
21+ harap bijak dalam membaca.
Aris langsung menghujani kecupan di wajah Dinda. Dinda merasa ini seperti bukan Aris monster yang dulu ia kenal. Aris sangat lembut tapi penuh gairah.
Diperlakukan sedemikian insten oleh Aris. Dinda hanya memejamkan matanya. Menikmati setiap sentuhan dan sensasi yang Aris berikan.
Setelah puas menciumi wajah Dinda. Kini kecupan itu turun di leher dan berhenti di gunung Fuji yang diselimuti oleh salju saking putihnya.
Melihat Aris yang berhenti tiba-tiba, membuat Dinda menatapnya. Matanya menatap penuh harap. Dinda ingin diperlakukan lebih dari ini.
"Boleh?" tanya Aris memastikan. Dia hanya takut menyakiti istrinya jika dia melahap benda paling sensitif milik semua wanita itu.
Dinda sudah dilanda gairah. Tak ada jawaban lain selain mengangguk. Mendapat lampu hijau dari Dinda, tanpa sungkan-sungkan lagi Aris melakukan apa yang dia inginkan. Baru kali ini Aris benar-benar merasakan nikmatnya sebelum melakukan permainan. Inci demi inci tak pernah ia lewatkan.
Tiba-tiba suara adzan Maghrib menyadarkannya. Padahal Dinda sudah terbuai dalam permainan panas Aris. Tapi Aris tidak bisa. Takutnya akan jadi zina di antara mereka jika dia melakukan enak-enak dengan Dinda.
"Maaf Din," ucap Aris menunduk. Dia merasa bersalah dengan semua yang terjadi barusan.
Dinda kecewa. Padahal semua anggota tubuhnya sudah siap. Kenapa harus ada larangan dalam pernikahan mereka? Dinda sedikit kalap. Dia langsung membenarkan bajunya dan meninggalkan Aris sendirian di kamar.
Aris menunduk sambil menyesal. Aris mengusap wajahnya sambil menangis. Harusnya dia tadi tidak perlu mengangguk kalau dia tidak sanggup menyenangkan Dinda.
"Argh! Maafin aku Din." Rasa menyesal itu kembali menyelimuti Aris. Dia merasa tak berguna menjadi seorang pria.
"Argh! Ya Allah, kenapa jadi gini?" Aris menangis. Saat ini dia duduk di lantai sambil menyandarkan tubuhnya di tepi ranjang. Sungguh Aris menyesal telah membuat Dinda kecewa.
Di luar kamar. Dinda terlihat berantakan dan murung. Sangat kebetulan sekali, yang melihat Dinda keluar rumah hanya Wawan. Wawan yang punya sikap kepo akut itu akhirnya membuntuti Dinda.
"Dinda, ngapain dia maghrib-maghrib gini keluar rumah? Jangan-jangan dia lagi berantem sama Aris," duga Wawan setengah berpikir.
"Wah, bagus banget deh kalau mereka berantem. Aku deketin ah!" gumam Wawan sambil tersenyum licik.
Dengan santainya dia berjalan di mana Dinda berada. Ternyata Dinda hanya berdiri sambil bersandar di tiang rumah.
"Kamu kenapa Din?" tanya Wawan pura-pura perhatian.
__ADS_1
Dinda segera menghapus air matanya. Cerita ke Wawan? Kayaknya sangat tidak mungkin. Ini masalah tabu, Dinda enggan bercerita. Hendak menceritakan kelakuan Bu Lastri dan Mega, kayaknya juga gak mungkin. Nanti yang ada masalahnya malah merembet. Bisa-bisa Dinda dituding sebagai tukang adu domba.
Argh!
"Gak pa-pa kok Mas. Ya udah, Dinda balik ke kamar dulu ya?"
Dinda bingung campur pusing. Mending dia balik ke kamar aja, karena hanya kamarnya tempat ternyamannya sekarang. Masa bodoh dengan keberadaan Aris di sana. Toh, Aris juga bakalan keluar sendiri nanti kalau sudah waktunya tidur.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka. Terlihat di sana Aris tengah bersiap melaksanakan sholat Maghrib. "Ayo sholat!" ajaknya saat Aris melihat Dinda sudah menutup kembali pintu kamarnya.
Dinda seperti tak mengherani. Dia malah berjalan menuju ke kasur. Melihat itu, Aris langsung mengejarnya. Memeluk Dinda dari belakang.
