Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Berduaan


__ADS_3

Dinda POV


Aku menunggu ojek online sebentar dan kemudian aku benar-benar meninggalkan rumah yang di mana menjadi saksi bisu atas kesedihan yang ku derita selama ini.


Sebelum ke rumah mbak Nesa, aku ingin pergi ke danau. Menenangkan diri di sana barang sebentar. Aku takut mbak Nesa sama mas Jo bakalan mikirin aku gara-gara kondisiku yang seperti ini. Jadi lebih baik ku tenangkan dulu fikiranku sebelum ditanya-tanya oleh mereka.


Di danau aku terus menerus menangis. Aku tak perduli dengan rasa lapar yang ku rasakan sekarang. Aku cuma ingin tenang. Dan tanpa ku sadari, siang sudah berganti dengan malam.


"Aku harus pulang," gumamku sambil mengusap air mata yang sudah kering.


Ku ambil ponselku dan ku buka aplikasi hijau. Tak berapa lama, paman ojek pun datang.


***


Author POV


Setelah turun dari ojek, Dinda langsung kecewa. Ternyata Nesa dan kakak iparnya sedang tidak di rumah. Dinda tak tahan harus menunggu lagi. Sedari tadi dia sudah membuang waktunya di danau. Diputuskannya untuk pulang ke rumah ayahnya saja.


Dinda melihat kantong dasternya. Uangnya sudah menipis. Naik ojek pun udah gak cukup buat membayarnya. Dengan terpaksa, Dinda memilih berjalan kaki dulu. Siapa tahu setelah dari kampung A uangnya cukup buat naik ojol. Air matanya itu tak pernah bisa berhenti. Selalu menghiasi dan terus menghiasi pipinya.


Dinda begitu kasihan pada dirinya sendiri. Dia yang tak tahu apa-apa, justru dijadikan korban pemerkosaan seperti ini. Andai dia tak mengalami ini semua, mungkin Dinda akan bahagia hidup bersama Briyan. Oh bukan. Tapi dia akan jauh sakit hati lebih dalam bersama Briyan. Sebab Briyan itu tukang selingkuh. Jadi meskipun dia menikah, bisa saja Briyan tetap menyelingkuhi Dinda nantinya. Karena faktanya, Briyan tak sungguh-sungguh mencintai Dinda. Briyan hanya ingin memanfaatkan kepolosannya saja. Kebaikan dan kesabaran Dinda selama ini.


Lama berjalan, akhirnya Dinda merasa kecapekan juga. Perut lapar dan uang hem... tinggal sedikit. Terpaksa Dinda hanya duduk di atas kopernya. Sembari berdoa agar dia dan bayinya sehat selalu dalam perlindungan Allah. Mengingat dari pagi Dinda belum makan. Tapi Alhamdulillahnya dia masih kuat sampai sekarang.


Tak berapa lama kemudian. Sebuah deru motor berhenti tepat di sampingnya. Orang itu menatap miris ke arah Dinda. Baju daster, sandal jepit, dan duduk di atas koper. Kaburkah? Fikir orang itu yang tak lain adalah Aris.


Mendengar suara sepeda motor yang berhenti tepat di sampingnya. Membuat Dinda mendongak dan menatap orang tersebut. Aris? Si Monster? Dia kembali? Ada rasa campur aduk di dadanya. Antara bahagia, marah, dan lainnya. 'Ngapain dia di sini? Kayak gak ada kerjaan aja,' batin Dinda yang langsung menampilkan wajah cueknya.


Dinda enggan menyapa duluan. Siapa dia yang harus menyapa? Dinda tak berhak melakukan itu, yang ada nanti Aris gede kepala lagi.


"Dinda," sapa Aris yang kini sudah turun dari motornya. Dia berjongkok tepat di depan Dinda. Wajahnya terlihat bersih dari sebelumnya, lebih terisi dan lebih terawat juga. Tak seperti terakhir kali Dinda melihatnya, yang kurus kusut dan suram.


"Dinda kenapa di sini? Dinda-kan lagi hamil?" tanyanya penuh perhatian.


Selalu saja Dinda diam. Tapi kali ini air matanya yang menjawab. Ada rasa haru saat ditanya seperti itu oleh Aris. Selama ini dia ingin diperhatikan seperti ini oleh Briyan. Tapi Briyan tak pernah menganggapnya ada.


"Dinda kenapa kamu menangis? Dinda habis dari rumah Jo atau---" kabur dari rumah Briyan? lanjutnya dalam hati. Aris tak enak mau bertanya seperti itu. Dia bukan siapa-siapanya Dinda. Ya walaupun Aris sangat ingin menggantikan posisi Briyan saat ini. Menjadi suami Dinda seperti yang dia impikan.

__ADS_1


"Atau Dinda mau pulang?" lanjutnya lagi.


'Please ngomong Din, hatiku sakit ngelihat kamu yang hanya diam seperti ini. Andai aku berani, aku akan bersimpuh minta maaf padamu Din. Hanya saja, aku masih sakit hati. Karena kita tak jadi menikah.'


"Din, kamu baik-baik aja kan?" tanya Aris lagi. Aris sangat khawatir melihat keadaan Dinda sekarang.


Betah diam dengan air matanya. Tiba-tiba Dinda mengeluarkan suara juga.


"Dia anakmu," cicit Dinda sambil mengelus perutnya kemudian. Tak ada pilihan lagi buat Dinda untuk menutup-nutupi. Briyan sudah membuangnya, bahkan mengusirnya. Jadi pilihannya hanya antara Aris dan keluarganya saja. Cuma itu pilihan Dinda saat ini.


Dan sangat kebetulan. Saat Dinda dalam keadaan terpuruk seperti ini, justru Aris lah yang pertama kali datang padanya.


