Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Janji


__ADS_3

Saat Dinda dan Aris adu mulut. Suara panggilan dari Nesa menghentikan semuanya. Ditambah bel motor yang membuat keduanya jadi salting sendiri. Jo dan Nesa yang ada di atas jok motor itu merasa heran melihat adiknya duduk di pinggir jalan, apalagi ini bersama Aris. Orang mana yang gak kaget melihat mereka?


"Loh, Dinda. Ngapain sama Aris?" tanya Nesa sambil turun dari motor. Dia sedang menggendong Raskha yang lagi sakit.


"Iya, ngapain Dinda gak langsung ke rumah mas aja? Terus kenapa Aris ada di sini? Dinda mau diculik Aris lagi?" tanya Jo heran. Sedang Aris, dia masih setia berjongkok di depan Dinda. Entah kenapa, Aris tak ingin merubah posisinya.


Dinda menggeleng pelan. Bingung mau bilang apa pada Jo dan Nesa. Namun Jo sudah gatal ingin memberikan perhitungan pada Aris. Segera ditariknya Aris, diajak berdiri berhadapan dengannya.


Jo kembali mencengkeram kerah kemeja yang dipakai Aris. "Mau loe apa sih Ris? Loe lupa, Dinda udah bersuami. Loe mau ngerusak rumah tangganya hah!" teriak Jo dengan murka.


Nesa hanya menatap kesal ke arah Aris. Jo tak salah bukan? Aris memang perusak rumah tangga orang. Termasuk rumah tangga Nesa sendiri yang hampir dirusak oleh Aris.


"Maaas," interupsi Dinda. Membuat Jo dan Nesa melongo di tempatnya.


"Kenapa Din? Mas Jo benarkan? Aris gangguin kamu kan?" tanya Nesa beruntun. Dia mendekap tubuh Raskha kuat, agar tak bangun dari tidurnya.


"Dia gak mau nyulik Dinda atau ngerusak rumah tangga Dinda Mas," ujar Dinda jujur. Membuat Nesa memicingkan matanya, curiga.


"Gak ngerusak gimana? Inget Dinda, kamu itu udah bersuami. Gak baik kalau kalian berduaan seperti ini. Apalagi ini Aris loh? Monster jahat yang sering kamu maksud suka ngehancurin hidupmu," sungut Nesa dengan emosi yang memuncak.


"Gak kayak gitu ceritanya Mbak. Lepaskan dia mas Jo," pinta Dinda pada Jo. Kemudian Jo memilih untuk melepaskan tangannya dari kerah baju Aris.


"Din ada apa?" Jo yang dirundung penasaran langsung mendekati kembali adik iparnya yang tengah menangis sesenggukan. Aneh aja gitu, ngapain Dinda belain Aris kayak tadi?


"Bicara di rumah mas Jo aja ya," ajak Dinda sambil mengusap air matanya.


Jo dan Nesa langsung mengangguk setuju. Ini di tepi jalan, rasanya kurang pas juga jika membahas hal yang serius.


"Antar aku ke rumah mas Jo," pinta Dinda yang tanpa sengaja menarik jemari Aris. Darah Aris bagai membeku mendapat sentuhan tangan dari Dinda secara tiba-tiba. Sentuhan tangan yang tanpa perlu dipaksa olehnya.


Mood bumil satu ini sangat aneh. Kadang marah-marah, kadang juga lembut kayak gini. Sebenarnya Dinda bersikap lembut seperti ini bukan karena kemauannya. Tapi entahlah, bawaannya ingin baik terus ke Aris. Padahal jelas-jelas Dinda benci banget sama Aris.

__ADS_1


"Gak mau?" tanya Dinda lagi. Sebab sedari tadi, Aris masih mematung di tempatnya.


"Kalau gak mau yaudah, aku pesan ojek aja," ancam Dinda. Sebenarnya ada alasan lain juga, uang Dinda habis makanya dia minta tolong Aris.


"Mau kok."


Aris terkejut, reflek meraih koper yang Dinda bawa.


Koper itu diletakkan di depan oleh Aris. Aris sekarang hanya memakai motor. Sebab, mobilnya sudah terjual bulan kapan itu.


Beberapa menit kemudian. 2 pengendara sepeda motor itu telah sampai di halaman rumah Jo. Dengan penuh perhatian, Jo membukakan pintu untuk Nesa. "Bobok kan di box aja ya Bun. Setelah itu, kita dengerin Dinda lagi," ucapnya ke Nesa.


