
***
Pagi harinya.
Aris tengah menyiapkan baju untuk Dinda. Atasan kaos dan celana boxer miliknya, sebab Aris tak punya baju wanita. Lagi pun Aris enggan membelikan baju buat Dinda. Takut nanti ada yang curiga.
Dinda POV
Setelah tadi malam aku lolos dari terkaman monster itu, sepertinya aku tetap gak bisa bernafas lega. Karena pria ini tetap bersikukuh untuk mengajakku menikah. Emangnya siapa dia? Memaksaku menikah dengan ancaman, jangan ada yang berani lapor polisi. Hei! Jika aku dan keluargaku melaporkan tindakan bejatnya ke polisi. Maka dia akan kembali lagi dan menghancurkan hidup keluargaku lagi. Aku gak mau hal itu terjadi. Jadi sementara ini aku akan diam saja.
Bersikap layaknya mayat hidup. Bahkan air mata ini sudah berhenti menetes. Aku sudah tak punya kuasa apa-apa lagi selain hanya memasrahkan hidup pada Sang Illahi.
Tapi Aris hari ini begitu berbeda. Dia layaknya manusia normal seperti pada umumnya. Itu terlihat dari sebagaimana dia menyiapkan baju bahkan memasakkan makanan untukku hari ini. Entah, dia kesambet setan apa hari ini?
Dia terlihat sangat baik. Menyiapkan baju di sampingku. Bahkan dia tak memperlakukanku sekasar kemarin. Ada apa dengan si Aris?
"Dinda, cepat bersihkan badanmu! Setelah itu kita sarapan bareng," suruhnya padaku. Tapi gak ku gubris. Kenapa tiba-tiba dia bersikap hangat, seperti kita ini adalah pasangan kekasih yang romantis. Ck.
"Sekali lagi kamu cuekin aku, aku yang akan mandiin kamu!" ucapnya yang sempat membuatku kaget. Gila apa?
Tapi lagi-lagi aku malas meresponnya. Rasanya kejiwaanku mulai terganggu. Aku tak bisa melakukan apapun lagi selain diam.
Terlihat Aris menurunkan egonya. Dia mendekat ke arahku, ku pikir dia akan marah. Ternyata tidak. Tapi nyatanya ucapan yang katanya memandikan, tetap Aris lakukan untukku.
Author POV
Aris menggendong Dinda ke kamar mandi. Dengan telatennya Aris membersihkan badan Dinda. Seketika air mata Dinda kembali menetes. Namun dia hanya diam saja saat tangan-tangan Aris menyabuni seluruh badannya.
Tapi saat Aris ingin melakukan sesuatu. Nyawa Dinda seperti kembali lagi. Spontan, Dinda langsung mendorong Aris hingga Aris terjungkal. Kemudian Dinda lari dari kamar mandi dan mengunci Aris dari luar.
Ketahuilah, bahwa Dinda tadi sedang akting. Dia hanya ingin Aris lengah. Dan saat Dinda sudah mendapat kesempatan, maka dari situlah ia kabur dari jeratan Aris.
__ADS_1
Setelah berhasil mengunci Aris di kamar mandi, Dinda mengambil baju yang sudah disiapkan Aris sebelumnya. Memakan sedikit makanan itu dengan tergesa. Ya, Dinda harus punya tenaga untuk kabur bukan? Setidaknya seperti itu yang Dinda pikirkan saat ini.
Terdengar Aris terus menggedor-gedor pintu kamar mandi itu tiada henti. Aris memang suka gegabah dan mendahulukan egonya. Tapi sayangnya, dia itu cerdik. Aris tentu punya segudang cara agar Dinda tak kabur darinya. Meskipun dia terkurung di kamar mandi, senyum liciknya terus mengembang. Karena dia sudah merencanakan penculikan ini jauh-jauh hari. Jadi persiapannya lebih matang dan tak akan berakhir sia-sia.
Dinda tengah kebingungan saat hendak keluar, semua pintu dan jendela tertutup rapat. Kini dia tengah mencari-cari ponselnya yang entah disimpan di mana oleh Aris.
Cukup lama Dinda mencari. Hingga tanpa ia sadari, Aris sudah mencengkeram tubuh Dinda dari belakang.
"Mau kabur heh?" Suara Aris menggelegar di seluruh ruangan.
Dinda ketakutan, tak bisa berkutik lagi. Saat tangan kekar Aris mengunci semua gerakan tubuhnya.
"Oke, aku akan bebasin kamu. Asalkan kita benar-benar menikah, gimana?" Aris memberikan penawaran khusus. Yang tentunya tawaran itu adalah rencana Aris selama ini. Ya, tujuan dia menculik Dinda adalah menikah dengan Dinda. Aris benci dengan Jo dan pak Wahyu (papanya Jo). Pak Wahyu itu adalah orang yang memanfaatkan kepolosan Lia. Jadi mohon maaf saja, Aris juga akan memanfaatkan kepolosan Dinda.
