
Sesampainya di rumah. Semua keluarganya langsung berhambur menyambut kedatangan Dinda dan si kecil. Kecuali Mega dan Bu Lastri. Mereka berdua cuma saling pandang, mendekat takut, menjauh bakal dicurigai. Jadi mereka cuma cari aman hanya berdiri di teras.
"Sini Ris, biar ayah gendong!" pinta pak Bambang sambil meraih cucunya dari gendongan Aris.
"Makasih ya Jo. Maaf udah sering ngerepotin," kata Aris sambil mengambil alih tas yang ditenteng oleh Jo.
"Heleh kayak sama siapa Ris. Sekarang kita udah jadi keluarga Ris. Jadi gak perlu sungkan, kalau kamu butuh apa-apa tinggal bilang aja sama aku," balas Jo sambil menepuk pundak Aris.
"Sini Raskha, sama ayah yuk? Bunda mau bantuin Tante Dinda," kata Jo yang kini langsung menggendong Raskha.
"Welcome Dinda. Gimana perasaanmu sekarang? Pasti plong banget kan?" tanya Nesa sambil menuntun tangan Dinda.
"Selamat ya Dinda," ucap Mega sambil menyalami Dinda.
"Makasih mbak," jawab Dinda biasa saja. Ya dari awal Dinda memang gak dendam. Hanya saja, Dinda ingin Mega dan Bu Lastri merubah kebiasaan buruknya yang suka ngegosip itu. Mereka gak tahu rasanya digosipin itu seperti apa?
"Sini biar ibu bantu," tawar Bu Lastri. Dan Dinda hanya manut saja. Lagian Bu Lastri sebenarnya juga baik. Tapi gak tahu isi hatinya gimana?
"Istirahat dulu Din. Mbak Nesa ambilin kamu makan ya?"
"Gak usah mbak. Dinda masih kenyang," kata Dinda sambil duduk di kasur, tentunya dibantu oleh Bu Lastri juga.
"Ya udah, mbak ambilin minum ya? Kamu pasti haus," tawar Nesa lagi.
"Boleh mbak," sahut Dinda mengiyakan.
Kini di kamar itu tinggal Dinda dan Bu Lastri. Canggung, itulah satu kata yang tepat buat mereka. Hingga Bu Lastri akhirnya memberanikan diri untuk buka suara.
"Din, soal kemarin... Ibu bener-bener minta maaf sama kamu," kata Bu Lastri sungguh-sungguh.
Dinda menatap ke arah Bu Lastri. Ada kesungguhan di sana, tentu Dinda tak bisa membiarkannya. Allah saja Maha Pemaaf, sementara dia... Dia hanya manusia biasa. Tentu Dinda akan memaafkan Bu Lastri.
"Dinda udah maafin ibu Lastri kok. Tapi Dinda harap, ibu gak bersikap kayak kemarin lagi," harap Dinda dan Bu Lastri langsung memeluknya.
__ADS_1
"Makasih ya Dinda. Kamu emang punya hati yang baik," kata Bu Lastri sambil melepaskan pelukannya.
"Sama-sama Bu," balas Dinda. Dan niatnya untuk cerita ke Aris musnah seketika. Lagian masalah sudah clear, jadi Dinda berharap gak ada pengkhianat lagi di rumah ini.
"Akrab banget? Mbak Nesa jadi iri," kata Nesa sambil meletakkan teh hangat di meja laci.
Sementara itu, Mega yang tak sengaja melihatnya juga menatap iri. Tak lupa juga Wawan.
'Ini gak bisa dibiarin. Ibuk gak boleh dengan mereka. Apalagi dekat dengan Dinda? Pasti apapun yang Dinda mau, pasti ibuk akan mendukungnya.'
"Ngapain lu?" hardik Mega yang menyadari keberadaan Wawan.
"Lu tuh ngapain? Kasihan, gak dianggap. Masih betah lu!" Wawan balik menyerang Mega.
"Lu tuh jadi orang gak ada baiknya Wan. Gue ini istri lu, hormati gue dong?" balas Mega kesal. Orang rumah mengucilkannya, sekarang Wawan yang gak menganggap dia sebagai istrinya. Benar-benar penderitaan yang lengkap buat dia.
'Breng*sek,' batin Mega emosi. Dia langsung kabur ke kamarnya. Mengemasi beberapa barang yang sempat dia beli beberapa waktu secara online. Rasanya Mega udah gak kuat, lebih baik dia pulang.