"Maafin aku Din. Tapi please jangan diemin aku. Lebih baik kamu marah-marah, lampiasin semuanya ke aku. Dari pada kayak gini, aku jadi merasa sangat bersalah sama kamu."
Dinda hanya mendengarkan omongan Aris dengan nafas yang memburu. Dinda sedang menahan emosinya dan tangisannya.
"Din, maaf. Semua ini bukan atas kemauanku. Jujur aku sendiri juga mau melakukannya. Tapi ini keadaan yang tak mengharuskan kita untuk..."
Aris melepaskan pelukannya. Dia tadi tak menyentuh kulit Dinda. Jadi wudhunya masih belum batal.
"Ya udah, mas tunggu," jawab Aris sambil kembali ke tempat sholat.
Aris terlihat sabar menunggu Dinda. Padahal di dalam kamar mandi, Dinda sedang menangis tersedu-sedu. Dinda sangat menyesali dirinya sendiri. Kenapa bisa-bisanya dia kalah sama nafsunya tadi? Kenapa dia tadi begitu menginginkan Aris?
Asik menangis, tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar sambil memanggil namanya. Itu pasti Aris yang sudah tak sabar menunggu, atau waktu Maghribnya sudah hampir habis.
Tanpa menjawab, segera Dinda membasuh wajahnya dengan air. Dinda mengambil wudhu dan cepat-cepat membuka pintu.
"Yuk, waktunya hampir habis."
Benarkan? Ternyata Aris mencarinya karena keburu waktu. Dinda hanya mengangguk saja. Jujur Aris tak tega melihat keadaan Dinda yang begitu nelangsa. Mata sembab, bibir bengkak. Mungkin efek menangis sama ulah Aris tadi. Abaikan itu, saatnya mereka melaksanakan kewajibannya.
***
__ADS_1
Usai membereskan mukena dan sajadahnya. Dinda beranikan diri untuk menatap Aris. Tatapan penuh dengan kebencian bercampur emosi. Tapi Aris menerima semua itu. Menurut Aris, lebih baik Dinda begini dari pada diam dan menghindarinya.
"Ada yang mau diomongin?" tanya Aris dengan suara lembut.
Aris kasar? Ya, dia bisa. Aris jahat? Dia juga bisa. Aris lembut? Bisa, tapi hanya kepada orang yang dia cintai. Sama Nesa juga bisa lembut, tapi sering kasar. Sama Dinda? Rasanya hanya sama Dinda Aris benar-benar bisa bersikap lembut.
"Em, hari ini aku gak masak. Aku laper," ucap Dinda masih jutek.
Sumpah ya, Aris ingin ketawa melihat ekspresi Dinda saat ini. Sangat menggemaskan dan lucu. Hahaha.
"Em terus? Mau aku ambilin gak?" tanya Aris yang belum tahu menahu tentang masalah para wanita di rumah ini.
Dinda menggeleng. "Aku maunya nasi goreng," jawabnya dan Aris mengangguk mengerti. Dinda lagi pengen, dan Aris tak boleh menolaknya.
"Ya udah, mas beliin nasi goreng ya?" Aris segera bersiap-siap dan mengambil dompetnya.
"Beli 2 bungkus," suruh Dinda dan Aris mengangguk lagi.
"Tunggu ya, mas pergi dulu," pamitnya namun tiba-tiba dicegah Dinda.
'Lagi?'
"Aku boleh ikut gak?" ijinnya penuh harap. Wajahnya seperti mengatakan please.
Aris bernafas lega dengan sikap Dinda ini. Tapi Dinda gak boleh bepergian. Takutnya kalau bakalan kenapa-kenapa di jalan.
"Jangan sayang! Kamu di rumah aja, oke? Nanti mas usahain pulang cepet," kata Aris dan kali ini dia benar-benar pergi.
Dinda memanyunkan bibirnya. Aris gak peka sama sekali padanya. Seenggaknya salaman kek, cium kening kek. "Dasar cowok gak peka. Kadang baik, kadang cuek!" gerutu Dinda.
Aneh memang bawaan si bayi. Atau emang sikap Dinda sendiri yang tanpa sadar sudah ada rasa sama Aris? Benarkah Dinda sudah mencintai Aris?
Dinda menggeleng. "Masa sih aku cinta sama dia? Gak, ini cuma gairah nafsuku yang lagi naik. Ya, ini bukan cinta," gumam Dinda sambil terus menggelengkan kepalanya seperti tidak yakin.
Bersambung...
__ADS_1