
Sesampainya di rumah sakit. Lia langsung menggantikan menggendong Zahra. Lia dan Zahra tinggal di penginapan terdekat dari rumah sakit tersebut. Karena kondisi Zahra yang tak memungkinkan, masih bayi jadi rawan sakit kalau dipaksakan dibawa masuk.
Sementara Dinda, dia mencari keberadaan ayahnya. Karena pak Bambang yang menjaga Aris dan Bu Rukmini. Jadi Dinda harus menemuinya lebih dulu.
"Dinda!" panggil pak Bambang saat dia melihat keberadaan Dinda.
"Ayah!"
"Kamu beneran ke sini?" tanya pak Bambang sambil melihat keadaan Dinda. Mata sembab, suaranya serak. Mungkin Dinda habis menangis.
"Mas Aris dan ibu gimana Yah?" tanya Dinda lagi.
"Kamu lihat sendiri aja ya Din," ucap pak Bambang yang membuat Dinda mengernyitkan keninga. Ya, pak Bambang tak cukup kuat mengatakan keadaan yang sebenarnya. Jadi lebih baik Dinda mengetahuinya sendiri.
"Mas Aris gak apa-apa kan Yah?" tanya Dinda minta kepastian dari ayahnya. Soalnya dari semalam Dinda gak tenang, dia aja gak bisa tidur mikirin keadaan Aris. Mimpi itu seperti sebuah kenyataan, tapi Dinda yakin Aris gak akan mungkin meninggalkannya.
Ditanya seperti itu oleh anak kandungnya sendiri, pak Bambang langsung diam. Menggeleng pun susah, karena sampai sekarang Aris belum siuman. Sementara Bu Rukmini, dia sudah sadar dan kini Bu Rukminilah yang menemani Aris di dalam ruangan.
"Ya udah, biar Dinda pastiin sendiri kalau mas Aris baik-baik aja," ucap Dinda sambil meninggalkan pak Bambang. Dinda menuju ruangan IGD yang ada di depannya.
Dia ingin mengetuk pintu, tapi pintu ruangan itu tak tertutup rapat. Jadi dengan jelas Dinda bisa melihat hal yang ada di dalam sana. Terlihat Bu Rukmini duduk di dekat Aris.
"Ibu gak apa-apa, tapi kenapa dengan mas Aris? Kenapa dia memakai banyak alat di tubuhnya?" gumam Dinda curiga.
Tanpa menunggu lama lagi, Dinda langsung masuk sambil mengucapkan salam.
"Assalamualaikum, ibuk... Gimana keadaan ibuk? Mas Aris juga gimana?" tanya Dinda sedikit berlari.
"Wa'alaikumussalam. Nak Dinda," panggil Bu Rukmini dengan suara yang tercekat di tenggorokannya.
Kasihan sekali nasib Dinda. Baru juga melahirkan, tapi sudah mendapatkan cobaan yang sedemikian rupa. Lagi juga, Dinda masih sangat muda. Harusnya dia senang-senang bermain dengan teman sebayanya untuk menikmati masa mudanya. Tapi ini... akibat ulah dari Aris, hidup Dinda jadi berantakan. Dan kini Aris malah terbaring belum sadarkan diri.
__ADS_1
"Maafin ibuk, Nak!" ucap Bu Rukmini sambil terisak.
"Kenapa ibu minta maaf? Mas Aris gimana Bu?" tanya Dinda sambil melihat keadaan suaminya. Sedih dan terasa diremas hatinya.
"Mas Aris!" panggil Dinda sambil melewati Bu Rukmini.
Bu Rukmini masih menitikkan air matanya. Mungkin kalau beliau ada di posisi Dinda, Bu Rukmini sudah tidak sanggup lagi. Betapa lika-liku kehidupan Dinda setelah menikahi anaknya.
'Ya Allah, kuatkanlah Dinda dalam menerima cobaan hidup ini. Aamiin,' doa Bu Rukmini dalam hati. Ia tak menyangka, kalau hal ini akan terjadi. Baru juga dia dipertemukan dengan anak sulung, menantu serta cucunya. Tiba-tiba kebahagiaan itu langsung berubah menjadi kesedihan hanya dalam beberapa waktu saja.
"Mas Aris! Bangun mas! Kenapa kamu seperti ini? Apa kamu lupa, kalau besok kita akan menikah lagi," kata Dinda sambil mendekap tangan ke pelukannya.
"Mas, tolong bangun! Aku dan Zahra butuh kamu mas. Kamu harus sadar mas, kamu harus bangun," kata Dinda lagi sambil mengusap air matanya.
