
Sesampainya di hotel.
"Oiya, kamu duduk dulu ya Din. Atau mau ngapain aja terserah kamu. Aku mau mandi dulu ya? Lengket," ujar Aris sambil menyiapkan baju ganti.
"Emang jorok sih. Disuruh mandi gak mau," celetuk Dinda sekenanya.
"Bukan gak mau. Tapi kamu kek ngusir aku," sahut Aris jujur.
Dinda diam aja. Sebab apa yang dikatakan oleh Aris benar adanya. Dia memang menyuruh Aris mandi tujuannya untuk mengusir Aris dari kost-nya.
"Kalau mau minum, kamu bisa minum air mineral itu," tunjuk Aris sebelum masuk ke kamar mandi.
Dinda hanya mengangguk tanda mengerti. Aroma wangi menyeruak ke hidungnya. Harum sekali, sampai Dinda memejamkan mata untuk menikmatinya.
Ibu hamil satu ini, mungkin saking lamanya dia tak pernah merasakan nikmatnya bercinta. Tiba-tiba dia tengah membayangkan ingin begituan.
Ceklek!
Terdengar Aris yang baru membuka pintu kamar mandi. Dengan buru-buru Dinda membuka matanya dan menunduk.
'Ah, moga dia gak tahu dengan fikiranku?' batin Dinda sambil berpura-pura meraih botol minuman. Dinda meminum dengan tergesa.
"Uhuk!" Dinda kesedak secara mendadak.
"Dinda, kamu kenapa sih? Minum pelan-pelan dong?" omel Aris sambil mendekat ke arah Dinda. Dia menepuk pundak Dinda dengan pelan.
Dinda menoleh dan menatap ke arah Aris.
Ya ampun, badan basah Aris. Dia hanya mengenakan celana dan baju yang menggantung di bahu kirinya. Benar-benar memperlihatkan bentuk tubuhnya di depan Dinda.
Dinda menganga. Dia menelan ludahnya sedikit susah. Dia kesepian, lama tak disentuh. Tapi...
"Din," panggil Aris menyadarkannya.
'Astaghfirullah,' batin Dinda kaget. Dia segera menoleh, membelakangi Aris.
"Kamu apa-apaan sih? Kenapa gak pakai baju?" teriak Dinda pura-pura kesal.
Dia beberapa kali mengucap istighfar. Kenapa dia jadi berpikiran kotor soal Aris tadi? Harusnya ini gak boleh. Mereka belum muhrim.
"Iya bentar," jawab Aris.
Setelah memakai pakaiannya dengan benar. Aris menatap wajah Dinda penuh selidik.
"Emang kenapa?" selidik Aris.
Detik itu juga, Dinda langsung menunduk. Kenapa? Entahlah, Dinda merasa malu. Terus mungkin ini juga bawaan bayi. Jadi hawa nafsunya tak bisa ia kontrol.
"Gak!" elak Dinda.
"Yakin?" pancing Aris. Aris pun sebenarnya juga tidak sabar ingin berenak-enak dengan Dinda. Tapi dia tahu batasan. Mereka belum sah menjadi suami istri.
__ADS_1
"Apaan sih," elak Dinda sambil meletakkan botol minumannya.
Perilaku dua insan manusia yang belum menikah ini tetap dalam pengawasan warga sekitar. Sebab Dinda dan Aris bukanlah warga asli sini. Jadi gerak-gerik mereka berdua akan terus diawasi sampai mereka meninggalkan tempat ini.
"Oiya, kamu mau makan apa?" tanya Aris pada akhirnya.
"Aku pengen pecel lele," sahut Dinda.
"Wah kebetulan. Yuk kalau gitu, kita ke warung," ajak Aris.
Malam itu, Aris putuskan untuk mengajak Dinda jalan-jalan. Hitung-hitung, sebagai kencan pertama mereka. Kapan lagi mereka berkencan? Ini adalah kesempatan terbaik buat Aris, mengambil hati sang pujaan hati.
"Wah, ayok dimakan Din?" ajak Aris.
Tanpa sungkan-sungkan lagi, Dinda segera melahapnya. Aris juga sama, mereka berdua seperti gak makan 2 hari 2 malam. Begitu lahap dan setengah rakus.
"Mau ku suapin?" tawar Aris tiba-tiba.
Tentu Dinda mau, sudah lama sekali dia ingin disuapi oleh Aris. Setelah mendapat anggukan dari Dinda. Aris segera meraih daging lele, meninggalkan durinya.
"Mau sambal?" tawarnya lagi.
Dinda pun mengangguk kembali. "Dikit aja Mas," sahut Dinda sabar. Mungkin karena beberapa hari ini mereka dekat. Jadi Dinda mulai terbiasa.
Bagai es batu yang disiram air panas. Meleleh juga hati Aris saat Dinda memanggilnya Mas. Sejauh ini, Dinda tak pernah memanggilnya Mas, selain kamu. Dan sekarang? Mungkin usaha Aris mulai membuahkan hasil.
Dengan senang hati, Aris langsung menyuapkan nasi ke mulut Dinda. Dinda menyambutnya. Uh, Aris tidak tahan ingin mencubit hidung itu.
