
Aris terlihat penuh kemenangan. Senyum jahatnya terus menghiasi bibirnya.
Sementara itu, pak Bambang memejamkan matanya. Dia berusaha fokus dan menajamkan pendengarannya. Dia ingin tahu, kenapa nama pak Wahyu disebut-sebut oleh Aris barusan. Sebenarnya ada hubungan apa antara Aris, Dinda dan pak Wahyu? Kali ini pak Bambang dibuat penasaran oleh kelakuan Aris.
Aris menatap ke arah Lia dan dilanjutkan menatap Dinda. "Cukup nikahin gue dengan Dinda," kata Aris tanpa menjawab rasa penasaran Jo tentang pak Wahyu tadi. Bahkan pak Bambang menyesal sudah menyiapkan telinganya tadi.
Dinda yang mendengar perkataan Aris barusan, langsung menggelengkan kepalanya dengan kuat. Enggak. Dia gak mau dinikahi oleh laki-laki seperti itu.
Jo memicingkan matanya tak suka. Niatnya dari awal adalah melaporkan Aris ke kantor polisi. Bukan untuk menikahkan Aris dengan Dinda. Apa-apaan itu si Aris? Seenaknya dia ngomong kayak gitu.
"Itu bukan hak gue. Gue ke sini buat nangkap loe dan ngebawa loe balik ke penjara," Jawab Jo dengan tegas.
"Gue gak peduli loe mau gimanain gue. Asal gue nikah sama Dinda." Aris ngeyel. Dia tetap bersikeras agar tetap bisa menikah dengan Dinda.
"Udah gue bilang. Itu bukan hak gue. Kebetulan ada ayah di sini. Kalau loe mau nikahin Dinda, tanya aja sama ayah," balas Jo sambil memberi tahu Aris. Kalau di tempat ini ada yang lebih berhak.
Mendengar ucapan Jo yang seperti itu, pak Bambang segera menitipkan Dinda ke Lia. Kini Lia yang berganti memeluk Dinda. "Yang sabar ya Dinda, kamu pasti kuat melewati ini semua. Maafin mas Aris ya, semoga dia segera sadar akan kesalahannya," bisik Lia dengan lembut.
"Mas?" tanya Dinda dengan pelan. Penasaran, ada hubungan apa antara cewek yang bernama Lia ini dengan si monster jahat itu?
"Iya. Mas Aris itu kakak kandungku," jawab Lia seraya memberi tahu.
Dinda terkejut. Spontan dia jaga jarak dengan Lia, saat tahu kalau Lia ternyata adalah adik kandungnya Aris. Dinda masih trauma akan perlakuan kasar Aris padanya. Jadi kemungkinan besar Lia juga punya sikap yang seperti itu juga kan?
"Kenapa Dinda?" tanya Lia yang merasa kalau Dinda agak menjauhinya.
"Enggak. Kamu di situ aja," kata Dinda yang melihat pergerakan tubuh Lia.
Lia yang paham atas ketidak sukaan Dinda, akhirnya pasrah saja. Dia tak berhak apa-apa. Bahkan kalau Dinda memakinya pun, Lia juga sudah ikhlas menerimanya.
__ADS_1
"Iya," balas Lia sambil mengangguk pasrah.
Lalu kedua gadis itu kembali memperhatikan obrolan ke-3 pria yang ada di depannya.
"Heh! Saya gak sudi punya menantu kayak kamu. Kamu itu pria perusak, menjijikkan! Tempatmu itu di penjara, bukan di sini!" maki pak Bambang penuh emosi.
"Tapi saya akan tetap menikahi Dinda Pak, meskipun anda tidak menyetujuinya," sahut Aris dengan penuh percaya diri.
'Gila,' batin Dinda heran.
'Sebenarnya, tujuan dia itu apa sih?' batinnya lagi.
Lia yang mendengar penuturan kakaknya itu langsung mencoba memotong pembicaraannya.
"Mas Aris! Cukup mas! Cukup! Mas Aris emang udah gila. Bener kata pak Bambang, kalau mas Aris itu pantesnya hidup di penjara. Mas Aris gak pantes dibebasin!" ucap Lia dengan nafas yang memburu. Lia benar-benar marah saat ini.
"Mas Aris lupa ya, kalau mas Aris punya adik perempuan." Lia menjeda perkataannya.
