
"Minggu ini Buk," jawab Aris dengan pasti. Dia udah gak mau menunda-nunda lagi. Lebih cepat lebih baik. Karena Dinda sendiri pun juga ingin segera dihalalkan oleh Aris, biar mereka bisa tidur bersama. Tidak selalu terpisah dan curi-curi waktu kayak biasanya.
"Jadi kalian menikah Minggu ini?" tanya pak Bambang memastikan.
"Gimana menurutmu sayang?" Aris minta pendapat pada Dinda.
"Iya Yah, Minggu ini. Lebih cepat lebih baik. Karena kalau kami terus di sini, sepertinya itu akan ngerepotin ayah," sindir Dinda pada pak Bambang. Sebab selama menikah dengan Bu Lastri, kasih sayang pak Bambang kepada Dinda sudah gak adil lagi. Ya mungkin kisah sinetron di TV itu benar, kalau ibu tiri itu tak selamanya baik.
Pak Bambang diam saja. Dia tak bisa menanggapi perkataan Dinda. Tapi mengingat kalau Dinda anak bungsu yang ia harapkan buat merawatnya suatu saat nanti, kini akan meninggalkannya. Meninggalkan rumah yang banyak kenangannya. Sedih, begitulah yang pak Bambang rasakan. Apalagi hari Minggu itu tinggal menunjukkan 3 jari saja. Ya, 3 hari lagi pernikahan Aris dan Dinda dilangsungkan. Bisa apa pak Bambang atas rencana mereka? Mencegahpun sudah tak bisa lagi kalau Allah sudah berkehendak.
"Kamu benar-benar mau pergi dari sini Din?" tanya pak Bambang lagi. Hatinya sudah tak kuat lagi. Bagaimanapun juga, Dinda adalah anak kandungnya. Tak ada alasan buat pak Bambang membencinya meskipun kadang-kadang dia tak suka dengan sikap Dinda kepadanya dan Bu Lastri.
"Iya ayah. Biar kalian semua bahagia tanpa gangguan dari kami," jawab Dinda sungguh-sungguh. Dinda sudah bertekad untuk meninggalkan rumahnya yang seperti neraka itu. Dia ingin membuka lembaran baru dengan Aris, dan bahagia bersama.
"Oiya Buk. Minum tehnya? Lia, siniin Zahra. Dari tadi kalian belum minum loh?" suruh Dinda pada mertua dan adik iparnya.
"Biar Lia aja yang gendong mbak. Zahra anaknya lucu ya, gak rewelan," kata Lia berkata apa adanya.
"Alhamdulillah, dia ngertiin kondisi orang tuanya. Jadi gak terlalu kerepotan banget buat ngurusinnya," kata Dinda dan pak Bambang permisi masuk ke dalam. Dia merasa terabaikan. Bukan sih, sebenarnya pak Bambang begini atas perasaannya sendiri. Ia sedih sekarang, semua anaknya meninggalkannya.
"Pak, kenapa?" tanya Bu Lastri saat melihat wajah kusutnya pak Bambang. Pak Bambang tak pernah sedih, dan baru kali ini Bu Lastri melihat pak Bambang sangat murung.
'Pasti ada apa-apa,' batin Bu Lastri curiga.
"Dinda Buk, dia mau ninggalin rumah ini," cerita pak Bambang sambil duduk di dekat istrinya.
__ADS_1
"Iya, terus kenapa Pak?"
'Bagus dong kalau Dinda ninggalin rumah ini. Jadi aku gak perlu repot-repot cari cara buat ngusir Aris,' batin Bu Lastri sedikit senang. Kalau Aris keluar dari rumah ini, pasti Wawan tak akan marah-marah lagi kepadanya.
"Entah Buk, bingung," sahut pak Bambang tak tenang.
"Ayah, Dinda udah dewasa. Dia udah bersuami. Jadi menurut ibuk gak ada salahnya juga kalau Dinda ikut suaminya," kata Bu Lastri yang terlihat begitu bijak. Ya bijaklah, dia juga yang akan untung. Sebaik-baiknya ibu tiri, perhatiannya pasti berbeda dengan ibu kandung. Ya sebaik-baiknya Bu Lastri, ada hal yang tersembunyi di dalamnya tanpa pak Bambang ketahui tentunya.
"Tapi rasanya agak berat Buk."
"Kalau ayah butuh apa-apa, masih ada Wawan yang siap bantuin ayah," kata Bu Lastri mencoba menenangkan.
