
"Emm Din!" panggil Mega tiba-tiba.
Dinda mengangkat alis kanannya, heran kenapa Mega menghampirinya?
"Ada yang ingin mbak Mega omongin ke kamu. Ini penting," kata Mega lagi.
Tadinya Dinda biasa saja. Mendengar kata penting, Dinda jadi penasaran.
"Emang apa?" tanya Dinda.
"Gak enak kalau ngomong di sini Din. Ayok masuk!" ajak Mega dan Dinda menurut saja.
Keduanya duduk di ruang tamu sambil berhadapan.
"Hal penting apa sih mbak?" tanya Dinda penasaran.
"Mbak mohon, kali ini jangan tersinggung ya?" pinta Mega dengan hati-hati.
Sebab gara-gara perilaku Aris semalam, Wawan jadi diam seribu bahasa. Bahkan Mega juga tengah didiemin oleh Wawan. Biasanya Wawan sering melampiaskan amarahnya kepada Mega, namun hari ini tidak. Kasihan Wawan, dia begitu tertekan gara-gara ulah Aris. Jadinya sekarang Mega akan bercerita tentang apa yang dia lihat semalam itu kepada Dinda. Biar Dinda tahu, kelakuan suaminya saat di belakang Dinda itu seperti apa, pikir Mega. Aneh sih, sebenarnya yang salah siapa. Tapi yang kena imbasnya juga siapa.
"Tergantung mbak. Kalau itu menyinggung, tentu aku juga tersinggung," jawab Dinda jujur.
Mega jadi bimbang. Harus cerita ke Dinda apa gak? Kalau dia gak cerita, takutnya Wawan akan semakin tertekan. 'Bener-bener si Aris. Kenapa sih dia makin bertingkah?' batin Mega kesal.
"Mbak!" panggil Dinda penasaran. Soalnya sedari tadi Mega terlihat begitu gelisah.
"Em itu Din..."
"Iya mbak, apa?" tanya Dinda udah gak sabar.
"Itu, mbak minta tolong ke kamu. Bujuk mas Wawan makan ya?" pinta Mega yang melenceng dari niat awalnya. Padahal tadi dia ingin cerita soal Aris, tapi mulutnya malah bilang kayak gitu.
"Kenapa harus Dinda? Apa mbak Mega gak bisa bujuk suami mbak Mega sendiri?" tanya Dinda merasa aneh. Soalnya kalau Dinda membujuk Wawan, takutnya Wawan jadi salah paham. Terus gimana dengan Aris? Dinda aja cemburu kalau Aris berdekatan sama Mega, pasti Aris juga akan cemburu kalau Dinda begitu dekat dengan Wawan. Jadi sebagai istrinya Aris, Dinda juga harus menjaga perasaan Aris.
"Bukan gitu Din... masalahnya mas Wawan hanya bisa makan kalau kamu yang bujuk," kata Mega pasrah. Dia sudah bingung harus bagaimana? Sejauh ini dia belum minta maaf sama Dinda, tapi sekarang dia malah minta bantuannya. Jelas saja Dinda menolaknya.
"Maaf mbak. Aku gak bisa bujuk. Tapi kalau aku ketemu mas Wawan, aku akan nyuruh mas Wawan buat makan," terang Dinda sambil berusaha berdiri dari kursi. Dia harus ke kamar, melihat Zahra yang tengah tidur.
"Makasih ya Din, maaf udah ngerepotin kamu." Mega berterima kasih.
__ADS_1
Dinda balas tersenyum. Lalu dia berjalan melewati Mega.
"Din," panggil Mega menghentikan langkah kaki Dinda.
Tanpa menjawab, Dinda langsung menoleh ke arah Mega.
"Maafin mbak Mega ya Din, jika selama ini mbak Mega jahat sama kamu," terang Mega penuh menyesal.
Dinda bingung. Tapi dia tak sejahat itu untuk tak memaafkan orang. Jadi Dinda mengangguk, tanda dia sudah memaafkan Mega.
"Makasih Din," jawab Mega. Hambar rasanya, ternyata Dinda belum memaafkannya dengan tulus, pikir Mega.
Usai mengangguk, Dinda langsung nyelonong pergi begitu saja. Dan disitulah Mega kembali salah paham. Dia mengira, Dinda begitu karena belum memaafkannya. Jadi dengan tergesa Mega menemui Bu Lastri di kamarnya.
"Ada apa nak?" tanya Bu Lastri yang melihat Mega tengah menangis dramatis.
"Mega udah minta maaf buk sama Dinda," curhatnya.
"Terus gimana?"
"Responnya gitu banget buk, dia kayak gak ikhlas maafin aku," ceritanya lagi.
