Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Tertunda


__ADS_3

"Ya udah yok! Kita bersiap sekarang." Akhirnya Dinda mau menerima uluran tangan dari Aris. Aris tersenyum bahagia.


"Yok!" Mereka berdua akhirnya berjalan beriringan dengan Zahra yang masih digendongan Dinda.


Barang-barang sudah dikemas. Semuanya sudah siap, tinggal berpamitan.


"Perlu nunggu ayah pulang gak?" tanya Aris.


"Emm, terserah kamu mas. Tapi ini masih pagi, nunggu ayah pulang itu pasti lama banget," keluh Dinda.


"Tapi gak mungkin kita gak ijin Dinda. Nanti dikiranya kita gak punya sopan santun," protes Aris.


"Ya udah deh." Dinda langsung keluar kamar. Ceritanya dia lagi ngambek.


"Dari pada nunggu lama, gimana kalau kita jalan-jalan aja!" ajak Aris dan Dinda menatapnya berbinar.


"Ah ayo! Dinda udah lama banget gak menghirup udara segar," kata Dinda senang.


"Uh gemesin banget istriku. Ya udah yuk!" Aris menggandeng tangan Dinda, dan kemudian mengecup pipi si Zahra.


"Bu! Kami mau keluar, ibu butuh apa?" tanya Aris pada Bu Lastri. Dia masih meratapi kesedihan atas perbuatan Wawan kepada Aris.


"Gak ada nak, makasih. Hati-hati di jalan ya," kata Bu Lastri memperingatkan.


"Iya Bu. Kami berangkat ya, assalamualaikum," pamit Aris dan Dinda.


"Wa'alaikumussalam." Bu Lastri kembali mengurung dirinya ke kamar.


Air matanya terus menetes. Sangat malu pada pak Bambang. Anak yang dia bela, dibanggakan di depan pak Bambang. Yang ada malah menusuk hatinya dengan duri.


"Aku udah gak pantes tinggal di sini. Mega... mantuku satu itu bahkan gak perduli denganku," ucap Bu Lastri.


Dia mengambil satu persatu bajunya dari lemari. Dengan sedikit tergesa dia memasukkan bajunya ke koper. Bu Lastri tidak membenci siapapun. Dia cuma malu akibat ulah Wawan yang sudah tak wajar itu.


"Aku harus pergi dari sini. Dan nanyain langsung ke Wawan, apa motifnya sampai dia berbuat kejam sama Aris seperti itu?"

__ADS_1


"Tapi... kalau aku keluar sekarang, mereka pasti akan mengira aku ada sangkut pautnya sama kelakuan Wawan." Bu Lastri menghentikan rencananya. Dia kembali berbenah dan mengeluarkan bajunya dari koper. Setelah usai menata kembali... ini benar-benar seperti gak punya pekerjaan. Beres dengan semuanya, Bu Lastri langsung mengirimkan pesan untuk pak Bambang. Kalau dia mau keluar karena ada urusan.


Bu Lastri memang ada urusan. Dia mau mencari Mega. Ya setidaknya seperti itu, karena kalau soal Wawan... Bu Lastri sudah tak ada niatan lagi menjenguknya di hutan prodeo. Namanya sudah terlanjur jelek karena ulah anak semata wayangnya itu. Kalau soal Mega, Bu Lastri hanya ingin Mega tak menggugurkan kandungannya. Cuma itu saja, tapi bagi Bu Lastri hal ini sangatlah penting. Untuk urusan jika Mega meninggalkan Wawan, Bu Lastri tak keberatan. Wawan memang harus mendapatkan hukuman setimpal.


"Loh! Ibu mau kemana?" tanya Aris dan Dinda yang baru sampai di halaman rumah.


Bu Lastri sedikit kikuk. Pasalnya dia mengira dia sudah cepat tadi, ternyata berbenah baju ke lemari memakan waktu yang cukup lama.


"Emm, ibu ingin bertemu sama mbak Mega, nak!" katanya yang membuat Dinda dan Aris saling bertatap muka.


"Ke rumah mbak Mega? Emang ibu tahu rumahnya?" tanya Aris memastikan.


Bu Lastri menggeleng. Dia memang belum pernah ke rumah menantunya itu. Jadi dia tadi cuma nekat mau mencarinya saja.


