Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Nikah Siri


__ADS_3

***


Esok paginya. Aris langsung berkeliling. Menanyakan ke warga sekitar, barangkali ada yang tahu rumah pak penghulu. Sebab Aris rasa, pernikahan Dinda belum bisa dikategorikan resmi secara negara. Jadi karena dia tinggal di kota orang, dia lebih memilih menikah secara agama dulu. Alias nikah siri. Dan nanti setelah Dinda mau diajak pulang, mungkin Aris akan mengurus surat dan keperluan lainnya.


"Ngapunten, maaf permisi Pak. Saya mau tanya, bapak tahu rumah penghulu di mana ya?" tanya Aris pada salah seorang warga.


"Penghulu KUA atau yang biasa menikahkan orang (pak kyai)?" tanya seorang warga.


"Em, saya bukan warga sini Pak. Mungkin yang bisa menikahkan kami secara agama dulu," jawab Aris agak sungkan. Menikah secara siri bukanlah pernikahan yang umum. Masih tabu, kesannya seperti mempermainkan pernikahan. Terlihat seperti tidak sungguh-sungguh. Tapi Aris tidak punya pilihan lain, mumpung Dindanya sudah mau. Takut kalau nanti-nanti, Dinda pasti berubah pikiran.


"Kebetulan sekali. Rumah sebelah ini, dia imam masjid.


Kadang juga menikahkan orang secara agama," jelasnya.


Aris langsung bernafas lega. 'Alhamdulillah,' batinnya gembira. Segala urusannya semakin terasa mudah baginya. Semua karena Allah yang sudah menentukan jalannya


"Matursuwun, terimakasih Pak," ucap Aris sambil menjabat tangan seorang warga tadi.


Dengan segera Aris bertamu ke rumah imam masjid tadi. Dan... orang yang dicari ada.


"Silahkan masuk. Silahkan! Ada keperluan apa ya?" tanya pak imam masjid.


"Begini Pak. Saya mau minta tolong ke bapak untuk menikahkan saya dan calon istri saya, tapi secara agama saja Pak," ucap Aris dengan pelan karena malu.


"Begini Nak. Menikah di bawah tangan itu juga butuh syarat-syarat tertentu. Dan tujuan sampean, tujuan kamu itu jelas. Maksud saya, keluarga dari calon istrimu setuju. Bukan karena paksaan," jelas pak imam masjid.


Sebenarnya Aris itu memaksa Dinda gak sih? Tapi Dinda sendiri sudah setuju. Jadi ini bukan paksaan kan?


"Alhamdulillah, insya Allah sudah setuju semua Pak," jawab Aris pada akhirnya. Dia yakin, pak Bambang dan Jo setuju dengan pernikahan ini. Karena 2 atau 3 minggu lagi perkiraannya anak mereka akan lahir. Jadi Aris ingin cepat menghalalkan hubungan mereka. Takutnya kalau nanti-nanti, semua tak berjalan sesuai keinginannya.


"Kalau boleh tahu, calon istri sampean masih single atau janda?"


"Janda Pak," jawab Aris.


"Sudah melewati masa Iddah?" tanya pak imam masjid lagi. Meskipun nikah siri, semua harus ada aturan. Tidak boleh sembarangan menikahkan orang. Takutnya kalau salah, pak penghulu pun juga akan kena dosanya.


"Sudah Pak. Hanya saja dia lagi mengandung, tapi yang dia kandung anak saya," terang Aris lagi. Biar semuanya lebih jelas.


"Baik Nak. Saya bisa menikahkan kalian. Tapi saran bapak, sehabis kalian sah. Jangan ada hubungan badan dulu. Sampai anak yang dikandung istrimu lahir," jelas pak imam masjid memberi tahu.

__ADS_1


"Kenapa ya Pak?" tanya Aris penasaran. Ilmu agamanya belum sampai sini. Jadi dia tak mengerti soal ini.


"Soalnya istrimu lagi mengandung. Jadi kalau bisa jangan ada hubungan badan dulu. Terus saran bapak lagi. Biar lebih afdol, setelah istrimu melahirkan kalian menikah lagi. Biar semua halal secara agama. Kalau mau sah secara negara juga bisa, biar mencari akte buat anak kalian lebih mudah," saran pak imam masjid dan diangguki paham oleh Aris.


Yah, padahal niatnya menikah agar bisa enak-enak. Agar bisa ciuman secara bebas. Tapi jalannya harus begini, jadi mau tidak mau Aris tetap harus melewatinya.


"Terimakasih banyak atas sarannya Pak. Kalau begitu, saya minta tolong. Sore ini setelah 'ashar, nikahkan kami ya Pak," pinta Aris dengan sungguh-sungguh.


"Insya Allah. Saya tunggu di masjid Nurul Huda. Jangan lupa, wali nikah dan 2 saksi."


"Iya Pak. Saya siap."


Aris segera melajukan motornya menuju ke tempat kost-an Dinda. Ini acara pernikahan mereka yang begitu mendadak. Tapi ini kemauan Aris. Jadi apapun itu akan ia lakukan.


"Assalamualaikum, sayang!" panggil Aris sambil mengetuk pintu kost-an Dinda.


