
"Aku pengen ke kamar mandi tahu Mas. Bantuin," kata Dinda yang masih memonyongkan bibirnya.
Aris tersenyum kecil. 'Lucu banget sih kalau marah, minta dibantuin tapi gengsi bilangnya. Harus pake acara marah-marah dulu ternyata,' batin Aris cengengesan. Istrinya ini benar-benar istimewa. Gimana Aris bisa marah, kalau bawaannya pengen nyubit terus?
"Ya udah, sini mas bantuin." Dengan cekatan Aris menurunkan Dinda dari tempat tidur.
"Oya, mana pesenanku!" kata Dinda yang masih manyun.
"Tapi jangan manyun dong? Bikin mas gak kuat iman nanti," ledek Aris sambil berpura-pura menoel hidung Dinda. Sebelum tangan Aris menyentuh hidungnya, Dinda langsung menoleh.
"Gak usah bercanda. Badanku lagi remuk semua ini," sahut Dinda. Rupanya dia masih terbawa api cemburu soal tadi.
"Udah ih marahnya. Mmuah," Aris langsung mengecup pipi Dinda sekilas. Dinda menatap Aris tajam. Kemudian langsung bersikap biasa.
"Pegangin!" kata Dinda minta Aris memegangi pinggangnya. Soalnya jalannya masih agak susah. Maklum kan, habis melahirkan.
"Iya sayang, mas pegangin kok."
Dinda ini ingin banget dimanja, tapi karena gengsi mau ngungkapin, jadinya begitu deh. Marah-marah gak jelas.
"Mana pembalutnya?" tanya Dinda sebelum dia menutup pintu kamar mandi.
"Ini sayang," jawab Aris sambil menyodorkannya dari luar.
"Bisa ngebasuh gak? Kalau gak bisa mas bantuin," tawar Aris namun sama Dinda gak digubbris. Malah pintunya langsung ditutup sama Dinda.
"Duh, perih banget," kata Dinda yang kesulitan jongkok. Tapi dia bisa membasuh sendiri. Hanya saja, dia tak bisa membungkuk untuk mengambil pembalut bekas darah nifasnya.
"Gimana nih? Mau gak ya mas Aris bantuin beresin ini? Ini kan darah, kalau gak mau gimana dong?" Dinda bimbang. Kalau dipaksakan berjongkok, Dinda takut jahitannya akan robek. Tapi kalau minta tolong Aris, takutnya Aris bakalan jijik.
"Ah, tapi bodoh amatlah. Kan dia juga yang buat aku begini. Lagian dia suamiku, masa gak mau bantuin istri!" omel Dinda dari dalam kamar mandi.
"Din, udah belum?" tanya Aris memastikan. Pasalnya Dinda kelewat lama di dalam kamar mandi, takutnya Dinda mengalami kesulitan. Pikir Aris jadi khawatir.
"Em mas, ituku jatuh," kata Dinda agak takut dan malu.
"Itu apa?" tanya Aris memastikan. Soalnya Dinda hanya menyembulkan kepalanya, jadi Aris tak bisa melihat apa yang dimaksud Dinda.
"Tapi janji ya, bantuin buang," kata Dinda lagi.
__ADS_1
"Iya sayang, pasti mas buang kok. Emang apaan? Bekas pembalut kah?" tanya Aris to the point. Tapi Dindanya malah melongo. Aris kelewat jujur jadi orang.
Tapi Dinda gak boleh marah kali ini. Kan Dinda yang butuh Aris. "He'em. Tapi udah ku cuci, tinggal buang aja. Pake kantong plastik ya," pinta Dinda hati-hati.
"Oalah, iya sayang. Gitu aja pake malu-malu kamu tuh, bikin gemes aja," kata Aris tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
Aris beranjak mencari kantong plastik bekas nasi. Lalu dia menyuruh Dinda keluar.
"Gak apa-apa, kalau udah kamu keluar aja. Biar mas masuk," kata Aris tanpa sungkan. Sepertinya Aris bukan tipe pria yang jijik akan hal ini.
Bukan masalah jijik gak jijik. Aris begini karena bentuk tanggung jawab Aris terhadap istri dan anaknya.
Terdengar gemericik air dari dalam. Mungkin Aris tengah mencuci tangannya. Dan benar saja, tak lama kemudian dia keluar dan menuju ke tempat sampah.
Sementara Dinda, dia langsung duduk. Sakit sih itunya, tapi harus dibiasakan. Biar cepat sembuh nanti.
