Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Mega Hamil


__ADS_3

Di tempat yang berbeda.


Entah angin apa, hari ini Mega begitu sangat ingin dimanja oleh sang suami. Bahkan makan pun juga ingin disuapi oleh si Wawan.


"Kamu kenapa sih? Emang gak bisa apa makan sendiri?" Wawan terlihat malas menanggapi permintaannya si Mega.


"Aku bisa Wan makan sendiri, tapi aku pengen banget disuapin sama kamu," kata Mega lagi.


"Gak ibuk, gak kamu... kekakuan sama aja," omel Wawan kesal.


"Aku kan mantunya, jadi wajar dong? Tapi Wan, please suapin aku... kali ini aja," mohon Mega bersungguh-sungguh. Gak tahu kenapa, rasanya dia malas makan kalau gak disuapin oleh Wawan.


"Hem, ya udah deh," jawab Wawan sambil menyuapi si Mega.


Baru aja sekali suapan, si Mega sudah terlihat bahagia banget.


"Makasih ya Wan," kata Mega yang membuat hati Wawan terenyuh.


"Ya udah, kamu bisa lanjutin makan sendiri kan?" tanya Wawan memastikan.


"Bisa, tapi aku pengen sekali lagi disuapin sama kamu."


"Minta disuapin lagi?" Wawan menatap Mega dengan intens.


"He'em," jawab Mega sambil mengangguk antusias.


"Astaga, ya udah aaa!"


Dan Mega dengan senang hati mengunyahnya.


Di sisi lain, nenek Nur yang melihat keromantisan mereka jadi senang. Dan di saat Wawan duduk sendirian, kini nenek Nur mendekat ke arahnya.


"Nak Wawan," panggil nenek Nur yang kini duduk di depan Wawan.


"Iya Nek, ada apa?" tanya Wawan ingin tahu. Tak biasanya nenek Nur sok akrab kayak gini.


"Nenek cuma mau ceritain soal Mega," kata nenek Nur.


Sebenarnya Wawan tak suka dengan masa lalunya Mega. Tapi kalau berurusan dengan orang tua, mau gak mau Wawan harus mau mendengarkan.


"Mega itu anak yatim-piatu. Sejak kecil orang tuanya meninggal. Jadi bisa dibilang kalau dia sebenarnya kurang kasih sayang. Saat dewasa, dia jatuh cinta sama cowok. Tapi sayangnya cowok itu sudah beristri. Nenek berusaha menasihatinya, tapi dia tetap memaksa. Dan sekarang dia menikah dengan kamu, jadi nenek harap kamu bisa menyayanginya dan membahagiakannya. Ini nenek tolong banget sama kamu, jangan pernah sakiti perasaannya Mega. Dia emang tegar dari luarnya, tapi dalam hatinya dia rapuh," cerita nenek Nur panjang lebar.

__ADS_1


'Jadi si Mega anak yatim-piatu. Pantes aja dia gak pernah bahas soal orang tuanya. Kasihan dia,' batin Wawan yang mulai prihatin dengan keadaan istrinya.


"Tolong ya Nak, tolong bahagiakan Mega. Ini permintaan nenek yang pertama dan terakhir sama kamu," kata nenek Nur menyudahi obrolannya bersama Wawan.


"Insya Allah Nek," jawab Wawan agak ragu. jadi mulai sekarang bebannya bertambah 1.


'Semoga aja Mega gak hamil. Kalau hamil, terpaksa aku harus mengubur dalam cintaku pada Dinda,' batin Wawan gelisah.


Di saat Wawan sibuk dengan hidupnya ke depan. Berbeda dengan Aris dan Dinda yang kini sudah diijinkan tinggal sekamar. Itu karena, besok lusa mereka berdua mau menikah ulang. Ditambah lagi posisi Aris yang lumpuh, jadi orang-orang akan mengira semakin repot mengurusi Aris. Dari pada mereka yang repot, mereka semua memutuskan agar Dinda saja yang merawat semua kebutuhan Aris. Jadi malam ini keduanya sudah bebas bersama. Tapi tetap, Dinda masih nifas. Jadi tak mungkin mereka akan melakukan hubungan suami istri malam ini.


Keesokan harinya.


"Mega, udah siang nih. Tumben kamu malas-malasan. Kamu gak mau masakin aku gitu? Aku mau kerja nih." Wawan menggoyang-goyangkan tubuh Mega biar bangun.


"Aku pusing Wan. Dari tadi udah ku coba bangun, tapi bawaannya pusin pengen muntah," jawab Mega sambil memegangi kepalanya.


"Hadeh, manja amat sih!"


