
...****************...
Harusnya hari ini akan menjadi hari sejarah pernikahan Aris dan Dinda. Namun semua itu gagal. Sebab Aris merasa akan menjadi suami yang gak berguna kalau dia maksain kehendaknya.
Jujur saja, Aris juga ingin sembuh dan kembali seperti hari kemarin. Tapi dengan terpaksa semua rencana yang sudah ia inginkan dan sudah siap terjadi, tapi si aktor malah sakit. Tak hanya sakit, ini bisa dibilang cacat fisik.
"Dinda." Jo, dia sebagai kakak ipar dan yang paling mengerti akhirnya datang ke rumah sakit.
"Mas Jo," panggil Dinda sambil menangis. Perempuan mana yang gak akan menangis, jika dikasih pilihan untuk pergi sama suaminya sendiri. Aris memang tak menalak Dinda. Tapi Aris seperti sungkan buat minta tolong ke Dinda. Atau Aris takut kalau dikira hanya memanfaatkan Dinda saja.
"Sabar ya Din. Untuk urusan ke KUA, mas Jo sudah urus semuanya."
"Sepeda motor mas Aris?" tanya Dinda penasaran.
"Ada di kantor polisi, tapi belum diurus karena kita belum ada yang lapor soal kasus ini. Tapi ini murni kecelakaan tunggal apa tabrakan?" Jo balik bertanya.
Tadi dia ingin bertanya pada Aris langsung, tapi Aris sedang tidur. Karena sakit di kepalanya masih berlanjut, dan sementara belum boleh diganggu.
"Dari cerita ibu, katanya ini murni kecelakaan tunggal. Tapi remnya blong." Dinda ikut bercerita.
"Ya udah, nanti mas Jo coba nanya-nanya ke Aris ya? Siapa tahu dia mau terbuka," ujar Jo menenangkan.
"Dan sekarang, kamu harus makan Din. Kalau kamu gak makan, siapa yang akan mengurus Aris dan Zahra? Soalnya saat ini cuma kamu yang Aris butuhkan," kata Jo lagi.
"Mas Aris gak butuh aku mas Jo," ucap Dinda sambil menitikkan air matanya.
"Itu gak benar Dinda."
"Dia ingin Dinda melepaskannya, apa itu yang dinamakan butuh?" Dinda terus menangis. Dari semalam dia tak makan. Tapi dia tidak peduli itu, yang dia butuhkan hanya cintanya Aris. Di saat Dinda mencintai Aris, tapi kenapa hal ini justru terjadi? Dan Aris... dia seperti ingin menjauhi Dinda. Mungkin Aris inferior (minder) dengan keadaannya. Tapi sebenarnya Dinda masih mau menerima Aris, apapun keadaannya. Bahkan Dinda rela mengorbankan seluruh jiwa dan raganya demi Aris.
Tapi di lain sisi, jika Aris masih mempertahankan Dinda. Apa yang akan terjadi dengan Dinda? Otomatis semua orang akan membully-nya. Tak hanya sekali 2 kali, mereka akan terus menggosipkannya seumur hidupnya. Dan kepala keluarga sebenarnya adalah yang mampu menafkahi keluarganya. Tapi Aris? Mampukah dia? Mengandalkan uang hasil dari menjual perumahannya pun tak cukup. Semua butuh pertimbangan kalau mereka berdua masih mau bersama. Susah memang kalau mereka berpisah, tapi bagaimana lagi kalau takdir sudah mengijinkan?
__ADS_1
Di tempat lain. Wawan yang mendengar batalnya pernikahan Dinda dan Aris langsung terlihat bahagia. Di tempat kerjanya dia terus tertawa terbahak-bahak. Dia bahagia karena hubungan Aris dan Dinda sudah berada di ujung tanduk sekarang.
"Kalau Dinda mau meninggalkan Aris, maka aku juga akan meninggalkan Mega. Dan kita akan hidup bahagia Dinda. Ah, aku udah gak sabar buat meminangmu dan menghabiskan malam bersamamu," gumam Wawan sambil membayangkan semua itu.
"Ck, akhirnya Aris cacat juga. Gitu tuh balasan dari orang yang suka mengusik urusan orang lain. Tahu rasa kan lu!" gumam Wawan sambil tersenyum licik.
Kalau saat ini Wawan tengah bahagia di atas penderitaan orang lain. Berbeda dengan Aris dan Jo yang tengah membicarakan sesuatu. Hanya mereka berdua tak ada orang lain yang ikut campur termasuk Dinda.
