
"Ini Din, susunya. Begini kan? Anget-anget kuku," kata Aris sambil menyodorkan botol susunya ke Dinda.
"Iya mas. Coba Dinda susuin ke si kecil."
Dinda langsung menyodorkan susunya ke mulut si bayi. Pertama-tama sih masih gak mau. Tapi sama Dinda terus dicobanya.
"Kayaknya gak mau ya?" ucap Aris sambil melihat anaknya dengan begitu intens.
Baru saja Aris bicara seperti itu, si bayi langsung mau meminumnya. Disedotnya susu itu dengan kuat.
"Mau mas," kata Dinda berbinar. Dia senang anaknya mau minum.
"Iya, mas jadi pengen," celetuk Aris tiba-tiba.
"Pengen apa?" selidik Dinda dengan tajam.
"Em, ne nen," bisik Aris sambil melirik gunung kembar Dinda. Soalnya gunung kembar Dinda terlihat begitu berisi dan menarik perhatiannya. Pasti sebagai cowok normal, Aris bakalan tergoda walaupun hanya dengan meliriknya.
"Dih, mas mesum. Gak ada, ini buat si kecil," sahut Dinda sambil cemberut.
"Heleh, dikit aja Din. Kangen nih," ucap Aris dengan wajah mupengnya.
"Enggak ya. Gak boleh!" larang Dinda tanpa celah.
Tok! Tok! Tok!
"Siapa ya?" tanya Aris dan Dinda secara bersamaan.
Kalau Bu perawat gak mungkin pake ketuk pintu segala. Ini pasti tamu yang ingin menengok Dinda? Mega kah? Atau Nesa? Batin Aris penuh bertanya.
"Dinda gak tahu mas," jawab Dinda sambil menggedikkan bahunya.
"Ya udah, mas lihat keluar ya?"
Aris segera melangkah ke depan. Dibukanya sedikit pintu kamar rumah sakit itu. 'Huft, Wawan.'
__ADS_1
"Mas Wawan," sapa Aris sedikit mengeraskan suaranya. Kode buat Dinda, biar Dinda tahu kalau sekarang ini sedang ada tamu yang tak diundang.
"Aku mau nengokin Dinda," jawab Wawan santai. Dengan pedenya dia langsung nyelonong sambil menabrakkan bahunya di lengan Aris.
Sementara Aris, dia langsung menatap keluar. Aris pikir Wawan datang dengan Mega. Ternyata oh ternyata, cuma seorangan.
'Moga aja dia gak bikin ulah,' doa Aris dalam hati. Masalahnya kalau dia berdekatan dengan Wawan tuh, bawaannya pengen marah terus. Selama ini dia hanya berusaha sabar biar gak kelepasan saja saat di depan Dinda. Tapi sungguh, Aris sudah berubah banyak ketimbang dulu.
"Hai Dinda. Maaf ya kalau mas Wawan baru bisa datang. Soalnya tadi ada pekerjaan yang mendesak. Ini mas Wawan bawain buat kamu, baju daster model terbaru. Mudah buat menyusui juga," kata Wawan sambil memberikan sebuah tas kertas lipat bercorak warna-warni itu.
Aris menatap kesal. 'Sempet-sempetnya dia beliin daster buat istriku. Kenapa bukan buat anakku, kenapa harus istriku?' batin Aris rasanya gak terima dengan perlakuan Wawan yang sok begitu perhatian pada Dinda. Benar-benar si Wawan menyebalkan.
"Gak usah repot-repot mas, mendingan ini buat mbak Mega aja," sahut Aris sambil mengambil bingkisan tadi yang sempat mau diterima Dinda.
Melihat sikap Aris yang demikian, Dinda dan Wawan langsung menatap ke arah Aris.
"Kamu gak perlu ini kan sayang?" tanya Aris penuh manja pada Dinda. "Nanti setelah pulang dari sini, aku belikan yang banyak buat kamu," lanjut Aris sambil setengah berbisik ke Dinda.
Bukan masalah dibelikan atau gak. Tapi menurut Dinda, Wawan kan saudara tirinya... mana enak kalau menolak pemberiannya.
"Terima ya Din, kapan lagi mas Wawan ngasih ini ke kamu," kata Wawan yang kali ini memaksa Dinda.
Tangan Aris sudah mengepal di sana. Wawan bener-bener membuatnya kesal. Kalau begini terus, Aris gak akan kuat. Bisa-bisa emosinya meledak gara-gara terbakar api cemburu.
'Sialan, Wawan bener-bener memancing emosiku,' batin Aris yang kali ini menunduk. Dia enggan menatap tangan Dinda yang menerima hadiah dari Wawan.
