Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Bu Lastri dan Mega Ketar-Ketir


__ADS_3

***


Lumayan memakan waktu yang lama Dinda menunggu Aris. Akhirnya yang ditunggu datang juga.


"Lama banget sih," gerutu Dinda gak sabaran.


"Antri Din," sahut Aris sambil menyodorkan sekantong kresek yang berisikan nasi goreng.


Dinda menerimanya sambil menatap tajam ke arah Aris. "Berapa bungkus ini?" tanya Dinda seperti ingin membunuh Aris saja.


"Enam Din," sahut Aris jujur.


"Enam?" tanya Dinda setengah teriak. Mungkin saking kagetnya. Dinda kan hanya menyuruh beli 2 bungkus. Tapi kenapa Aris justru beli 6 bungkus?


"Iya, enam." Aris hanya menjawab tanpa beban. Kenapa kalau 6? Pikirnya heran. Apa ada yang salah? Penghuni di rumah ini 6 orang. Jadi bukankah itu pas? Tapi kenapa Dinda seperti gak suka?


"Aku nyuruh dua bungkus mas. Kenapa ini bisa jadi enam?" omel Dinda tak terima. Pantas saja Aris lama banget, ternyata belinya banyak.


"Aku gak enak sama orang rumah Din. Masa iya kita makan nasi goreng, sementara mereka enggak," kata Aris yang mendadak serba salah menghadapi Dinda.


Rasanya Dinda ingin ngomel terus sama Aris. Kalau dia gak ingat surganya ada pada suaminya, mungkin Dinda akan memarahi Aris habis-habisan. Aris gak tahu aja, gimana sikap Bu Lastri dan Mega kepadanya. Kalau Aris tahu, masihkah Aris mau bersikap baik seperti ini pada mereka?


"Ya udah, mas aja yang ngasih. Aku mau langsung ke dapur. Buat mas udah aku bawa, jadi nanti langsung ke dapur aja," kata Dinda sambil membawa 2 bungkus nasi goreng. Dia sudah kelaparan sedari tadi. Jadi dia benar-benar sudah gak tahan ingin melahapnya.


Dengan patuh Aris memberikan nasi goreng itu, pertama yang menerima Bu Lastri. Bu Lastri sempat ketakutan saat Aris menghampirinya di ruang tamu. Sebab Bu Lastri sedang duduk-duduk di kursi bareng pak Bambang.


"Eh, makasih ya nak Aris," kata Bu Lastri hampir setengah jantungan tadi. Bu Lastri fikir, Aris akan melabraknya gara-gara masalah yang terjadi tadi siang. Tapi kok ini Aris malah memberinya nasi goreng? Berarti Dinda lagi gak ngadu kan?


"Sama-sama, di makan Bu, Yah!" ucap Aris sambil menatap pak Bambang.


"Iya, makasih. Kebetulan ayah sama ibu juga belum makan," jawab pak Bambang santai. Sebenci-bencinya dia sama Aris, tapi pak Bambang masih bisa menerimanya. Soalnya sikap pak Bambang tergantung Dinda. Jika Dinda bahagia, tentu pak Bambang ikutan senang. Tapi kalau Dinda dibuat sedih... siap-siap aja, tanduk di kepalanya akan muncul buat menyerang Aris.


"Sama-sama Yah," jawab Aris dan permisi pergi dari hadapan mereka.

__ADS_1


Tak disangka, di ruang tamu itu pak Bambang malah memuji Aris. Di depan Bu Lastri pula. Tentu Bu Lastri makin tak suka sama Aris.


"Ternyata Aris pengertian juga ya Buk? Ayah kira, dia beli buat dia sama Dinda aja. Ternyata kita juga dibelikan," puji pak Bambang senang.


Bu Lastri mencibir ucapan pak Bambang. Tapi dalam hati saja. Kalau ekspresinya, tentu Bu Lastri mengumbar senyum tanda bahagia.


"Iya Yah. Mungkin Dinda yang nyuruh," jawab Bu Lastri dengan malas.


"Iya, kalau anak ayah tentu dong pengertian. Mana mungkin Dinda tega sama keluarganya. Soalnya Dinda gak pernah cuek kecuali ada sesuatu yang bikin dia sakit hati," terang pak Bambang yang malah membuat Bu Lastri ketar-ketir.


