
Mega semakin terpuruk saat tahu yang ditanya adalah Jo. Kenapa Jo baru datang? Dan kenapa juga malah yang masuk ke gudang itu? Memberi tahu saja enggak, tapi kenapa Wawan bisa masuk? Merugikan saja si Wawan ini.
"Saya adiknya mas ini," balas Jo sambil menepuk pundak Wawan.
"Oh, bagus kalo gitu. Masnya ini telah berbuat hal yang tak senonoh di sini. Lihat, mbaknya sampe nangis gak berhenti. Dia mau dinodai sama mas mu ini nak," jawab orang suruhan Mega dengan antusias. Pokoknya jangan dikasih kendor. Mega harus dinikahkan sama lelaki tersebut, agar ia mendapat bayaran yang sepenuhnya.
Drama yang benar-benar konyol. Kesalahpahaman ternyata semakin menjadi.
Mendengar jawaban tersebut. Mega semakin malu, orang suruhannya tak bisa diandalkan. Rasanya Mega ingin menyeburkan diri ke sungai Nil saja. Mati, biar mati sekalian. Dari pada seperti ini, yang malah membuatnya malu di depan Jo. Ia tak punya muka lagi. Apalagi seragam kerjanya itu, sudah robek sana-sini.
Menyadari akan tubuh dalamnya ada yang terlihat. Segera Mega lari menuju sepeda motornya. Memakai jaket yang ia sampir-kan di atas stir motornya.
Padahal cuma mengambil jaket. Tapi orang-orang malah menudingnya mau kabur. Kurang ajar mereka. Mega jadi malas membayar. Hidupnya makin hancur, buat apa membayar lagi. Mereka berkerja saja tidak becus.
Hei hei, Apa Mega masih tak menyadari kelakuan busuknya itu? Siapa yang tak becus di sini?
"Mbak jangan kabur!" ketus pria tua dengan perut yang terlihat begitu membuncit. Hamil 9 bulan kali. Tapi Mega tak menggubris itu. Ia masih menangis.
"Ayo, segera bawa mereka!" Aba-aba itu membuat Wawan semakin kebingungan.
"Jo, aku gak lakuin apapun Jo. Aku dijebak Jo. Percaya sama aku."
Wawan minta tolong kepada Jo. Badannya yang terus didorong secara kasar membuat Jo merasa iba. Ia teringat dirinya kala itu.
Penggrebekan dirinya dengan Nesa. Mereka berdua yang tidak melakukan apa-apa. Tapi ini? Wawan dan Mega sudah dewasa? Lalu apa mungkin ada penjebakan?
Saking banyaknya pekerjaan dan tugas lainnya. Agaknya Jo sedikit lamban dalam menilai kejadian ini. Jo belum menyadari, bahwa dirinyalah mangsa empuk yang sesungguhnya. Apa jadinya jika Jo tahu, kalau Mega ingin menjebaknya?
"Lebih baik kita diskusikan dulu Mas. Biar aku tau, mana yang benar dan mana yang salah." Jawaban Jo membuat Wawan sedikit gelisah. Pasalnya ia juga merasa bersalah, karena telah membuntuti Mega tanpa permisi.
"Cepetan!" Intruksi itu lagi. Ini sudah hampir waktu Maghrib. Jadi semuanya harus segera dilakukan dengan cepat. Atau tak, menunggu sampai besok.
Setelah sampai di kantor kepala desa. Wawan minta waktu untuk menghubungi bu Lastri juga pak Bambang.
Wawan menghubungi bu Lastri. Sedang Jo menghubungi pak Bambang.
__ADS_1
Sebelum menghubungi ibunya. Wawan bersikeras menolak nikah dadakan ini. Ia kan pengen dinikahkan sama Dinda. Bukan Mega yang penipu. Kurang ajar ini si Mega. Andai Wawan tahu itu adalah jebakan, lebih baik Wawan memilih untuk pulang saja tadi. Benar-benar hari keapesannya. Sial tingkat dewa.
"Pokoknya saya enggak mau menikah dengan perempuan ini," tegas Wawan.
Mega mengernyit, membuat orang bayaran itu salah mengartikan.
"Mau tidak mau, kalian tetap harus dinikahkan. Salah sendiri, kenapa mau membuat kampung kita ini jadi kotor." Itu suara orang suruhan Mega.
Mega makin menggebu. Kurang ajar orang suruhannya ini, tapi dia tak menyalahkan orang suruhannya di sini. Bahaya jika dimarahi. Dia bakalan ketahuan karena telah melakukan penjebakan.
Jadi, si Wawan lah yang jadi sasaran amukannya. "Emangnya loe pikir, gue mau nikah sama elo, jangan mimpi loe!" desis Mega. Ia mengusap air matanya dengan kasar.
Wawan jadi semakin beringas. "Ck, makanya... kalau ngejebak orang tu pikir dengan mateng."
Sialan si Wawan. "Loe gila," sahut Mega tak terima. Ia merasa tersindir dengan perkataan Wawan barusan.
"Loe itu yang lebih gila. Loe mau ngejebak Jo kan?" Kali ini, Wawan mengucapkannya dengan begitu lirih.
