Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Aku Masih Istrimu


__ADS_3

Sesuai keputusannya kemarin. Kini Jo tengah dalam perjalanan menuju ke bengkelnya Briyan. Berharap Briyan ada di sana. Biar Jo mudah menginterogasinya.


Setelah sampai di bengkel. Keadaan bengkelnya belum terlalu ramai. Mungkin masih pagi. Ya, Jo ke sini memang sengaja pagi-pagi sekali, biar tak bentrok waktunya saat bertemu dengan Dinda nantinya. Jo sangat tak ikhlas, jika Dinda disakiti oleh Briyan begitu saja. Meskipun Dinda menikah Briyan dengan sedikit kekurangan, tapi keluarga Dinda gak akan rela jika Dinda diduakan oleh Briyan.


Dicarinya si Briyan ternyata belum datang. Yang ada hanya anak buahnya saja. Kemana tuh anak? Batin Jo geram.


"Briyan kemana ya, Pak?" tanya Jo pada seorang bapak-bapak pekerja bengkel.


"Mas Briyan agak siangan datangnya Mas," ucap Bapak itu dengan jujur.


"Hm, selalu siang ya Pak? Jam berapa biasanya?" tanya Jo lagi, penasaran.


"Jam 9-an Mas. Mas perlu apa? Ntar biar ku sampaikan," tuturnya.


"Gak usah Pak, nanti saya ke sini lagi. Saya mau pergi dulu sebentar," pamit Jo pada akhirnya. Ini masih jam 8, apa iya dia harus menunggu sejam? Lama sekali itu menurut Jo. Tapi inikan masalah genting juga. Jo akan menunggunya sambil belanja sesuatu di supermarket terdekat.


Hampir 40 menitan berkeliling supermarket dan jalan, akhirnya Jo tak sengaja melihat Briyan yang melintas di sampingnya. Kebetulan sekali. Jo langsung membuntuti Briyan pelan-pelan.


Setelah Briyan memarkirkan sepeda motornya. Jo ikutan memarkirkan motornya juga di samping Briyan. Ada semburat keterkejutan di wajah Briyan.


"Jo, ngapain loe ke sini?" sinis Briyan.


Hello Briyan, Jo datang dengan baik-baik. Kenapa sudah disinisin sih? Sepertinya Briyan memang merasa bersalah tentang kejadian semalam, makanya bicaranya jadi sinis begitu.


Jo hanya menaikkan satu alisnya ke atas. "Sinis banget loe Yan," sahut Jo santai. Lalu, Jo mendekat ke arah Briyan. "Gue mau ngomong sama loe, penting," lanjutnya.


Seketika udara di dekat Briyan seperti menyesakkan dada baginya. Briyan ingin lari ke hutan dan meraup udara sebanyak-banyaknya di sana. Briyan sudah menduga ini bakalan terjadi, Jo pasti akan menayankan tentang perempuan yang kemarin yang ia bonceng.


"Ngomong ya ngomong aja, apa susahnya?" ketus Briyan pada Jo.


Sepertinya Briyan memang tak bisa diajak berbicara secara baik-baik. Oke kalau itu kemauannya. Jo tak ingin basa-basi lagi.


"Siapa cewek kemarin?" tanya Jo dengan wajah yang serius.


"Yang mana?" ketus Briyan lagi.

__ADS_1


Jo jadi kesal sendiri. "Loe gak usah pura-pura Yan, gue lihat dengan mata kepala gue sendiri. Loe boncengin cewek lain, loe mau nyelingkuhi adik gue heh!"


"Emang boncengin doang gak boleh? Mikir pake otak Jo. Gue lagi nganterin temen gue," kilah Briyan tak mau kalah.


"Loe gak usah bodohin gue Yan, dengan pura-pura kalau dia itu temen loe. Kalau benar dia temen lu, ngapain pake acara kabur segala? Loe pikir gue gak tahu apa?" balas Jo dengan tajam.


"Mana gue tahu kalo itu elo, ngomong jangan asal bicara. Harusnya loe bersyukur, gue udah mau nerima Dinda yang ternyata ck, bekas orang lain," sindir Briyan yang membuat Jo naik pitam.


Bugh!


Seumur-umur baru kali ini Jo dibuat marah oleh orang. Dihadiahkannya pukulan di perut Briyan. Briyan benar-benar lupa siapa Jo yang sebenarnya. Jo teman sekelasnya dulu, yang jelas Jo selalu tahu kelakuan Briyan ini seperti apa.


"Loe gak inget dengan kelakuan loe sendiri. Hebat banget ya. Setelah bilang ke sana ke mari, kalo loe udah gak perjaka. Sekarang loe nuduh Dinda bekas orang lain. Apa kabar dengan loe sendiri yang bekas dari puluhan wanita heh?" Jo tak perduli dengan keadaan sekitar. Memang itu faktanya tentang Briyan. Briyan memang cowok yang suka gonta-ganti cewek. Hanya untuk kesenangannya semata.


"Kurang ajar loe Jo," geram Briyan yang ingin membalas pukulan Jo. Jo tak perduli. Dia hanya tak ingin Briyan macam-macam dengan Dinda.