"Hah! Lia ini juga perempuan mas, bagaimana kalau Lia yang berada di posisi Dinda? Apa mas Aris gak mikirin itu sebelumnya? Di mana hati nuranimu Mas. Di mana?"
"Cukup Lia, mas kayak gini karena dirimu. Kamu itu dibelain malah nglunjak ya lama-lama!" balas Aris. Kentara sekali, kalau Aris juga tengah emosi.
"Cukup! Aku udah gak sudi lagi mendengar drama dari kalian. Jo, lebih baik kita laporin dia ke polisi!" potong pak Bambang tiba-tiba.
"Jangan Ayah!" cegah Dinda sambil menggelengkan kepalanya. Meskipun dia tak ingin menikah dengan Aris. Tapi penjara bukan pilihan yang tepat. Aris pasti akan balas dendam dan menghancurkan keluarganya lagi. Dinda tak mau itu terulang kembali. Cukup kali ini aja dia menderita.
"Kenapa nak?" Pak Bambang terheran-heran. Dia perlu tahu alasan Dinda. Kenapa Dinda tak mau melaporkan Aris ke kantor polisi? Padahal jelas-jelas perbuatan Aris adalah tindakan kriminal.
Aris yang merasa dibela oleh Dinda langsung tersenyum senang. 'Ternyata Dinda penurut juga,' batinnya. Dan semoga saja Dinda tetap takut akan ancamannya tadi. Jadi Aris tak perlu repot-repot memikirkan cara yang lain lagi.
__ADS_1
"Dinda cuma gak mau kalau dia di penjara Ayah," jawabnya.
"Iya, tapi kenapa?" tanya pak Bambang lagi.
"Iya, kenapa Dinda? Dia itu patut di penjara loh Din. Karena dia udah melecehkan kamu." Kini Jo menyahutinya. Ada yang janggal di sini. Harusnya Dinda gak belain Aris. Tapi ini apa? Mengingat video dan pemaksaan Aris tadi, membuat amarah Jo meningkat. Ingin sekali Jo menghabisi Aris jika membunuh itu diperbolehkan. Namun sebagai umat muslim, Jo sangat tahu. Jika membunuh itu dosa.
"Enggak mas Jo. Jangan laporin dia," mohon Dinda sambil terisak.
"Jadi kamu mau menikah dengan dia Din? Dia udah ngerusak kamu lho Din... Mas juga gak yakin kalau dia akan jadi suami yang baik buat kamu. Soalnya Mas tau seluk beluk dia itu seperti apa? Pokoknya dia itu..." ucapan Jo terpotong oleh Aris.
"JO!" potong Aris tak terima dirinya dijelek-jelekkan di depan Dinda. Karena itu akan mempengaruhi keputusan Dinda nantinya. Entah kenapa, Aris jadi cemas sendiri. Padahal dia gak cinta atau belum cinta dengan Dinda. Tapi hatinya berharap banget Dinda akan menerimanya jadi suaminya.
"Diem loe Ris! Jangan mentang-mentang Dinda belain kamu, kamu langsung over pede kayak gitu. Setelah apa yang loe lakuin ke dia, loe pikir dia mau menikah dengan loe apa?" Jo sudah tak bisa menahan emosinya. Sudah cukup sedari tadi dia diam. Tapi Aris makin didiamin lama-lama jadi ngelunjak. Sudah salah masih mau menang sendiri.
"Iya. Mending mas Aris diam. Tahu dirilah mas kalau jadi orang!" Lia menimpali perkataan Jo.
"Lia!" bentak Aris sekali lagi. Dia nglakuin ini semua untuk Lia. Tapi Lia benar-benar tak tahu terimakasih. Kesal rasanya tak digubris oleh adik sendiri.
Lia mencelos. Dia langsung diam sambil menoleh ke arah samping. Yang pasti menghindari tatapan iblis dari mas Arisnya itu.
"Jadi Dinda, maukah kamu menikah denganku?" tanya Aris penuh harap.
Dinda menyeka air matanya. Ini adalah pilihan tersulit dalam hidupnya.
'Ya Allah, aku harus gimana?' batinnya bimbang.
Bersambung...
Apakah Dinda akan menerima Aris sebagai suaminya?
__ADS_1