Nesa mengangguk patuh. Lalu dia berjalan menuju ke kamarnya. Menidurkan Raskha di sana.


Kini ke-4 orang itu sudah duduk di tempatnya masing-masing. Aris hanya bisa pasrah saja. Dia siap mendengarkan apapun penjelasan yang akan keluar dari mulut Dinda. Begitu juga Jo, Jo juga akan mendengarkannya.


"Ceritakan Din!" Itu Nesa. Namanya perempuan, pasti rasa penasarannya lebih tinggi.


"Bri-Briyan Mbak," cicitnya lirih.


Jo dan Nesa saling pandang. Dugaan Jo sepertinya benar. Dinda sudah tahu tentang sikap Briyan selama ini. Bahwa Briyan main serong di belakang Dinda.


"Ya, ceritakan aja Din," suruh Jo pada adik iparnya itu.


"Iya Mas," ucap Dinda.


Tiba-tiba Jo melirik ke arah Aris. "Emang Aris boleh dengerin juga?" tanya Jo heran. Sebab Dinda kelihatan risih saat seruangan dengan Aris.


Dinda hanya mengangguk. Karena ini menyangkut anak yang ia kandung juga.


Nesa merasa kasihan pada Dinda, segera dia memeluk adiknya itu. Bermaksud menenangkan. "Ceritakan aja Din, gak apa-apa kok. Semua masalah pasti ada jalan keluarnya," ucap Nesa sambil mengelus-elus pundak sang adik.

__ADS_1


"Briyan nalak Dinda, Mbak," ucap Dinda yang lagi-lagi a


tak kuasa menahan air matanya.


Jawaban Dinda itu membuat Jo dan Nesa terkejut bukan main. Kalau Aris, dia hanya diam saja. Dia sudah tahu sejak awal, kalau Briyan memang tak menyukai calon anaknya yang bahkan belum lahir itu. Aris pun tinggal menunggu nasib ke depannya gimana? Kalau Dinda mau menerimanya, dia janji akan menyayangi Dinda sepenuh hatinya. Tapi jika ia dijebloskan ke penjara, Aris juga tetap berjanji akan terus bertanggung jawab soal anaknya. Meskipun dalam Islam, anak di luar pernikahan itu nasabnya pada ibunya. Tapi semua ini terjadi karena ulahnya. Jadi sebagai laki-laki, dia akan tetap bertanggung jawab.


"Kok bisa Din? Kenapa? Kurang ajar si Briyan. Istrinya hamil malah dicerein. Atau... ini ulahmu Ris?" tuding Nesa dengan penuhi rasa penasaran.


Aris hanya menggeleng. Sumpah demi apapun dia sibuk kerja akhir-akhir ini. Tapi kalau soal anak Dinda, mungkin dia penyebabnya.


Jo langsung buka suara. "Dinda udah tahu, kalo Briyan main--- emm, serong?" tanya Jo dengan suara begitu pelan di ujung kalimatnya. Takut kalau itu bakal menyinggung perasaan Dinda.


Dan yang mengejutkan, Dinda mengangguki pertanyaan dari Jo. Dinda sudah bertekad, malam ini dia akan jujur.


"Ya, Allah." Jo langsung geram, andai Briyan di sini. Jo rela mengotori tangannya untuk memukul Briyan.


"Kurang ajar emang tu anak, dari awal emang playboy. Mbak fikir dia udah tobat. Tapi tetep aja gak berubah. Mbak dukung kamu pisah sama dia Din. Dia udah gak bisa dimaafkan lagi," dukung Nesa pada sang adik.


Jo mengernyit. Memang istrinya ini tak ada berubah-ubahnya. Masih suka asal bicara tanpa mendalami permasalahannya lebih dulu.


"Bunda," interupsi Jo. Dan Nesa pun mendelik.


"Kalau dia selingkuh, harusnya kamu yang nyerein dia Din. Tapi kenapa malah si Briyan yang nyerein kamu?" tanya Jo yang ingin lebih tahu masalah apa yang terjadi pada keluarga adiknya ini. Kalau masih dipertahanin, kenapa tidak? Karena prinsip Jo, pernikahan hanya sekali dalam seumur hidup.


"Anak ini Mas----" Dinda memejamkan matanya. Tak kuasa untuk mengatakannya.


"Kenapa dengan anak itu?" tanya Jo dengan serius.


"Ini..."


Akankah Dinda mengatakannya?

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2