
"Maaf ya Dinda. Aku gak tahu kalau kamu itu anaknya ayah Bambang," ucap Wawan tak enak hati.
"Oh, ya udah gak apa-apa Mas. Aku juga gak tahu kalau kamu anak ibu Lastri," sahut Dinda biasa saja.
Bu Lastri tersenyum."Yaudah, ibu balik ke depan kalau gitu ya," ijin bu Lastri pada kedua anaknya itu.
Mereka berdua-pun hanya mengangguk mengiyakan.
Rasanya gak nyaman berduaan dengan kakak tiri barunya. Jadi Dinda hendak beranjak meninggalkan Wawan. Namun langsung dicegah oleh Wawan.
"Mau kemana Dinda?" tanyanya.
"Mau ke luar Mas," sahutnya.
Di dalam hatinya, ia sedang merencanakan sesuatu. Rencana yang sekelibat lewat di otaknya. Dia pasti bisa melakukan semua itu. Mandiri, bukan mandi sendiri. Kalau mandi sendiri mah udah biasa. Ini rencana sulit tapi Dinda ingin melakoninya.
"Kemana?" tanya Wawan yang masih penasaran.
"Kamar," balas Dinda singkat.
"Din," panggil Wawan lagi.
Namun kali ini Dinda tak menghiraukannya. Ia malas meladeni kakak tirinya itu. Jadi lebih baik dia masuk ke kamarnya. Menyusun rencana dadakan yang baru ia buat tadi.
"Ish, mahal banget sih Dinda. Padahal cuma mau nanya suaminya kemana? Eh, main pergi aja," omel Wawan sambil menghembuskan nafas panjang.
"Aku jadi penasaran. Kayaknya ada yang dia sembunyikan," gumam Wawan sambil memikirkan sesuatu.
Ternyata si Wawan ini kepo akut. Dia ingin mengetahui hal yang lebih jauh tentang pribadi Dinda. Hingga dia putuskan untuk keluar dari kamarnya. Menemui Jo dan mencari informasi tentang Dinda. Dari pada diam diselimuti rasa penasaran, jadi menurut Wawan solusinya hanya bertanya pada Jo.
"Hai Jo," panggilnya kemudian. Setelah dia tahu kalau Jo lebih muda darinya. Panggilan pun berganti. Yang tadinya Mas berubah jadi nama.
"Hai Mas, gak jadi istrirahat?" tanya Jo yang juga mengubah panggilannya.
__ADS_1
"Gak jadi, soalnya ada yang ingin ku tanyakan sama kamu," kata Wawan to the point.
"Tentang apa ya?" tanya Jo sambil menggendong Raskha.
"Tentang Dinda," balas Wawan lirih.
Jo mengerti. Mungkin Wawan tengah penasaran dengan status Dinda yang tengah hamil. "Oh, bentar ya Mas!" balas Jo sambil menoleh ke arah istrinya.
"Bun, tolong gendong Raskha dulu ya. Ayah mau ngobrol sama mas Wawan sebentar," ujarnya dan Nesa langsung mendekat.
"Uh, sini anak bunda. Raskha mau main ya. Yok, ke kamar tante Dinda aja," ajak Nesa sambil mengambil Raskha dari gendongan Jo.
"Mas Wawan gak makan dulu?" tanya Nesa sambil melihat Wawan yang belum ada tanda-tanda menyentuh makanan atau minuman apapun. Padahal inikan acara pernikahan orang tuanya. Harusnya Wawan makan lebih dulu.
"Nanti aja Sa," sahut Wawan yang terlihat malas membahas hal itu.
"Oh, yaudah. Gak usah sungkan-sungkan Mas. Kalau butuh apa-apa, bisa minta tolong sama ayahnya Raskha," balas Nesa sambil melirik Jo. Dan Jo membalasnya dengan sebuah anggukan plus senyuman.
Kemudian Nesa berlalu meninggalkan 2 pria dewasa itu. Lalu menuju ke kamar Dinda.
Dibukanya pintu itu, terlihatlah si kecil Raskha yang merengek minta diturunkan.
"Eh, ponakan tante yang tampan. Masuk yuk!" ajak Dinda sambil mencubit gemas pipi Raskha.
"Minta diturunin Din. Mbak ajak main di sini aja ya, di luar rame. Banyak tamu. Takut kalau Raskha malah kenapa-napa," khawatir Nesa pada anaknya.
"Iya Mbak. Ayo Raskha, tante ambilkan mainan buatmu."
Nesa menurunkan Raskha di lantai. Si Raskha yang sudah tak sabaran, langsung merangkak ke sana ke mari. Mencari-cari benda apapun yang bisa ia raih.
