena bagaimanapun juga, pak Bambang ini bukanlah tipe orang yang pilih kasih. Hanya saja, kadang-kadang pak Bambang mudah terhasut dari pihak istrinya.


"Terus gimana mas?" tanya Dinda. Dia juga butuh kepastian akan pernikahan yang sah dari Aris.


"Ya udah Din. Kayaknya mulai hari ini mas harus fokus nyari ibu dan Lia," kata Aris dengan mantap.


"Kerjaanmu gimana mas?" tanya Dinda lagi. Soalnya Aris juga harus kerja. Kalau dia fokus nyari keluarganya berarti Aris harus meninggalkan pekerjaannya.


"Aku harus milih salah satu Din. Karena kita lebih penting, jadi untuk sementara mas harus fokus mencari keluarga mas. Soal pekerjaan, kalau nanti masih rejekinya mas, pasti mas akan dapat pekerjaan lagi," ucap Aris sambil memberi pengertian pada Dinda.


Dinda mengangguk paham. Ternyata Aris benar-benar mengutamakan keluarga dari pada kerjaan. Beruntung banget Dinda mengenal Aris. Tapi sayangnya, mereka dipertemukan dalam keadaan yang salah. Mungkin ini yang dinamakan takdir, jawabannya begitu tak terduga.


"Makasih ya mas."


"Untuk?" tanya Aris heran. Padahal Aris gak ngapa-ngapain, tapi Dinda mengucapkan makasih tanpa sebab.


"Hari ini aja?" tanya Aris setengah meledek.


"You know what i mean," kata Dinda sedikit malu.


"Iya sayang. Ayah emang benar, mending mas nyari ibu dan Lia mulai dari sekarang. Karena kalau nanti-nanti, dampaknya juga pada pernikahan kita. Kalau kita gak sah-sah, gimana mas mau begituan sama kamu? Kamu juga pengen itu kan?" tanya Aris dengan menampilkan wajah polosnya.


"Idih, apaan sih mas? Mesum tahu." Reflek Dinda memukul dada bidang Aris.


Hap!


Sedetik kemudian tangan Dinda sudah ditangkap oleh tangan Aris.


"Ya gak apa-apa mesum. Sama istri sendiri kan? Kalau mesumnya sama yang lain, itu yang gak boleh," jawab Aris sambil memegang jemari Dinda. Lalu dia mengecupnya.

__ADS_1


Melihat itu, jantung Dinda berdebar-debar tak beraturan. Dinda ingin memalingkan pandangannya, tapi tidak bisa. Wajah Aris begitu terlihat mempesona, sayang kalau Dinda lewat barang sedetikpun.


"Dinda, i love you more," kata Aris sambil kembali mengecup jemari Dinda.


Salah tingkah. Itulah Dinda. Hal yang seperti ini tak pernah ia dapatkan selain dari Aris.


Oh Aris, kenapa kamu memporak-porandakan tembok pertahanan Dinda? Sekuat tenaganya Dinda berusaha untuk tidak goyah. Meskipun dia mencintaimu, tapi Dinda akan selalu ingin bungkam. Bukannya Dinda tak cinta, dia juga cinta. Hanya saja, Dinda takut kehilangan orang yang sepertimu. Yang selalu ada untuk Dinda, perhatian dan semuanya. Dinda beruntung telah dicintai olehmu.


Tak disangkanya. Keromantisan mereka dilihat oleh Wawan dan Mega. Wawan kesal bukan main. Di saat dia sakit begini, kenapa Aris dan Dinda semakin mesra?


"Sial. Pamer banget tu orang. Sok romantis," omel Wawan dan Mega hanya bisa geleng-geleng kepala.


Karena rasa dendam Wawan belum hilang. Jadi Mega enggan menasehatinya. Sebab sekarang ini, Mega sudah sadar kalau Aris itu adalah pria yang baik. Masa lalunya memang kelam, tapi untuk sekarang, hati Mega sudah terbuka.


Untuk Wawan, Mega rasa suatu saat Wawan juga akan sadar dengan sendirinya tanpa Mega ikut campur tentunya.


"Bawa aku ke kamar," suruh Wawan dan Mega menurut saja. Menolakpun gak bisa kalau maunya sudah ke kamar.


"Ya udah, kamu duduk sini aja Wan. Biar aku ambilkan sarapannya," kata Mega sambil membalikkan badannya.


"Kalau bisa, aku mau disuapi Dinda lagi," celetuk Wawan yang membuat Mega Mak tratap. Jleb banget hatinya. Padahal ada dia, kenapa harus menyuruh Dinda?


"Aku angkat tangan kali ini. Kalau kamu mau, kamu bilang aja sendiri ke Dinda," jawab Mega dan pergi meninggalkan Wawan.


Sudah cukup bagi Mega. Dia benar-benar tak dihargai oleh Wawan. Kalau bukan karena Bu Lastri, Mega gak akan bertahan selama ini dengan Wawan. Tapi tidak kali ini. Mumpung Wawan lagi sakit, Mega akan ijin pulang. Biar Wawan tahu, gimana rasanya saat tak ada Mega di sisinya.


Jika Mega sibuk ingin meninggalkan Wawan. Berbeda dengan Aris yang kini sudah siap untuk mencari keluarganya. Tadi setelah berpamitan dengan Dinda dan Zahra, Aris langsung tancap gas dan on the way menuju rumah lamanya. Rumah di mana dia dibesarkan di sana. Rumah di mana ayahnya meninggal gara-gara kebandelan Aris. Semua kenangan rumah itu, kini muncul dalam ingatan Aris. Meskipun semua kenangan itu tak ada manis-manisnya. Tapi Aris akan selalu mengingatnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2