
"Ya udah deh," pasrah Dinda akhirnya.
Dia kembali duduk sambil melihat Aris yang tengah bersiap-siap mau sholat.
"Aku mau sholat dulu ya Din. Mau ku ajak berjamaah, tapi gak ada mukena di sini," terangnya.
Dinda hanya tersenyum hambar. Tapi dia ingin mengutarakan keinginannya.
"Selesai kamu sholat, langsung antar aku ke kost-an. Takut gak keburu waktunya."
"Iya Dinda, nanti aku antar kok." Aris segera memulai sholatnya.
Dinda hanya melihati Aris dari belakang. Sebab posisi Aris tengah membelakanginya.
Dinda tersentuh dengan sikap Aris. Padahal kalau dilihat-lihat, Aris itu orangnya sangat baik. Tapi kenapa dia sejahat itu sama Dinda? Sampai sekarangpun Dinda belum tahu pasti, apa alasan Aris sampai ingin menikahinya.
Dinda ingin bertanya, tapi sangat sulit. Setiap kali ingin bertanya, lidahnya terasa kaku.
"Assalamu'alaikum warahmatullah."
Terdengar 2 kali ucapan salam. Seketika itu Dinda kembali menoleh menatap ke arah lain. Dia tak ingin Aris besar kepala gara-gara diperhatikan olehnya.
Setelah Aris berdoa. Dia kembali berdiri dan membereskan alat sholatnya.
"Yuk?" ajak Dinda pada akhirnya.
"Sekarang? Ini masih maghrib Din," protes Aris. Karena ini masih surup (bahasa jawa dari senja).
"Nanti Maghribnya habis," sahut Dinda protes.
Aris mendekat ke arah Dinda. "Tunggu bentar ya," ucap Aris sambil berjongkok di depan Dinda.
"Mau ngapain?" tanya Dinda khawatir.
"Mau bacain doa sebentar buat anak kita," jawab Aris sambil tersenyum.
Senyuman maut itu... Dinda menutup matanya. Setiap melihat senyuman dari Aris, Dinda merasa luluh dan lupa dengan kebenciannya. 'Ini gak boleh terjadi. Aku gak boleh suka sama dia,' batin Dinda mencoba menutup rapat hatinya.
Dinda merasakan perutnya di tiup dari luar. Dia melihat apa yang terjadi. Ternyata Arislah yang meniup perutnya.
"Udah?" tanya Dinda jutek.
"Jangan jutek gitu dong? Sebentar lagi kita nikah loh," katanya percaya diri.
"Yakin nikah?" tanya Dinda memastikan.
"Kenapa tidak? Lagian anak itu anakku. Kamu hamil anakku, kenapa gak menikah?" ucap Aris penuh keyakinan.
__ADS_1
"Kalau aku gak mau?" ucap Dinda lagi.
Aris menarik nafas panjang. Lalu dia duduk di samping Dinda. Menggenggam erat jemari Dinda.
"Dinda, aku tahu kamu masih ragu denganku? Tapi Din, please... Lakukanlah demi anak kita," mohon Aris dengan sungguh-sungguh.
'Karena soal cinta, aku tahu semua butuh waktu. Dan aku yang akan buat kamu mencintaiku,' batin Aris sungguh-sungguh.
Dinda terdiam. Aris langsung mengusap rambut Dinda. Merapikannya dan meletakkannya ke belakang telinga Dinda.
Entah dorongan setan dari mana. Tiba-tiba kedua insan belum muhrim itu berciuman. Awalnya lembut, tiba-tiba berubah seperti orang yang tengah kehausan. Bahkan tanpa Dinda sadari, Dinda juga mengimbangi permainan lidah Aris. Mungkin karena keduanya sudah lama tak melakukan kissing, hingga kissing ini menjadi momen terpanas.
Hormon kehamilan Dinda muncul. Dia merasakan tubuhnya panas.
'Astaghfirullah.' Dinda akhirnya sadar apa yang tengah ia lakukan sekarang.
Dia mendorong dada Aris pelan. Aris tersadar dan segera melepaskan bibirnya.
"Maaf," kata Aris menyesal. Dia takut Dinda marah akibat kehilafannya barusan.
"Aku mau pulang," pinta Dinda. Dia gak tahu harus menjawab apa soal maaf Aris. Sebab, dia sendiri juga menikmatinya.
"Dinda, aku ingin kita segera menikah!" kata Aris lagi. Aris tak ingin menambah dosa. Sebab kalau dia berdekatan dengan Dinda, bawaannya tak ingin berjauhan.
"Menikah gak semudah itu. Kita perlu mengurus semuanya," ucap Dinda.
"Kalau besok kita bisa menikah, kenapa harus lusa?" kata Aris dengan bahagia.
Mendengar itu, Dinda langsung tersenyum. Dia merasa bahagia meskipun hanya sedetik.
***
Keesokan harinya.
