Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Seperti Dilecehkan


__ADS_3

"Sebenarnya kronologi kejadiannya gimana?" tanya pak Bambang pada Lia.


"Lia gak tahu Pak. Cuma Lia udah curiga kalau mas Aris gak baik-baik aja, jadi Lia tanya kenapa sama motornya?"


"Terus kata dia apa?" potong pak Bambang penasaran.


"Katanya remnya blong," jelas Lia sambil menatap ke arah depan. Dia mengingat kembali kenangan di saat Aris mengatakan hal itu kepadanya.


"Ya Allah, astaghfirullah. Kok bisa sampai blong? Tadi dia boncengin ibumu saat ke rumah gak apa-apa kan?" tanya pak Bambang memastikan lagi.


Lia menggeleng. "Iya, mas Aris gak ada keluhan apa-apa Pak," jawab Lia jujur.


"Kok aneh ya? Semoga aja cuma kecelakaan biasa," gumam pak Bambang yang masih terdengar di telinganya Lia.


Lia tak berpikiran macam-macam. Dia hanya ingin anggota keluarganya selamat, sudah begitu aja dulu. Otaknya lagi gak sanggup buat mikirin yang lain. Lagi pula, sepeda motor Aris juga udah dibawa sama pihak yang berwajib. Mau dicek, kenapa bisa sampai kecelakaan separah itu? Padahal jalanan tak terlalu ramai. Cuma kebetulan sekali, jalannya pas turun. Jadi kalau rem gak berfungsi. Otomatis jalannya akan lebih laju tak terkontrol. Mungkin juga hal itu yang mengakibatkan Aris kecelakaan di sana.


Tralala tralala...


Dering ponsel pak Bambang sangat nyaring bunyinya. Tak hanya sekali dua kali berdering, tapi ini berkali-kali seperti orang yang tak sabaran.


Sampai-sampai Lia yang ada di sampingnya jadi terganggu dan ikut menatap layar ponsel pak Bambang.


"Dinda yang nelepon," kata pak Bambang seraya memberitahu nama yang tertera di ponselnya.


Lia mengangguk tanda mengerti. Mungkin Dinda ingin mengetahui kondisi suaminya. Pikir Lia sambil menatap pak Bambang yang sekarang tengah memunggunginya.


"Assalamualaikum, iya Dinda," kata pak Bambang seraya memelankan suaranya.


"Wa'alaikumussalam. Ayah, kenapa gak angkat telepon Dinda? Dinda khawatir gak tenang dari tadi. Gimana keadaan mas Aris? Dia baik-baik aja kan?" serobot Dinda tanpa membiarkan pak Bambang bernafas lega.


"Dinda, ayah bilang tenangin dirimu dulu. Aris..." Omongan pak Bambang terpotong.


"Iya, kenapa dengan mas Aris Yah? Apa perlu Dinda susulin ke sana?" tanya Dinda sedikit memaksa.


"Dinda, apa-apaan kamu. Aris, Alhamdulillah dia selamat."

__ADS_1


"Alhamdulillah," ucap Dinda yang ikut lega mendengarnya.


"Ya udah, sabar sampai besok. Besok kamu juga akan tahu sendiri bagaimana kabar suamimu," ucap pak Bambang sambil bersedih. Dia benar-benar menyesal pernah ingin memisahkan Dinda dengan Aris. Karena sampai sekarang pun anaknya masih bisa menerima kekurangan Aris. Tapi, bagaimana jika Aris mengalami cacat di bagian tubuhnya?


...****************...


Ke-esokan paginya. Seperti biasanya, kalau gak ada Aris, gak ada pak Bambang. Wawan bersikap seolah-olah dia begitu menyayangi Dinda. Wawan ini lama-lama seperti psikopat yang menginginkan Dinda. Padahal jelas-jelas Dinda gak menyukainya. Tapi Wawan terus berusaha mendekatinya.


"Din, sarapan gih. Kasihan Zahranya lho, dia kan minum asi," ucap Wawan dan dia mencuri-curi pandang pada gunung kembar Dinda yang terlihat lebih besar dari biasanya.


Dinda yang paham kemana arah mata Wawan, segera membalikkan badannya. Bisa-bisanya Wawan sejelalatan itu kepadanya. Ini gak baik buat rumah tangga Dinda dan dirinya. Wawan seperti melecehkannya, meskipun itu hanya sebatas lirikan.


'Kurang ajar mas Wawan, berani-beraninya dia bersikap kayak gitu,' batin Dinda tak suka.


"Dinda mau kemana? Makan dulu!" cegah Wawan saat melihat Dinda menyuekinnya.


