Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Mulai Menerima


__ADS_3

***


Sementara itu...


Di dalam toilet kantor tempat kerjanya, Aris tengah muntah-muntah. Sudah hampir seminggu ini ia tak mengalami morning sickness seperti ini. Entah kenapa, tiba-tiba dia merasa mual kembali. Benar-benar sangat menyiksa. Tapi Aris rela, rela menggantikan penderitaan yang seharusnya Dinda alami.


"Ya Allah Nak. Belum lahir aja kamu nyiksa Ayah. Ayah janji gak akan sakiti ibu dan kamu," ucap Aris sambil mengelus perutnya yang kesakitan.


Jika Dinda yang mengalami ini tanpa ada Aris di sampingnya. Aris akan jauh lebih kasihan. Ini memang setimpal buat Aris. Mungkin sebuah kutukan buatnya, impas dengan kelakuan masa lampaunya.


"Hoek! Hoek!"


"Hah! lega," katanya sambil memejamkan mata.


Selesai membuang isi dalam perutnya. Aris segera kembali menuju pantry. Mengambil air minum di sana.


Fakta tentang Aris, dia sudah bekerja setelah berhasil menjual mobilnya. Ya, meskipun hanya staff biasa. Namun gajinya lumayanlah, dari pada mengajar waktu lalu. Gajinya 2 kali lipat dari sebelumnya. Makanya beberapa bulan ini dia tak bisa menemui Dinda. Karena arah kerjanya berlawanan arah dengan tempat tinggal Dinda. Tapi jika rumah Jo, hampir tiap hari Aris melewatinya. Jadi malam itu pertemuannya dengan Dinda memanglah kebetulan. Sebuah takdir.


***


"Yah, si Raskha gemoy banget ya," puji Dinda sambil menoel-noel pipi Raskha dengan gemas.


Dinda dan pak Bambang lagi bertamu ke rumah Nesa. Pak Bambang sengaja mengajak Dinda melihat Raskha. Siapa tahu dengan begini Dinda jadi seneng.


"Sini, biar ayah gendong!" pinta pak Bambang.


"Nah Raskha, ikut kakek ya?" ucap Dinda dan dibalas senyuman random oleh Raskha.


"Uh, cucu kakek. Gantengnya," ucap pak Bambang sambil menggendong cucu pertamanya itu.


"Makin lincah ya Sa si Raskha," ucap pak Bambang memuji.


"Iya lah Yah, udah 6 bulan kan?" timpal Nesa sambil menyiapkan minuman dan makanan buat pak Bambang dan Dinda.


"Terus rencana ayah menikahi bu Lastri gimana?" tanya Nesa memastikan.


"Kayaknya, 2 atau 3 minggu lagi. Setelah itukan, disusul sama pernikahan Dinda dengan Aris. Ya kan Din?" ucap Pak Bambang seraya mengedipkan sebelah matanya menggoda sang anak.


"Ayah," potong Dinda. Sebenarnya Dinda sangat ingin menolak. Tapi melihat antusiasme dari ayahnya, membuat Dinda pasrah. Lagian dia juga masih melewati masa iddah. Jadi pernikahannya tidak terlalu buru-buru.

__ADS_1


'Kenapa ayah ngebet banget ya?' batin Dinda heran. Tanpa sadar, Dinda mulai bisa menerima kehadiran Aris dalam hidupnya.


"Ya gak apa-apa dong? Faktanya kan gitu. Aris juga berhak tanggungjawab atas kelakuannya kemarin Din. Jadi kalau janjinya cuma palsu, ayah yang akan turun tangan," ucap pak Bambang mendukung pernikahan Dinda dan Aris.


"Iya Din. Kamu itu jangan mikirin dirimu sendiri. Pikirin juga sama bayi yang masih ada dalam perutmu itu. Dia juga butuh bapak. Plis deh, pernikahanmu dengan Aris. Anggap aja perjuanganmu untuk anakmu," sahut Nesa.


"Tapi mbak..." Sepertinya Dinda tak bisa menolak keadaan ini.


"Udah, gak usah tapi-tapian. Ayah bahagia, Dinda juga harus bahagia," sambung pak Bambang.


"Pokoknya kalau pernikahanmu gak bahagia, ayah pasti ikut campur. Gak mungkin ayah biarin kamu menderita. Kalau perlu, kalian tinggal bareng ayah aja."


"Jangan deh Yah. Dinda dan Aris pasti gak nyaman sama Bu Lastri. Dia kan ibu sambung kita Yah. Bukan ibu kandung kita. Jadi aku yakin Dinda pasti gak nyaman. Iya kan Din?"