"Makasih Mas," ucap Dinda sambil menerima baju pemberian Wawan.
"Nah gitu dong? Btw anakmu lucu banget Din. Imut, mirip kamu," puji Wawan memanas-manasi Aris. Tujuannya menjenguk Dinda memang sengaja agar rumah tangga Dinda hancur. Jadi Aris dan Dinda tak jadi melanjutkan pernikahannya lagi. Lalu di sanalah Wawan akan menikahi Dinda dan melepaskan Mega.
Hati Aris memanas, lebih baik dia keluar dari ruangan ini. Aris menatap Dinda, karena wajah Dindalah kesabarannya ada.
"Sayang, mas keluar bentar ya. Mau cari korset buat kamu," pamit Aris. Dan korset adalah alasan Aris agar bisa keluar dari ruangan ini. Kalau gak, mungkin Aris sudah ngajakin Wawan war tadi.
Padahal Dinda hendak mencegah kepergian Aris. Dinda sendiri juga kurang nyaman saat berduaan dengan Wawan. Tapi kenapa tiba-tiba Aris meninggalkannya?
__ADS_1
'Kenapa dia ninggalin aku sama mas Wawan? Gak sayangkah dia sama aku? Kamu jahat mas Aris. Kenapa kamu malah pergi?' batin Dinda yang mulai kesal dengan sikap Aris barusan. Jelas-jelas Dinda juga tak suka dengan keberadaan Wawan. Saking emosinya, Dinda malah menyalahkan Wawan sekarang.
"Puas Mas! Gara-gara mas Wawan ngasih daster ini ke Dinda, suami Dinda jadi marah!"
Dinda mengatur nafasnya yang naik turun. Dia baru melahirkan, jadi pikirannya gak kuat buat mikirin hal-hal berat yang membuatnya emosi kayak gini.
"Marah? Mana mungkin Din. Mas ini kan step brother mu. Masa iya Aris marah? Emang dia marah kenapa?" pancing Wawan. 'Bagus Dinda. Terusin marahmu. Semakin kamu emosi, Aris akan semakin gak kuat sama kamu,' batin Wawan sambil tersenyum licik.
"Eh sayang!" Tiba-tiba Aris sudah berdiri di ambang pintu. Sebenarnya Aris belum sempat menjauh tadi. Dia mana mungkin membiarkan Dinda berduaan dengan pria lain. Dan benar saja, Dinda malah gak baik-baik aja.
"Dompetku ketinggalan," lanjut Aris bohong. Dia begini biar Wawan tak curiga.
Dinda sempat lega dengan kedatangan Aris. Tapi mendengar alasan dompet yang ketinggalan, emosinya tak jadi reda. Melainkan menjadi-jadi.
"Masih muda udah pikun aja," ucap Wawan tanpa dosa.
Aris tak menghiraukan Wawan. Justru Aris malah duduk di samping Dinda. "Katanya kamu mau minum obat tadi? Yuk, mas siapin dulu," kata Aris yang kini dia beralih buat memanas-manasi Wawan. Emangnya Aris gak bisa apa? Btw Aris lebih berhak buat memperhatikan Dinda. Bukan Wawan yang notabene hanya saudara tiri, ditambah lagi Wawan juga sudah punya istri. Emang Wawan gak nyadar apa kalau statusnya sekarang itu adalah suami orang? Bener-bener emang si Wawan, tamu tapi bikin darah tinggi.
"Katanya dompetnya mas ketinggalan," protes Dinda sambil cemberut.
"Korset bisa nanti. Sekarang kamu harus makan, terus minum obat. Kamu juga mau nyusuin dedek kan?" kata Aris yang kini Wawan merasa jadi obat nyamuk.
'Sial si Aris. Dia malah membalikkan keadaan sekarang. Padahal sebentar lagi Dinda akan ku kuasai,' batin Wawan jadi emosi sendiri.
"Ya udah deh Din. Kamu makan aja dulu. Mas Wawan mau pulang aja. Soalnya tadi pulang kerja langsung ke sini," pamit Wawan kemudian.
'Gitu kek dari tadi. Pake acara bikin gue emosi segala lagi,' batin Aris senang sekarang.
"Iya udah mas, makasih ya?" usir Aris dengan tak sabar.
"Yuk sayang, lanjut makan lagi," kata Aris mengalihkan perhatian Dinda. Intinya biar Dinda tak menanggapi Wawan berlebihan.
"Rese banget si Aris. Dia jadi sok berkuasa ke Dinda, awas aja lu Ris! Gue masih belum menyerah," gumam Wawan sesampainya dia di luar ruangan.
Bersambung...
__ADS_1
Nah loh, Wawan makin berulah. Gimana ya kisah selanjutnya?