
***
"Dinda, kamu ngupas bawang kuat gak?" tanya Nesa. Ini bukan pertanyaan menyuruh. Cuma saling sharing pengalaman.
Habis mandi tadi, Dinda langsung menyusul Nesa di dapur. Jadi di sinilah dia. Punya hiburan khusus. Tak melulu menangisi nasibnya yang begitu rumit.
Pertanyaan Nesa tadi bukan karena meremehkan Dinda. Pasalnya Nesa waktu hamil Raskha kemarin itu, dia sangat mabuk akan bau bawang-bawangan dan barang menyengat lainnya.
"Kuat dong Mbak. Dinda tuh gak ngerasain apa-apa. Rasanya kayak gak hamil tahu Mbak. Masa Dinda gak pernah muntah, terus mual atau pusing juga gak pernah. Pokoknya gak kayak mbak Nesa deh," ceritanya sambil memotong kubis tipis-tipis. Rencananya, Nesa mau masak soto.
Kedua wanita ini sedang asik bercerita tentang masalah kehamilan. Nesa ingin membandingkan kehamilannya dengan kehamilan Dinda. Ternyata banyak perbedaan.
"Enak dong Din, jadi apa-apa bisa kamu makan dong? Gak kayak mbak dulu. Pokoknya mau makan itu harus pilih-pilih," ujar Nesa memberitahu soal pengalaman hamilnya.
"Gak juga Mbak. Kadang aku juga ngerasa aneh. Masa pas aku pengen rujak buah. Gak sengaja kan aku ketemu sama Aris. Eh masa hanya ngelihat Aris makan rujak, aku pengen disuapi sih. Lucu kan? Tapi waktu itu, aku belum tahu kalau aku lagi ngandung anaknya," cerita Dinda sambil mengingat kejadian beberapa waktu lalu.
Itu adalah pengalaman teraneh Dinda. Pasalnya dia tak suka dengan Aris. Tapi hati dan perasaannya tak sinkron. Semua berbanding terbalik. Tak sesuai dengan keinginannya.
Nesa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Mungkin anakmu pengen dimanja sama bapaknya. Moga aja si Aris berubah ya Din, ngelihat kemarin dia jongkok di depanmu dengan tatapan penuh memuja, eciiyee. Mbak rasa, dia mulai berubah sih, wajah jahatnya gak terlihat lagi di sana," goda Nesa mengingat Aris melamar Dinda kemarin. Selama kenal dengan Aris. Aris tak pernah memperlakukan Nesa seromantis itu menurutnya. Hanya seperti orang yang sebatas terobsesi saja. Tidak lebih dari itu. Ya, mungkin Aris suka sama Nesa hanya karena terobsesi. Karena selain Nesa cantik, Nesa itu cerdas juga.
"Eh iya mbak. Emang Aris itu gimana?" tanya Dinda penasaran. Dia hanya ingin tahu sikap asli Aris. Karena setahu Dinda, Aris tetaplah seorang penjahat.
"Ciyeee. Tumben nanya-nanya soal Aris? Mulai kepo ya?" goda Nesa.
"Apaan sih Mbak. Dinda kan cuma ingin tahu aja," balas Dinda sambil tersenyum kecil. Entah ada apa dengan dirinya? Kenapa dia bisa sekepo itu pada Aris?
"Emm, nanti kalau kalian dah nikah. Pasti kamu tahu dia itu kayak apa."
"Mbak Nesa yakin, kalau aku akan nikah sama dia? Dinda kan belum resmi bercerai Mbak," protes Dinda tak terima.
"Ya bentar lagi bakalan resmi Dinda," balas Nesa menyemangati.
'Semudah itukah dia mendapatkan aku? Jujur, aku gak punya perasaan apa-apa ke Aris. Bisakah aku menerima dia menjadi imamku? Ya Allah, ya Rabbi.'
"Din. Ngelamun aja. Udah gak usah dipikirin, kalau kalian berjodoh... Gimanapun caranya, Allah pasti akan memberikan jalannya. Jadi saran mbak, jangan berlarut-larut dalam kesedihanmu. Sekarang fokusmu adalah... mengurusi perceraianmu dengan Briyan," ujar Nesa menasihati.
__ADS_1
"Iya mbak. Kapan mas Jo mengurus surat perceraianku?"
***
Beberapa Minggu kemudian.
Hari ini sidang terakhir perceraian Dinda dan Briyan. Tentunya Dinda ditemani oleh Jo dan pak Bambang. Si Nesa? Dia lagi sibuk mengurus Raskha, jadi gak bisa ikut menemani. Lagian ini urusan orang dewasa, kayaknya gak diperbolehkan balita ikut ke persidangan.
"Dinda," panggil Briyan memelas. Keduanya baru mau memasuki ruang sidang.
Di sini yang kelihatan seneng banget justru dari pihak keluarga Briyan. Terdengar dari omongan mamahnya Briyan yang sempat membisiki Dinda barusan.
"Udah mamah duga. Kalau kamu itu gadis gak bener. Bisa-bisanya kamu yang hamil duluan malah nuduh anakku selingkuh. Gimana anakku gak selingkuh, kalau istrinya aja hamil sama cowok lain?"
