
"Biar aku aja yang nyuapin!" sahut Aris dari luar. Dia mana ikhlas membiarkan istrinya menyuapi orang lain.
"Gak mau!" jawab Wawan dengan kesal. Dia memalingkan mukanya dari Aris. Wawan masih punya dendam kesumat dengan Aris, mana mungkin dia mau disuapin Aris. Enak aja.
"Jangan nak, ibu takutnya mas Wawan gak makan nanti," cegah Bu Lastri pada Aris.
Aris berusaha sabar. "Ya udah Din, gak apa-apa," kata Aris dengan berat hati.
Dinda mengangguk paham. Segera dia mendekat ke arah Wawan. "Sini mas," katanya.
Sontak saja Wawan senang dan menatap Dinda. Segera Dinda mengambil sesendok nasi, di sana Aris dan Mega menatapnya dengan berat hati. Aris hendak pergi, namun diurungkannya. Dia yang udah ngijinin, jadi dia harus rela melihatnya meskipun itu panas.
"Tutup matanya dong?" pinta Dinda pada Wawan.
"Kenapa tutup mata?" protes Wawan gak terima.
"Gak tutup mata, Dinda gak mau nyuapin," rayu Dinda lagi dan akhirnya Wawan menurut.
"Ya udah deh, iya," jawab Wawan pasrah.
Saat Wawan sudah menutup matanya. Dinda meraih tangan Mega. Mega sempat protes, tapi Dinda memaksanya.
"Aaa, buka mulutmu mas!" perintah Dinda memberikan instruksi.
Satu suapan berhasil dimakan oleh Wawan.
"Gimana? Enak?" tanya Dinda memastikan.
"Enak," jawab Wawan dengan senang.
"Ya udah, lagi ya... sampai habis," kata Dinda. Dia menoleh ke Aris dan memperlihatkan kedua tangannya, bahwa dia tak menyuapi Wawan sedikitpun. Karena Dinda tahu, di sini masih ada yang lebih berhak. Yaitu istrinya Wawan, Mega.
Aris tersenyum bahagia. Dia patut mengacungkan jempolnya, kalau Dinda pintar menjaga perasaan pasangannya. Sudah gak diragukan lagi bagi Aris, karena Dinda adalah tipe wanita idaman. Udah cantik, setia, mau menerima kekurangan pasangannya lagi.
Dan tanpa Wawan sadari, ternyata Wawan sudah menghabiskan sepiring nasi dengan disuapi oleh Mega.
"Pinter mas Wawan, akhirnya dah habis," kata Dinda sambil mundurin langkahnya.
"Dinda mau ke kamar dulu ya mbak, Bu. Mau lihat Zahra," pamitnya dan Wawan segera membuka matanya. Dia melihat piringnya ada di tangan Mega, namun Wawan gak menaruh curiga sedikitpun. Justru Wawan meminta Mega untuk mengambilkan minum dan obatnya.
"Cepet sembuh ya mas," kata Mega sambil mengelus lengan Wawan.
__ADS_1
"Yaudah, kalian istirahat aja. Ibuk mau ke kamar dulu," pamit Bu Lastri meninggalkan Wawan dan Mega.
"Iya Buk. Makasih," jawab Mega senang.
Setelah pintu tertutup, Mega mendekat ke arah Wawan. "Kalau pusing, bobok aja Wan," suruh Mega sambil menyelimuti Wawan.
"Kenapa kamu senyam-senyum kayak gitu?" tanya Wawan dengan ketus.
Mega seneng karena bisa menyuapi Wawan. Dan lagi, ternyata Dinda begitu pengertian. Jadi Mega yang tadinya sempat cemburu gak jadi cemburu. Semua ini berkat kebaikan Aris dan Dinda. Sepertinya Mega sudah salah mengira menilai mereka. Kalau bisa, malam ini Mega akan berusaha bersikap baik kepada Aris dan Dinda. Biar gak ada perseteruan lagi di rumah ini.
"Gak Wan. Aku cuma ngerasa, kalau kita udah salah menilai Aris," kata Mega dengan jujur.
"APA?" teriak Wawan kesal.
"Sejak kapan kamu punya penilaian seperti itu terhadap Aris? Jelas-jelas kamu tahu sendiri, Aris itu orangnya gimana? Dia udah nyudutin aku semalem? Bukannya kamu juga udah lihat?" tanya Wawan kesal. Pasalnya Mega sudah mulai termakan dengan hasutan Aris juga.