Sementara di luar sana Bu Rukmini menggendong cucunya dengan begitu sayang. Maklum cucu pertama. Bukan hanya itu saja, ini memanglah bentuk sayang dari seorang nenek untuk cucunya. Apalagi rasa rindu setelah sekian lama tak dipertemukan. Terus lagi Bu Rukmini juga sangat bersyukur, anaknya yang notabene punya masa lalu kelam masih diterima dalam keluarganya Dinda. Bukan keluarga, tapi Dinda sendiri yang mau menerima Aris. Meskipun Bu Rukmini belum tahu pasti, cinta Dinda ke Aris beneran tulus atau ada apa-apanya. Memang sih Bu Rukmini tak ingin buruk sangka, hanya saja dia berjaga-jaga. Dan semoga pikiran buruknya itu tak terbukti. Karena dari cara Dinda sekarang, Dinda tak memperlihatkan sikap kebenciannya dengan Aris.
"Aamiin," jawab Dinda dan Aris secara bersamaan.
"Makasih doanya Buk," kata Dinda senang. Karena ini memanglah keinginan Dinda.
"Iya sayang. Oiya, ini udah hampir malam. Ibuk mau ijin pulang ya?" ucap Bu Rukmini sambil menyerahkan Zahra pada Aris. Karena posisi Aris yang dekat dengannya.
"Mau Aris anter gak Buk? Atau mau sholat dulu?" tanya Aris sambil menawarkan diri.
"Emh, kita bisa sholat di masjid Ris," jawab Bu Rukmini sungkan. Soalnya posisi Aris masih numpang di rumah ini, jadi bu Rukmini tak bisa mengiyakan tawaran Aris untuk sholat di rumah pak Bambang. Lebih baik dia sholat di masjid atau musholla terdekat.
"Ya udah kalau gitu Buk. Ayo Aris antar, sekalian Aria juga mau sholat di masjid. Gak apa-apa kan sayang, kalau mas sholatnya di masjid?" tanya Aris yang tak mungkin melupakan posisi Dinda sekarang ini. Dinda ada di sampingnya, sedari tadi dia hanya diam tak mau ikut campur urusan Aris dan ibunya.
__ADS_1
"Ya gak apa-apa dong mas. Kasihan ibu dan Lia kalau gak kamu anterin. Ya udah, siniin Zahranya."
"Makasih ya sayang," kata Aris sambil meletakkan Zahra di tangan Dinda.
"Iya sama-sama," jawab Dinda tanpa beban apapun. Hatinya, seluruh perasaannya sekarang sudah ia serahkan ke Aris. Dinda yakin, Aris orangnya bisa dipercaya.
"Ya udah yuk Lia. Kamu sepedahan sendiri ya? Nanti langsung ke rumah atau di mana?" tanya Aris lagi sebelum berangkat.
"Aku langsung ke kosan mas. Gak tahu kalau ibuk gimana?" Lia balik bertanya. Masalahnya Lia ada pekerjaan yang tak bisa ia tinggalkan tanpa ijin.
"Ibuk mau di mana? Tidur ke hotel mau?" tawar Aris. Aris tahu, rumah ibunya sudah lama dikosongkan. Jadi gak mungkin dia langsung mengantarkan ibunya ke sana.
"Ibuk pulang bareng Lia aja Ris. Ibuk takut ngerepotin kamu. Jarak kosan Lia dari sini bisa 2 jam an perjalanan. Takutnya kamu bakal kecapekan nanti kalau pulang pergi." Namanya juga ibu, pasti ada rasa khawatir dan kasihan.
"Aku gak masalah Buk. Sayang, gak apa-apa kan aku antar ibuk?" tanya Aris pada istrinya.
"Iya, gak masalah kok mas. Yang penting hati-hati dan selamat sampai tujuan," kata Dinda yang tiba-tiba gelisah saat tahu perjalanan yang Aris tempuh itu memakan waktu yang cukup lama.
"Iya sayang. Makasih ya udah khawatirin mas. Mas akan hati-hati, karena besok lusa kita akan menikah. 3 hari lagi sayang, siapkan dirimu," kata Aris dengan sedikit bercanda.
"Uhuk, dunia seraya milik berdua nih ye? Ciyee?" ledek Lia yang akhirnya dapat timpukan kecil dari Aris.
"Hahaha." Semua orang yang ada di ruang tamu langsung tertawa bahagia. Benar-benar bahagia tanpa beban apapun. Semoga selamanya begitu.
Bersambung...
__ADS_1