
...****************...
Sepergian pak dokter tadi. Bu Lastri langsung tertidur hingga sekarang. Jadinya Aris dan Dinda kembali berduaan di kamar, gantian menjaga Zahra si bayi mungil yang wajahnya 11 12 dengan Aris.
"Cantiknya anak kita Din," puji Aris sambil minta persetujuan dari Dinda.
"Cewek kan mas," sahut Dinda dengan santai. Anaknya memang cewek kan? Jadi wajar cantik, gitulah yang ada dipikiran Dinda.
"Iya cewek, jadi cantik. Gantengnya yang belum?"
"Apanya?" tanya Dinda dengan ketus.
"Tambah satu boleh dong?" Aris mengedipkan matanya genit.
"Ih apaan! Cari ibu dulu," kata Dinda sambil melemparkan sebuah bantal ke arah Aris.
HAP!
Untung dengan sigap Aris menangkapnya.
"Ow, udah berani ya sekarang?" ledek Aris sambil berjalan mendekat ke arah Dinda.
"Eh, gak! Jangan mas!" teriak Dinda yang seperti ketakutan.
"Jangan!" Ini sudah tidak wajar lagi.
Aris langsung membuang bantal yang ia pegang tadi ke sembarang arah. Dia segera berlari dan mendekap tubuh Dinda.
"Gak Dinda. Tenang, mas gak ngapa-ngapain kok," ucap Aris sambil mencoba menenangkan Dinda.
Nafas Dinda begitu memburu. Ternyata rasa trauma itu belum hilang sepenuhnya dari Dinda.
"Tenang ya sayang. Minum dulu ini!" Aris menyodorkan sebotol air mineral yang sudah tersedia di kamarnya.
Dinda meraihnya dan meminum air putih itu. Deru nafasnya terdengar sudah mulai normal. Aris kasihan, jadi dia tetap mengelus-elus punggung Dinda supaya makin tenang.
"Jangan kayak gitu lagi mas. Dinda takut," kata Dinda sambil menatap Aris dengan mata yang berkaca-kaca.
"Maafin mas, sayang. Mas gak sengaja. Tadi niatnya cuma bercandain kamu aja," tutur Aris menyesal.
"Dinda takut mas," kata Dinda setengah gemetar.
Aris kembali memeluk Dinda, membubuhkan kecupannya berkali-kali di puncak kepala Dinda.
"Mas sayang sama kamu Din. Mas gak mungkin sakitin kamu lagi," bisik Aris pelan.
Beberapa menit kemudian. Aris tak melihat gerakan apapun dari Dinda kecuali suara nafasnya yang teratur. Ternyata Dinda ketiduran dalam pelukannya.
__ADS_1
Dengan perlahan Aris menidurkan Dinda, lalu menyelimuti bagian kakinya. Sehabis itu, Aris langsung menuju ke kamar mandi. Dia tadi belum menyuci pakaian mereka.
Di tempat lain.
Usai rapat. Pak Bambang sangat terkejut mendapati jam di tangannya.
"Astaghfirullah. Aku kelupaan nelpon Wawan. Gimana ini? Moga istriku gak apa-apa," gumamnya panik.
Buru-buru pak Bambang merogoh ponselnya dan menelepon Wawan di sana. Berdering sih, tapi tak diangkat.
Ya jelas gak diangkat sama Wawan. Sekarang ini dia lagi menikmati bulan madunya yang entah ke berapa bersama Mega. Karena kalau gak diajak enak-enak, Meganya gak mau diajak balik ke rumah. Jadi dengan cara itulah Wawan membujuk Mega.
"Engh, engh!" terdengar suara Mega yang tertahan. Karena takut didengar oleh nenek Nur.
Wawan ini benar-benar seperti pemerkosa. Mega sudah bilang gak mau, tapi tetap dipaksa untuk melakukan hal beginian.
"Setelah ini kamu mandi terus pulang!" kata Wawan di tengah-tengah aksi panasnya.
Mega tak menjawab. Dia hanya membuka matanya sambil terus berdesis akibat ulah Wawan.
"Ahh!" Wawan dan Mega keluar secara bersamaan.
Setelah itu Wawan menggulingkan badannya di samping kiri Mega. Dia yang nyuruh mandi, tapi faktanya dia sendiri yang ketiduran.
Melihat Wawan yang ngorok. Mega jadi ilfil sendiri. Habis enak-enak bukannya ngobrol atau apa, ini malah ditinggal tidur.
Drrrrrt...
Drrrtttt...
