Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Hilang Kepercayaan


__ADS_3

"Ya Allah, bagaimana ini?" gumam Bu Lastri yang udah gak kuat.


Di luar kamarnya, ada Aris dan Dinda yang sedang asik nonton TV. Aris hari ini sengaja gak mencari keluarganya karena tahu saat ini Dinda lebih membutuhkannya.


"Kamu suka lihat Naruto gak?" tanya Aris sambil duduk berdekatan dengan Dinda. Mereka terlihat seperti pasangan baru jadian. Lengket dan romantis.


"Aku gak suka kartun mas. Tapi kalau kamu mau nonton itu gak apa-apa sih," kata Dinda sambil menatap layar televisi di depannya. Lagian dia gak ada pekerjaan. Zahra sedang tidur, jadi apalagi selain menemani suami?


"Ya udah, kita nonton yang lain aja. Kamu sukanya apa?" tanya Aris lagi.


"Aku apa aja sih mas, kurang mengikuti program TV," jawab Dinda jujur.


Baru saja mereka asik menonton. Tiba-tiba Bu Lastri keluar kamar sambil sempoyongan.


"Ibu? Ibu kenapa Bu?" tanya Aris yang melihat duluan keadaan Bu Lastri.


"Ibu, kalau mau apa-apa bilang ke Dinda aja gak apa-apa. Kenapa ibu paksain keluar?" Dinda menyalahkan Bu Lastri saat ini. Karena Bu Lastri itu gak cukup kalau hidup sendirian, jadi ngapain gitu tadi pagi dia pakai acara memfitnah Dinda? Sekarang dia jatuh, siapa yang nolongin kalau bukan Aris dan Dinda?


"Kamu udah bilang ke ayahmu, kalau kamu gak mau lagi urusin ibu!" tuding Bu Lastri sambil memegangi kepalanya yang sedang sakit.


Tuh kan? Sejak kapan Dinda bilang kayak gitu?


"Perasaan Dinda gak ada bilang gitu. Dinda cuma bilang biar ayah aja yang ngurusin ibu Lastri. Gak lebih," jawab Dinda lagi.


"Justru perkataanmu yang kayak gitu, yang seolah-olah udah gak mau ngurusin ibu." Bu Lastri masih membantahnya.


"Astaghfirullah. Susah ya ngomong sama ibu. Dahlah mas, tinggalin aja ibu Lastri, dia bisa sendiri kok," ajak Dinda pada Aris yang tengah berjongkok di samping Bu Lastri.


Demi kenyamanan bersama, Aris akhirnya nurut pada Dinda.


"Din!" panggil Bu Lastri tiba-tiba. Dia udah gak kuat lagi, jadi mau gak mau kali ini dia harus minta tolong sama Dinda maupun Aris. Sebab Wawan atau pak Bambang sendiri gak bisa diandalkan.


"Iya, ada apa Bu? Kalau manggil cuma buat maki-maki kami, lebih baik gak usah panggil lagi," kata Dinda yang terus menggandeng Aris agar menjauh dari Bu Lastri.


Aris seperti tak tega saat melihat keadaan Bu Lastri. "Tunggu sayang," kata Aris mencegah langkah Dinda.

__ADS_1


"Kenapa mas?"


"Ibu kayaknya gak baik-baik aja. Bentar ya?" kata Aris sambil menarik tangannya yang sempat digenggam oleh Dinda.


Dinda mengikuti langkah Aris yang mendekat ke arah Bu Lastri. Wajah Bu Lastri susah dimengerti, antara jujur atau palsu. Dinda jadi gak bisa membedakannya? Semua gara-gara Bu Lastri sendiri yang udah menghancurkan kepercayaan Dinda kepadanya.


"Badan ibu panas banget Din. Kayaknya kita butuh dokter," kata Aris saat tangannya tak sengaja bersentuhan dengan tangan Bu Lastri.


"Terus gimana mas?" tanya Dinda jadi khawatir.


"Biar mas teleponin dokter pribadi nanti ya? Sekarang mas harus bawa ibu ke kamarnya."


Sebenarnya Bu Lastri ingin menolak saat dipegang oleh Aris. Tapi tenaganya sudah hilang, ditambah lagi kondisi tubuhnya yang lagi sakit. Jadi sekarang dia hanya bisa pasrah.


"Iya udah mas. Biar Dinda buatin teh hangat ya?" kata Dinda yang hendak berbalik arah.


"Dinda," cegah Bu Lastri lagi.


"Kenapa Bu?" tanya Dinda dengan sabar. Meskipun disakitin seribu kalipun Dinda masih bisa berbuat baik pada Bu Lastri.


"Ibu lapar, perut ibu sakit banget," keluh Bu Lastri pada Dinda.


