Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Wawan Sakit


__ADS_3

Sepulang Aris bekerja, dia melihat Mega yang keluar kamar sambil membawa baki, di atasnya ada gelas dan piring. Aris diam saja, enggan bertanya tentang Wawan. Takutnya dia disalahkan gara-gara sakitnya Wawan.


Usai Mega menjauh, Aris berjalan lesu ke kamarnya Dinda. Di sana dia melihat Dinda yang tengah menyusui Zahra.


"Udah pulang mas?" tanya Dinda pada Aris.


"Iya udah," jawab Aris datar. Aris melepas satu persatu pakaiannya.


"Kamu kenapa sih?" tanya Dinda sedikit kesal. Biasanya pulang kerja Aris nanya ini itu, tapi sekarang? Ngomong aja gak mau kalau bukan Dinda duluan yang nanya.


"Aku gak kenapa-kenapa Dinda," balas Aris yang terlihat masih dingin. Ini bukan Aris yang Dinda mau. Dinda maunya tetap Aris yang dulu, penuh perhatian kepadanya.


"Mas marah gara-gara aku ijin mau membujuk mas Wawan?" selidik Dinda.


Aris menatap Dinda begitu dalam. 'Laki-laki mana yang gak akan marah kalau istrinya ngurusin suami orang?' Sebenarnya Aris ingin berucap seperti itu, tapi dia tidak bisa.


Setelah memakai kaos oblong, Aris langsung mendekat ke arah Dinda. Memeluk Dinda dari samping sambil menciumi pundaknya yang terlihat.


"Mas gak semarah itu Din. Tapi mas kayak cemburu kalau kamu terlalu dekat dengan mas Wawan," jawab Aris jujur. Dia melepaskan pelukannya, tapi tangannya aktif mengelusi pipinya Zahra.


"Mas cemburu?" tanya Dinda sedikit tertawa.


"Iya," jawab Aris santai.


"Aku tahu mas cemburu, makanya aku gak jadi ngebujuk mas Wawan," jawab Dinda sambil melebarkan senyumannya.


Dinda bahagia dicemburui oleh Aris. Soalnya selama ini gak ada cowok yang cemburu gara-gara dia dekat dengan cowok lain.

__ADS_1


"Ah yang bener?" tanya Aris memastikan. Sebab tadi yang dia lihat, Mega membawa baki lengkap dengan piring dan gelas. Siapa tahu si Wawan habis dibujukin Dinda buat makan, jadinya si Wawan mau makan.


"Bener mas. Gak percayaan banget sih." Dinda langsung memanyunkan bibirnya. Bisa-bisanya Aris meragukan perkataannya.


"Iya sayang, mas percaya kok. Uluh uluh," jawab Aris yang kini tangannya beralih mengelus pipinya Dinda.


"Si kecil rewel gak?" tanya Aris mengalihkan. Ya biasanya sepulang kerja, inilah pertanyaan yang Aris lontarkan. Tapi tadi, semua tertunda gara-gara Wawan si biang kerok.


"Gak terlalu mas. Udah kayak biasanya, nangisnya kalau pas lagi haus," terang Dinda.


"Kamu udah makan belum?" tanya Aris perhatian. Sebab Aris merasa lapar banget sore ini, dia tadi gak sempat mampir kemana-mana. Karena hatinya gak tenang, diselimuti oleh rasa cemburu gara-gara telepon Dinda yang dirasa gak penting.


"Belum mas. Tapi kalau mas mau makan, ada tuh ayam bakar orderanku tadi siang," kata Dinda sambil nunjukin ayam bakar yang ia letakkan di atas laci.


"Buat kamu aja, mas mau bikin mie instan aja deh," kata Aris yang hendak ke dapur.


"Udah, mas Aris makan itu aja. Sayang kalau gak dimakan," suruh Dinda lagi menyayangkan ayam yang dia beli via online tadi.


Dinda tersenyum. "Iya, terserah mas aja. Aku ngikut," kata Dinda setuju.


Mendengar itu, Aris langsung berjalan menuju ke dapur. Gak disangkanya dia malah melihat Mega. Aris membuang nafasnya kesal. Lalu dia balik kanan putar jalan, niat pengen buat mie dia urungkan.