Aris tersenyum penuh kemenangan saat Dinda hanya mengangguk. Dinda sebenarnya hanya pura-pura. Mana mungkin Dinda mau menikah dengan monster jahat ini? Dinda gak mau.
Dinda POV
Aku mengangguk hanya karena ingin bebas. Gak mungkin aku menggeleng, sebab dia bakalan menyakitiku lagi.
Ku rasakan cengkeraman Aris melemah. Aku segera berusaha mencari celah lagi. Ku sikut perutnya dengan kasar. Sontak saja dia meringis kesakitan.
Melihat itu, aku langsung berusaha lari darinya. Namun sayang, dia lebih gercep (gerak cepat) dan aku pun kalah cepat. Dia justru menarik tanganku dengan sekuat tenaganya. Aku sudah berusaha berontak semaksimal mungkin, tapi gak bisa. Tenaganya lebih besar dan dia kembali menyeretku menuju ke kamar yang satunya. Kamar di mana dia menodaiku tanpa belas kasihan.
***
Dalam waktu bersamaan di tempat yang berbeda.
Hari ini Lia mengajak Jo ketemuan. Dengan didampingi oleh pak Bambang akhirnya Jo mau menemui Lia. Lagian Jo gak mau ketemuan sama Lia sendirian lagi, takut kalau nanti ada kesalah-pahaman lagi di dalam rumah tangganya. Cukup sekali saja meskipun itu fitnah.
"Lia, gimana? Ada informasi apa?" tanya Jo tak sabaran.
__ADS_1
Lia menatap bapak-bapak yang berdiri di sampingnya Jo. Dan Johan pun langsung peka.
"Oh iya, ini ayah mertuaku. Ayahnya Dinda," sambungnya sekaligus memperkenalkan pak Bambang pada Lia.
"Saya Lia pak, sebelumnya saya minta maaf atas kelakuan mas Aris ke Dinda. Lia gak pernah nyangka kalau mas Aris bisa berbuat hal sekeji itu pada anak bapak," ucap Lia dengan permintaan maaf atas nama Aris. Mungkin minta maaf saja tidak cukup. Jika memenjarakan Aris adalah solusi yang tepat, maka Lia sudah ikhlas lahir batin.
"Bapak bisa memenjarakannya kalau perlu, saya sebagai adiknya sudah ikhlas," lanjut Lia. Meskipun itu berat baginya. Apalagi ini menyangkut kakak kandungnya. Tapi Lia gak punya pilihan lain lagi selain bicara seperti itu.
Sebenarnya Pak Bambang ingin memaki Lia. Namun diurungkannya. Lia hanyalah adiknya. Jadi rasanya kurang pantas jika pak Bambang melampiaskan emosinya kepada Lia.
"Semua sudah terjadi nak Lia, yang penting adalah Dinda. Semua keputusan ada di tangan Dinda sekarang. Hanya saja, saya sebagai ayahnya, terlalu sedih jika Dinda diperlakukan sesadis itu. Dia masih terlalu kecil untuk semenderita ini. Dia baru lulus SMA satu tahun yang lalu, cita-citanya masih panjang. Jadi aku sebagai ayah gak terima. Cuma, jika Dinda ingin Aris dipenjara? Maka aku akan laporkan kasus ini ke kantor polisi," terang pak Bambang dan Lia mengangguk paham.
Sungguh kasihan sekali nasib Dinda. Keperawanannya telah direnggut oleh kakaknya.
"Sekali lagi saya minta maaf pak. Atas nama mas Aris saya minta maaf. Saya gak tahu kalau mas Aris punya niat jahat seperti itu. Saya gak tahu pak," ucap Lia dengan air mata yang terus mengalir.
"Udah nak Lia. Yang penting kita temukan Dinda dulu. Soal maaf, yang pasti aku gak bisa maafin. Tapi kembali lagi, semua keputusan ada di tangan Dinda," jawab pak Bambang.
"Iya pak, terimakasih."
"Oiya pak Jo. Saya mengajak pak Jo ketemu, karena saya ingin memberitahukan. Kayaknya mas Aris membawa Dinda ke suatu tempat," kata Lia yang membuat Jo penasaran.
"Di mana itu Lia?" tanya Jo.
"Mas Aris pernah ngekos sebelum dipenjara. Mungkin Dinda dibawa ke sana" jelas Lia.
Informasi dari Lia barusan langsung ditanggapi dengan antusias oleh Jo dan pak Bambang. Semoga ini jalan keluarnya, doa Jo saat itu. Jo sudah tak sabar ingin menangkap Aris saat ini juga.
"Kalau gitu, kita berangkat sekarang. Ayo ayah, kita cari Dinda sekarang. Lia kamu ikut kami ya? Kamu duduk di depan," titah Jo dan Lia menyetujuinya.
Lia akhirnya menunjukkan arahan untuk menuju ke tempat kosannya Aris dulu. Berharap kalau si pelaku segera ditangkap.
__ADS_1
Bersambung...
Akankah Jo berhasil menangkap Aris? Tunggu next part-nya.