Mega mengusap pipinya yang sempat basah akibat air mata yang jatuh. "Pulang," jawab Mega singkat.
"Pulang? Gak ada kata pulang," balas Wawan lagi.
"Gue punya tempat tinggal Wan," balas Mega yang kini sudah dalam mode letih dengan keadaan.
"Gue suami lu Mega. Lu kudu hormat pada suami. Karena surga lu ada pada gue!" kata Wawan sambil menutup pintu kamarnya. Gak boleh sesiapapun mendengar pertengkaran mereka berdua. Bisa gawat.
"Lu selalu minta dihormati. Tapi lu sendiri gak pernah hormatin gue sebagai istri. Lu selalu ngancem gue dengan alesan lapor ke Jo. Gue tahu, gue lemah kalau menyangkut nama Jo. Tapi dengan seenak hati lu, lu manfaatin keadaan itu semua. Suami macam apa itu namanya hah!" Mega emosi. Semua unek-unek yang ia pendam, kini keluar sudah. Jika memang berakhir, maka akan ia akhiri sekarang. Lebih baik berakhir sekarang, dari pada nanti akan menyisakan luka yang begitu dalam.
"Jaga bicara lu Mega!" Kali ini Wawan yang emosi. Sebenarnya dia gak tega bersikap kasar seperti ini pada seorang wanita. Tapi Mega selalu memancing amarahnya. Ditambah lagi, Mega lah alasan Wawan untuk tetap tinggal di sini. Kalau Mega hengkang, otomatis Wawan akan hengkang juga. Jadi itu tandanya Wawan gagal merebut Dinda dari tangan Aris.
'Demi kebaikan rumah tangga gue... gue harus rela berpura-pura menyayangi Mega. Kalau gak, semua rencana gue buat milikin Dinda akan failed.'
"Apa! Lu mau lapor ke Jo. Silahkan Wan! Silahkan! Gue udah siap keluar dari rumah ini!" tantang Mega dengan berani.
__ADS_1
Fiuh.
"Gak Mega. Jangan tinggalin aku. Aku minta maaf atas sikapku yang udah kasar sama kamu. Tolong jangan pergi! Berikan waktu buat aku dan kamu untuk saling mengenal," bujuk Wawan sambil mendekat.
Mega terdiam. Wawan terlihat berbeda hari ini. Ini seperti Wawan yang dulu selalu kepo padanya. Tapi apakah Mega bisa menerima bujukan Wawan barusan?
"Aku? Kamu? Lu gak usah main drama deh!" balas Mega dengan ketus. Soalnya Mega curiga kalau Wawan sedang menginginkan sesuatu.
"Gak Mega. Please Dengerin aku! Pernikahan kita masih singkat, kita masih punya banyak waktu untuk memperbaikinya," bujuk Wawan sekali lagi.
"Tapi gue masih cinta sama pak Jo," sahut Mega dengan jujur.
'Sialan! Tapi gak masalah sih, gue juga masih cinta sama Dinda. Lagian ini hanya pura-pura, tapi tanpa sepengetahuan lu Mega,' batin Wawan sambil tersenyum saat ditatap oleh si Mega.
"Gak pa-pa, cinta itu tumbuh belakangan. Yang penting pernikahan kita harmonis," kata Wawan yang kali ini pura-pura mengelus pundak Mega.
Wanita manapun jika diperlakukan seperti itu pasti akan luluh. Begitupun Mega, dia langsung luluh gara-gara Wawan mengelus pundaknya. Mega menurunkan egonya dan kembali mengeluarkan barang-barangnya dari dalam tas.
"Yang penting kamu janji sama aku, kamu jangan ganggu Dinda. Dan aku juga berjanji sama kamu, kalau aku gak akan ganggu Jo."
"Gak akan ganggu Jo? Maksudnya apa ya?" celetuk Nesa tiba-tiba.
Nesa berniat memanggil mereka berdua untuk diajak makan bersama, sambil membicarakan nama yang bagus untuk anak Dinda. Tapi dia malah mendengar obrolan yang mencurigakan.
"Emm, itu anu..." Mega gugup seketika.
"Mas Wawan, bisa jelasin apa yang kalian obrolin barusan?" tanya Nesa tanpa bisa diganggu gugat.
"Gini Nes..."
Bersambung...
__ADS_1