"Inget Yan, kalau loe sampai sakitin Dinda. Habis loe di tangan gue!" ancam Jo sambil berlalu pergi meninggalkan Briyan. Ngapain dia berlama-lama di sana, gak penting juga. Urusan dia hanya ingin menasehati Briyan agar tak macem-macem di luaran sana.


Briyan berdecih kesal. 'Sial. Jadi Jo belum tahu kalau adik ipar kesayangannya itu tengah mengandung anak dari pria lain. Gimana ya kalau Jo sampai tahu?' Fikir Briyan dengan tersenyum licik.


Jika Dinda berani mengadu pada Jo. Lihat aja, Briyan juga akan balas mengadu. Biar malu semua keluarga Dinda karena aib yang Dinda terima sekarang. Senyuman jahat langsung terpatri di wajah Briyan saat ini. Dia merasa menang selangkah daripada Dinda.


Setelah sampai di rumahnya. Jo mengatur nafasnya. Emosinya masih tersisa gara-gara mulut kecut dari si Briyan. Bisa-bisanya dia mengatai Dinda bekas orang lain. Lalu Briyan sendiri apa kabar? "Dasar gak ngaca sama kelakuannya sendiri," gumam Jo masih terbawa emosi.


Lagian Dinda seperti itu bukan dasar atas kemauannya sendiri. Tapi pemerkosaan alias dipaksa. Beda jauh dengan Briyan yang suka rela, suka sama suka.


Nesa mengernyit melihat kelakuan tak biasa dari suaminya. "Mas, kenapa?" tanya Nesa kemudian.


Jo mendesah pelan dan segera menghampiri istrinya. Tak mungkin dia bercerita. Bukti belum kuat. Karena Briyan pasti akan berkilah seperti tadi.


"Gak apa Bunda, Raskha udah bobok?" tanya Jo ingin mengalihkan pembicaraan.


"Sudah, anakmu-kan tukang molor."


"Nurun kamu," balas Jo terkekeh.

__ADS_1


"Enak aja, aku molorkan gara-gara begadang Mas," balas Nesa tak terima. Tapi sebenarnya, itu memang fakta. Kalau Nesa suka molor dulu, waktu masih sekolah.


"Oya Bun, Dinda belum datang?" tanyanya seraya duduk di kursi ruang santai.


"Belum, agak siangan katanya. Dia masih mau beres-beres rumah," sahut Nesa dan Jo mengangguk.


Kasihan si Dinda. Andai Jo punya bukti, pasti Jo akan menyuruh Dinda agar tak bersama Briyan lagi. Sebenarnya Jo tak menyukai perceraian. Namun bagaimana lagi, jika adiknya terus menderita. Masa depannya saja sudah direnggut, masa iya dengan rumah tangganya juga? Apa Iya harus dinodai dengan ke-playboy-an Briyan? Jo hanya berharap, semoga Briyan segera sadar. Kalau menikah itu bukanlah permainan.


Dinda POV


Aku ingin datang ke rumah mbak Nesa. Padahal aku udah janji sebentar lagi. Tapi pas pekerjaan rumah udah beres semuanya, ditambah lagi aku yang udah berdandan rapi. Eh, tiba-tiba Briyan pulang.


Ada apa? Kenapa dia pulang? Fikirku curiga.


"Ada yang ketinggalan kah Bang?" tanyaku dengan sopan.


"Mau kemana?" tanyanya sambil melihat penampilanku naik turun.


"Mau ke rumah mbak Nesa, Bang. Mau nengokin Raskha," jawabku. Aku masih menatapnya dengan aneh.


"Gue gak ijinin lu pergi kemana-mana!" ujarnya dengan sedikit bentakan.


Aku takut. Tapi aku butuh jawaban. "Kenapa? Aku cuma ingin ketemu sama mbakku, kenapa gak boleh Bang?"


"Gue bilang gak ya gak! Pembangkang. Gak ngerti bahasa manusia apa!" teriaknya seperti orang yang kalap.


"Astaghfirullah, istighfar Bang. Aku ini masih istrimu. Oke, kalau gak boleh pergi aku gak masalah. Tapi tolonglah, jangan sekasar ini sama aku. Aku lagi hamil Bang," ucapku minta dikasihani.


"Bodoh. Lu hamil juga bukan dengan gue. Ngapain gue peduliin sama kehamilan lu itu. Gila!" ucapnya sambil berlalu pergi.


"Bang!" panggilku. Kali ini dengan menangis. Aku gak tahan hidup seperti ini.


"Lu diem di rumah. Kunci gue bawa. Awas aja kalau sampai ketahuan lu gak nurut ma gue, gak akan gue bukain pintu lagi buat lu!" ancam Briyan sambil menunjuk wajahku.


Klik! Pintu pun terkunci dari luar. Hari itu, akhirnya aku gak jadi pergi ke rumah mas Jo. Sedih rasanya. Aku cuma bisa menangis meratapi nasibku ini.

__ADS_1


Bersambung...


Apakah Dinda akan bertahan dengan Briyan? Tunggu next partnya.


__ADS_2