"Mau," jawab Bu Lastri sambil mengangguk. Sebab dari tadi pagi dia udah kepengen mencicipi nasi goreng buatan Dinda itu. Tapi semuanya kacau gara-gara kelakuannya sendiri.


"Ya udah, aku ambilin. Mas, bawa ibu ke kamar ya?"


"Iya sayang. Ayo Bu!" ajak Aris sambil menuntun Bu Lastri.


Karena lemas, Bu Lastri hanya bisa mengangguk kecil. Sakit banget rasanya. Punya anak satu, tapi gak bisa diandelin. Dan sekarang yang menolong adalah Aris, orang yang Bu Lastri anggap sebagai musuhnya. Tapi malah bersikap baik kepadanya tanpa dendam sedikitpun.


"Makasih ya nak," ucap Bu Lastri saat dia sudah duduk di kasur.


"Sama-sama Bu," jawab Aris sambil tersenyum sumir. Bisa-bisanya Bu Lastri berterima kasih saat begini. Tapi gak apalah, Aris ikhlas menolongnya.


"Mas," panggil Dinda saat udah di ambang pintu.

__ADS_1


"Eh iya." Reflek Aris mendekat dan mengambil baki yang dibawa Dinda.


"Ini Bu, makan dulu." Aris meletakkan bakinya di atas meja, lalu dia membantu Bu Lastri untuk duduk.


Mengingat kebaikan Aris ini, Bu Lastri kembali menitikkan air matanya. Dinda yang melihatnya langsung memicingkan matanya. Dia menolehkan kepalanya ke belakang, siapa ada orang lain selain mereka. Makanya Bu Lastri akting, pikir Dinda yang mulai berpikiran negatif. Jangan salahkan Dinda kalau dia mulai berburuk sangka pada Bu Lastri, semua itu karena ulah Bu Lastri sendiri.


"Kenapa Bu? Udah jangan sedih Bu. Lebih baik ibu makan dulu. Habis ini Aris teleponin pak dokternya," kata Aris setengah membujuk.


"Bisa makan sendiri gak Bu? Kalau gak bisa, biar Dinda yang suapin," ucap Dinda sambil mendekat. Dinda gak rela kalau Aris bersikap konyol, menyuapi Bu Lastri misalnya.


"Ibu bisa sendiri nak, tapi kepala ibu pusing banget," keluah Bu Lastri lagi.


"Ya udah mas, siniin piringnya. Biar Dinda aja yang nyuapin Bu Lastri." Dinda segera meraih sepiring nasi goreng itu dari tangan Aris.


Lalu pelan-pelan dia menyuapi Bu Lastri. Baru sekali suapan, rasanya Bu Lastri malu banget. Orang yang sudah dia fitnah malah merawatnya sekarang ini.


"Makasih ya Din. Nasi gorengnya enak," puji Bu Lastri pada masakan Dinda.


"Dihabisin Bu. Biar nanti pas pak dokternya datang, ibu tinggal minum obatnya," kata Dinda lagi seraya terus menyuapi Bu Lastri dengan sabar.


Sementara itu, Aris sedang menelepon dokter langganannya. Tak lupa ia menengok Zahra yang tengah pulas tertidur. Untung Zahra anaknya gak rewelan, jadi Aris dan Dinda tak terlalu kerepotan mengurusnya.


"Aku udah telepon dokternya Bu. Mungkin 15 menitan lagi baru sampai," kata Aris yang kini sudah berada di kamarnya Bu Lastri.


"Makasih ya nak. Maaf ibu jadi ngerepotin kalian." Bu Lastri menyesal, benarkah?


"Gak apa-apa Bu. Inilah yang dinamakan keluarga, saling tolong menolong." Aris membantu mengambil piring yang sudah kosong dari tangan Dinda. Rupanya nafsu makan Bu Lastri masih bagus.


"Nah, sekarang minum Bu!" kata Aris sambil mengambilkan teh hangat tadi untuk Dinda. Aris memang begitu peka, dia tahu Dinda akan marah kalau dia yang ngasih ke Bu Lastri.


"Ini Bu," kata Dinda kemudian sambil membantu Bu Lastri untuk minum.


"Makasih ya. Maafin sikap ibu tadi pagi ya Din, Ris."


Aris dan Dinda saling menatap. Mereka berdua sudah tidak percaya lagi dengan kata maaf yang terlontar dari mulut Bu Lastri. Karena setelah dimaafkan, pasti Bu Lastri akan berulah lagi.

__ADS_1


Harusnya bu Lastri bisa menjaga kepercayaannya Dinda dan Aris, tapi sayangnya dia menyia-nyiakan itu.


Bersambung...


__ADS_2