Nafas Mega kembang kempis. Dadanya naik turun menahan emosi. Wawan benar-benar menghantam kejiwaannya. Bagaimana Wawan bisa tahu sih? Padahal Mega hanya merencanakannya sendirian.
Jo menghampiri Wawan yang masih terlihat sangat marah. Tidak hanya marah biasa. Ini adalah kemarahan terbesarnya. Sebab, semua ini mempertaruhkan masa depan hidupnya. Menghancurkan cita-citanya yang ingin menikah dengan perempuan yang ia cintai.
Menikah dengan Mega bukanlah harapan. Namun petaka baginya. Kutukan apa yang telah Wawan perbuat, hingga ia menerima kenyataan hidup yang sepahit ini?
Wawan mendesah lelah. Dilihatnya Jo yang sudah berdiri di depannya. "Ayah gimana?" tanya Wawan kemudian.
Andai suasana hari ini tenang seperti biasanya, pasti Jo akan menyunggingkan senyum bahagianya. Namun suasana kali ini berbeda. Jadi Jo harus menyampaikannya dengan tenang, agar Wawan tak terpancing lagi amarahnya.
Jo tidak tahu pasti. Dia hanya asal menebak tentang perasaan pribadi Wawan kepada Dinda. Pertanyaan yang sudah lama ia pendam, dan akhirnya hari ini, di suasana yang mencekam ini Jo mengajak Wawan agak menjauh dari orang-orang sekitar.
"Ayah masih dalam perjalanan kemari," sahut Jo dengan tenang.
Jo menatap Wawan sejenak. Ia layangkan pertanyaan yang sempat tertunda kala itu. "Aku mau nanya Mas?"
Wawan hanya mengangguk. Dia sudah terlalu kalut dalam menghadapi situasi yang begitu mematikan. Sampai kapanpun, ia tak akan memaafkan Mega. Eh, apa itu mungkin? Bagaimana kalau mereka benar jodoh? Apakah tetap tak ada kata maaf?
__ADS_1
Jo menghembuskan nafas panjangnya. Meletakkan kedua tangannya di samping kanan-kiri saku celananya.
Ini sangat berat. Tapi tetap harus diluruskan. Kalau tidak, semua akan salah dan masalah akan semakin melebar. "Ini tentang Dinda Mas. Apa mas Wawan ada rasa padanya?"
Sedikit grogi mendengar itu. Tapi Wawan juga perlu jujur. Mengingat dia tidak mau dinikahkan dengan Mega. Lebih baik ia menikahi Dinda yang janda sedang hamil itu. Dari pada menikahi gadis tapi jahat bak singa hutan yang kelaparan.
"Jujur, aku tertarik sama Dinda. Kalau boleh, aku ingin nikah sama Dinda aja Jo. Dari pada nikah sama cewek licik itu."
"Eh, maksud mas Wawan apa? Siapa yang licik?"
Wawan berusaha menahan nafas kesabaran. Dia tak boleh melampiaskan amarahnya di sini. Apa perlu ia menjelaskan ke Jo. Kalau Jo yang sebenarnya diinginkan oleh Mega. Ah gak perlu, biarkan ini jadi rahasia Wawan untuk membuat Mega bertekuk lutut padanya.
"Gak usah dibahas dulu. Aku cuma minta tolong. Jangan biarkan pernikahan ini terjadi Jo. Aku suka sama Dinda, tolong Jo. Gue gak bersalah, dan gue ingin nikahin Dinda Jo," jujurnya sekali lagi.
Pun dengan Johan, dia memutuskan untuk jujur juga. Jujur mengenai Dinda saat ini. Tepatnya status Dinda yang sudah bersuami.
"Mas Wawan harus tahu ini. Maaf sebelumnya. Dinda sudah menikah Mas?"
Seketika Wawan syok. Menikah? Yang benar saja? Kenapa dia tak diberitahu? Bukankah Dinda sedang kabur dari rumah?
Flashback off
Ya, Wawan sebelumnya sudah diberitahu tentang pernikahan Dinda. Hanya saja Wawan sempat tak percaya. Makanya waktu Wawan dipaksa menikah dengan Mega, dia mau. Tapi Wawan masih belum bisa menerima kenyataan. Karena pernikahannya dengan Mega adalah pernikahan yang terjadi karena paksaan.
"Semua ini terjadi gara-gara loe Mega. Coba kalau loe gak ngejebak Jo waktu itu, mungkin gue sama Dinda udah menikah," kata Wawan yang masih menyalahkan Mega.
"Loe nyalahin gue? Yang salah itu elu Wan! Aku maunya Jo yang dateng? Tapi kenapa lu masuk? Gue ngasih tahu lu aja kagak!" protes Mega gak terima. Enak aja Wawan selalu nyalahin dirinya.
"Andai aja lu gak masuk ke gudang itu, pasti gue juga udah nikah sama Jo," ucap Mega lagi yang membuat Wawan kesal.
"Nikah? Sama Jo? Jangan mimpi! Yang ada lu yang masuk penjara gara-gara ngejebak Jo. Jangan anggap Jo itu remeh Mega. Karena Jo itu akan terus cari bukti kalau dia merasa gak bersalah!" ucap Wawan menutup obrolan mereka.
Back to Dinda dan Aris.
Bersambung...
__ADS_1