Bunyi getar HP Wawan terdengar di telinga Mega. Mega mengintipnya. "Ayah Bambang," gumamnya sambil meraih telepon itu.
Saat baru dipegang oleh Mega. Wawan menghentikan tangan Mega.
"Jangan pergi!" kata Wawan, tapi sebenarnya Wawan ini mengigau. Padahal Mega udah keegeran banget. Jadi Mega ikutan merebahkan dirinya di samping Wawan tanpa tahu kalau Wawan tengah bermimpi orang lain di sana.
...****************...
Siang hari Dinda terbangun. Dia mengucek matanya dan mendapati Aris yang ada di sampingnya.
"Mas," panggil Dinda pada Aris.
"Eh udah bangun. Mau maem? Mas tadi masakin sesuatu buat kamu," kata Aris sambil menunjukkan hasil masakannya di depan Dinda.
"Ini mas masak sendiri?" tanya Dinda kagum. Ternyata diam-diam Aris pintar memasak.
"Iya sayang, sekalian masakin ibu kalau mau. Kalau gak mau, nanti mas keluar dulu beliin ibu bubur," kata Aris yang ternyata masih peduli pada Mak lampir yang satu itu.
__ADS_1
"Iya mas. Kok kamu baik gini sih mas?" tanya Dinda tanpa sadar apa yang dia ucapkan.
"Baik? Yang ada aku jahat Din," jawab Aris setengah melamun.
"Gak boleh gitu lho?"
"Jadi kalau mas baik, kamu mau nerima cinta mas gak?" tanya Aris pada Dinda. Dia juga butuh pernyataan cinta dari mulut Dinda, biar dia tak mengiranya kalau hanya Aris saja yang mencintai Dinda namun Dinda enggak.
Dinda tersenyum kecil. Tapi dia menunduk karena malu untuk berterus terang.
"Din, mau gak jadi pacarku?" kata Aris sambil memegang lengan Dinda. Soalnya tangan Dinda tengah memegang piring masakan yang Aris berikan tadi.
"Pacar?" tanya Dinda heran. Mereka sudah menikah, terus kenapa pacaran?
"Iya Din, pacar dunia akhiratku," jawab Aris sungguh-sungguh.
Pipi Dinda langsung bersemu merah. Aris benar-benar mengoyak iman jiwa dan raganya.
"Gimana? Kamu mau kan jadi pacarku?" tanya Aris memastikan.
"He'em," jawab Dinda sambil mengangguk. Dinda bingung mau berkata apa lagi selain itu. Karena jujur saja Dinda bahagia. Bahkan air matanya sempat menetes hanya gara-gara diajak pacaran sama Aris.
"Jadi mau?" Aris tak percaya, jadi dia ingin memastikan sekali lagi.
"Iya mas, aku mau!" kata Dinda sedikit malu dan terharu.
"Yeay! Alhamdulillah, makasih sayang. Aku cinta ma kamu, sayang ma kamu. Tetaplah berada di sisiku sampai akhir hayatku," kata Aris sambil memeluk Dinda dengan erat.
Dinda tak bisa berkata apa-apa selain menangis tersedu-sedu di pelukan Aris.
"Udah, kenapa nangis? Jangan nangis lagi ya? Sekarang deal kita pacaran ya?"
Setelah menghapus air matanya Dinda, Aris mengacungkan jari kelingkingnya. Layaknya anak remaja yang baru jadian.
"Deal!" kata Dinda sambil membalas uluran jari kelingkingnya ke jari kelingking Aris.
"Mmmuah! Dah dimakan dulu nasinya," suruh Aris sambil mengecup puncak kepala Dinda.
"Suapin!" pinta Dinda dengan manja. Gak masalah kan? Sama pacar sendiri, pikir Dinda agak jail.
"Uh manjanya, ya udah sini mas suapin."
Di balik kebahagiaan mereka berdua. Di situ ada hati yang terluka. Bu Lastri, dia makin tersiksa. Harusnya di saat sakit begini dia ditemani oleh anaknya. Tapi yang ada justru terbaring sendiri seperti hidup sebatang kara.
Sebenarnya ada Aris dan Dinda yang siap membantunya. Hanya saja rasa gengsi serta rasa bersalahnya menutup semua keinginan itu. Jadi lapar maupun haus harus ia tahan sendirian. Padahal tadi Aris sempat menawarkan makanan untuknya. Tapi salah Bu Lastri yang masih berpura-pura tidur. Dan sekarang perutnya kembali keroncongan, haruskah dia manggil Aris lagi?
Bersambung...
__ADS_1