Dinda hanya tersenyum pasrah. Dia masih bingung akan keputusan pernikahannya dengan Aris.


"Emm, Raskha. Ikut Tante Yuk?" ajak Dinda kemudian. Saking asiknya bercanda dengan Raskha. Akhirnya Dinda sedikit lupa akan bahasan tentang Aris dan pernikahannya.


***


Sore harinya.


"Yah, Dinda mau keluar sebentar boleh?" tanyanya pada pak Bambang. Mereka berdua sudah pulang dari rumah Nesa dari siang.


"Ke supermarket dekat sini aja Yah. Mau beli camilan," balasnya.


"Ya udah. Yuk ayah antar!"


Saat baru sampai di supermarket. Telinga Dinda menangkap omongan yang tak mengenakkan dari mulut tetangganya.


"Padahal hamil, kok bisa-bisanya ya dicerai."


"Iya, katanya diselingkuhin."


"Saya denger, dia yang selingkuh," ucap si emak berdaster yang berbadan gendut.


"Hooh. Malahan dia mau nikah sama selingkuhannya."


"Kok gak malu ya?"

__ADS_1


"Anak jaman sekarang, mana ada malu. Orang pacaran aja terang-terangan. Gak punya malu anak jaman sekarang tuh!"


Dan masin banyak cibiran lainnya. Pak Bambang membuang nafasnya kasar. Segera ditariknya Dinda agar menjauh dari tempat itu.


Dinda hanya menunduk sedih. Hingga pak Bambang tak tega dibuatnya. Anak bungsunya? Kenapa nasibnya seperti ini?


"Maafin Dinda, Yah. Udah bikin keluarga kita malu," terangnya dengan sedih.


"Udah, kita pulang aja Din. Hari udah senja, belinya besok aja," ujar pak Bambang kemudian. Dinda hanya mengangguk pasrah.


Dinda menuju ke kamarnya dengan tatapan kosong. Pak Bambang sengaja membiarkan Dinda sendirian. Karena pak Bambang sedang ingin memasak untuk mereka berdua. Hingga pak Bambang berandai-andai. Ingin segera membawa bu Lastri ke rumahnya. Biar ada yang memasakkan buat mereka berdua.


"Gak nyangka, tiga minggu lagi Las... Kita akan menikah," gumamnya dengan sebuah senyuman yang mengembang sempurna.


Pak Bambang ini lagi mode puber kedua. Jadi dia sellow banget dengan masalah Dinda atau yang lainnya. Kalau sudah bucin kayak gini, dunianya serasa milik berdua. Makanya jangan salah kalau ada badai angin ribut tetap dicuekinnya.


Di kamar Dinda.


Ya Allah, berikanlah aku kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi ini semua. Kenapa rasanya begitu sakit saat mendengar omongan seperti tadi.


"Kamu harus kuat ya Nak. Ibu sayang kamu," ucap Dinda sambil mengelus perutnya.


Tak berapa lama kemudian, terdengar adzan Maghrib berkumandang. Dinda segera mengambil wudhu dan melaksanakan shalat.


Di tempat yang berbeda dan di waktu yang sama. Aris pun juga tengah melaksanakan ibadah shalat maghrib di masjid.


Semoga perubahannya itu istiqomah. Tak akan goyah meskipun badai menerpanya di kemudian hari.


***


Sementara itu, setelah resmi bercerai dengan Dinda. Briyan justru asyik bersenang-senang. Ia kembali ke dunia malamnya. Ke tempat cafe-cafe yang menyediakan minuman beralkohol. Bermain perempuan tak lupa ia tinggalkan. Briyan benar-benar rusak. Separuh jiwanya pergi sejak orang yang mencintainya meninggalkannya.


Dia menyesal. Sangat sangat menyesal. Tak ada perempuan lain yang mencintai tulus seperti Dinda. Penurut seperti Dinda. Itulah penyesalannya. Saat ada yang baik, ditinggalkan. Kini sadar bukan? Bagaimana rasanya, jika orang yang tulus cinta meninggalkannya?


Hanya kesedihan dan penyesalan yang tiada guna. Karena, sampai kapan-pun. Dinda tak akan sudi kembali padanya. Dia lelaki yang tak pantas untuk dicintai oleh Dinda.


Briyan mabuk berat. Ada seorang wanita berpakaian kurang bahan mendekatinya. Melemparkan senyuman memuja, hingga Briyan jatuh ke pelukan wanita yang bahkan tak ia kenal.


Malam itu Briyan habiskan bersama wanita random yang datang ntah dari mana.

__ADS_1


"Yuhu, party!" teriak Briyan tanpa sadar.


Bersambung...


__ADS_2