"Biar Aris antar Bu!" Aris menawarkan diri. Sebab memang Arislah yang sudah pernah ke rumah Mega. Kasihan ibu Lastri. Dia lagi dalam keadaan sad, masa mau mencari Mega sih? Aris gak mungkin membiarkan itu terjadi.


"Boleh nak. Ibu minta tolong ya nak, maaf merepotkanmu," kata Bu Lastri yang kini jadi tak enak hati pada Aris. Sungguh kata maaf pun sepertinya tak akan bisa membayar semua dosanya yang telah ia perbuat pada Aris dan Dinda.


Aris menatap Dinda, bermaksud minta ijin. Dan Dinda mengangguk tanda mengijinkan.


"Iya mas. Inget hati-hati! Soalnya kamu baru sembuh. Gak usah ngebut!" Dinda memperingatkan suaminya.


"Iya sayang. Berangkat dulu ya. Assalamualaikum."


"Ibu berangkat dulu ya nak. Assalamualaikum." Bu Lastri ikut berpamitan.


"Wa'alaikumussalam. Iya Bu, moga selamat sampai tujuan."


"Aamiin."


Cukup memakan waktu yang lama. Akhirnya Aris berhasil mengantarkan Bu Lastri ke tempatnya Mega.


"Ini rumahnya Mega?" tanya Bu Lastri seperti ragu. Pasalnya casing Mega tak sesuai dengan casing rumah yang ada di depan Bu Lastri saat ini.


"Iya Bu. Bener," jawab Aris lagi meyakinkan.

__ADS_1


"Ya udah, ibu coba masuk ya?" Bu Lastri berjalan mendekat ke arah pintu ruang tamu.


"Assalamualaikum!" Bu Lastri mengucapkan salam. Tapi tak ada tanda-tanda jawaban dari dalam.


"Assalamualaikum!" Ini adalah ke 5 kalinya Bu Lastri berucap salam. Tapi tetap saja hasilnya nihil. Bu Lastri akhirnya mencoba menggerakkan slot pintu rumah itu. Tapi tak bisa dibuka, pintunya terkunci dengan rapat.


"Sepertinya gak ada orang Bu," kata Aris dan Bu Lastri mengangguk kecewa.


"Coba ibu telponin mbak Meganya?" usul Aris. Kan sayang sekali gitu, setelah perjalanan jauh yang dicari tak ada di tempat. Pasti hati Bu Lastri kecewa. Aris pun juga sama kecewanya.


"Iya, ibu coba dulu ya." Bu Lastri mengeluarkan ponselnya dan menelepon Mega.


"Nomornya gak aktif," kata Bu Lastri lesu.


"Ya udah, ibu foto aja ibu lagi di mana. Terus send ke mbak Mega. Biar mbak Mega tahu kalau ibu habis datang di rumahnya," kata Aris menyarankan.


"Iya udah, ibu coba." Bu Lastri mengikuti saran dari Aris. Ternyata masih sama, Mega tak mengaktifkan datanya.


"Ya udah kalau gitu nak. Kita pulang aja," ajak Bu Lastri dengan lesu.


"Iya Bu."


Di tempat yang berbeda. Mega baru saja keluar dari rumah sakit. Nenek Nur lagi kambuh kemarin, jadi Mega membawanya ke rumah sakit. Dan sekarang nenek Nur sudah tak sadarkan diri.


Keluar dari rumah sakit. Mega menangis pilu di bawah pohon rindang. Dia duduk bersandar dan meratapi cobaan yang kini tengah menimpanya.


Padahal baru saja dia merasa bahagia atas pernikahannya dengan Wawan. Tapi Wawan malah berbuat hal fatal yang mengharuskannya ditahan.


"Ya Allah." Mega mengusap air matanya. Dia mengusap perutnya yang masih rata itu.


"Kamu harus kuat nak. Demi mama," katanya dan dia kembali berdiri.


Entah mau pergi ke mana, si Mega mengendarai motornya keluar dari pekarangan rumah sakit itu.


Semakin lama, Mega semakin tak terlihat di jalanan. Ya, Mega pergi meninggalkan nenek Nur sendiri. Sebab dia ingin menemui suaminya. Mega juga ingin tahu alasan pasti tentang kriminal yang Wawan lakukan. Serta memperjelas hubungan mereka.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2