"Makin lincah ya mbak?" tanya Dinda was-was. Sebab kopernya tepat di bawah kasur. Kalau si Raskha menyentuhnya, habislah dia nanti.
"Ya gitulah Din. Gak bisa diem malahan," curhat si Nesa.
__ADS_1
"Kira-kira, calon ponakanku nanti cewek apa cowok ya Din?" tanya Nesa sambil mengelus perut Dinda.
"Gak tahu mbak. Surprise aja," jawab Dinda sekenanya. Dia gak terlalu mikirin jenis kelamin calon anaknya. Baginya keselamatan si bayilah yang terpenting. Untuk urusan lain dia gak perduli. Sudah banyak masalah yang ia hadapi. Jadi dia gak mau terlalu mikirin hal-hal yang dirasa bakalan membuatnya sedih lagi.
Sementara itu, Jo mengajak Wawan duduk di teras rumah yang kini sudah mulai sepi. Karena acara pernikahan pak Bambang dan bu Lastri telah usai. Jo menatap Wawan sambil berkata, "Mau tanya apa Mas?"
"Enggak sih, aku cuma pengen nanya. Suami Dinda kemana ya?"
Jo menghela nafas berat. Wawan jelas belum tahu apa-apa tentang Dinda. Mungkin, bu Lastri juga tak ingin memberitahukan masalah ini kepada orang luar dulu.
Haruskah Jo cerita? Bagaimanapun juga, Wawan adalah saudara tiri Dinda. Dia juga bakalan tinggal beberapa hari di sini, tak mungkin Jo merahasiakannya. Mungkin sedikit memberitahu tentang Dinda tidak akan bermasalah.
"Dinda baru aja cerai, Mas," balas Jo sedikit sedih.
Ya, Jo begitu prihatin pada adik iparnya itu. Harusnya masih kuliah mengejar cita-cita. Namun semua itu terhenti karena hamil dan status jandanya. Tak mungkin dengan statusnya yang seperti itu, Dinda bisa kuat menghadapi gunjingan dari teman-temannya. Ditambah lagi dengan fakta yang ada. Bahwa anak yang dikandungnya bukanlah anak dari mantan suaminya. Jadi dari pada Dinda makin terpuruk, semua keluarganya menyuruh Dinda berhenti kuliah.
DEG
Wawan terkejut bukan main. Hamil, tapi sudah menjanda? Kenapa? Ada masalah apa Dinda dengan suaminya? Ingin tanya lebih jauh, Wawan merasa tak enak hati. Tapi ada rasa senang di hatinya. Itu tandanya, Dinda belum punya siapa-siapa kan? Boleh dong kalau di dekati? Sebuah senyuman tipis terlukis samar di bibirnya. Siapapun tak akan bisa melihatnya, termasuk Jo.
"Kasihan ya Jo. Maaf sebelumnya, aku nanya begini bukan maksud apa-apa. Cuman dari aku kenalan sama Dinda, aku gak lihat suami Dinda itu yang mana gitu," ucap Wawan agak sungkan. Dan Jo memaklumi itu.
"Santai aja Mas," balasnya.
***
Dinda membantu memasak bu Lastri di dapur. Meskipun dilarang berkali-kali, namun Dinda tetap ingin membantu ibu tirinya ini. Bu Lastri memang care dengan Dinda. Pokoknya Bu Lastri merasa sangat cocok gitulah sama Dinda. Bahkan dia menyayangi Dinda seperti anaknya sendiri. Dinda juga merasakan kebaikan sikap bu Lastri kepadanya. Dinda berharap, ayahnya akan bahagia bersama ibu Lastri selamanya. Dan menjadikan pernikahan mereka sakinah mawadah warahmah.
Hasil masakan dua orang perempuan itu sudah tersaji dengan rapi di meja makan. Tak lama kemudian, pak Bambang dan Wawan berjalan mendekat ke arah meja makan.
Meja makan itu akhirnya diisi dengan 4 orang dewasa. Suasana mulai terlihat mencair, tatkala pak Bambang dan Wawan melontarkan candaannya. Meskipun mulut Wawan asyik menyahuti obrolan ayah tirinya, namun mata nakalnya itu kadang-kadang curi pandang pada Dinda. Di otaknya masih terngiang-ngiang tentang Dinda yang masih single.
Sementara Dinda, dia sangat risih dipandangi Wawan seperti itu. Tapi dia gak bisa menolak. Soalnya mau gak mau, status mereka saat ini adalah saudara.
__ADS_1
Bersambung...