
Tak lama kemudian, Dinda mendengar suara ayahnya. Ayahnya saja jam segini sudah pulang. Lalu kemana Aris? Sepertinya Dinda melupakan ponselnya. Padahal sedari tadi Aris kirim pesan padanya. Tapi karena Dinda tak terlalu perduli pada ponsel, jadinya ya beginilah. Dia malah sibuk mikirin ucapan Wawan yang tak jelas ujungnya.
Di dalam kamar, Dinda menduga-duga kalau Aris mengkhianatinya. Padahal Aris bilang dia hanya menginginkannya. Tapi kenyataannya, jam segini saja belum pulang. 'Ini sudah Maghrib, kemana dia selingkuh?' batin Dinda penuh curiga. Untuk urusan diselingkuhi, rasanya Dinda sudah trauma dan capek pikiran.
Padahal yang sebenarnya terjadi adalah Aris tengah lembur. Aris staff biasa, posisinya paling bawah sendiri. Jadi lembur sudah biasa menjadi aktifitasnya. Tapi gak setiap hari lembur. Tergantung dari bosnya juga. Ini karena Aris baru masuk dari libur panjangnya, jadi pekerjaannya menumpuk. Dan mengharuskan dia untuk pulang lambat. Namun sayangnya Dinda tak membuka pesan WhatsApp yang Aris kirimkan beberapa jam yang lalu. Mungkin meskipun Dinda membukanya, Dinda tetap tak akan percaya padanya. Karena pikirannya sudah dihasut oleh Wawan si biang masalah.
"Dik Dinda?" panggil Wawan tiba-tiba. Padahal Wawan sudah punya istri. Harusnya dia mengurusi Mega, bukan malah sibuk mengurusi Dinda yang kini sudah punya suami.
Dinda segera menghapus air matanya. Dia membuka pintu kamarnya dan mendapati Wawan yang sudah berdiri di depannya.
"Ada apa Mas?" tanya Dinda dengan malas.
"Udah malam nih? Kamu gak makan?" tanya Wawan.
"Nanti aja mas. Aku belum laper," dusta Dinda. Tentu Dinda lapar. Dia sedang hamil tua, jadi bawaannya pengen makan terus.
"Beneran? Kalau mau makan mas temenin sini, mas juga mau makan soalnya," bujuk Wawan lagi.
Tapi Dinda menggeleng, dia menolak ajakan Wawan. Karena dia akan tetap menunggu Aris dulu. Meluapkan amarahnya yang masih tersimpan sampai sekarang.
"Ya udah deh," pasrah Wawan akhirnya.
Mega yang melihatnya langsung tertawa lebar di balik kamarnya. "Rasain tuh Wan. Emang enak ditolak?" kata Mega mengolok-olok Wawan. Padahal yang diolok-olok juga tak mendengarnya. "Dulu gue juga sering ditolak sama Jo. Sekarang elu yang kena tolak, buahaha!"
Saking asiknya ketawa, Mega gak sadar kalau di belakangnya sudah ada Wawan yang tengah berdiri sambil berkacak pinggang.
"Puas lu ngetawain gue, hah!"
Sontak Mega menatap Wawan dan langsung mengunci mulutnya rapat. 'Dia kalau marah, modelannya kayak cewek yang lagi PMS,' batin Mega mengejek.
"Kenapa diam?" tanya Wawan ngajak gelud si Mega.
Tiba-tiba Wawan mendengar suara motornya Aris. Segera dia masuk ke kamar dan menguncinya rapat.
"Awas lu ya. Kalau Dinda dan Aris sampai berantem, itu semua karena kelakuan lu!" kata Mega mengingatkan Wawan.
Tapi Wawan seperti tak perduli. 'Justru ini yang gue tunggu-tunggu,' batinnya kesenangan.
__ADS_1
Sementara itu, Aris tengah memarkirkan motornya. Kemudian dia berjalan lesu menuju ke rumah mertuanya. "Assalamualaikum," ucapnya salam sambil masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikumussalam." Sayup-sayup terdengar suara Mega yang menjawabnya. Aris melihat tak ada siapapun di rumah. Mungkin semuanya lagi istirahat di kamar masing-masing, pikirnya.
Aris menenteng tas kerja dan kantong plastik belanjaannya. Tadi sebelum sampai rumah, Aris sempatkan diri membeli sesuatu untuk Dinda. Jadi di sinilah dia sekarang, berdiri tegap di depan kamar istrinya.
"Dinda," panggilnya dari luar. Meskipun mereka tidak tidur bersama. Tapi sebelum tidur atau berganti pakaian, Aris boleh masuk ke kamar Dinda. Hanya berinteraksi satu sama lain, atau hanya untuk mengajak Dinda berjamaah. Meskipun sampai sekarang niatannya mengajak Dinda berjamaah belum terlaksanakan.
"Dinda," panggil Aris lagi.'Apa Dinda dah bobo ya?' batin Aris. Kalau Dinda sudah tidur, berarti mau gak mau Aris harus membuka pintu itu.
