Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Ketahuan


__ADS_3

Deg... Deg... Deg...


Jantung Aris berdetak dengan kencangnya. Telinganya tak salah dengarkah? Dinda hamil duluan sebelum dia menikah. Apa itu benar?


"Apa itu tandanya, Dinda hamil anakku?" gumam Aris lirih. Aris tak tega melihat Dinda yang tersimpuh di lantai dengan tangan yang memeluk perutnya dengan kuat.


"Dinda," panggilnya lirih.


Di depannya ada Briyan yang tengah berdiri sambil berkacak pinggang. Wajahnya merah padam penuh emosi. "Gue gak sudi ngerawat anak dari cowok sialan macam dia, gue gak sudi!" teriak Briyan sambil menyemburkan busa dari mulutnya.


"Tapi Bang----" protes Dinda.


"Gak ada tapi-tapian, loe harus pilih. Kita cerai atau loe bunuh anak itu," ujar Briyan memberikan pilihan sulit untuk Dinda.


Dinda segera menghapus air matanya. Memang dia tak pernah berani melawan Briyan selama ini. Tapi lihat saja sekarang. Dinda mengeluarkan uneg-uneg yang ia pendam selama ini. Ia berdiri dan melayangkan tatapan melawan pada Briyan.


"Abang minta cerai sama aku?" tanya Dinda dingin. Pikirannya emang kurang bagus. Tapi mau tidak mau dia harus melakukan ini.


"Apalagi?" sahut Briyan.


"Abang lupa, kalau abang tengah berselingkuh sekarang. Apa Abang lupa hah!"


Emangnya Dinda akan diam saja soal wanita kemarin yang dicium oleh Briyan. Tidak! Itu kartu A (as) Dinda sebagai bukti kalau mereka berdua sama-sama bersalah. Intinya perceraian bukan solusi. Tapi jika memang tak ada pilihan lain, Dinda pun pasrah. Lagian semua masa depannya juga sudah hancur sejak keperawanannya diambil paksa oleh Aris.


Briyan langsung menelan ludahnya yang tiba-tiba terasa mencekat di tenggorokan. Susah.


"Apa maksud loe! Loe mau ngefitnah gue hah!!" Briyan mencoba tak terima dengan tuduhan selingkuh dari mulut Dinda barusan.


"Ck, emang Abang pikir Dinda gak tau. Kalau Abang kemarin berciuman dengan wanita lain. Abang lupa ya? Abang gak mau ngaku ya?" selidik Dinda tanpa ampun.


"Dasar istri pembangkang, gue nyesel ngawinin loe!" teriak Briyan. Dia merasa disudutkan.


Lalu ditariknya lengan Dinda dengan paksa, menyeretnya sampai di kamar. "Ini hukuman loe Dinda. Loe udah jadi pembangkang gara-gara anak itu," murka Briyan sambil mengunci Dinda dari luar. Kalau ketahuan selingkuh seperti ini, apa alasan Briyan selain bertahan dengan Dinda?


"Aahhh, cerobohnya gue. Kenapa sampai ketahuan Dinda sih," desisnya sambil menjambak rambutnya frustasi.

__ADS_1


Aris yang melihat kejadian itu hanya bisa diam tak berkutik. Dia masih berdiri kaku di tempat. Ingin menghampiri Dinda, itu sangatlah tak mungkin. Yang ada dia akan dituduh menjadi perusak rumah tangga antara Dinda dan Briyan.


Kasihan Dinda yang harus menderita sana-sini akibat perbuatannya. "Maafkan aku Dinda," cicitnya pelan. "Kamu harus kuat demi anakmu," ucapnya lagi sebelum meninggalkan rumah itu.


Aris seperti bisa merasakan kesedihan yang Dinda alami sekarang. Entahlah, malam ini Aris merasa seperti ada di posisi Dinda. Ada kesakitan yang teramat di dadanya. Begitu menyesakkan dan menyakitkan.


"Dinda, aku gak nyangka kamu hamil anakku," gumamnya lirih.


"Apa sakit perutku ini karena anak kita?" tambahnya lagi seraya bertanya pada udara di ruangan kamarnya. Hanya kesunyian yang ia dapatkan.


Terlintas di benaknya terlukis wajah ketakutan Dinda yang sangat luar biasa. Aris teringat di mana dia memaksa Dinda waktu dulu. "Maafkan aku Dinda," bisiknya pada angin, berharap angin malam membawa suaranya menuju ke telinga Dinda. Dan Dinda memaafkannya. Tapi semua itu seperti mustahil.


***


Hari ini Jo pulang lebih awal. Karena ada undangan acara dari CEO-nya. Tidak diwajibkan datang. Jadi, datang boleh, tak datang-pun juga tak masalah.


Jo memutuskan untuk tidak datang. Maklum belum punya mobil, kasihan baby Raskha kalau kena angin malam. Usianya masih rentan akan sakit.