"Dah mas buang kok. Oya, kamu mau makan gak? Mas beliin makanan sama buah-buahan. Karena jeruk gak boleh, gimana kalau kamu makan pisang aja," kata Aris sambil membuka barang belanjaannya tadi di depan Dinda.
"Boleh mas, oiya aku mau makan juga. Soalnya ini udah waktunya minum obat," kata Dinda memberi tahu.
"Oeee. Oeee!"
"Eh dedek bangun. Kayaknya dia haus Din," kata Aris sambil melihat si kecil.
"Gendong?" tanya Aris memastikan.
"Iya mas, soalnya aku belum bisa nunduk-nunduk. Pinggangku belum pake korset. Aku lupa gak bilang ke kamu," kata Dinda malu.
"Eh korset? Biar mas beliin di apotek rumah sakit aja. Kayaknya di sini ada," kata Aris hendak pergi.
"Tapi bawa dulu dia kesini," ucap Dinda setengah manja. Kalau sudah begini, Aris gak mungkin meninggalkan Dinda begitu saja.
"Pelan-pelan," kata Dinda memperingatkan. Sebab Aris menggendong bayinya dengan cepat. Takutnya kalau gak pelan-pelan, nanti akan melukai tulang si kecil.
"Iya sayang. Uh dedek, cup cup cup. Gendong ibuk ya?" kata Aris sambil meletakkan si kecil di tangan Dinda.
"Ternyata begini ya Din, rasanya ngurusin bayi itu," kata Aris dan di jawab anggukan pelan oleh Dinda.
Maklumlah, ini pengalaman pertama mereka. Terus lagi, mereka mengurus bayi tanpa bantuan orang tua. Jadi benar-benar mandiri, menggunakan insting sendiri.
__ADS_1
"Uh sayang-sayang. Anak ibuk haus ya?" tanya Dinda. Dia hendak membuka kancing bajunya, tapi rasanya malu.
"Kenapa? Kok gak dilanjut?" tanya Aris yang melihat tangan Dinda gak jadi megang kancing.
"Mas jangan lihat ih. Tadi katanya mau beliin aku korset?" Dinda mengalihkan pembicaraan. Biar Aris tak melihat cara dia menyusui si kecil.
"Nanti dulu. Aku kan mau lihat si dedek. Dia bisa nyusu gak, gitu?" Aris beralasan. Dia penasaran dengan cara Dinda menyusui bayinya.
"Tuh nangis! Buruan disusuin sayang?" kata Aris setengah memaksa.
"Jangan lihat!" ucap Dinda melarang Aris melihatnya. Selain malu, takutnya Aris jadi berpikiran yang enggak-enggak.
"Dikit gak pa-pa," jawab Aris mengedipkan mata nakal.
"Nakal," sahut Dinda tanpa sadar. Ternyata makin kesini Dinda semakin nyaman dengan Aris.
"Minum sayang, ayo!" suruh Dinda karena si kecil tiba-tiba susah mencari ASI-nya.
"Kenapa dia?" tanya Aris bingung. Karena si kecil kayak susah buat menyedot asinya Dinda.
"Gak tahu nih mas, tadi siang mau kok." Dinda terlihat gelisah.
Aris juga bingung. Tapi dia teringat akan sesuatu.
"Susu formula kira-kira mau gak, Din?"
Aris mencari susu formula yang sempat ia beli tadi. Lalu dia perlihatkan ke Dinda.
"Kalau ini mau, biar mas buatin?" tawar Aris.
"Boleh mas, coba dikit aja dulu. Padahal tadi dia mau lho, kok sekarang jadi gak mau," keluh Dinda sambil menina bobokkan si kecil.
"Gak apa-apa, kali aja dia mau dimanjain sama ayahnya," sahut Aris sambil menyiapkan susu di botol.
"Pake air anget kan mas?" tanya Dinda memastikan.
"Ada, tadi mas udah bawa di termos. Air panas semua apa dicampur dingin sih?" tanya Aris bingung.
"Coba telpon mbak Nesa, mas." Dinda menyarankan.
__ADS_1
Aris enggan. Lebih baik dia searching di google. Begini nih repotnya mereka mengurusi si kecil. Mereka baru tahu, ternyata mengurusi anak itu gak bisa sembarangan. Tapi herannya, Nesa sama Jo bisa melewati ini semua.
Bersambung...