
"Wajahmu mirip banget sama ayahmu," ucap Mega lagi.
'Sayangnya aku gak bisa milikin ayahmu,' batin Mega sedih.
"Maem, maem," ucap Raskha sambil mencoba merangkak.
"Kamu laper? Bentar, budhe ambilkan biskuit untukmu."
Bukannya ditungguin atau diajak, Mega justru meninggalkan Raskha sendirian di kamar. Tak berapa lama, terdengar deru motor dari luar. Itu suara motor Wawan yang entah pulang dari mana. Mega gak perduli, dia tetap melanjutkan mencari tas bayi milik Nesa yang diletakkan di ruang tengah.
Hingga Wawan sudah berada di belakang Mega, tetap Mega gak perduli. Dia sudah menemukan apa yang ia cari. Mendadak Wawan berlari kencang ke kamar.
"RASKHA!!" teriak Wawan dengan wajah yang panik.
...****************...
"Eh, ini kenapa ya?"
"Kenapa mbak?" tanya Dinda penasaran melihat Nesa yang seperti sedang tak baik-baik saja.
"Gak tahu nih. Tiba-tiba Mbak kepikiran Raskha," terang Nesa.
'Jangan-jangan Raskha kenapa-kenapa,' duga Dinda dalam hati.
"Mungkin dia nyariin mbak Nesa kali," sahut Dinda. Biasanya Raskha kan begitu, selalu gak nyaman kalau diajak sama orang baru.
"Iya nih kayaknya. Ya udah, mbak Nesa pamit dulu ya Din. Btw, mbak Nesa sama mas Jo bobok di rumah ayah malam ini, buat nyambut kepulanganmu sama debay besok," kata Nesa sambil berpamitan.
"Iya mbak. Makasih ya," kata Dinda sambil tersenyum.
"Mbak keluar dulu ya Din, panggil mas Jo." Nesa segera keluar. Pikirannya sedang fokus ke Raskha. 'Moga Raskha gak kenapa-kenapa,' doanya dalam hati.
'Kenapa ya, sejak tahu kalau mereka suka ngegosip, aku jadi was-was dan gak percaya lagi sama mereka. Moga aja Raskha baik-baik aja,' batin Dinda yang kini sudah kehilangan kepercayaannya pada Bu Lastri dan Mega. Memang sih mereka berdua baik, tapi mulutnya itu lho... suka nyakitin.
"Din, mas Jo sama mbak Nesa balik dulu ya. Takutnya si Raskha nyariin," kata Jo berpamitan.
"Iya mas Jo, makasih ya," balas Dinda.
"Iya Jo. Thanks ya, udah nengokin." Aris bersalaman dengan Jo.
"Sama-sama Ris. Assalamualaikum," pamit Jo sambil menyusul istrinya yang sudah berada di luar.
"Wa'alaikumussalam," jawab Aris dan Dinda bersamaan.
"Mbak Nesamu kayak gelisah, emang kenapa Din?" tanya Aris yang kini sudah berada di samping Dinda.
__ADS_1
"Kenapa mas Aris masih perduli sama mbak Nesa? Mas Aris punya rasa kah sama mbak Nesa?" selidik Dinda yang tiba-tiba merasa cemburu.
"Ya Allah, enggak sayang. Ya udah mas gak nanya deh, takut salah ngomong lagi," kata Aris yang sudah mulai pasrah. Dinda terlalu cemburuan, persis dengan Aris sendiri yang mudah cemburu terhadap orang yang dicintai.
"Dih ngambek," ledek Dinda ke Aris. Mana mungkin Dinda rela kalau Aris ngambek padanya. Tidak, Dinda ingin Aris tetap menyayanginya, sampai kapanpun.
"Mas gak ngambek sayang... Tapi kalau Dinda marah, mas gak tahu mau gimana lagi. Lagian yang Dinda tuduhkan itu gak benar kok," jelas Aris sambil mengelus rambut Dinda naik turun.
"Mas," panggil Dinda yang tiba-tiba membuat keadaan jadi tegang seketika.
"Ya," jawab Aris menunggu apa yang akan Dinda ucapkan.
"Mas besok gak kerja kan?"
Oalah, ternyata Dinda memanggilnya cuma perihal pekerjaan.
"Gak sayang. Kasihan kamu, pasti kerepotan ngurusin baby. Jadi mas ambil cuti beberapa hari, kalau gak boleh sih, mas siap dipecat," jawab Aris jujur.
"Pecat? Demi kita, mas rela dipecat?" tanya Dinda memastikan.
"Iya, pekerjaan bisa dicari lagi."
Mendengar pengakuan dari Aris, Dinda langsung menitikkan air matanya. Dia terharu dengan sikap Aris yang begitu tulus menyayanginya, tanpa mengeluh sedikitpun.
"Eh, kok nangis sih?" tanya Aris panik.