Aris semalaman tak bisa tidur. Ciumannya tadi sore bersama Dinda, masih membekas di dalam ingatannya. Ciuman yang dengan kesadaran dan begitu menggebu. Dan baru kali itu, ciumannya disambut oleh Dinda. Apalagi sikap Dinda yang seperti menerima dirinya. Aris sangat bahagia. Momen kali ini tak bisa ia lupakan.
Kadang kala Aris berfikir. Apakah ia pantas diperlakukan dengan baik oleh Dinda? Setelah selama ini, ia merusak mahkota satu-satunya yang Dinda punya. Pantaskah ia dihargai?
Membuang nafasnya dengan berat. Aris harus positif thinking. Besok apapun yang terjadi, dia akan membawa Dinda balik. Menikahinya adalah tujuan yang utama. Sebagai pria, Aris juga menginginkan kembali penyatuan di antara mereka berdua.
"Ah, Dinda. Kau membuat pikiranku jadi kotor. Ckckck."
Tawanya begitu renyah. Yang baru saja diucapkannya adalah kejujuran hatinya. Tak pernah ia berfikiran kotor seperti itu. Bahkan pada Nesa sekalipun, ia tak pernah membayangkan yang aneh-aneh.
First and enough first. (Pertama dan cukup yang pertama). Hanya ada Dinda yang mampu menggoyahkan imannya.
"Aku gak sabar nunggu besok. Lebih baik aku menikahimu besok aja, sebelum kau berubah pikiran," lanjutnya bergumam.
__ADS_1
Aris lagi galau saat ini. Tak sabar sekali dia, menunggu besok seperti menunggu berbulan-bulan lamanya. Hah, benar-benar si Aris. Ia tak bisa tidur dan berniat menemui Dinda.
"Dinda, aku gak bisa tidur gara-gara mikirin kamu. Sekarang kamu harus tanggung jawab," gumam Aris sambil meraih jaketnya.
Ini sudah hampir tengah malam. Tapi dia tak perduli. Dia tetap akan nekat menemui Dinda.
Aris memarkirkan motornya di teras tempat di mana Dinda tinggal. Ya, kemarin Aris mengantarkan Dinda sampai sini. Jadi Aris sudah tahu di mana Dinda tinggal sekarang.
Diketuknya kost-an yang paling ujung. Dinda terbangun dan mengucek matanya.
"Siapa sih yang ngetuk pintu? Udah jam segini juga."
Dengan terpaksa Dinda bangun dan beranjak membuka pintunya. Dia hanya menduga-duga. Mungkinkah tetangga sebelah?
Setelah ia membuka pintu. Ternyata bapak calon anaknya. Ngapain malam-malam menemuinya?
"Ini udah tengah malam lho. Ngapain kemari?" tanya Dinda sedikit tak suka.
Aris sedikit mendorong tubuh Dinda dan segera menutup pintu itu. Dinda mengerutkan pangkal hidungnya. Apa-apaan maksud Aris itu?
"Ngapain ke sini? Aku bakalan teriak kalau kamu macem-macem!" ancam Dinda mulai ketakutan.
Tapi jujur saja, sedari tadi Dinda juga tak bisa tidur. Ia masih terngiang-ngiang dengan perlakuan manis Aris kepadanya. Tapi bertamu tengah malam? Apakah ini dibenarkan? Apalagi posisi Dinda yang tengah menjanda.
Aris mendekat ke arah Dinda. "Aku cuma mau tidur bareng kamu Din," katanya tanpa malu.
Dinda menganga. Tidur bareng katanya. "Gak, apa kata orang? Aku ini janda, hamil lagi. Pasti orang akan berkata yang enggak-enggak soal aku," protes Dinda gak terima. Mereka berdua belum menikah. Ditambah lagi ini di kota orang. Bagaimana kalau ada warga yang memergokinya?
"Aku cuma mau tidur Din. Dari kemarin aku gak bisa tidur gara-gara mikirin kamu," tutur Aris dengan wajah yang memelas.
Dinda yang gampang kasihan sama orang, akhirnya gak tega juga melarang Aris.
"Ya udah, kamu tidur di lantai aja," ketusnya sambil berjalan menuju ke kasurnya. Ia berpura-pura akan tidur lebih dulu.
Aris tersenyum, tak ia hiraukan perintah Dinda tadi. Yang ada, ia malah ikutan merebahkan diri di samping Dinda.
Seketika itu juga, jantung Dinda bergemuruh. Ada rasa senang dan grogi. Apakah mungkin Aris yang terbaik?
"Awas kalau kamu macem-macem! Aku bakalan teriak!" ancam Dinda lagi mengingatkan.
"Enggak! Percaya sama aku. Aku cuma ingin tidur bareng kamu aja. Soalnya aku kepikiran kamu terus," balas Aris jujur.
Dinda tersenyum dalam kegelapan. Tapi dia tetap pura-pura tak suka. "Ya udah, kalau gitu cepetan tidur!" suruhnya dan langsung membelakangi Aris.
"Iya Dinda. Good night, mimpi indah," bisik Aris.
Dan kedua insan itu tidur pulas sepanjang malam. Aris menepati janjinya untuk tidak berbuat yang aneh-aneh pada Dinda.
__ADS_1
Bersambung...