'Argh! Kenapa semua orang jadi terhasut dengan Aris sih? Benar-benar dia, dukunnya ampuh banget,' batin Wawan kesal. Usai makan, tenaganya kembali pulih. Jadi dia bisa mengeluarkan emosinya dan dia lampiaskan kepada Mega.
"Gak gitu, tapi dia emang baik loh Wan."
"Baiknya di mana?" tanya Wawan masih kesal.
"Kalau dia gak baik, mana mungkin dia ijinin Dinda bujukin kamu buat makan," kata Mega lagi. Matanya menerawang jauh di depannya.
"Ah udahlah Wan. Mending turu, tidur! Biar kamu baikan dan bisa kerja," kata Mega yang langsung merebahkan dirinya di samping Wawan. Lalu dia memiringkan badannya membelakangi Wawan.
Wawan juga sama, dia segera memiringkan badannya untuk membelakangi Mega. Tak ada kata romantis untuk pasangan satu ini selain pas lagi melakukan ibadah malam Jum'at.
...****************...
Pagi ini Dinda dan Aris terlihat begitu akur. Mega sebenarnya iri melihat keromantisan mereka. Tapi sekarang Mega sadar, kalau mereka berdua adalah pasangan yang serasi. Meskipun awalnya tanpa cinta, tapi keduanya saling melengkapi.
'Semoga rumah tanggaku juga bisa seperti mereka,' batin Mega dalam hati.
"Kalian mau sarapan?" tanya Mega.
Sontak Dinda dan Aris menatapnya secara bersamaan. Biasanya Mega terlihat cuek, tapi hari ini Mega terlihat hangat kepada mereka.
Aris dan Dinda juga tak curiga dengan kebaikan Mega. Hanya saja, ekspresi keduanya begitu terlihat tak percaya. Masih kaget.
"Iya mbak," jawab Dinda setelah tak ada sahutan apapun dari mulut Aris.
__ADS_1
"Kalau gak ada lauk, kalian ambil aja di dapur. Gak usah order, soalnya aku sama ibuk masak banyak hari ini," kata Mega yang membuat Aris makin terasa nyeleneh.
'Tumben mbak Mega jadi baik. Salah obatkah?' batin Aris merasa aneh.
"Ah iya mbak. Makasih banyak lho," balas Aris sedikit sungkan. Pasalnya Aris belum sempat membelikan kebutuhan dapur. Kayaknya nanti sore sepulang kerja Aris harus membelikan bahan-bahan dapur, biar kalau makan gak sungkan. Pikirnya.
Sepergian Mega, Dinda langsung mendekat ke Aris seraya membisikkan sesuatu. "Tumben ya mas, mbak Mega gak seperti biasanya."
"Iya, tadi mas juga mikir begitu. Terus gimana? Kayaknya gak enak kalau kita nolak pemberiannya," ucap Aris minta pendapat.
Rupanya Dinda juga sependapat dengan Aris. Ditawari seperti itu mana mungkin Dinda tolak. Kalau ditolak kesannya gak menghargai.
"Iya mas, nanti kita makan masakan mbak Mega sama ibu ya. Pas makan malem," kata Dinda memberitahu.
"Iya udah kalau gitu, sekarang kita makan ini aja," ajak Aris. Sebab dia tadi sempat beli lauk masak di pasar. Jadi mubazir kalau gak dimakan.
"Iya mas," jawab Dinda yang ikut sarapan bareng Aris.
"Kamu makan yang banyak," kata Aris sambil mengambilkan lauk buat Dinda.
"Jangan banyak-banyak mas, nanti aku tambah gendut lho," protes Dinda setengah manyun.
"Jangan manyun ih, mas gak kuat lihatnya," jawab Aris sambil manja-manja nakal.
"Ih, gak boleh. Banyak orang mas," tolak Dinda sambil menatap tajam ke arah Aris.
"Dikit aja Din. Ayolah!" Aris mendekat sambil dia meletakkan piring Dinda ke meja.
Dinda menghembuskan nafas berat. Permintaan Aris gak bisa dia tolak. "Ya udah, dikit aja," jawabnya.
"Asik," kata Aris senang.
Segera Aris memiringkan kepalanya. Dan Dinda segera menutup matanya. Hembusan nafas mereka saling menerpa kulit pipi masing-masing.
"Ehm!!" Suara deheman penuh interupsi itu mengejutkan Aris dan Dinda.
"Eh ayah," kata Aris setengah salting. Dia segera menjauh dari Dinda dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Bagus ya?" kata pak Bambang yang sepertinya akan marah kepada mereka.
Aris jadi merasa bersalah pada Dinda. Harusnya dia tahan dulu nafsunya tadi.
__ADS_1
'Gimana ini?'
Bersambung...