Saat dibelai rambutnya, Dinda hanya diam saja. Kemudian netra matanya menatap tajam ke arah Aris.
"Aku mau lagi," ucap Dinda antusias.
Itu tandanya, Dinda mau disuapi lagi. Kalau diijinkan, Aris akan bergoyang, berjingkrak, berteriak karena dia sedang bahagia. Secara tidak langsung, Dinda membutuhkannya.
Sebenarnya bukan Dinda yang membutuhkan. Tapi anak Aris. Andai Aris tahu yang sebenarnya, di hati Dinda masih tertinggal kebencian untuknya.
***
"Udah kenyang?" tanya Aris beberapa saat setelah mereka usai makan.
"Udah," jawab Dinda.
"Mau balik ke hotel?" tawar Aris.
Dinda menggeleng. Dia ingin jalan-jalan malam ini.
"Terus mau kemana? Kamu mau beli sesuatu?" tanya Aris lagi.
Namun Dinda menggeleng. "Kenapa?" tanya Aris dengan begitu sabarnya.
"Aku pengen jalan-jalan," jawab Dinda jujur.
__ADS_1
"Ya udah, ayok ku temenin." Aris berdiri dan mengulurkan tangannya. Dan Dinda pun meraih uluran tangannya, membantu Dinda berdiri.
"Ah," desis Aris sedikit mengotot.
"Kenapa? Aku begini karena ulahmu," ketus Dinda tak mau kalau dikatai gendut dan sebagainya.
"Ya Allah, lucunya kamu tuh!" Aris menggeleng sambil menyunggingkan senyum bahagia. Dinda ternyata menggemaskan. Bikin Aris makin betah berlama-lama dengan Dinda.
Dinda tak menggubris. Dia langsung berjalan sambil menikmati lampu jalanan.
"Gak capek?" tanya Aris. Ini sudah terlalu jauh dari hotel. Takutnya Dinda kecapekan. Mana Aris gak bawa kendaraan juga.
Dinda menggeleng. Baru kali ini dia merasa happy saat berada di dekat Aris. Gak ada rasa takut. Mungkinkah di hatinya sudah tumbuh cinta?
Merasa puas jalan-jalan, Dinda menghentikan langkahnya dan menatap Aris. "Pulang yuk Mas, besok lagi."
"Capek kan?" tanya Aris penuh perhatian.
"Enggak," elak Dinda singkat.
"Yang bener? Emm, btw boleh dong?" Aris mengedipkan sebelah matanya.
Ternyata semakin Aris dekat dengan Dinda, dia semakin tak kuat menahan imannya. Sebagai pria normal, tentunya dia tergoda saat berada di dekat wanita. Apalagi, wanitanya adalah orang yang ia cintai.
Dinda menghela nafas berat. Aris ketagihan sama ciuman mereka di sore hari kemarin. Lagian ini di depan umumkan? Artinya tidak boleh. Akhirnya Dinda menggeleng. Sedikit kecewa si Aris, tapi dia tak ingin mempermasalahkannya. Toh, Dinda sudah memberikan sinyal hijau padanya.
"Boleh gak, kalo aku manggil kamu sayang?" pintanya mengalihkan permintaannya tadi.
Dinda terdiam. Memang pria selalu ijin ya kalau menginginkan sesuatu? Bisa gak sih, kalau mereka melakukannya tanpa persetujuan. Terkadang wanita itu malu buat menjawab 'IYA'. Harusnya sebagai lelaki yang gentle, Aris langsung memanggilnya sayang saja. Tanpa perlu bertanya.
Mungkin maksud Aris sopan. Tapi bagi Dinda, rasanya malu. Dulu Briyan kalau ingin memanggilnya sayang, ya udah secara langsung. Tanpa harus ijin dulu seperti Aris.
"Boleh ya?" rayu Aris sekali lagi.
Kalau sudah dalam mode merayu, pasti akan lama. Ya udahlah, Dinda akhirnya mengangguk dengan sedikit malu.
Melihat itu, Aris langsung bersorak. Tanpa sadar, atau mungkin saking senengnya. Si Aris langsung memeluk tubuh Dinda. Ia mendaratkan bibirnya di kening Dinda.
"Makasih sayang, udah memberiku kesempatan," ucap Aris bahagia.
Orang-orang yang tengah mengawasinya semakin curiga. Mereka berdua benar-benar tidak tahu malu. Apalagi melakukan hal-hal seperti tadi, di sini masih tabu. Jadi jangan salahkan warga, kalau mereka tidak suka dengan kemesraan mereka.
Hampir saja Aris keblabasan. Andai mereka sudah menikah, pasti Aris tak sungkan-sungkan mencium Dinda di tempat ini. Sayang sekali ini tempat umum, banyak pasang mata yang melihatnya. Namanya juga tengah digoda oleh setan. Mana mungkin dia sadar.
Aris merasa, Dinda juga sama sepertinya. Ingin bermesraan lebih dari ini. Jadi Aris putuskan untuk mengajak Dinda kembali ke hotel.
"Kita ke hotel dulu yuk? Motorku di sana," kata Aris beralasan.
Sepertinya Dinda tak menolak. Sebab dia menurut saja saat tangannya dibonceng oleh Aris.
Bersambung...
__ADS_1