'Awas aja kamu Din! Aku akan membuatmu bertekuk lutut,' batin Wawan sambil mengumbar senyum jahat.


"Wan! Masih perhatian aja sama Dinda?" tanya Mega yang baru muncul dari belakang Wawan. Jelas Mega sedikit cemburu, istri mana yang gak cemburu pada suaminya sendiri kalau suaminya malah sibuk ngurusin adik tiri yang notabene sudah bersuami. Ditambah lagi, Wawan pernah berjanji kepada Mega kalau Wawan gak akan gangguin rumah tangga Dinda lagi.


Wawan ini benar-benar lihai dalam menyembunyikan perasaannya. Dia begitu berhati-hati sampai-sampai orang di sekitarnya tak menyadari. Mungkin hanya Jo ynag tahu, tapi Jo gak serumah sama Wawan. Jadi Wawan masih bebas dengan perasaannya sampai sekarang.


"Eh Dinda, tumben dandan rapi banget!" celetuk Wawan saat melihat Dinda sudah berdandan rapi, lengkap dengan hijab persegi empatnya. Biasanya kalau jarak dekat Dinda tak berhijab, tapi ini?


Wawan yang super kepo itu langsung penasaran. Gak mungkin dia diam saja saat melihat Dinda berdandan rapi, tapi ah cantik. Ya, mata nakal Wawan itu kini beralih menatap wajah Dinda yang sedang mengenakan kerudung.


"Mau kemana Din? Tumben banget," kata Wawan memancing.


"Mau ke rumah sakit," jawab Dinda dengan ketus.


"Eh iya, Aris sakit. Gimana keadaannya?" tanya Wawan sok perduli.


"Mana aku tahu Mas. Aku belum nengok," kata Dinda agak sedikit ketus.


"Lagian siapa yang ngijinin kamu ke rumah sakit? Kamu itu lagi masa pemulihan dari melahirkan. Pamali ibu baru melahirkan langsung bepergian jauh kayak gitu," jawab Wawan sedikit menakut-nakuti Dinda. Biar rencana Dinda batal.

__ADS_1


"Ayah yang ngijinin," jawab Dinda santai.


Dan Wawan langsung mati kutu.


'Sial, ngapain ayah malah ngijinin Dinda pergi? Kalau begini caranya, yang ada aku akan kehilangan kesempatan lagi,' batin Wawan emosi.


Mega yang melihat kelakuan Wawan jadi geram sendiri. Dia emosi dan segera pergi ke kamar meninggalkan Wawan. Entah kenapa dengan Mega? Tiba-tiba saja dia jadi mudah marah, mudah cemburu pada kelakuan Wawan.


"Sebenarnya aku kenapa ya?" gumam Mega saat sudah berada di kamar.


"Ya udah, aku berangkat dulu mas. Jemputan sudah datang," pamit Dinda sambil menggendong Zahra. Tak lupa, perlengkapan bayi juga ia bawa.


"Heh! Siapa yang jemput kamu? Biar mas Wawan aja yang antar, sekalian jenguk A-ris," ucap Wawan sambil melirihkan suaranya saat menyebutkan nama Aris.


"Gak perlu. Aku dijemput Lia. Assalamualaikum," pamit Dinda sambil menghiraukan teriakan Wawan yang terus berusaha untuk mencegah kepergian Dinda.


Di luar rumah.


"Yuk Lia, mbak udah siap!" kata Dinda yang tak sabaran.


"Zahra aman kan mbak?" tanya Lia was-was. Lia paham betul, kondisi bayi seperti Zahra belum terlalu diperbolehkan keluar rumah. Tapi gimana lagi? Ini mendesak, ayahnya Zahra butuh dukungan.


"Aman kok Lia. By the way, mas Aris sekarang kabarnya gimana?" tanya Dinda di tengah-tengah perjalanan mereka.


Lia diam saja. Bingung mau menjawab apa? Yang jelas, kedatangan Dinda dan Zahra adalah dukungan untuk kesadaran Aris. Siapa tahu dengan begitu, Aris segera siuaman dan sadarkan diri.


"Lia!" panggil Dinda lagi. Soalnya dari tadi pagi, pak Bambang belum memberikan kabar terbaru soal Aris. Jadi sebagai istri, Dinda pasti sangat cemas memikirkannya.


"Nanti mbak Dinda juga tahu. Sekarang pegangan ya, jaga Zahra biar gak terlalu terkena angin," kata Lia sebelum dia kembali fokus menyetir.


"Iya Lia," balas Dinda lemah.


'Aku yakin kamu gak kenapa-kenapa mas. Karena besok kita akan menikah, jadi kamu pasti baik-baik aja,' batin Dinda yang berusaha menenangkan pikirannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2