Terpaksa Menikahi Mantan Napi

Terpaksa Menikahi Mantan Napi
Diduakan


__ADS_3

***


Di tempat lain.


Aris tengah memakan buah anggur dengan lahapnya. Ia bahkan hampir menghabiskan sekilo buah anggur. Ini benar-benar bukan dirinya. Karena sejauh ini, Aris tak terlalu suka buah anggur yang menurutnya identik masam itu. Tapi ini karena lidahnya yang nyeleneh, dan juga perutnya yang cuma mau menerima anggur sebab makanan yang lain otomatis langsung dimuntahkan saat itu juga.


Ingin bertanya sama ibunya tentang dirinya saat ini, tapi Aris sendiri tidak tahu di mana keberadaan ibu dan adiknya itu.


Jadi dengan terpaksa Aris bertanya ke google. Menurut mbah google ternyata jawabannya begitu banyak. Aris jadi agak pusing harus memilih jawaban mana yang sesuai dengan yang ia rasakan saat ini.


Yang pertama ia baca kata migrain. Aris mengiyakannya, mungkin dirinya sedang migrain sekarang.


Yang kedua maag. Aris maag? Kayaknya jawaban ini juga benar adanya. Dia jarang makan nasi, maka dari itulah ia bisa jadi menderita maag.


Yang ke-3 HIV. Ah, itu gak mungkin. Dia baru dua kali berhubungan dengan Dinda. Apa ia langsung mengidap penyakit itu?


Yang ke-4 gejala kehamilan. Dia pria tentu tidak mungkin hamilkan?


Dan yang ke-5 keracunan makanan. Itu sangat tidak mungkin. Apa iya keracunan makanan sampai berhari-hari? Kalau iya, pasti Aris sudah dirawat di rumah sakit sekarang.


Jadi Aris memutuskan, dia sedang migrain dan maag untuk saat ini. 'Ya, aku gak mungkin sakit selain ini,' batinnya mencoba berfikir positif.


***


Dinda POV


Sudah hampir 3 bulan lamanya aku tidak haid. Aku jadi yakin kalau aku ini tengah hamil. Ya, mungkin usahaku tiap malam dengan Briyan membuahkan hasil.


Agak sedikit ketakutan aku bicarakan ini dengan Briyan. Ya, siapa tahu Briyan tak suka kalau aku hamil. Meskipun aku yakin, anak yang ku kandung ini adalah anakku dan Briyan.


"Bang!" panggilku padanya.


"Iya Ay, ada apa?" tanyanya.

__ADS_1


"Aku telat datang bulan," kataku dengan pelan.


"Maksudmu kamu hamil?"


Aku menggeleng tak tahu harus menjawab apa.


"Mau periksa? Yuk, kita periksakan ke dokter," katanya semangat.


Alhamdulillah, melihat responnya Briyan barusan membuat hatiku lega. "Yuk Bang, aku deg-degan," jawabku sedikit malu-malu. Aku sudah membayangkan, betapa sayangnya Briyan nanti padaku saat aku tengah mengandung anaknya. Uh, pasti tiap hari dia mengelus dan menciumi perutku. Khayalku membayangkan jika aku benar-benar hamil.


Beberapa jam kemudian, kami sudah sampai di tempat periksa. Dan benar saja, aku dinyatakan hamil. Betapa bahagianya raut Briyan saat mengetahui kehamilanku. Aku sampai menitikkan air mata karena terharu.


"Alhamdulillah, usaha kita gak sia-sia ya Bang," ujarku senang.


"Iya Ay, tapi anak ini beneran anakku kan?"


Aku terdiam. Kata-kata Briyan seraya menampar perutku. "Maksud Abang apa?" tanyaku syok.


"Gak, lupain aja. Ayo kita beritahukan kabar ini pada ayah dan mas Jo. Pasti mereka senang," katanya kemudian.


Ting!


Sebuah notif WhatsApp masuk ke ponselku. Aku terkejut dan senang membacanya. "Abang, mbak Nesa melahirkan!" ucapku antusias.


"Masa sih?" tanyanya setengah gak percaya.


"Bener kok. Ayo kita kesana!"


***


Author POV


Dinda dan Briyan menunggui Nesa di luar ruangan sambil memamerkan senyum bahagia. Briyan sempat berfikir yang tidak-tidak tadinya. Namun setelah ia pikir-pikir, Dinda hamil setelah mereka berhubungan. Huh, akhirnya Dinda tengah mengandung anaknya. Jadi Briyan harus segera menghentikan aksi bejatnya yang suka main perempuan.