"Pokoknya kamu harus bangun. Kamu lupa, aku belum pernah menjawab ungkapan perasaanmu kan? Makanya kamu harus cepet bangun, biar aku juga cepet mengatakan isi hatiku ke kamu," ucap Dinda lagi.
Di ruangan itu terdengar sunyi. Hanya alat pendeteksi jantung serta isak tangis pelan yang keluar dari mulut Dinda dan Bu Rukmini.
Dinda meletakkan kembali tangan Aris ke tempat semula. Melihat kaki Aris dan wajah Aris yang diperban, sepertinya ini bukanlah kecelakaan kecil. Tapi kenapa hanya mas Aris yang terluka parah? Pikir Dinda sambil menatap Bu Rukmini dengan curiga.
Tak biasanya Aris ugal-ugalan di jalanan. Berbeda dengan Briyan yang agak brutal itu. Kenapa sampai Aris celaka? Padahal kalau dibayangkan, Aris tak mungkin melajukan kendaraannya dengan kencang. Mengingat kalau Aris tengah membonceng ibunya. Apalagi kemarin itu adalah pertemuan pertama mereka setelah bertahun-tahun tak bertemu.
"Buk!" panggil Dinda tiba-tiba. Dinda hanya ingin bertanya dengan detail, bagaimana Aris bisa mengalami kecelakaan seperti ini? Dinda berharap ibu mertuanya mau jujur, sebab Lia atau pak Bambang selalu bungkam tiap ditanya kronologis kecelakaan ini.
"Ya nak Dinda," jawab Bu Rukmini dengan lesu.
Terlihat sekali kalau Bu Rukmini juga mengalami luka dan lecet. Mungkin Bu Rukmini hanya mengalami luka ringan, tidak sama dengan Aris yang terlihat begitu parah.
"Kenapa mas Aris bisa jatuh kayak gini Bu? Apa dia ugal-ugalan?" tanya Dinda memastikan.
Bu Rukmini menggeleng.
__ADS_1
"Rem motor Aris blong!" jawab Bu Rukmini dengan jujur.
"Astaghfirullah." Dinda syok. Segera dia menutup mulutnya saking tak percayanya.
Aris itu rajin servis motornya. Kenapa hal ini sampai terjadi? Memang ini musibah. Tapi ini tak bisa dipercaya oleh Dinda.
"Jangan mikirin itu ya Nak. Sekarang ini yang terpenting adalah Aris. Semoga dia cepat siuman dan bisa kembali bersama kita."
"Mas Aris pasti siuman Buk. Dia udah berjanji pada kami, kalau dia ingin bahagiain kami. Dan ibuk ingat kan, 3 hari lagi mas Aris menikahi Dinda. Dan itu tandanya, 2 hari lagi pernikahan kita akan dilaksanakan. Jadi ibu percaya kan, kalau mas Aris akan bangun?"
Dinda mengusap air matanya dan mendekat ke arah Aris. "Kamu harus kuat mas. Ada aku di sini untukmu. Kamu harus bangun, karena 2 hari lagi kita akan menikah," kata Dinda sambil mengelus-elus kepalanya Aris. Lalu dia mengecup kening Aris dengan sayang.
'Ya Allah, semoga suami hamba segera sadar. Hamba tak mampu hidup tanpanya ya Allah. Hamba mohon, berikanlah kesembuhan buat mas Aris, aamiin,' doa Dinda dalam hati. Tanpa Dinda sadari, air mata itu jatuh tepat di matanya Aris.
Dari situlah Dinda melihat pergerakan dari kepalanya Aris yang menggeleng ke samping kanan dan kiri.
"Buk, mas Aris Buk!" teriak Dinda dengan heboh. Dia kaget dan seneng melihat suaminya bergerak.
"Cepat panggil dokter nak!" suruh Bu Rukmini dan Dinda segera berlari keluar. Dinda lupa kalau dia masih punya luka jahitan di bawah sana. Tapi dia tak perduli, nyawa Aris yang terpenting saat ini.
"Dok, suami saya Dok! Dia menggerakkan kepalanya," kata Dinda dan pak Bambang yang melihatnya ikut kaget. Sebab dia tak sempat bertanya langsung ke Dinda.
"Baik, biar saya periksa," kata dokter itu sambil berjalan menuju ke ruang IGD.
Dinda dan Bu Rukmini berdiri sambil menyaksikan seorang dokter itu memeriksa Aris.
"Gimana Dok?" tanya Dinda tak sabaran saat dokter itu selesai memeriksa suaminya.
"Alhamdulillah, kondisinya mulai stabil. Mungkin kami akan memindahkan mas Aris ke kamar inap sambil menunggu beliau siuman," ucap dokter itu yang membuat Dinda menganga dan lega.
"Alhamdulillah," ucap Dinda senang.
__ADS_1
Bersambung...