
***
Dinda baru saja membantu Nesa memasak. Dia mulai banyak mengerti soal hidup berumah tangga dari kakaknya ini. Apalagi mbaknya itu banyak bercerita tentang kebaikan Jo. Tentu saja Dinda iri sekarang. Bukan hanya iri, melainkan sangat iri. Jo begitu menyayangi mbaknya ini tanpa pamrih. Andai Dinda juga dicintai seperti itu sama Briyan. Ah, kenapa jadi mikirin Briyan? Benarkah Briyan bisa menerima dirinya yang sudah pernah ternoda ini?
Mendadak mood Dinda down. Nesa yang tengah sibuk tak mengetahui perubahan dari adiknya itu.
Dinda minder. Dia merasa sudah tak pantas dicintai oleh Briyan lagi. Padahal yang sebenarnya Dinda gak pernah ingin ditinggalkan oleh Briyan. Tapi bagaimana lagi. Dia tak bisa apa-apa selain hanya pasrah.
Tiba-tiba terdengar suara deru motor dan kecemasan Dinda pun sirna seketika. "Biar Dinda aja mbak," ucap Dinda. Dia ingin mengalihkan rasa cemasnya tadi. Dinda harusnya tak boleh memikirkan yang macam-macam dulu. Sebab mentalnya belum terlalu baik.
Dinda menuju pintu dan membukanya. Terlihat Jo yang baru pulang bekerja.
"Assalamu'alaikum adik ipar, bagaimana kabarnya hari ini?" tanya Jo sambil mengacak-acak rambut Dinda, dia gemas dengan adiknya. Bukan, tapi untuk menghibur.
Layaknya anak-anak, spontan Dinda memanyunkan bibirnya. Lalu menyunggingkan senyuman yang lebar seraya menjawab salam Jo.
"Wa'alaikumussalam kakak ipar," balasnya dengan memaksakan senyuman
"Mana mbak Nesa?" tanya Jo kemudian.
"Ada mas, di dapur. Lagi masakin spesial buat mas Jo." Dinda melihat raut wajah Jo yang terlihat sangat senang. Dinda jadi tak tahan. Bukan cemburu atau apapun. Melainkan dia tak yakin akan sebahagia itu nantinya.
"Benarkah?"
"Beneran kok mas," jawab Dinda sambil meninggalkan Jo. Dinda mau ke kamarnya dan membersihkan diri.
***
Setelah makan malam usai. Jo dikecewakan dengan fakta yang ada. Paket darinya belum dibuka juga oleh Nesa. Tapi kok dua? Fikir Jo saat melihat 2 bingkisan paket yang gedenya sama. Tapi namanya berbeda. Setelah Jo amati Jo baru tahu. Kalau itu bernamakan Dinda dan pengirim--- Aris.
Jo menyipitkan matanya. Buat apa Aris mengirimi paket buat Dinda? Sebagai kakak iparnya Dinda, Jo pasti cemas jika ada orang yang mengganggu ketenangan adiknya.
Tapi Jo tak bisa melakukan apa-apa. Dia hanya berharap Dinda akan baik-baik saja dan selalu bahagia menikmati kehidupannya kedepannya ini. Jika Aris jodoh adiknya, Jo berharap mereka segera didekatkan. Tapi jika Aris bukan jodoh Dinda, semoga mereka segera dijauhkan. Jo tak ingin adiknya semakin terpuruk jika Aris bukan jodoh Dinda.
Dengan yakin Jo membawa kedua paket itu keluar. Kejutan buat sang istri rasanya gagal total tak sesuai rencana. Tapi sebelumnya, Jo harus memastikan Dinda baik-baik saja dulu. Karena ini menyangkut Aris.
"Din," panggil Jo pada Dinda.
"Ya mas," sahut Dinda.
__ADS_1
"Apa kamu udah memutuskan sesuatu buat--- Aris?" tanya Jo hati-hati.
Tiba-tiba Nesa datang.
"Johan ih, aku nyariin paket ini tahu? Gak tahunya kamu bawa ke sini. Tapi--- gak marahkan? Soalnya pengirimnya hanya dropship," ujar Nesa merasa sedikit ketakutan.
"Aku gak marah, cuma mau nanya ke Dinda dulu," balas Jo setengah berbisik. Nesa hanya membulatkan bibirnya ber 'oh' ria.
Terlihat Dinda yang mulai berfikir. Dia kesulitan jika membahas soal Aris. Soalnya dia gak punya perasaan apa-apa selain takut.
"Gak apa Din, mas hanya ingin tahu aja. Dinda gak perlu takut," bujuk Jo menenangkan.
Dinda berusaha rileks, mengembang kempiskan dadanya. Menatap kedua kakak di depannya secara bergantian. Dia tak tahu harus menjawab apa.