Sontak Aris terbelalak mendengarnya. Ada rasa senang dan bahagia dalam hatinya. Alhamdulillah Dinda telah jujur kepadanya. Tapi kenapa? Apa yang terjadi dengan Dinda? Banyak pertanyaan yang terngiang-ngiang di kepalanya Aris.


"Anakku." Aris tak kuasa menahan gejolak di dadanya. Rasanya dia ingin menangis saat Dinda mengatakan itu padanya. Jujur, ini adalah momen yang paling diharapkan oleh Aris. Berduaan dengan Dinda dan membicarakan anak mereka.


Dinda membalasnya hanya dengan sebuah anggukan. Kebencian masih menghinggapi dirinya. Bagaimanapun juga, Aris adalah orang yang menghancurkan hidup dan masa depannya. Sulit untuk memberikan maaf padanya meskipun kadang-kadang hatinya ingin.


"Iya, dia anakmu! Puas kamu sekarang! Hidupku hancur gara-gara ulahmu. Aku diceraikan suamiku, semua gara-gara kamu. Dasar monster jahat. Aku benci. Benci sama kamu!"


"Aku akan bertanggung jawab Din. Aku akan menikahimu. Atau... silahkan bawa aku ke kantor polisi. Kamu berhak melaporkan perbuatanku kemarin. Aku gak masalah kalau harus mendekam penjara lagi," lanjutnya sambil terus memeluk Dinda. Mengusap punggung Dinda dengan sayang. Jika masuk bui lagi adalah cara menebus kesalahannya. Aris sudah ikhlas menerimanya.


Pelukan dari Aris terasa begitu hangat dan nyaman di tubuh Dinda. Dinda melerai pelukan mereka. Tak semudah itu bagi Dinda untuk menjebloskan Aris ke penjara. Sebab, nasib Dinda sudah terlanjur hancur. Apa ia dengan Aris masuk penjara, keperawanan Dinda akan balik lagi?


"Gak seenteng itu. Emangnya kamu bisa balikin hidupku seperti dulu?" tanya Dinda penuh menuntut.


Aris menunduk sambil menggeleng.


"Gak bisa kan? Coba kamu jadi aku, pasti kamu gak kuat," ucap Dinda lagi.


"Tapi Din, soal anak kita. Aku akan bertanggung jawab sepenuhnya. Aku juga siap menikahimu sekarang juga kalau perlu," ucap Aris sungguh-sungguh.


Mendengar kata anak, Dinda jadi ingin Aris mengusap perutnya. Anaknya tengah menendangnya, dan dia butuh elusan hangat dari ayah biologisnya.


"Tolong sentuh dia," pinta Dinda sambil menurunkan egonya. Dia memang masih marah sama Aris. Tapi dia gak bisa mencampur adukkan masalah ini pada anak mereka.


Aris sempat bingung sama sikap Dinda. Tapi dia gak akan melewatkan kesempatan ini.

__ADS_1


"Boleh?" tanya Aris kemudian. Agak takut sih, takut kalau Dinda berubah menjadi singa lagi.


Dinda mengangguk. Karena ini kemauan anaknya.


Aris pun mengerti. Didekatkannya takut-takut tangannya ke perut Dinda. Rasa grogi dan bersalah membuatnya ingin menangis saja.


Tangan Aris mendarat tepat di atas perut buncit Dinda. Dielusnya perut yang terlapisi kain daster anak remaja itu dengan perlahan. Ya, Dinda masih remaja. Mengingat umurnya yang masih 19 tahun. Belum cukup umur untuk menjadi seorang ibu. Tapi gara-gara Aris, hal ini akhirnya terjadi juga. Aris begitu kotor. Tega-teganya dia menodai gadis yang tak bersalah seperti Dinda. Harusnya Aris gak perlu dibebasin, biar selamanya dia mendekam di penjara.


Tiba-tiba sebuah pergerakan dari dalam perut Dinda mengenai telapak tangannya. Aris terbelalak kaget. Dia beranikan diri menatap wanita yang ada di depannya ini. "Dia bergerak," ucap Aris setengah terkejut.


Dinda hanya diam tak berekspresi. Tapi tangan Aris cukup mengobati rasa dahaga yang selama ini ditahannya. "Kamu kemana aja?" tanya Dinda kemudian. Masih cuek, tapi pertanyaannya mampu membuat Aris merasa dibutuhkan.


"Aku kerja Dinda."


"Oh," balas Dinda datar.


"Maafin aku ya, udah ngebuat kamu jadi menderita seperti ini. Ku fikir kamu udah bahagia, meskipun aku tahu kalau----" kalau rumah tanggamu tak baik-baik saja. Aku hanya ingin cari nafkah saja. Buat hidupin anak kita kelak," lanjutnya dalam hati.


"Kalau apa?" tanya Dinda penasaran.


"Kalau kalian saling mencintai," kilahnya.


"Ck. Harusnya aku emang udah bahagia. Tapi semuanya dihancurin sama kamu," tuduh Dinda kemudian.


"Iya Din. Aku gak tahu harus gimana lagi buat ngenebus kesalahanku sama kamu. Aku dibunuh pun, aku ikhlas Din. Tapi jangan lakuin itu!" larang Aris kemudian.


"Kenapa gitu? Aneh. Kamu yang nyuruh, terus kamu sendiri yang ngelarang," celetuk Dinda tanpa basa-basi.


"Karena kalau aku mati, siapa yang akan ngurusin anak kita?"


"Kamu fikir aku cewek macam apa? Kamu pikir aku akan buang anakmu? Ckck, kamu itu..."


"Dinda!" panggil Nesa yang akhirnya memotong omongan Dinda.


Keduanya terkejut dan langsung diam.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2