"Gak ikhlasnya gimana sayang, sini peluk ibuk," kata Bu Lastri sambil membawa Mega ke pelukannya.
"Dinda cuma ngangguk doang buk, habis itu nyelonong pergi tanpa permisi."
"Dia emang gitu kan? Kamu udah sering lihat kan, kalau Dinda anaknya kayak kurang sopan," jawab Bu Lastri setengah berbisik.
Mega terdiam, dia gak bisa jawab apa-apa selain menangis.
"Udah, jangan nangis ya? Kamu belum sarapan kan?" tanya Bu Lastri pada menantu kesayangannya itu.
"Belum buk," jawab Mega dengan lesu.
"Ya udah makan yuk, ibuk temenin!" ajak Bu Lastri.
"Gak buk, Mega bareng mas Wawan aja," kata Mega dengan murung.
Tiba-tiba terdengar bunyi sepeda motor dari depan. Suara motor itu milik Wawan. 'Kenapa jam segini Wawan pulang? Ada apa?' pikir Mega sambil keluar dari kamar Bu Lastri. Dia ingin memastikan bener Wawan atau bukan?
__ADS_1
"Kayak suamimu?" kata Bu Lastri memberi tahu.
Mega hanya menatap Bu Lastri sekilas dan dia berlari keluar. Baru juga Mega membuka pintu, Wawan sudah terdorong ke depan dengan wajah yang pucat.
"Mas Wawan, kamu kenapa mas?" panik Mega dengan sedikit teriak.
"Wan! Kamu kenapa ini?" Kali ini suara Bu Lastri melengking sampai kamar Dinda.
Dinda yang lagi menggendong anaknya ikutan keluar kamar. Untuk memastikan apa yang tengah terjadi di dalam rumah ayahnya itu.
"Ada apa Buk?" tanya Dinda ikut menimbrung.
"Badannya panas ini nak Mega, lebih baik bawa ke kamar. Biar ibuk siapin air buat ngompres," kata Bu Lastri yang sempat mengabaikan pertanyaan Dinda.
Tapi tidak dengan Mega. Karena dia lagi butuh bantuan dari Dinda, jadi dia yang menggantikan menjawab.
"Mas Wawan Din, dia lagi sakit kayaknya. Dari pagi gak mau makan, sekarang badannya demam," katanya.
Dinda hanya menatap saja, kasihan juga saat melihat wajah pucat Wawan. Haruskah dia berbaik hati pada Wawan? Haruskah dia membujuk Wawan? Dinda jadi bingung sendiri di posisi ini.
Dinda hanya diam tak berkutik, sampai saat Wawan dipapah oleh Mega dan Bu Lastri, di situlah mata mereka tak sengaja saling beradu. Ada rasa mengiba dari Wawan dan Dinda segera mengalihkan pandangannya. Sebab jantung Dinda sempat berhenti berdetak, dan itu tidak boleh. Segera Dinda ke kamar dan menghubungi Aris. Bagaimanapun juga Aris adalah suaminya, jadi Dinda ingin memberitahu soal Wawan ke Aris.
"Iya sayang, ada apa?" Itu suara Aris dari seberang sana.
"Mas Aris, mas Wawan sakit. Boleh gak kalau aku membujuk mas Wawan buat makan?" ijinnya.
Di sana Aris mengernyit bingung. Bukankah ada Mega atau Bu Lastri? Kenapa harus Mega?
"Ngapain kamu membujuk mas Wawan buat makan? Kan udah ada ibu sama mbak Mega?" protes Aris gak terima. Sepertinya Wawan sengaja sakit, biar diperhatikan oleh Dinda. 'Wawan!' geram Aris sambil mencengkram kertas tugasnya sampai kusut.
"Mbak Mega mas, tadi dia minta tolong sama aku," cerita Dinda lagi.
"Kamu mau?" Kali ini Aris bertanya balik.
"Aku kan ijin ke kamu mas?" Dinda pun balik bertanya ke Aris.
"Ya kamu gimana? Kamu mau bujuk dia gak?" Entah kenapa, rasanya Aris cemburu. Kenapa istrinya harus membujuk orang yang mencintainya?
"Kalau mas ijinin," kata Dinda lagi.
__ADS_1
"Ya udahlah, terserah kamu aja Din. Toh kalaupun aku larang kamu, kamu tetap bakalan membujuk dia kan? Dia mas tirimu, jadi terserah kamu mau bujuk kek enggak kek. Aku banyak kerjaan, kamu jangan lupa makan terus banyakin istirahat," ucap Aris sebelum mengakhiri teleponnya.
Bersambung...