"Jadi ini murni rem blong gak ada yang lain kan Ris?" tanya Jo memastikan.
"Gak ada Jo. Soalnya aku gak tahu kalau ada jalan turun di sana. Dan malam itu, aku kehilangan kendali. Panik dan takut campur aduk jadi satu. Dan ya kamu bisa lihat sendiri, aku cacat sekarang," kata Aris yang kali dia benar-benar minder dengan keadaannya.
"Jangan kayak gitu Ris. Kamu itu masih ada harapan buat sembuh. Ada Dinda dan Zahra yang sedang menunggumu. Mereka masih butuh kamu Ris. Apa kamu gak sayang sama mereka?" tanya Jo yang kali ini ingin tahu perasaan Aris ke Dinda itu seperti apa?
Dan sangat kebetulan sekali. Di saat yang bersamaan, Dinda tak sengaja mendengarkan obrolan mereka berdua. Awalnya bukan maksud menguping, tapi sekarang sepertinya Dinda jadi penguping demi kelangsungan hidup rumah tangganya untuk ke depannya. Jika Dinda bisa menerima semua kenyataan ini, sekarang tinggal Arisnya saja. Masalah yang lain dipikir keri alias belakangan.
"Mana mungkin aku gak sayang Ris. Kamu tahu sendiri kan, kalau aku udah cinta aku gak mungkin bisa melepaskannya."
"Terus kenapa kamu membuat Dinda sedih?" tanya Jo yang sesuai dengan harapan Dinda.
"Kamu gak tahu rasanya jadi aku Jo? Keadaan ku kayak gini, apa Dinda masih mau sama aku? Aku lumpuh Jo, gimana caraku ngasih nafkah ke Dinda?"
"Aku yang akan kerja Mas." Dinda menyerobot masuk.
"Dinda." Aris dan Jo sama-sama kaget melihat kehadiran Dinda.
"Kenapa mas Aris pesimis kayak gitu? Aku udah bilang kan. Bagaimanapun keadaan mas Aris, Dinda akan tetap mau sama mas," ucap Dinda dengan sungguh-sungguh.
"Maafin mas Dinda. Mas bingung harus bagaimana dengan keadaan ini," kata Aris sedih.
"Sekarang jangan bingung lagi. Kalau ada apa-apa kamu bisa cerita sama aku mas. Aku ini istrimu. Aku juga merasa gak berguna kalau kamu gak nganggep aku, hiks!" Dinda kembali menangis. Dan Aris langsung berusaha menenangkan istrinya.
__ADS_1
Aris terdiam saat dia melihat tangan kirinya bergerak. Aris melihat ke arah Jo dan Dinda, keduanya tak melihat adanya pergerakan dari tangan Aris. Lalu Aris mencoba menggerakkan kakinya. Matanya langsung terbelalak.
"Ris, kamu kenapa?" tanya Jo yang melihat gerak-gerik Aris yang mencurigakan.
"Enggak Jo. Aku cuma ingin menghibur Dinda," kata Aris.
Entah apa yang tengah disembunyikan Aris, soalnya ucapan sama hatinya sepertinya sedang tidak sinkron.
"Udah Dinda sayang, jangan nangis ya. Mas gak akan tinggalin kamu, dan mas akan berusaha sembuh untuk kalian," kata Aris yang tiba-tiba berubah seperti biasanya.
Dinda jadi terharu. Bukannya berhenti menangis, tapi tangisan Dinda makin menjadi.
"Ya udah, kalian selesaikan dulu urusan kalian. Aku mau balik dulu," pamit Jo yang jadi tak enak sendiri. Dia bak obat nyamuk di antara mereka berdua.
"Makasih ya Jo. Oiya, jangan lupa pesanku tadi," kata Aris pada Jo.
"Beres," jawab Jo.
"Ya udah ya Din. Mas Jo pulang dulu. Jangan nangis lagi!"
"Makasih mas Jo. Hati-hati!"
"Assalamualaikum," pamit Jo sebelum benar-benar meninggalkan mereka berdua.
"Wa'alaikumussalam," jawab Dinda dan Aris secara bersamaan.
"Udah Dinda, jangan nangisa ya?" Aris berusaha meraih tangan Dinda.
"Mas!" Dinda menatap Aris sambil melotot.
Bersambung...
__ADS_1