Aris sempat terkejut. Tapi kemudian dia balas memeluk Dinda. Aris bahagia, akhirnya Dinda sudah mau menerimanya.
"Sama-sama sayang. Mas cinta sama kamu, anak kita. Gak mungkin mas ngebiarin kalian susah," kata Aris lagi.
"I love you more, Dinda," bisik Aris sambil mencium kening Dinda.
'I love you too Mas Aris,' jawab Dinda dalam hatinya. Entah kenapa, setiap ingin mengucap kata cinta, lidahnya terasa kelu.
Aris tersenyum hampa. Ternyata Dinda belum bisa menerimanya. 'Gak masalah kamu belum cinta sama mas Din. Tapi mas akan terus berusaha, hingga kamu sendiri yang bilang kalau kamu mencintai mas,' batin Aris penuh tekat.
"Ya udah, bobo ya. Biar pas debay bangun, kamunya juga bangun," suruh Aris sambil membaringkan Dinda.
"Makasih," balas Dinda dan langsung berusaha memejamkan matanya.
"Met bobo sayang," ucap Aris sambil mengecup kening Dinda.
Begini saja Aris sudah bahagia kok. Jadi Aris gak akan muluk-muluk minta ungkapan cinta balik dari Dinda. Asal Dinda setia dan gak membangkang, bagi Aris sudah cukup buat dirinya bahagia.
...****************...
__ADS_1
Di kediaman pak Bambang.
"Huaaaa, huaaa!"
Tangisan Raskha menggelar kemana-mana.
"Lihat kelakuan lu Mega. Dasar gak becus ngurusin anak. Atau lu sengaja buat nyelakain Raskha? Hah!" tuding Wawan tanpa jeda.
Untung Wawan tadi cepat tanggap. Kalau gak, mungkin Raskha akan terluka gara-gara si Mega lalai mengurus Raskha.
"Sumpah Wan. Gue gak ada maksud mencelakai Raskha. Dia minta maem, jadi mau gue ambilin biskuit," jawab Mega setengah terisak. Sakit rasanya dituding seperti itu.
"Halah, lu bohong kan. Bilang aja lu mau mencelakai Raskha karena lu gagal dapetin ayahnya. Ngaku lu Ga! Ngaku!"
'Bagaimana Wawan bisa tahu niat awal gue? Tapi hal itu udah gue batalin, karena gue gak tega buat nyelakain balita yang gak tahu apa-apa,' batin Mega yang merasa syok. Soalnya dia tadi beneran pengen ngambilin biskuit. Ya mungkin benar kalau ini adalah kelalaian Mega. Harusnya tadi Mega menjaga Raskha dan gak meninggalkannya sendirian.
"Itu gak bener Wan. Emangnya gue gila apa? Bocah sekecil ini mau gue sakitin? Enggak Wan!" teriak Mega gak terima terus-terusan dituduh. Padahal Raskha juga gak kenapa-kenapa. Dia cuma hampir jatuh dari kasur karena tadi balita itu merangkak naik ke atas kasur tanpa pengawasan Mega.
"Ada apa kok ribut-ribut?" tanya pak Bambang yang baru sampai rumah.
Wawan dan Mega saling bertatapan. Gak mungkin Wawan bilang kalau Raskha hampir jatuh, nanti dia dan Mega gak akan dipercaya lagi buat jaga anaknya Jo.
Sementara Mega, dia hanya bisa pasrah. Tapi sungguh, dia hanya lalai tak ada niat jahat sedikit pun untuk melukai Raskha.
"Cup cup cucu ayah. Kenapa dia bisa nangis kejer kayak gini? Raskha gak apa-apa kan?" tanya pak Bambang yang semakin membuat Mega ketakutan.
"Mega, Raskha kenapa?" tanya pak Bambang yang terdengar menyudutkan Mega.
Wawan yang sambil menggendong Raskha akhirnya maju selangkah. Haruskah dia berkata jujur tentang hal yang terjadi barusan?
"Emm..." Belum juga Wawan berucap, suara salam dari depan menghentikannya.
"Wa'alaikumussalam," sahut pak Bambang. Dan kini tinggal dua orang dewasa, Mega dan Wawan.
"Mampus lu, Jo dan Nesa udah datang," ucap Wawan sambil tersenyum licik.
"Gue mohon, jangan lakuin itu Wan," mohon Mega dengan wajah yang merah padam. Kalau Wawan mengadu ke mereka semua, riwayat Mega akan tamat sampai di sini.
"Tamatlah riwayat lu, Mega."
Rasanya Mega ingin menjerit saking takutnya.
"Raskha," panggil Nesa yang kini sudah berada di ambang pintu.
'Gimana ini? Ya Allah,' batin Mega yang semakin tertekan oleh keadaan sekitar.
__ADS_1
Bersambung...