__ADS_1


Tiba-tiba pak Bambang ke luar dari tempat Nesa. Dengan gak sabaran, Dinda segera menghambur ke tubuh ayahnya itu. Karena sedari tadi, Dinda belum sempat bercerita tentang dirinya.


"Kenapa Dinda?" tanya pak Bambang setengah heran melihat tingkah laku anaknya ini.


"Dinda hamil, Yah," balasnya lirih seraya memberi tahu.


"Hamil? Alhamdulillah ya Allah, cucu hamba sudah mau dua," celetuknya dengan girang.


Pak Bambang melerai pelukannya. Dia menatap ke arah Briyan. "Kamu topcer banget Yan, mirip kayak ayah dulu," lanjutnya tanpa ingat kalau di sampingnya kini ada bu Lastri yang tengah berdiri. Wajah bu Lastri langsung mencelos, merasa kalau pak Bambang belum bisa move on.


Ya, beberapa waktu kemarin. Pak Bambang dan Bu Lastri tengah menjalin pendekatan alias pedekate. Dinda dan Nesa setuju saja kalau ayahnya itu menikah lagi. Sebab, pak Wahyu juga akan menikah dengan Bu Rosalin. Jadi tak mungkin sebagai anak mereka tak merestui kebahagiaan orang tua mereka.


Semua orang akhirnya bahagia mendengar kabar kehamilan Dinda. Tak terkecuali Jo dan Nesa. Mereka bahagia akan mempunyai calon keponakan juga.


***


Hari ini Dinda berangkat kuliah seorang diri. Briyan? Suaminya itu, pagi-pagi sekali sudah pergi. Padahal bengkelnya buka jam 8. Tapi jam 7 pagi dia sudah pamit mau bertemu koleganya.


Dinda yang tak pernah menaruh curiga apapun tentang Briyan, jadi dia tetap tenang-tenang saja. Dinda begitu percaya pada suaminya itu. Tak hanya percaya, bahkan sangat percaya dengan Briyan. Semuanya ia percayakan, bahkan tentang hidupnya saja sudah ia serahkan pada Briyan.


Dinda yang saat ini tengah mengendarai motornya, tak sengaja menangkap wajah seseorang yang tak asing baginya. Dinda memelankan laju sepeda motornya. Menghentikannya sejenak di pinggir jalan. Memperhatikan kebenaran akan seseorang yang ia kenalinya. Dan ternyata benar, dia suaminya. Si Briyan?


Ya Allah, hati Dinda memanas seketika. Apa yang dilakukan Briyan di pagi hari kayak gini? Dia tengah duduk di sebuah kedai yang berada di bawah pohon rindang. Briyan tidak sendirian, melainkan bersama seorang wanita. Apakah wanita itu yang dinamakan teman koleganya? Tapi kok... astaghfirullah, Briyan tanpa sungkan-sungkan mencium bibir wanita itu.


Dinda memegangi dadanya sambil memejamkan matanya. Berharap yang ia lihat tadi hanya ilusinya saja. Namun di bawah pohon itu, Briyan benar adanya bersama seorang perempuan. Siapa perempuan itu? Dinda pun tak mengenalinya.


Hati Dinda terasa terpukul. Briyan orang yang dicintai dan dipercayainya justru menduakannya. Dinda menangis dalam diam. Ia tak tahan melihat itu semua. Segera ia melajukan motornya. Menjauh sejauh-jauhnya dari tempat itu. Tak tahukah Briyan? Dinda sedang hamil sekarang. Ya, walaupun Dinda sehat bugar layaknya orang yang tidak mengandung. Setidaknya dia juga butuh diperhatikan. Bukan diduakan seperti ini.


Di saat marah seperti ini. Kenapa fikiran Dinda justru melalang buana? Terbayang sekilas wajah Aris yang memohon padanya untuk menikahinya. Tidak. Segera Dinda menggelengkan kepalanya. Membuang jauh fikiran tentang Aris si monster jahat.


"Kenapa aku mikirin dia?" gumamnya yang masih menyetir sepeda motornya.


'Ah. Kenapa aku jadi bayangin hidup bersama Aris? Ya Allah, ada apa denganku?'

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2