Saat diperjalanan pulang. Tak sengaja Jo melihat Briyan berboncengan dengan wanita seksi. Jo sangat yakin itu bukan Dinda. Karena setahunya, Dinda tak pernah pakai baju yang kurang bahan seperti itu.


Segera ia klakson berkali-kali biar Briyan berhenti. Merasa diklakson orang, Briyan memelankan laju motornya. Memandang lewat spion. "Sial, itukan Jo. Ngapain sih pake ketemu dia segala," gumamnya kesal.


"Pegangan Yang," suruhnya pada selingkuhannya. Kemudian Briyan mengambil ancang-ancang. Menyalip beberapa kendaraan yang ada di depannya. Berhasil, akhirnya Jo kehilangan jejaknya.


"Ya Allah, tu anak. Bener-bener," geram Jo. Dia tak kehabisan akal. Segera ia parkirkan sepedanya. Menelpon sang istrinya.


"Wa'alaikumussalam Bun. Bun, ayah pulang agak telat ya... Ada urusan penting," ucapnya dan kemudian setelah diiyakan Jo mengucap salam penutup sebelum mematikan panggilannya.


Jo langsung belok kanan. Menuju ke arah rumah Briyan. Tidak mungkin Briyan tak pulang. Tujuan utama pasti rumahnya. Itulah dugaan Jo.


Setelah sampai di depan rumah itu. Rumah Briyan tertutup rapat, meskipun di depan rumah terparkir sepeda motor Dinda. Tapi seperti tak ada penghuninya.


Diketuknya pintu itu. "Assalamu'alaikum Dinda," sapa Jo dari luar.


Dinda yang berada di kamar segera ke luar. Dilihatnya dari balik jendela. Ternyata kakak iparnya yang datang. Dinda langsung senang dan segera membukakan pintu.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam mas Jo, tumben kemari?" tanya Dinda seraya menutupi masalah yang ia timpa semalam.


Jo menatap penuh selidik pada adiknya ini. Benar. Ada keganjilan pada Dinda. Mata dan hidung Dinda yang memerahlah jawabannya. Mungkin Dinda habis menangis. Duga Jo.


"Dinda, kamu kenapa?" tanya Jo khawatir.


"Gak apa-apa ko Mas. Mas Jo gak masuk?" sahut Dinda mencoba mengalihkan pertanyaan Jo.


Jo mengernyit bingung. Kalau dia cerita tentang Briyan. Bisa-bisa Dinda sakit hati dan itu akan mengganggu kesehatan janinnya. Menunggu di dalam juga tak baik, meskipun mereka saudara ipar. Tapi Jo merasa tak enak hati. Bisa jadi Briyan balik menyerangnya nanti gara-gara Jo berduaan dengan Dinda. Jadi lebih baik Jo putuskan pulang saja. Urusan Briyan bisa dia atasi nanti.


Fiuuuuh.


Jo mengeluarkan nafas beratnya. "Dinda, besok Mas libur. Dinda bisa main ke rumah gak ya, Mas pengen ngobrol sama kamu."


"Ngobrolin apa Mas?" tanya Dinda penasaran.


"Besok aja Din. Kalau sekarang, Mas gak enak," balas Jo yang memang tak nyaman dengan situasi seperti ini.


Dinda hanya mengangguk. "Insya Allah ya mas. Dinda usahain besok main ke rumahnya mas Jo," balas Dinda.


"Ya udah, Mas balik dulu Din," pamit Jo kemudian.


Sepertinya Briyan sengaja menghindar dari Jo. Besok Jo harus memberi perhitungan pada Briyan. Kurang ajar pria itu, berani-beraninya mempermainkan Dinda. Apalagi posisi mereka sudah menikah. Itu artinya Briyan menodai pernikahannya sendiri.


"Iya Mas, salam buat mbak Nesa dan Raskha ya," balas Dinda yang tak lupa dengan mbak dan keponakannya itu.


"Iya Dinda." Jo tersenyum. Setelah berucap salam. Jo segera melajukan sepeda motornya.


Briyan memang tak pernah berubah. Jo merasa kasihan pada Dinda. Sudah hamil, tapi ditelantarkan. Apa mungkin karena Dinda yang gendut? Ya, faktor kehamilannya, jadi wajar aja kalau Dinda makin gedutan. Tapi entahlah, Briyan memang mudah sekali bosan pada wanita. Apalagi menyangkut fisik, Briyan pasti akan memilih yang seksi.


Dari pada menduga yang tidak-tidak. Jo putuskan besok untuk menemui Briyan di bengkelnya. Briyan pria yang mudah berkilah, maka dari itu Jo akan mencari bukti nyata. Sementara besok, dia hanya mau menemui Briyan dulu. Sekiranya menanyakan wanita yang dibonceng oleh Briyan. Jika Briyan tak mau jujur, maka Jo akan bertindak lebih tegas.


Bersambung...


Bagaimana rumah tangga Dinda selanjutnya?

__ADS_1


__ADS_2