Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Sekedar Mantan


__ADS_3

Aris langsung menatap Dinda. Mana ada suami yang gak ikhlas menafkahi istrinya? 'Ada-ada aja,' batin Aris heran dengan kelakuan Dinda.


"Aku ikhlas lahir batin Din. Buat kamu apa aja akan aku lakuin. Kamu itu adalah istriku. Tulang rusukku. Kamu tahu tulang rusuk gak?" tanya Aris.


Sebelum Dinda menjawab, Aris langsung melanjutkan ucapannya. "Tulang rusuk itu bagian dari tubuh kita. Jadi kalau tulang rusuk itu hilang, maka kita akan mati. Begitu pun kamu. Kamu itu tulang rusukku Din, nyawaku, bagian dari hidupku," jelas Aris dengan sungguh-sungguh.


Dinda sempat tertegun. Aris sebegitu dalamnya mengartikan seorang istri. Karena tidak ingin berlarut dalam ucapan Aris. Segera dia menyunggingkan senyum. "Halah gombal," katanya sambil melanjutkan makan.


Aris tersenyum miring. "Kita juga perlu gombal Din. Kalau gak, mungkin kita udah balik di jaman purba," celetuk Aris.


"Maksud kamu?" Sepertinya Dinda lupa, sebelum jadi narapidana, Aris dulunya adalah seorang guru.


"Yang kita pakai ini apa namanya?" tanya Aris seolah memberi pertanyaan teka-teki pada Dinda.


"Baju," jawab Dinda.


"Tapi bahannya kain gombal kan?" ujar Aris.


"Ah, apa sih? Aku males mikir ah," kata Dinda sambil lanjut mengunyah.


"Iya udah deh, moodmu kayaknya kurang bagus," ucap Aris


Dia ikut mengambil cimol yang sebungkus lagi. Melihat Dinda yang makan cimol, dia jadi pengen.


"Sok tahu," jawab Dinda sekenanya.


Aris melongo. Kalau sudah begini, laki-laki akan serba salah. Sabar Aris, sabar. Aris akhirnya diam aja. Kali ini Dinda yang merasa kalau cowok emang gak pernah peka dengan perasaan cewek.


Setelah menghabiskan cimol. Dinda langsung berdiri. Dia sudah gak selera makan gara-gara ucapan Aris tadi.


"Loh mau kemana Din?" tanya Aris bingung.


"Pulang," jawab Dinda singkat.

__ADS_1


"Tapi jajannya belum habis?" ucap Aris lagi.


"Aku males makan," kata Dinda kemudian. Aris mengerti. Jadi dia membereskan semua makanan dan dia jadikan 1 kantong. Lebih baik dia bawa pulang, dari pada mubazir. Pikirnya.


"Ya udah yuk, kita pulang!" ajak Aris yang kini sudah berdiri di samping Dinda.


Dinda hanya diam tak bersuara. Pandangannya lurus menatap sesuatu. Aris mengikuti arah pandang Dinda yang terlihat begitu serius.


"Briyan?" gumam Aris saat melihat siapa orang yang tengah ditatap oleh Dinda.


Terlihat dari kejauhan kalau Briyan tengah berboncengan tangan dengan seorang wanita. Dinda tersenyum hambar melihatnya. 'Ternyata kamu gak pernah berubah Bang. Aku berharap, Allah membukakan jalan kebenaran untukmu. Meskipun aku sendiri juga belum menemukan jalan kebenarannya,' batin Dinda sambil meratapi nasibnya.


Aris yang melihat kesedihan Dinda langsung mengerti. Dia segera menggenggam jemari Dinda sebagai bentuk bahwa dialah kekuatan Dinda. Sebab, suami Dinda saat ini adalah dirinya. Briyan? Dia hanya sekedar mantan. Meskipun pernah berada di hati Dinda, Aris akan berusaha menghapus semua tentang Briyan menjadi tentangnya. 'Iya, suatu ketika. Aku yakin Dinda akan mencintaiku.'


***


Ke-esokan paginya. Aris dan semua para kaum Adam terlihat sibuk masing-masing. Aris yang bersiap-siap memakai baju kantornya, disusul oleh Wawan dan juga pak Bambang. Semuanya diurusi istrinya masing-masing kecuali Aris. Dinda sepertinya tengah sibuk sendiri di dapur. Jadi Aris tak mempermasalahkan. Lagi juga, dia sudah biasa sendiri. Jadi dia tidak perlu iri pada yang lain.