Sejujurnya di saat dia lelah seperti ini, Aris pingin banget disambut istrinya. Mungkin hanya melihat senyuman Dinda, rasa lelahnya akan berkurang. Namun Dinda sepertinya masih enggan menyambutnya, atau masih belum terbiasa. Aris sangat maklum, jadi dia gak akan pernah memaksa Dinda.
Sementara Wawan, dia sedang asik menguping. 'Kayaknya Dinda beneran marah. Jadi Aris gak dibukain pintu sama dia,' batin Wawan girang.
"Dinda." Lagi Aris memanggil Dinda untuk ketiga kalinya. Tapi kali ini Dinda yang membukakan pintunya.
"Hai sayang, gimana hari ini? Gak kecapekan kan?" tanya Aris senang. Sebab Dinda mau membukakan pintu buatnya. Padahal Aris sendiri begitu capek, tapi dia masih sempat-sempatnya nanya ke Dinda.
Pintu kamar itu masih terbuka. Dinda hanya diam saja, tak ada kata menyuruh Aris masuk.
Aris hampir emosi mendengarnya. Tapi sebisa mungkin Aris menahan amarahnya.
"Dinda gak buka chat dari aku ya?" tanya Aris pada akhirnya.
"Buat apa? Emang ada hal yang penting?" Kali ini Dinda benar-benar emosi pada Aris. Bukan sekedar emosi, tapi Dinda menjadikan Aris sebagai pelampiasan amarahnya.
"Aku gak ngelayap sayang. Tapi aku nglembur," jelas Aris.
Bukannya percaya, Dinda malah menangis. "Kalau kamu ada cewek lain, bilang aja Mas. Gak usah pakai alasan lembur. Dari awal aku bilang, kalau kamu ada cewek lain gak masalah. Tapi jangan kayak gini, setelah nikah sama aku... kamu malah main serong di belakangku!" tuduh Dinda tanpa ampun.
Pak Bambang dan Bu Lastri yang mendengar adanya keributan langsung keluar. Saat keluar, pak Bambang langsung murka melihat Dinda yang menangis. Pasti gara-gara Aris, duga pak Bambang.
"Ada apa ini?" tanya pak Bambang yang menghentikan cek-cok antara Dinda dan Aris.
"Kamu kenapa Nak?" tanya pak Bambang pada Dinda. Namun yang ditanya malah menangis sejadi-jadinya.
"Ini semua gara-gara kamu kan? Kamu udah nyakitin Dinda. Lihat! Dinda menangis gara-gara ulahmu! Apa kamu gak puas ha? Selama ini Dinda menderita gara-gara kamu, dan sekarang kamu tetap gak berubah." Pak Bambang ikut campur.
__ADS_1
Aris yang dituduh seperti itu hanya diam saja. Sebab dia tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya pada Dinda, sampai-sampai Dinda menuduhnya selingkuh. 'Astaghfirullah,' batin Aris. Rasanya dia ingin menangis. Tapi dia bukan pria pengecut.
"Tapi Yah..." Aris ingin bertanya dan menjelaskan, tapi pak Bambang langsung menyerobotnya.
"Gak ada tapi-tapian! Lebih baik kamu batalkan pernikahan ini!" potong pak Bambang dengan tajam.
Wawan yang mendengar keributan itu, langsung kesenangan. 'Mampus lu Ris. Lu ceraikan Dinda, dan gue yang akan menikahinya.'
"Puas loe Wan!" ucap Mega tiba-tiba.
"Apa? Gak usah ikut campur deh, dasar nenek lampir!" maki Wawan pada Mega.
"Bukannya gue ikut campur. Tapi gara-gara kelakuan lu, Dinda sama Aris berantem. Gue gak nyangka, elu yang selama ini ngatain gue pelakor. Lu sendiri malah jadi pebinor. Ck," ejek Mega tanpa sungkan.
"Tutup mulut lu ya? Atau mau gue sumpal!" kesal Wawan sambil mendekati Mega.
"Apa? Elu yang gila Wan. Lu udah ngerusah rumah tangga adik tiri lu sendiri!" kata si Mega memberi tahu.
"Bulshit! Kalau gak tahu masalahnya gak usah sok tahu."
"Sok tahu? Elu itu pria munafik gak punya hati. Kenapa lu seenak hati mau misahin Dinda sama Aris? Sementara aku mo... kenapa gak boleh?" tanya Mega yang mulai tersudutkan oleh Wawan.
"Diam lu nenek lampir! Atau bener-bener mau gue sumpal!" teriak Wawan namun pelan biar tidak terdengar dari luar.
"Cerein gue!" pinta Mega tiba-tiba.
"Apa? Lu bilang apa? Gak usah mimpi deh lu!"
"Kenapa? Gue benci dengan kelakuan lu Wan. Lu itu cowok muna!"
"Cukup!" Wawan kesal dan tanpa sadar dia menyumpal mulut Mega dengan mulutnya.
Suasana di malam ini, udara terasa panas di kediaman keluarga pak Bambang.
Lalu bagaimana dengan nasib Aris dan Dinda? Akankah ada perceraian lagi di usia pernikahannya yang baru beberapa hari dijalani itu?
Bersambung...
__ADS_1