"Wa'alaikumussalam," sahut Dinda sambil membukakan pintu.


"Alhamdulillah, segala urusan kita lancar. Tinggal kamu menelepon ayah, aku mau nyariin kebaya buat kamu sama nyari 2 orang buat saksi pernikahan kita," jelas Aris.


Mendengar itu, Dinda justru deg-degan. Baru kali ini dia merasa senang tapi takut. Benarkah dia menikahi orang yang telah memperkosanya?


"Ya udah, aku pergi dulu ya. Kamu jaga diri baik-baik. Nanti secepatnya aku akan kembali," kata Aris sambil berpamitan.


***


Pak penghulu sudah di depan mata. Kedua insan manusia itu duduk gelisah menunggu kedatangan pak Bambang. Harusnya pak Bambang sudah datang 5 menit yang lalu.


Dinda yang kini sudah memakai pakaian muslim berwarna putih lengkap dengan hijabnya. Arislah yang memilihkan itu. Meskipun hanya nikah siri. Setidaknya ini acara sakral. Maka dari itu, Aris akan selalu melakukan yang terbaik untuk calon istrinya ini.


Aris pikir, jodohnya adalah Nesa. Rupanya manusia kalah akan takdir dan rencana yang Tuhan berikan.


Sekitar 15 menitan menunggu. Tak ada tanda-tanda yang berarti di sini. Beruntung, pak penghulunya begitu sabar. Maklumlah, tak ada acara yang harus ia hadiri selain menikahkan Aris dan Dinda. Namanya juga manusia, pasti dipikirannya memikirkan hal negatif saat melihat Dinda yang hamil. Usia muda dan Aris terlihat lebih dewasa. Dua orang saksi yang ia sewa pasti sudah menduga kalau mereka adalah pasangan yang menikah akibat kecelakaan. Kecelakaan dalam artian lain. Bukan kecelakaan mobil atau motor pada umumnya. Tapi nikah akibat hamil duluan.


Lama ditunggu, akhirnya Pak Bambang datang sendirian. Sepulang bekerja tadi, beliau langsung meluncur begitu saja ke Sidoarjo. Jarak yang cukup lama di tempuh. Hampir 50 menit lamanya menggunakan bersepeda motor.


Kini pak Bambang harus duduk di depan pak penghulu. Dengan Aris dan Dinda yang sudah duduk di samping kanan dan kirinya.


Pernikahan ini sengaja digelar secara tertutup. Hanya ada 6 orang saja di musholla Nurul Huda itu. Yakni Aris (calon suami), Dinda (calon istri), pak Bambang (wali nikah perempuan), 2 saksi dan ijab kabul.

__ADS_1


Setelah ayat-ayat Al-Qur'an dikumandangkan sebagai pembukaan. Kini pak penghulu itu menjabat tangan Aris.


Kegugupan melanda kala pak penghulu itu minta jawaban dari Aris. Ini kali pertama ia menikah. Tentunya begitu gugup dan membuat jantungnya berdebar-debar.


"Saya terima nikah dan kawinnya, Dinda Fahira binti Bambang Junaidi dengan seperangkat alat sholat dibayar tunai."


Dengan sekali tarikan, ijab kabul itu berjalan lancar.


"Bagaimana saksi?"


"Sah."


"Alhamdulillah."


Hingga acara itu ditutup dengan doa. Rona bahagia dan lega terlihat jelas di wajah Aris. Sedari kata Sah tadi, ia tak bisa berhenti menyunggingkan senyumannya.


Apalagi saat tangan lentik Dinda menjabat tangannya bahkan menciumnya. Hatinya sangat berdebar. Ada rasa sedih juga di sana. Ibu dan adiknya tak bisa menyaksikan pernikahannya ini.


Usai Dinda mencium tangannya. Kini Aris bubuhkan kecupan di puncak kepala Dinda. Meskipun terhalangi oleh sebuah hijab. Aris tetap melafalkan doa dan janji sucinya.


Sore itu, kedua insan manusia ini sudah sah dinyatakan suami istri.


"Selamat ya Nak," ucap pak Bambang pada Dinda dan Aris.


"Terimakasih Pak," jawab Aris dengan sedikit malu.


"Ayah minta, jangan pernah sakiti hati Dinda. Karena sampai kapanpun ayah gak ikhlas anak ayah dibuat menderita," tegas pak Bambang pada Aris.


"Iya Yah." Aris sungguh-sungguh. Dengan sekuat tenaganya dia akan membahagiakan Dinda.


"Habis ini kalian langsung pulang ke rumah ayah. Karena ayah udah dengar, kalian tidak boleh begituan sebelum ada ijab lagi," kata pak Bambang dan Aris pun menurut saja.


Jika dipaksakan berduaan, bisa jadi Aris tak bisa menahan hawa nafsunya. Begitu pula dengan Dinda. Hamil tua membuat hormon seksualnya meningkat.


"Ayah sayang sama Dinda. Semoga bahagia ya Nak," ucap pak Bambang sambil memeluk Dinda.


"Aamiin," jawab Dinda sambil memejamkan matanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2