Itu adalah kata-kata yang menyakitkan yang Dinda terima sebelum diputuskannya perceraian mereka. Karena saking sabarnya Dinda. Dia pun hanya diam, sedikitpun dia tak mau membalas ucapan mamahnya Briyan.
"Din," panggil Briyan lagi.
Namun sebelum Dinda menoleh ke arah Briyan. Pak Bambang memberikan tatapan mengancam pada Dinda agar tak menoleh. Biarkan saja si Briyan, toh mereka akan bercerai. Ngapain harus ditanggapi? Karena bila Dinda masih menanggapi Briyan, yang ada pasti hanyalah rayuan. Terus Dinda jadi bimbang dan ujung-ujungnya jadi sakit hati lagi. Lebih gawat lagi kalau Dinda berubah pikiran. Jadi pak Bambang harus menyegahnya sebelum terjadi hal-hal yang tak diinginkan.
Sesampainya di ruang sidang dan menunggu keputusan hakim. Kedua belah keluarga gugup. Briyan berharap kalau perceraian ini tak akan pernah terjadi. Namun semua itu hanyalah mimpinya Briyan.
Sebab, keputusan pak hakim adalah keduanya resmi bercerai. Briyan yang mendengarnya seperti tak rela. Rasanya sulit bagi Briyan berpisah dari Dinda. Karena dia baru menyadari, bahwa hanya Dindalah cewek paling penurut dan perhatian kepadanya. Wanita lain yang ia dekati hanya mengincar harta dan kepuasan saja.
Andai Briyan sadar tentang ini dari awal. Andai Briyan tak mencari kepuasan saja. Andai Briyan mau menerima anak yang di kandung Dinda. Kini semua tinggal andai-andai yang tak akan pernah bisa balik lagi.
"Alhamdulillah," ucap pak Bambang lega.
Dinda merasa sedih. Rumah tangga yang baru seumur jagung itu kini telah hancur. Orang yang ia cintai, juga kehamilannya yang merusak semua angan yang pernah ia impikan.
Tapi sebagai manusia biasa, dia mencoba untuk ikhlas akan statusnya saat ini. Janda dan hamil duluan. Tak mudah bagi Dinda. Apalagi tiap hari dia menerima gunjingan dari tetangganya. Ya, semua tetangga pasti akan seperti itu. Namun sekuat tenaga, Dinda akan berusaha menulikan telinganya.
"Din..." panggil Briyan saat Dinda akan dibonceng oleh pak Bambang.
Kali ini, mau tak mau Dinda harus menghadapi Briyan.
__ADS_1
"Ya, kenapa Bang?" tanya Dinda mencoba untuk biasa saja.
"Din, maafin Abang!" sesalnya sambil menunduk. Jo melihatnya antisipasi. Takut kalau Briyan akan berbuat nekat dan tidak-tidak.
"Udahlah Bang, lupain aja. Moga Abang bahagia, dan mendapatkan seseorang yang lebih baik dari Dinda," jawab Dinda dengan santai. Jujur sangat sakit bicara seperti itu. Tapi mengingat sikap Briyan kepadanya, Dinda jadi merasa jijik. Entah kenapa, bawaannya mual dan pengen muntah.
"Oek!"
"Dinda! Kamu kenapa?" tanya pak Bambang khawatir.
"Bentar Yah. Dinda mau ke toilet dulu." Dinda berlari mencari toilet.
Sementara pak Bambang, dia menatap Briyan dengan tatapan tak suka. "Kau apain Dinda? Sampai Dinda kayak gitu. Apa gak puas kamu nyakitin perasaan Dinda," ucap pak Bambang penuh emosi.
"Hei Anda!" Seseorang dari belakang Briyan ikut campur dengan urusan mereka. Dia adalah papahnya Briyan.
"Udah Pah!" kata Briyan mencoba melerai.
"Gak. Papah cuma mau ngasih lihat ke mantan mertuamu ini. Jelas-jelas anaknya yang gak tahu diuntung. Penipu lagi. Bisa-bisanya dia hamil anak orang lain, tapi minta dinikahin sama kamu!"
"Cukup!" Kali ini Jo yang ikut campur.
"Dengan hormat buat bapak. Lebih baik bapak mengaca lebih dulu sebelum berkata seperti tadi," ucap Jo. Lalu matanya menatap kehadiran Dinda.
"Yuk Yah. Kita tinggalkan tempat ini!" ajak Jo.
"Din, yuk buru!" teriak Jo dan Dinda pun mengerti.
Dinda mengangguk hormat pada papahnya Briyan. Ya meskipun selama menjadi istri Briyan, hubungan keduanya kurang baik. Tapi sebagai yang lebih muda, Dinda akan tetap menghormatinya.
"Ck, dasar cewek gak bener!" maki papahnya Briyan. Namun Dinda tak menanggapinya. Dia hanya tersenyum kecut sambil naik ke jok motor ayahnya.
"Ayok Yah. Dinda udah naik," katanya kemudian.
Bersambung...
__ADS_1