'Mati aku. Jangan sampe Dinda ngadu sama ayahnya. Kalau dia ngadu, bisa-bisa aku sama anak mantuku diusir dari sini,' batin Bu Lastri merasa tak tenang.


Begitu juga dengan Mega. Saat Aris memberikannya nasi goreng, yang ada dipikiran Mega adalah Aris akan menamparnya atau menyalahkannya. Tapi dilihat-lihat Aris bersikap seperti biasanya, jadi Mega merasa posisinya masih aman.


"Apa itu?" Kali ini Wawan yang nimbrung.


"Ini, Aris beliin kita nasgor!" sahut Mega sambil memberikan nasi goreng tadi ke tangan Wawan.


"Kok ada ya, manusia punya sikap kayak gitu," heran si Mega pada kelakuan suaminya.


Saat Wawan ke dapur. Dia malah melihat Dinda yang sedang disuapin oleh Aris. 'Sial. Apes banget gue. Ngapain gue tadi ke sini, yang ada malah jadi obat nyamuk,' kesal Wawan merutuki dirinya sendiri.


"Makan Mas," tawar Aris ke Wawan.


"Iya. Ini mau makan nasi goreng dari kamu tadi. Aku ke sini mau ambil piring," kata Wawan.


Kemudian dia menatap Dinda yang terlihat habis menangis. Jelas Wawan langsung kepo dong? Setelah mengambil piring, dia langsung duduk di depan Dinda.


"Kamu baik-baik aja kan Din?" tanya Wawan yang langsung bersikap sok perhatian.


Aris jengah. Tapi dia harus sabar. Sesuka Wawan mau ngapain, asal Dinda gak menanggapi. Semuanya pasti gak akan kenapa-kenapa.


"Baik kok Mas," sahut Dinda sambil terus melahap nasi goreng yang dibelikan oleh Aris tadi.

__ADS_1


"Tapi kok kayak habis nangis? Dia gak jahatin kamu kan?" tanya Wawan sambil menuding Aris.


Dinda menghentikan makannya. Dia langsung meletakkan sendok dari tangannya ke piring. Bertepatan sekali, di saat Dinda berhenti makan, Mega justru masuk ke dapur dan jadilah dia melihat ke tiga makhluk yang kini tengah duduk di ruang makan.


"Mas Wawan nanya aku habis nangis kan?" Dinda balik bertanya sambil menatap Mega. Ditatap setajam itu oleh Dinda, Mega jadi ketakutan. Rupanya malam ini bukan Bu Lastri saja yang merasakan ketar-ketir. Tapi si Mega pun sama. Dia seperti habis di sekakmat dan mati di tempat. Ketar-ketir yang sudah berlebihan sampai tangannya gemetaran.


Mega tak kuasa melihat Dinda lagi. Matanya kabur dan sekarang dia lebih memilih menunduk.


"Mas, aku nangis begini bukan karena suamiku. Tapi karena istrimu!" kata Dinda dengan lantang.


"Apa maksudnya?" Tiba-tiba Wawan bertanya pada Mega. Mega semakin ketakutan dan tak kuasa menghadapi semua ini.


"Tanya aja sendiri," kata Dinda sambil menatap tajam ke arah Mega.


"Kurang ajar. Jadi kamu udah buat istriku nangis hah!"


Mata sehitam jelaga itu menyorot tepat di samping Mega. Mega mencengkeram bajunya begitu kuat. Semua ini salahnya. Tapi kenapa Dinda langsung mengadukan hal ini kepada Wawan dan Aris? Dan dihadapannya pula, live, secara langsung.


"Istrimu udah ngejelek-jelekin aku di belakangku. Apa ini caramu mendidik istri?" Dinda berucap seperti itu ke Wawan. Menanyakan cara Wawan mengajari istrinya.


"Aku gak nyangka, aku udah bersikap baik sama mbak Mega, tapi malah seperti ini balasannya," ucap Dinda lagi.


"Dasar istri gak becus! Udah kamu apakan si Dinda hah! Gak sudi aku punya istri kayak kamu!" ucap Wawan dan mendadak semuanya jadi gelap.


"Loh mbak Mega?"


Samar-samar Mega masih bisa mendengar suara Dinda. Tapi sedetik kemudian dia tak sadarkan diri.


Bersambung...


Rekomendasi novel hari ini...


__ADS_1


__ADS_2