"Dinda belum ada keputusan mas, tapi kalau diperbolehkan... Dinda ingin menemui Briyan dulu," jawab Dinda pada akhirnya. Ya, menemui Briyan adalah solusi yang tepat. Karena jika Briyan masih menerimanya. Tentu Dinda akan ada alasan buat menolak Aris.
Jo akhirnya mengerti dengan jawaban Dinda. Karena sampai sekarang Dinda dan Briyan statusnya masih pacaran. Jadi rasanya tak mungkin Dinda tiba-tiba menikah tanpa memutuskan Briyan lebih dulu.
"Oke Din, nanti mas yang akan bilang ke Briyan, kalau kamu mau ketemu dia."
Dinda hanya menggangguk tanpa menyahutnya. Kini Jo kembali menatap kedua paket itu. Mengambil salah satunya untuk Dinda.
"Kenapa Nesa?" tanya Jo sedikit heran.
"Itu emang buat Dinda, tapi lihat-lihat dong? Gak ada nama pengirimnya. Lagi juga kita gak ada memesan apa-apa," terangnya.
Jo tersenyum geli. Nesa mendelik. "Johan, kamu ih! Kenapa malah tersenyum?"
"Dilihat dulu dong sayang, punya Dinda ada nama pengirimnya. Cuma kamu doang yang gak ada. Nih punya kamu. Nih punya Dinda," ujar Jo sambil menyodorkan satu persatu buat penerimanya masing-masing.
"Dinda itu dari Aris, Dinda boleh buka di kamar aja. Tapi kalau Dinda takut, Dinda boleh buka di sini bareng-bareng," ujar Jo. Mereka bertiga sedang duduk di ruang santai.
Merasa kalau barangnya adalah privasi. Dinda lebih memilih membukanya di kamar.
Di dalam kamar. Dinda sedikit ketakutan membuka paket itu, tapi isinya buku kuliah Dinda yang tertinggal di tempat Aris. Tak ada yang khusus di sana. Tapi ada yang menonjol, kertas berwarna merah hati. Dinda melihat lipatan kertas itu, ada sebuah cincin di dalamnya. Dinda meletakkan cincin itu, lalu membaca tulisan yang tertera di atasnya.
Maafkan aku Dinda...
Aku telah memanfaatkanmu waktu itu
__ADS_1
Ku mohon, menikahlah denganku
Aris
3 baris kalimat yang membuat Dinda syok di tempat. Aris melamarnya? Benarkah? Tidak, Dinda belum siap. Aris adalah monster jahat. Bagaimana Dinda bisa hidup dengannya?
Segera Dinda mengambil ponselnya, menghubungi Briyan di sana. Bukankah Briyan juga ingin menikahinya? Kalau Briyan tulus cinta padanya, pastinya Briyan mau menikahinya apapun kekurangannya kan?
***
Dinda sudah berpakaian rapi. Dia keluar kamar dan melihat kakak dan suaminya tengah asyik menonton TV.
"Dinda mau ke mana?" tanya Nesa penasaran. Sebagai mbaknya, dia juga perlu mengetahui ke mana adiknya ini akan pergi.
Jo curiga. Tak biasanya Dinda serapi ini. Apa Dinda mau menemui Aris? Pikirnya. Dinda baru menerima paket dari Aris. Dan sekarang berpakaian seperti ini. Pastilah Jo curiga.
"Iya, mau kemana Din?" tanya Jo memastikan.
"Mau bertemu Briyan mbak, mas. Bolehkan?" sahutnya menjawab penasaran pasutri ini.
Jo mengangguk lega. 'Kirain nemuin Aris,' batinnya. "Boleh, tapi hati-hati ya? Ini sudah malam soalnya. Kalau Briyan ngapa-ngapain kamu, cepet hubungi mas," lanjut Jo mengijinkan.
"Iya Din. Mbak khawatir sama keadaanmu. Yakin kamu mau keluar malam-malam kayak gini?" Nesa mencemaskan Dinda.
"Iya mbak. Dinda gak apa-apa kok. Dinda hanya ingin ngobrol di warung yang gak jauh dari sini. Mas Jo dan mbak Nesa gak usah khawatir ya," balas Dinda.
Pokoknya malam ini Dinda akan menemui Briyan. Ini demi masa depannya.
"Hati-hati ya Din."
"Iya mbak, Dinda berangkat dulu ya. Assalamu'alaikum." pamit Dinda kemudian.
"Wa'alaikumussalam," balas mereka berdua.
Dinda meyakinkan dirinya. Bahwa Briyan tak akan mengecewakannya.
Bersambung...
Bagaimana dengan Briyan? Apakah dia mau menerima Dinda? Lalu bagaimana dengan lamaran Aris? Benarkah Dinda menolaknya?
__ADS_1