"Oiya Wawan, kamu jangan lupa sarapan! Mega, urusin suamimu!" ujar Bu Lastri dan dengan santainya dia melewati Aris begitu saja.


Cukup lama Aris selesai bersiap. Dia hendak berpamitan saja sama Dinda. Dari pada dia ada, tapi bagai tak ada. Sarapan? Aris bisa beli di kantin kantor seperti biasanya.


"Mas, minum kopinya!"


Aris langsung tersadar. Dia tak menyangka kalau Dinda masih perduli padanya. "Makasih Din," jawab Aris sambil menerima kopi buatan Dinda.


"Buat Mas Wawan mana Din?" sahut Wawan tanpa ada kabel yang terhubung padanya.


Mega diam saja. Sedari tadi dia merasa tak enak saat melihat Aris dan Dinda.


"Tuh ada mbak Mega," jawab Dinda sambil berlalu. Dia balik ke dapur. Entah apa yang dia dilakukan? mungkin lagi masak.


Kini Wawan menatap Mega. "Kamu tuh, disuruh dari tadi gak nurut!" omelnya.

__ADS_1


Mega masih diam saja. Dia menatap Aris, tapi ragu. Kemudian dia kembali menatap suaminya. "Kayaknya aku gak bisa Mas," ucapnya pada Wawan.


"Kenapa gak bisa? Cuma masalah sepele aja gak bisa. Emang bisamu apa? Ngerusak rumah tangga Nesa dan Jo? Iyakan?" tuding Wawan kemudian. Tapi Mega malas menanggapinya.


"Ah tau ah, mending aku ke dapur aja," ucap Mega sambil menjauhi Wawan.


"Enakin ngopinya!" sapa Mega yang lewat di samping Aris.


Aris langsung menyunggingkan senyuman. "Iya mbak. Makasih," sahutnya. Sepertinya mulai hari ini yang terlihat mau menyapa cuma Mega. Kalau pak Bambang sendiri, entahlah, beliau jadi jarang keluar kamar. Jangankan keluar kamar, bertemu Aris pun seperti tak sudi.


Selesai minum kopi. Aris langsung menemui Dinda. "Dinda, mas berangkat dulu ya?" ucapnya berpamitan.


"Mas gak sarapan?" tanya Dinda sedikit kecewa.


"Pasti dia dibuatin sarapan sama yang lain," celetuk Wawan dengan sengaja.


Tanpa ba-bi-bu, Aris langsung menoleh ke arahnya. Melayangkan tatapan ingin membunuh dan menguliti Wawan. Wawan gak tahu kalau Aris ini bekas mantan napi. Kalau tahu? Mungkin Wawan akan takut berbuat yang gak-gak pada Aris.


Tapi Aris segera merileksasikan amarahnya. Dia harus bisa menjaga sikap di sini. Kalau di luar, mungkin Wawan sudah tinggal nama.


"Astaghfirullah Mas. Kami ini baru pengantin baru lho? Mas Wawan bercanda ya? Gak usah dipercaya ya sayang. Mas always sayang sama kamu," ucap Aris sambil meyakinkan Dinda.


"Sarapan bisa nanti di kantor. Soalnya jamnya sudah mepet. Terus kamu tahu kan? Kalau tempatnya berlawanan arah dari sini," terang Aris lagi.


Akhirnya Dinda percaya. Dia mengangguki ucapan Aris barusan. "Aku berangkat dulu ya? Jangan terlalu capek," ucap Aris sambil mencium kening Dinda tanpa malu. Toh mereka sudah sah. Hanya saja belum boleh berhubungan badan.


Wawan yang melihatnya langsung panas dingin. Bisa-bisanya Aris bersikap nekat kayak gitu di depannya. Mencium Dinda? 'Dasar tukang pamer!' batin Wawan kesal.


Setelah Dinda bersalaman, Aris langsung menghadap ke arah Wawan. "Kalau mas Wawan pengen, mas Wawan bisa ngelakuin itu sama mbak Mega!" sindir Aris sambil membalikkan badannya.


"Oya Bu, mbak Mega, aku berangkat duluan ya?" pamitnya pada Bu Lastri dan Mega.


"Iya, hati-hati!" terdengar hanya Mega yang menyahuti kata pamitannya tadi. Bu Lastri? Dia pura-pura sibuk dan tak mendengarnya. 'Berangkat ya berangkat aja, ngapain ijin-ijin segala,' batin Bu Lastri. Ternyata dia mulai tak menyukai Aris. Semua ini terjadi bukan tanpa sebab. Melainkan ada seseorang yang menghasutnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2