'Kalau aku biarin Mega sakit, aku gak enak sama nenek Nur. Tapi kalau aku perhatian sama Mega, pasti si Mega kegedean kepala, dia bakalan mikir kalau aku suka sama dia. Cuih, aku belum sudi mencintai Mega. Tapi Dinda? Adakah harapan aku dicintai olehnya?'


"Wan, badanku lemes banget. Maaf ya, hari ini aku mau istirahat aja," kata Mega sambil meringis menahan sakit.


"Aku antar ke dokter," kata Wawan yang membuat Mega kaget.


"Apa hah hah. Buru siap-siap sana, aku tunggu." Wawan langsung keluar dari kamarnya. Entah mau kemana, tadi tangannya sambil meraih kunci sepeda motor dari atas nakas.


"Iya Wan," jawab Mega sambil berusaha turun dari ranjang. Ini sakit yang tak biasa. Pusing campur mual. Benarkah ucapan Bu Lastri? Kalau benar, berati dia akan hamil anaknya Wawan.


"Apa iya aku hamil? Gimana kalau Wawan gak bisa menerima anak yang ku kandung ini?" gumam Mega sedikit takut.


Sejauh mereka menikah, tak ada rasa cinta maupun sayang. Tapi Mega akhirnya mau menerima Wawan. Tinggal Wawannya saja, kalau dia mau menerima Mega pasti hubungan mereka akan indah suatu saat ini.


Beberapa menit kemudian.


"Dah siap belum?" tanya Wawan dan Mega keluar dari kamar mandi.


Hanya mengenakan baju handuk di atas lutut terlihat begitu seksi dan cantik di mata Wawan.


'Sial. Dari kemarin-kemarin aku gak pernah melihatnya seksi, tapi kenapa sekarang dia memancing juniorku?' batin Wawan sambil memalingkan mukanya.


Mega yang masih pusing, jadi dia tak mengerti apa yang Wawan pikirkan. Toh biasanya Wawan juga gak pernah perduli kepadanya.

__ADS_1


"Buruan aku bilang. Jadi orang lelet banget kayak siput," gerutu Wawan tiba-tiba. Entah apa yang Wawan rasakan. Mungkin karena terbiasa bersama, jadi Wawan juga punya rasa ke Mega. Tapi dia masih belum sadar dengan perasaannya, atau gengsi untuk mengungkapkan?


"Iya bentar. Aku juga udah bilang aku pusing Wan," ucap Mega. Meskipun terdengar marah, tapi nada suara Mega benar-benar membuat Wawan mabuk kepayang.


"Ya udah, nih sarapannya. Aku tunggu di luar aja," kata Wawan sambil menyerahkan sebungkus nasi.


Mungkin dia habis beli sarapan. Tapi tumben nunggu di luar. 'Biasanya dia acuh banget lihat aku gak pakek busana. Tumben sekarang mau nunggu di luar,' batin Mega penuh tanda tanya.


Ya, biasanya Wawan gak pernah terlihat bernafsu kepadanya kecuali kalau marah. Tapi hari ini, semuanya terlihat berbeda. Wawan lebih perhatian kepadanya dan Mega suka dengan itu.


"Udah sarapannya?" tanya Wawan saat melihat si Mega sudah keluar kamar.


Mega menjawabnya dengan gelengan.


"Kenapa?" tanya Wawan lagi. Nadanya agak kesal.


"Aku maunya disuapin kamu," kata Mega malu-malu.


"Astaga ni anak. Kamu kenapa sih? Ya udah mana nasinya, keburu siang juga." Si Wawan malah mengomel-ngomel. Tapi akhirnya dia mau juga menyuapi si Mega.


"Dah kan makannya?"


"Iya, makasih Wan."


"Ya udah buruan ku antar ke dokter, takut kalau penyakitmu makin parah. Yang ada aku kena marah nanti," ucap Wawan ngedumel sendiri.


"Emang siapa yang marah?" tanya Mega penasaran.


"Gak ada, ayo cepetan!" Wawan menyeret lengan Mega sedikit kasar.


Entah kenapa dengan si Wawan, dia seperti benci tapi juga suka.


Tak lama kemudian, mereka berdua sudah berada di tempat dokter. Mega sedang diperiksa, bahkan disuruh tes urin.


"Tinggal menunggu hasilnya," ucap dokter itu yang membuat Wawan dan Mega deg-degan. Jika Wawan berharap Mega gak hamil, berbeda dengan Mega yang sudah bisa menerima apapun hasilnya. Karena jika dia hamil, Mega ingin bermanja terus-terusan dengan Wawan.


"Gimana dok?" kata Wawan tak sabaran saat si dokter membawa hasil tes kehamilannya.


"Selamat ya Pak. Istri Anda hamil."


"APA??" Wawan terlihat syok.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2