"Pake aja kalau mau make, aku udah kok!" kata Mega yang menghentikan langkah kaki Aris.


Tanpa menjawab, Aris langsung balik ke dapur lagi. Dia mulai menyibukkan diri untuk memasak mie. Sementara Mega, dia pergi dari dapur dengan pikiran yang berkecamuk. 'Aris dan Dinda sikapnya sama aja, pantes mereka berjodoh,' batin Mega menyimpulkan.


Setelah Mega masuk kamar, dia melihat Wawan yang sudah tertidur. Mega bingung harus membujuk Wawan dengan cara apa lagi? Sedari tadi orang ini gak mau makan, jadinya Mega dan Bu Lastri kesusahan buat mengurusnya.

__ADS_1


"Gimana buk? Panasnya udah turun belum?" tanya Mega sambil mendekat.


"Udah mulai turun Nak. Nanti kalau dia udah bangun terus gak mau makan, terpaksa kita harus bawa Wawan ke rumah sakit," ucap Bu Lastri memberikan solusi.


"Iya Buk," jawab Mega pasrah. Ada-ada aja emang si Wawan, sakit kayak gini aja gak mau makan kek anak kecil. Pikir Mega sambil menatap Wawan dengan miris. Sebenarnya Mega tahu kalau Wawan gak cinta, tapi kenapa sampai sekarang Mega bertahan dengan rumah tangganya? Kadangkala kalau Mega gak teringat dengan kebaikan Bu Lastri, pasti Mega sudah meninggalkan Wawan sejak di hari pertama dia menikah.


Ya, sebenarnya Mega beberapa tahun lalu pernah bertemu dengan Bu Lastri. Tapi sayangnya Bu Lastri tak mengingatnya. Meskipun begitu, Mega selalu menjaga hubungan baik dengan Bu Lastri. Makanya sekarang ini mereka berdua begitu kompak, entah gibahin Dinda atau yang lainnya. Karena selain Mega menantu Bu Lastri, Mega sendiri pun juga butuh kasih sayang dari orang yang seperti Bu Lastri. Jadi sayang banget kalau Mega sampai berpisah dari Wawan. Kalau bisa Mega akan terus mencoba bertahan meskipun itu sakit. Hitung-hitung, imbal balik.


...****************...


Usai makan bareng, Dinda dan Aris tengah dudukan di dapur. Aris membuatkan susu untuk Dinda, sedangkan dia membuat kopi untuk dirinya sendiri.


Saat tengah asik berduaan, tiba-tiba Bu Lastri masuk ke dapur. Wajahnya terlihat sedih. Aris jadi tergelitik untuk bertanya kepada Bu Lastri.


"Ada apa Bu?" tanyanya.


Bu Lastri langsung menoleh. "Wawan, panasnya gak turun-turun," jawab Bu Lastri sambil menghela nafas lelah.


"Emang gak diminumin obat?" tanya Aris. Ya kali, udah gede gak mau minum obat. Pikir Aris.


"Gimana mau minum obat? Orangnya aja gak mau makan," celetuk Bu Lastri dengan ketus.


Aris menatap Bu Lastri gak suka. Soalnya wajah Bu Lastri seolah-olah tengah menyalahkan Dinda. Yang salah padahal Wawan sendiri, dia udah dewasa juga, masa makan harus dibujuk? Bener-bener deh, mirip anak kecil.


"Dicoba dipaksa aja Bu," kata Aris menyarankan. Tapi lagi-lagi Bu Lastri tak suka dengan saran Aris. Namanya juga benci, jadi apapun yang Aris lakukan tetaplah salah di mata mereka.


"Paksa-paksa, Wawan sakit begini juga gara-gara kamu. Kalau semalem kamu gak ngancem dia, dia gak bakalan sakit!" celetuk Bu Lastri dengan nada tak sedap di telinga Dinda.

__ADS_1


"Ngancem? Maksud ibu Lastri apa?" Kali ini Dinda yang menyahut. Dia penasaran dengan maksud ngancem dari mulut Bu Lastri. Apakah benar Aris tengah berbuat jahat di belakang Dinda? Sebab semalaman Dinda tak mendengar ada keributan apa-apa dan tiba-tiba dia mendengar Aris tengah berbuat nekat dengan mengancam Wawan, benarkah?


Bersambung...


__ADS_2